Jumat, 30 Juni 2017

Ahok Hilang Karya Terbilang


Suasana Masjid Raya KH Hasyim Asy'ari, Jakarta, Kamis (29/6/2017).

Beberapa hari lalu, pada Selasa (27/6/2017), beranda media sosial penuh. Tidak seperti biasanya. Terdapat banyak unggahan foto anak kecil dan seorang ibu muda. Sebagian besar netizen berlomba-lomba mengunduh gambar itu. Kemudian, dijadikan video berupa kumpulan foto dengan latar belakang lagu berjudul "Pahlawan Tak Pernah Mati" yang dinyanyikan Rizca Ayu, karya Yunan Helmi.

Ya, gambar anak kecil dan seorang ibu muda itu adalah Ahok atau Basuki Tjahaja Purnama saat masih bayi bersama ibunda tercintanya, Buniarti Ningsih. Bocah kecil keturunan Tionghoa-Indonesia dari suku Hakka itu lahir di Belitung Timur, Bangka Belitung, pada 29 Juni 1966. Kemarin, Kamis (29/6/2017), ia genap berusia 51. Gubernur DKI Jakarta pasca-Jokowi itu, terpaksa merayakan hari bahagianya di Markas Komando Brigadir Mobil (Mako Brimob), Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat.

Berbagai ucapan, doa, dan hadiah, berdatangan dari para pengagumnya. Baik memberikan langsung ke Mako Brimob, atau pun melalui media sosial. Bahkan, ucapan dengan tagar #HBDAhok51 menempati posisi teratas di Twitter, sepanjang hari, kemarin. Segala kebaikan tertumpah di linimasa, walau masih saja ada segelintir orang yang berusaha mencemarinya dengan satir kebencian. Itu hal biasa. Tapi yang pasti, kebaikan akan selalu ditempatkan di posisi yang mulia. 

Rabu, 28 Juni 2017 kabar bahwa esok adalah ulangtahun "si penista agama" itu tersiar dengan sangat massif di dunia maya. Tak terkecuali saya. Saat tahu kabar tersebut, saya berniat berkunjung ke beberapa tempat yang merupakan karya dan hasil dari kinerja Ahok. Masjid KH Hasyim Asy'ari dan Gubah Al-Haddad atau makam Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad Al Husaini Ass Syafi`'i alias Mbah Priuk, menjadi destinasi wisata religi bersama Abang kandung saya, Nisfu Syawaluddin Tsani.

"Mas, besok ke Masjid KH Hasyim Asy'ari, yuk. Trus ziarah ke Mbah Priuk. Ngalap berkah sekaligus memperingati hari lahir Ahok," kataku kepada Nisfu, Rabu malam. Tanpa pikir panjang, dia mengiyakan. 

Kamis pagi menjelang siang, sekitar jam 11, kami berangkat. Perjalanan dari Bekasi ke Jl Rusun Pesakih itu memakan waktu kurang lebih satu jam. Lalulintas Ibukota kemarin, ramai lancar. Sama sekali tidak ada kepadatan di jalan protokol sekalipun. Masih suasana lebaran, semua orang sedang berasyik-masyuk di kampung halaman. Sebuah anekdot berbunyi, "Jakarta tidak butuh gubernur cerdas untuk mengatasi persoalan kemacetan. Akan tetapi, Jakarta hanya butuh lebaran. Bayangkan kalau lebaran itu tiap hari?"

Sesampainya di Masjid Raya DKI Jakarta, kami beristirahat dengan  makan mie ayam dan minum es kelapa muda, sembari berkali-kali mendecak kagum melihat bangunan tersebut dari dekat. Bangunan megah itu berdiri di atas lahan seluas belasan hektar. Gaya arsitekturnya sama sekali tidak mirip sebagaimana bangunan masjid pada umumnya. Tapi, dibuat dengan kemiripan seperti rumah adat Betawi, Rumah Kebaya. Lima menara besar yang melingkari bangunan masjid sudah tentu menyimbolkan rukun Islam dan Pancasila. 

Dari situ, saya dapat simpulkan, bahwa bangunan ini dibangun dengan memadukan antara budaya (katakanlah lokalitas kedaerahan) dan agama. Bahwa keduanya harus saling bersinergi. Tidak bisa dipisahkan, apalagi dipertentangkan. Kemudian, terdapat rusunami di dekatnya. Tidak lama lagi akan dibangun rusunawa. Rencananya juga akan dibuatkan lahan pertanian yang hasilnya nanti untuk membantu perekonomian masjid. Asiknya lagi, akses ke dalamnya akan dilalui Bus Transjakarta. 

