Gus Dur, Cendekiawan Rakyat yang Mencerahkan - Aru Elgete

Breaking

Kamis, 29 November 2018

Gus Dur, Cendekiawan Rakyat yang Mencerahkan


Sumber gambar: rmol.co

Mitsuo Nakamura dalam The Oxford Encyclopedia of The Islamic World, menulis bahwa KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah tokoh fenomenal di dunia politik dan pemikiran Indonesia pada seperempat terakhir abad ke-20. Gus Dur hadir sebagai cendekiawan dan sekaligus politisi yang menonjol sejak pertengahan tahun 1970-an.

Sebagai cendekiawan, Gus Dur telah membangun suatu proses pencerahan yang menyeluruh dalam kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya warga Nahdlatul Ulama.

Pemikiran Gus Dur yang banyak tertuan di dalam tulisannya adalah rujukan sekaligus inspirasi bagi banyak orang negeri ini.

Di samping seorang cendekiawan rakyat, Gus Dur juga politisi kelas wahid. Sebagai politisi, ia telah berhasil menjadi orang nomor satu di Indonesia dengan menjadi presiden selama 21 bulan.

Setelah lengser dari kursi kepresidenan, Gus Dur tetap menjadi rujukan politik bagi banyak kelompok masyarakat dari berbagai level tingkatan di tanah air.

Namun, Gus Dur pertama kali muncul di tengah masyarakat Indonesia sebagai cendekiawan rakyat, bukan politisi. Sejak awal 1970-an, ia banyak menulis di media massa dan jurnal ilmiah.

Seringkali Gus Dur juga diundang sebagai penceramah dalam berbagai seminar, baik yang diadakan oleh lembaga-lembaga pendidikan ormas maupun kementerian pemerintahan.

Setelah menjadi Ketua Umum PBNU pada 1984, Gus Dur kemudian sering tampil sebagai seorang juru dakwah yang kerap mengisi ceramah agama di tengah masyarakat, di hampir seluruh pelosok tanah air.

Gus Dur banyak bertemu dan berdialog langsung dengan masyarakat. Ia memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan rakyat, dengan menggunakan bahasa mereka. Sesuatu yang jarang dimiliki oleh seorang cendekiawan.

Ia adalah representasi pemikir Islam yang secara terus-menerus berusaha menerjemahkan Islam dengan visi humanitarian, dengan bahasa masyarakatnya. 

Dengan model khazanah pemikiran klasik yang menjadi ciri khas pesantren, Gus Dur mampu menghadirkan konstruksi pemikiran dan sikap keberagamaan yang lebih membumi, toleran, dan bersahabat dengan realitas sosial yang ada.

Gus Dur mampu menjadi 'jendela rumah NU' yang selama bertahun-tahun dicap dengan berbagai label kemunduran, keterbelakangan, dan kejumudan.

Ia menjadi lokomotif transformasi pemikiran warga NU, khususnya di kalangan anak muda. Sehingga, NU diakui sebagai pilar masyarakat sipil yang utama.

Di bawah kepemimpinan Gus Dur, NU bisa menjadi salah satu pelopor demokratisasi politik bangsa, pemberdayaan masyarakat sekaligus pencerahan pemikiran melalui berbagai bentuk kajian kritis tentang Islam dan tradisi.

Karena itulah, Gus Dur mampu membuktikan kepada semua orang bahwa tradisi bisa menjadi landasan bagi perubahan masyarakat secara menyeluruh.

Maka tidak heran, jika atas kepeloporan dan kesuksesannya melakukan transformasi menyeluruh di tengah masyarakat NU itu, yang menjadi bagian tak terpisahkan dari transformasi bangsa, banyak intelektual asing yang tertarik meneliti pemikiran Gus Dur.

Diantaranya adalah Adam Schwarz, Douglas E Ramage, Mitsuo Nakamura, Martin van Bruinessen, Andree Feillard, Greg Fealy, dan Greg Barton. Mereka semua itu telah banyak menulis berbagai artikel, makalah, dan buku tentang Gus Dur.

Barangkali, tidak ada cendekiawan Indonesia yang lebih populer dari Gus Dur pada akhir abad ke-20 yang lalu.

(Tulisan di atas disarikan dari buku 41 Warisan Kebesaran Gus Dur karya M Hanif Dhakiri dan ditulis dalam rangka menuju Haul Gus Dur pada Desember mendatang)