Di sana, kami berkesempatan salat zuhur dan asar berjamaah dengan pengunjung lainnya. Tak lupa juga, kami berswafoto. Kemudian membuat video ucapan 'selamat hari lahir' untuk "si penista agama" yang telah berhasil merampungkan proyek pembangunan Masjid Raya Provinsi DKI Jakarta. Karena, hampir di setiap daerah, baik kota/kabupaten atau provinsi di Indonesia pasti memiliki masjid sebagai sebuah simbol keberadaban. Bersyukur, DKI Jakarta kini sudah memilikinya.

Gambar ini diambil oleh Nisfu Syawaluddin Tsani saat pembuatan video ucapan untuk Pak Ahok.

Untuk mengetahui video ucapan saya untuk Pak Ahok, silakan klik di sini. Berikut ini transkrip dari ucapan saya dalam video tersebut: 

Assalamu'alaikum wa rahmatullah wa barakatuh

Teman-teman media sosial yang dirahmati Allah.

Rasulullah saw pernah bersabda khoirunnas anfa'uhum linnas. Bahwa sebaik—baik manusia adalah yg bermanfaat bagi manusia yg lain.

Kebermanfaatan seseorang tidak bisa diukur dari gaya bicara retorik yang bernuansa puitik. Bukan pula dari kata—kata penuh intrik. 
Tapi dapat dilihat dari kerja nyata yang dipersembahkan dengan segala ketulusan.

Selamat hari lahir Pak @basukibtp

Masjid Raya KH Hasyim Asyari ini adalah bentuk kebermanfaatan yang telah engkau berikan kepada kami, warga DKI Jakarta.

Dan ini merupakan sebuah kenikmatan yang Allah berikan melalui perantaramu yang mesti disyukuri.

Terima kasih Pak Ahok.

Wassalamu 'alaikum wa rahmatullah wa barakatuh

*****

Gambar ini diambil saat pembuatan video.

Tidak mau kalah, Abang saya pun ikut membuat video. Silakan klik di sini untuk melihatnya. Dan, berikut adalah transkripnya:

Ini bukan soal Ahok. Tapi soal kesetaraan hak seluruh warga negara Indonesia. Ahok terlalu receh untuk dibela mati-matian, dan terlalu kecil untuk didemo jutaan orang. Ahok juga bukanlah malaikat yang tak punya kesalahan. Juga bukan iblis yang tak pernah berbuat baik. Dia sama seperti kita manusia biasa. Yang punya sisi baik dan buruk.

Tapi harus kita akui, Ahok adalah simbol keberanian melawan budaya koruptif para pejabat kita. Ahok juga merupakan simbol kesetaraan. Setara dalam hal apapun, termasuk untuk menjadi pemimpin di negeri ini.

Karena berkat Ahok, kita mulai sadar, bahwa perjuangan menegakkan kesetaraan hak seluruh warga negara Indonesia, tak peduli apa agama, suku, dan rasnya, belumlah usai. Bahkan, baru saja dimulai.

Berkat Ahok pula, kita menjadi paham, bahwa memberantas budaya korup di negeri ini tidaklah mudah. Hanya orang-orang yang mempunyai keberanian luar biasa dan nyali yang besar yang mampu melakukannya.

Berkat Ahok, kita kembali terbangun dari tidur. Bahwa keberagaman yang menjadi kekuatan bangsa kita, sedang dirobek-robek oleh mereka, para politisi busuk, dengan cara menunggangi kaum intoleran agar bisa menjadi penguasa di bumi nusantara.

Berkat Ahok kita disadarkan, kalau perjuangan kita masih amatlah panjang.. Kita harus mempunyai semangat dan tekad yang kuat untuk memperjuangan gagasan kesetaraan dan keberagaman ini. Gusdur sudah memulainya. Dan kita tinggal melanjutkan perjuangannya.

Selamat ulang tahun Bapak Basuki Tjahaja Purnama yang ke--51.


*****

Usai membuat video itu, kami bergegas ke arah Utara. Menziarahi ulama Betawi. Yakni, Mbah Priuk. Di tengah perjalanan dari Masjid KH Hasyim Asy'ari ke Makam Mbah Priuk, kami melewati Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Kalijodo. Saya takjub. Karena tempat itu ramai bukan main. Menjadi tempat ibu-ibu untuk mengasuh putra-putri agar tak sembarang dalam bermain sehingga jauh dari pantauan. Anak-anak kecil terlihat berlarian. Ibu-ibu memegang mangkuk plastik berisi nasi dengan siraman kuah sayur. Ada juga yang berpakaian rapi. Seperti pengunjung dari luar kota.

Lagi, saya menemukan bahwa suasana lalulintas Ibukota dalam suasana lebaran sangat lengang. Dalam perjalanan itu, hanya sekali saya menemukan kepadatan di wilayah sekitar wisata Kota Tua. Setelahnya, sudah tidak ada lagi kemacetan. Lancar. Yakin saya, walau sudah tidak suasana lebaran, kemacetan di sekitar Makam Mbah Priuk, terminal dan pelabuhan Tanjung Priuk, dan Jl Cakung-Cilincing (Cacing) Jakarta Utara, lalulintas sudah tidak terlalu macet dan semrawut seperti beberapa tahun kemarin. Hal tersebut karena sudah berfungsinya jalan tol dari Tanjung Priuk, Cilincing, hingga Cakung.

Saat tiba di lokasi Gubah Al-Haddad, kami beristirahat sebentar. Sekitar 5-10 menit. Menikmati suara seorang habaib bersama jamaahnya sedang membaca maulid nabi. "Kayaknya suara kaset deh, tapi asik banget. Berasa di pesantren," batinku ketika itu. 

Kami berdua, kemudian, tahlilan di depan Makam Mbah Priuk beserta keluarganya. Mengirim doa dan sekaligus mengharap didoakan kembali. Memanjatkan doa dan harapan kepada Allah dengan melalui perantara (tawassul) orang saleh, akan mudah cepat sampai daripada tanpa perantara. "Sebagaimana ingin bertemu presiden, agar cepat sampai, kita mesti punya kenalan orang dalem," begitu anekdot yang sering dikelakarkan orang NU.

Prasasti peresmian Gubah Al-Haddad sebagai cagar budaya di bawah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Diresmikan oleh Gubernur Basuki Tjahaja Purnama pada 4 Maret 2017.

Pada 14 April 2010, dari layar kaca yang ada di salah satu warung kopi di Pondok Buntet Pesantren Cirebon, saya melihat lautan manusia pertikaian antara Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol-PP) dengan umat Islam; berpakaian putih-putih. Kedua kelompok itu sama-sama memperjuangkan kebenaran. Satpol-PP memperjuangkan kebenaran sekaligus menjalankan tugas dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta. Saat itu, Fauzi Bowo yang menjabat sebagai gubernur. 

Berita mengenai peristiwa berdarah itu, silakan anda googling sendiri. Karena saya, yang hanya menyaksikan dari layar kaca, merasakan betapa pedihnya umat Islam kala itu. Mereka memperjuangkan agar Makam Keramat Mbah Priuk jangan sampai digusur atau ditiadakan. Sementara Pemprov DKI, ketika itu, melakukan upaya propaganda dengan mengatakan bahwa di sana sudah tidak ada jasad Mbah Priuk. Pemprov DKI pun membuat buku tentang ketiadaan jasad Mbah Priuk di tempat yang saat ini dijadikan cagar budaya oleh Pak Ahok.

Kini, umat Islam Ahlussunnah Wal Jama'ah dapat berkunjung ke sana. Mengharap berkah dari orang saleh, berdoa kepada Allah dengan bertawassul kepada habaib dan ulama merupakan sakralitas yang mesti dilestarikan. Karena tanpa orang-orang saleh, kita tidak akan bisa sampai kepada Rasulullah dan Allah. Atas kebijakan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama dengan meresmikan Gubah Al-Haddad sebagai cagar budaya, maka jelas "si penista agama" itu pro terhadap umat Islam, ulama, dan habaib.

Sekira jam setengah 6, usai membacakan tahlil, tahmid, takbir, dan berdoa, kami pulang. Memperingati hari lahir Pak Ahok dengan cara sederhana cukup menyenangkan, rupanya. Meski saya tahu, Pak Ahok tidak kenal saya dan Abang saya, Nisfu Syawaluddin Tsani. Dari Mako Brimob, Pak Ahok membalas ucapan, harapan, dan doa dengan cara yang juga sangat sederhana. Dia menulis kata-kata di secarik kertas.


Saya ambil dari akun Instagram @basukibtp

Dari tulisan di atas. Satu hal yang ingin saya sampaikan adalah bahwa orang-orang baik di mana pun, selalu berusaha dikalahkan oleh kekuatan jahat. Bung Karno, Bung Hatta, dan Tan Malaka, misalnya. Mereka semua berusaha berjuang agar Indonesia lebih bermartabat, tapi justru dikalahkan oleh kepentingan politik. Kemudian, yang perlu menjadi pelajaran penting Pak Ahok adalah dengan berusaha mengubah gaya bicara. Sebab, kalau tidak demikian, dia akan terus diserang dengan alasan yang seperti itu. 

Dan, seperti yang diutarakan Mpu Tantular dalam Kitab Sutasoma jauh-jauh hari, "Tan Hana Dharma Mangrwa", suatu saat Allah akan menunjukkan kebenaran yang sebenar-benarnya.

Dari tulisan ini pula, saya ucapkan selamat ulangtahun kepada Bang Sandiaga Uno pada sehari sebelum Pak Ahok ulangtahun.

Juga, salam rindu untuk Al-Mukarrom Al-Habib Muhammad Rizieq Shihab. Sebab orang saleh nan baik tidak akan gentar melawan apa pun yang berada di hadapannya. 

Ahok Hilang, Karya Terbilang. 



Wallahu A'lam



Bekasi, 30 Juni 2017



Aru Elgete
Warga Bekasi yang masih ber-KTP DKI Jakarta.

Rabu, 28 Juni 2017

Idulfitri: Momentum Cinta Keluarga dan Tanah Air


Foto keluarga, Ahad (1/10/1438).

Lebaran sudah tiba. Idulfitri yang dinanti selama sebulan, sudah datang ke muka. Berbagai adegan dan peristiwa menarik muncul dengan kemasan yang sedemikian rupa. Salah satunya mengenai keterbukaan komunikasi dan informasi yang seolah membuat ramai seisi jagad, bahkan cenderung gaduh.

Media sosial dijadikan sebagai alat. Apa pun. Alat untuk menghibur diri, mencari informasi, membuat berita, mengekspresikan diri, bahkan mencibir, menebar, dan menabur api permusuhan. Sebagaimana pisau; pemakaiannya tergantung pada nalar dan kebutuhan seseorang.

Momen Idulfitri memang sangat keji bila dijadikan sebagai ajang permusuhan. Hanya orang-orang sakit jiwa yang menginginkan perpecahan. Idulfitri merupakan titik balik seseorang pada asal kejadiannya. Selama sebulan penuh kemarin, kita dilatih untuk melakukan kontemplasi agar mampu merefleksikan diri. Sehingga kita dapat menemukan keadaan jiwa yang lebih bugar nan sehat di hari nan fitri.

Beberapa hari sebelum Idulfitri, setiap tahunnya, masyarakat Indonesia disibukkan dengan aktivitas mudik. Kembali ke kampung halaman. Peristiwa yang satu ini seperti menjadi sebuah kewajiban bagi para pekerja di kota agar kembali ke rumah; menengok orangtua, atau menziarahi makam leluhur yang sudah lebih dulu menghadap Ilahi.


Entah diartikan sebagai tradisi atau gengsi, yang jelas Idulfitri, dengan mudiknya, mengingatkan seseorang pada muasal kejadian. Berkunjung ke awal kehidupan. Sehingga masing-masing diri memiliki kesejatian. Memahami identitas dan personalitasnya sendiri. 

Saya, karena tidak punya kampung halaman, terpaksa tidak mudik. Namun, waktu bersama keluarga tentu lebih banyak. Kenikmatan dapat dirasakan setelah sekian lama, karena kesibukan, masing-masing anggota keluarga hanya memiliki kesempatan tatap muka sepersekian menit dalam sehari. Idulfitri tahun ini, saya lebih banyak di rumah. Karena tak ingin melewati waktu istirahat dengan hal-hal yang justru kembali menjauhkan diri dari kebermanfaatan.

Hari pertama Idulfitri, saya disuguhi oleh khutbah salat Ied yang sangat menyejukkan. Pertama, tema khutbah di Masjid Jami' Al-Ikhlas, Perwirasari, Bekasi Utara, yang bertema "Spirit Ramadan dalam menciptakan persatuan bangsa." Kedua, khutbah di Masjid Istiqlal yang dibawakan oleh mufassir kenamaan, Al-Habib Muhammad Quraish Shihab. Saya pikir, khutbah yang kedua ini, bisa dikonsumsi secara mudah di internet.

Kedua khutbah di atas berusaha mengelaborasikan makna persatuan yang terlatih dalam ramadan selama sebulan penuh. Kemudian, dalam rangka menciptakan harmoni kebangsaan, diharapkan kepada umat Islam agar menjadi teladan yang baik kepada orang lain. 

Karenanya, dalam khutbah di Masjid Istiqlal, Habib Quraish mengatakan bahwa Islam dan agama-agama lain, tidak melarang kita berkelompok. Sebab yang dilarang adalah berkelompok dan berselisih. Sebagaimana yang termaktub dalam QS Ali-Imran ayat 105.

Karena itulah, kembali saya tegaskan, perlunya kita paham mengenai asal kejadian. Mengerti tentang bagaimana kita diciptakan, fungsi, dan untuk apa kita dihidupkan di dunia. Bahwa kesadaran tentang asal kejadian itu harus mampu mengantarkan kita untuk memahami jati diri.

Manusia dari tanah, berbeda dengan api yang merupakan asal Iblis. Tanah menumbuhkan, tidak membakar, dan tidak membuat perpecahan. Tanah dibutuhkan oleh tetumbuhan dan binatang. Sementara api, tidak demikian. Manusia seharusnya stabil dan konsisten, selalu bermanfaat untuk semua. Demikian Habib Quraish dalam khutbahnya, menerangkan QS Thaha ayat 55.

Foto keluarga. Senin (2/10/1438)

Kembali ke soal keluarga. Bahwa keberadaan keluarga merupakan faktor pendukung dari keberhasilan seseorang. Mereka, anggota keluarga, bertugas untuk menumbuhkan; tidak melakukan provokasi dan fitnah (hoax) sehingga anggota keluarga yang lain merasa terbakar emosinya, dan akhirnya timbul benih-benih permusuhan. Mereka adalah tanah. Memberikan apa pun yang kita butuhkan. Tidak pernah marah, meski diinjak, dicampakkan, dan tidak dianggap. Tanah akan memberikan harum kesejukan saat terbasahi oleh air. Kemudian menyuburkan tanaman dan bermanfaat bagi semua.


Karenanya, kita biasa menamai Indonesia dengan sebutan Tanah Air. 

Keluarga dan Tanah Air adalah kebutuhan kita. Dua hal yang harus ada dalam kehidupan. Secara naluriah, kita tentu tidak bisa tanpa keduanya. Kecuali orang-orang yang terganggu kejiwaan dan nalarnya. Tanpa disuruh atau dikomando, kita tentu rela menyerahkan segala yang dimiliki untuk menjunjung tinggi martabat, kehormatan, dan harga diri keluarga serta Tanah Air tercinta.

Habib Quraish, dalam khutbahnya menjelaskan mengenai Nasionalisme, Patriotisme, dan cinta Tanah Air yang merupakan fitrah, yakni naluri manusia. Sebab, Allah menyandingkan iman dengan Tanah Air. Sebagaimana yang tertera dalam QS Al-Hasyr ayat 9. Kemudian, Allah juga menyejajarkan pembelaan agama dengan Tanah Air pada QS Al-Mumtahanah ayat 8.

Karena itu, sangat disayangkan ketika akhir-akhir ini kita seperti diadu-domba. Kalau membela negara berarti tidak membela agama. Dan, sebaliknya. Padahal, kedua pembelaan itu harus sejajar. Tidak boleh ada yang berlebihan. Karena Allah tidak suka dengan orang-orang yang berlebihan dalam segala hal. 

Maka, dalam menjalankan libur lebaran diharapkan juga agar tidak berlebihan. Sebab akan percuma pelatihan yang sudah kita jalani selama sebulan, kalau saat ini seperti sapi yang talinya lepas. Merasa bebas tanpa kendali. Pelatihan kita kemarin adalah mengenai kesederhanaan, keprihatinan, kepedulian, dan kebersamaan yang didasarkan pada kesabaran serta kasih sayang. Jangan sampai hal-hal yang seperti itu hilang seketika saat kenikmatan menghampiri diri. 

Untuk itu, saya mengucapkan selamat menikmati sisa libur lebaran. Tetap cintai keluarga, tanah air, dan agama. Namun, jangan berlebihan. Karena cinta adalah naluriah. Naluri akan menempatkan diri sesuai fungsi dan kadarnya. Sebab, naluri tak pernah berbohong.

Terakhir, tetap jaga persatuan. Siapa pun yang sengaja memecah persatuan adalah orang-orang keji yang sakit jiwa dan nalarnya.



Wallahu A'lam


Bekasi, 4 Syawal 1438/28 Juni 2017



Aru Elgete
Putra Bungsu Bapak Saryono bin Suwarno bin Mangkudimedjo 

Minggu, 25 Juni 2017

Selamat Jalan Bulan Penuh Kepura-puraan


Ilustrasi. Sumber: job-like.com


Ramadan berakhir. Bulan yang penuh kepura-puraan itu menyisakan penyesalan yang mendalam. Sebab banyak orang yang merasa belum bisa memanfaatkannya dengan sebaik mungkin. Semua orang berharap agar kembali dipertemukan dengan ramadan berikutnya. Kalau pun bisa menawar, orang-orang saleh akan meminta kepada Allah agar sepanjang tahun adalah ramadan.

Demikian kata para pemuka agama di musala dan masjid, beberapa hari sebelum ramadan usai. Namun, sungguh ironi. Rasa takut, sesal, dan kecewa sepeninggal ramadan justru berbanding terbalik. Hampir seluruh manusia merasa bahagia. Menganggap ramadan sebagai ajang pertandingan sehingga terdapat dikotomi; ada yang menang dan ada yang berhasil dikalahkan. 

Kalau pun demikian, anggap bahwa kemenangan kita adalah bekal untuk menghadapi hari-hari tanpa ramadan. Kebahagiaan kita pun dimaknai sebagai netralitas jiwa yang kembali ke fitrah. Kembali ke suci. Kemudian, berbahagialah karena kita akan menyaksikan beragam aksi nyata tanpa kepura-puraan. Segala macam keserakahan, kemaksiatan, kedurhakaan, dan kekejaman, serta kekerasan akan segera dipertontonkan ke publik.

Diskotik kembali buka. Minuman keras didistribusikan lagi. Mucikari dan para pekerja seks siap mencari nafkah dari pria hidung belang. Masjid dan musala ramai-ramai ditinggalkan. Kotak amal dibiarkan kosong. Al-Quran dan kitab kuning dibiarkan menganggur, kembali menjadi penghuni lemari. Tayangan ceramah atau lomba ceramah, hafidz Qur'an, dan tabligh akbar di televisi sudah habis kontrak. Wisata kemiskinan, seperti bakti sosial, santunan anak yatim, dan sahur on the road kembali akan dilaksanakan di ramadan berikutnya.

Apa sebab? Tak lain karena di hari-hari selain ramadan, tidak ada iming-iming pahala, kasih sayang, surga, dan terhindar dari siksa api neraka.

Kemudian selain itu, kepergian ramadan membuat koleksi baju baru bertambah. Makan siang tak perlu repot-repot bersembunyi. Pamer segala rupa yang baru menjadi kebahagiaan tersendiri saat merayakan lebaran bersama keluarga besar. Mustahil bersedih ditinggal ramadan. Karena toh ada banyak hal yang pasti kita nikmati. Tunjangan Hari Raya, misalnya. Kemudian libur panjang. Bertemu dengan orang-orang yang sudah lama tak saling kunjung. Mudik. Berbahagialah bagi siapa pun yang merayakan kepergian ramadan di kampung halaman.

Pasca-ramadan; ketakwaan seseorang diuji. Kesalehan menjadi tameng untuk membentengi diri. Karena itu, ibadah puasa yang sesungguhnya adalah bukan sebulan penuh pada ramadan, tetapi justru setelahnya. Menahan hawa nafsu, tidak melakukan ghibah, fitnah, adu domba, bahkan menebar kebencian dan mengobarkan api permusuhan. Namun, bukankah ramadan kemarin bibir kita masih saja terbasahi oleh kalimat ghibah, fitnah, dan adu domba?

Padahal, ramadan merupakan ajang untuk melatih diri. Ramadan sebagai wadah agar dapat memperhalus rasa. Juga tempat peningkatan kadar intelektualitas. Meski oleh kaum kapitalis, agama hanya dijadikan komoditas saat ramadan, sementara Islam sebagai produk termahal sepanjang ramadan, dan kepura-puraan sebagai media dakwah agar diterima masyarakat, setidaknya terdapat intisari yang dapat kita ambil dari semua itu.

Misal, ceramah dari ustadz yang ngartis atau tausiyah dari artis yang mulai berani ngustadz yang sepanjang ramadan tayang di televisi, pasti terdapat hal-hal yang bisa dijadikan sebagai bekal menuju arena pertandingan yang lebih menantang dari sekadar bulan ramadan yang penuh kepura-puraan. 


*****

Lantas, apa yang akan kita lakukan setelah ramadan? 

Pertanyaan itu dikembalikan pada diri masing-masing. Tak perlu dijawab, karena khawatir timbul riya'. Siapa pun yang diberi pertanyaan mengenai harapan, pasti akan menjawab dengan kata-kata manis bak politisi negeri ini. Paling minimal adalah jawaban tentang introspeksi dan pertobatan diri. Tapi, belum tentu juga dapat terlaksana. Namanya manusia, tempatnya salah dan lupa.

Kira-kira seperti itu kalimat panjang lebar versi orang-orang yang selalu memakai strategi bertahan. 

Mulai besok, atau barangkali seminggu kemudian, kita akan menyaksikan hari-hari yang tentu berbeda dengan ramadan. Semua berjalan sebagaimana mestinya. Sebab hanya ramadan yang segala sesuatunya tidak berjalan seperti biasa. 

Apa pun yang akan terjadi di kemudian hari, pasti bisa dihadapi asal dengan bekal yang cukup dan memadai. Kalau pada ramadan kemarin, kita hanyut dalam kepura-puraan, atau terbawa oleh angin permusuhan, dan tergulung oleh gelombang kebencian, maka dapat dipastikan kita akan kalah oleh derasnya kejahatan yang menyakitkan di hari-hari tanpa ramadan.

Jadi, selamat jalan bulan penuh kepura-puraan. Aku akan hidup tanpamu selama sebelas bulan. Menahan hawa nafsu dari kenyataan yang tidak dibuat-buat. Aku mesti berpuasa di antara orang-orang yang tidak berpuasa. Aku harus melakukan ibadah di saat orang-orang sudah enggan melakukan ibadah. Aku kembali berdakwah melalui jalan sunyi, saat keramaian mulai diisi dengan hura-hura. 

Karena nyatanya, ibadah di bulan ramadan tidak lebih sulit dari ibadah di sebelas bulan setelahnya. Baik ibadah ritual, ibadah intelektual, atau pun ibadah sosial. Semuanya akan lebih berat daripada segala hal yang dilakukan kemarin hari; saat ramadan, sebulan penuh.


Wallahu A'lam


Bekasi, 1 Syawal 1438


Aru Elgete
Kepala Bidang Kerohanian Karang Taruna RW 08, Perwira, Bekasi Utara

Jumat, 09 Juni 2017

Kebenaran vs Kebenaran


Ilustrasi. Sumber: kalpos.prokal.co

Akhir-akhir ini, Amat sibuk. Menghadiri undangan bukber dan diskusi hingga larut malam. Dia kini menjadi aktif. Aktivis maksudnya. Aktif di mana-mana. Baginya, gerak yang membawa manfaat akan menciptakan keberkahan bagi semesta kehidupannya. Belum lama ini, Amat menjadi penceramah di salah satu rumah yatim saat komunitasnya mengadakan "wisata iba" (mengunjungi dan menyantuni anak yatim-piatu).

Dia jarang sekali di rumah. Ramadhan sudah dua pekan. Di pekan kedua ini, Amat sering absen dari tugasnya sebagai remaja musala. Dia lebih memilih untuk terjun langsung ke lapangan daripada hanya cuap-cuap tidak jelas dari atas mimbar. Amat giat menyambangi beberapa tokoh penting di daerahnya, seperti anggota DPRD, ketua fraksi, akademisi, pakar, pekerja seni, wartawan, dan bahkan ulama. Semuanya diajak diskusi dari mulai buka puasa hingga waktu menjelang sahur. 

Sesuatu yang dibincangkan, tak lain, mengenai kondisi bangsa dan negara saat ini. Amat selalu resah melihat potret kehidupan manusia Indonesia kekinian. Terlebih dengan bumbu pedas perkelahian, cibiran, ujaran kebencian, dan fitnah yang berlebihan. Setiap orang seperti sedang memperjuangkan kebenarannya dengan cara mengalahkan yang lain. Walhasil, yang dicari-cari adalah kesalahan, sekalipun dengan mengatasnamakan kebenaran. 

Bangsa Indonesia sudah terpecah sejak dalam pikiran. Memandang buruk terhadap siapa pun yang berbeda. Parahnya, menganggap musuh setiap orang yang tidak sejalan-sepemikiran dengannya. Kita sudah sampai ke tahap itu. Hanya tinggal menunggu ledakan. Sebab percikan api permusuhan sudah terlihat jelas di depan mata. Sesuatu yang kalau dibiarkan akan berdampak pada terbakarnya nilai kebangsaan. Bahkan, sampai hangus dan menjadi abu. 

Kurang lebih seperti itu yang dibahas oleh Amat acapkali bertemu dan berbincang dengan para tokoh.

Namun, nasib berkata lain. Amat justru tidak mendapat jawaban yang serius dari para tokoh yang dia sambangi itu. Mereka justru seperti meledek Amat, menganggap bahwa dirinya masih di bawah umur untuk mengetahui permasalahan global. Bahkan, Amat dianggap gila saat ingin mencari solusi alternatif untuk mengobati kegilaan manusia Indonesia saat ini. Barangkali karena dia masih semester 2 dan kuliah di perguruan tinggi swasta di sebuah kota yang tidak megah. Dia sering dikecilkan.

Tarawih malam ke-14, dia salat berjamaah di musala dekat rumahnya. Kehadirannya bukan tanpa sebab. Tapi, Amat sudah tahu bahwa jadwal penceramah kali ini adalah seorang kiai karismatik yang ada di lingkungannya. KH Mohammad Nurul Yaqin, namanya.  Akrab diundang dengan sebutan Mbah Nung. Nah, Amat tak ingin meninggalkan kesempatan emas. Membincang persoalan keumatan dengan tokoh agama yang berafiliasi kepada ormas Islam terbesar dan moderat di Indonesia, itu, merupakan kunci untuk mencari solusi atas permasalahan bangsa. 

Usai tarawih, seperti biasa, Amat ikut nimbrung. Melingkar bersama beberapa pengurus musala dan tentu saja Mbah Nung. Amat mengenal kiai yang tidak punya massa ini (karena memang beliau menghindari pengkultusan) sudah sejak lama. Tepatnya saat dirinya baru pertama kali menjadi jamaah musala. Kurang lebih pada pertengahan 2013. Mbah Nung dikenal dengan seorang kiai nyentrik yang selalu menggunakan penutup kepala ala Sunan Kalijaga, baju koko dan sarung yang selalu berwarna hitam. Selain itu, beliau dikenal karena ceramahnya yang sangat menyejukkan.

"Jadi, Mat, persoalan kita saat ini sudah sangat semrawut. Kita sudah terbiasa dengan kata-kata sindiran yang menyakitkan, dengan kalimat yang bisa membunuh karakter orang, dan parahnya kita senang mencari-cari kesalahan orang lain. Kita sudah sampai pada persoalan kalah-menang. Sebuah fenomena paling rendah, bahkan hina, bagi kehidupan manusia," jelas Mbah Nung kepada Amat, usai salat tarawih. 

Dengan saksama, Amat memperhatikan.

"Masing-masing orang, kelompok, ormas, partai, agama, memiliki kebenarannya sendiri. Itu sudah pasti. Tapi, bukan soal kebenaran yang sedang kita permasalahkan. Melainkan soal bagaimana cara kita untuk menyampaikan kebenaran itu dengan baik. Maksud saya output-nya harus baik, arif, dan bijaksana. Karena manusia diciptakan untuk mencari kemuliaan diri."

Melihat Amat kebingungan, Mbah Nung memberi analogi.

"Seperti warung padang, misalnya. Setiap koki di masing-masing warung padang, pasti memiliki resep yang berbeda. Nah, mereka itu berhak atas kebenaran resep dan tata masak versi mereka. Kebenaran itu, mereka simpan di belakang. Di tempat yang tidak bisa dilihat oleh orang lain. Kemudian sajian sayur, nasi, lauk-pauk dengan sangat baik, agar orang lain menjadi tertarik. Namun, apa jadinya ketika kebenaran itu ditaruh di depan?"

"Maksudnya, Kiai?"

"Begini, Mat. Saat ini, bangsa Indonesia sedang sibuk mencari 'siapa yang salah dan siapa yang benar'. Itu karena dalam kehidupan, masing-masing orang dengan bangga mempertontonkan kebenaran versi sendiri. Kemudian memaksa orang lain untuk memahami kebenarannya. Parahnya, memaksa agar membenarkan kebenaran itu. Padahal orang lain pun memiliki kebenarannya sendiri. Maka, yang seharusnya dicari bukanlah 'siapa yang salah dan siapa yang benar'  tapi 'apa' yang salah dan apa yang benar'. Kita harus mencari nilai, bukan mencari manusianya. Kita mesti tahu objek dan mana subjek."

"Karena," lanjut Mbah Nung, "di dalam diri saya pasti terdapat kebenaran dan sekaligus kesalahan. Di diri kamu juga ada kebenaran dan sekaligus kesalahan. Nah, kalau kebenaran itu menjadi dapur, kemudian kita menyajikan kebenaran versi diri kita dengan kearifan, kebijaksanaan, dan kebaikan, maka yang akan muncul adalah kemuliaan kita sebagai bangsa. Insya Allah bangsa kita menjadi bangsa yang bermartabat."

"Jadi, maksud Mbah Nung saat ini kita sedang dipertontonkan secara langsung sebuah adegan pertarungan antar-kebenaran? Dan, hal yang harus kita lakukan adalah mempertahankan kebenaran dengan menyajikan kearifan dan kebijaksanaan kepada orang lain. Bukan dengan membentur-benturkan kebenaran seolah kebenaran hanya milik sendiri, milik sekelompok ormas, partai, dan lain sebagainya. Begitu, Mbah?"

"Betul."

"Nah, terus gimana pendapat Mbah Nung mengenai Pengarah dan Kepala Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP PIP) yang beberapa waktu lalu baru dilantik oleh Presiden Jokowi?"

"Kita bahas di pertemuan selanjutnya. Kamu pelajari dulu."

Kemudian, Mbah Nung pamit pulang dengan alasan isi bensin (makan malam). Amat dan beberapa orang lainnya mengiyakan. Amat berdiri dan segera tabarrukan dengan mencium punggung tangan Mbah Nung. Amat tidak peduli dengan cibiran Khalid Basalamah yang mengatakan bahwa ngalap berkah itu pekerjaan yang sia-sia.

Amat mengantar Mbah Nung sampai depan pintu musala dan Mbah Nung pulang dengan mengendarai motor matic berwarna merah.




Wallahu A'lam



Jumat, 14 Ramadhan 1438



Aru Elgete
Mahasiswa Jurnalistik Unisma Bekasi 

Selasa, 06 Juni 2017

Bung




Bung
Tiada lagi kau di dunia
jasadmu pula sudah tertanam tanah

Tapi Bung
jasamu tetap menggelora
untuk Indonesia yang raya

Semasa kau masih ada
anganmu sudah tak lagi sekadar ingin
mewujud dalam kemerdekaan
harapmu seluruh rakyat merasakan

Andai kini kau bangkit
hatimu pasti teriris sakit
melihat bangsamu yang morat-marit
tertutup kuasa saling melilit

Bung
Masih banyak yang belum merdeka
merdeka dari diri sendiri
merdeka dari kebodohan
merdeka dari apa pun yang membelenggu
hingga bangsamu ini
sepertinya pantas dikatakan dungu

Sembilan puluh tiga tahun setelah kau lahir
aku terlahir di sini
di tanah yang kau bela dengan bertaruh darah
bahkan nyawa kau rela
demi Indonesia yang mulia

Entah sengaja atau tidak
tepat di hari ini
dua puluh tiga tahun yang lalu
ibuku berbahagia
lahirkan putra
tepat di hari lahirmu

Bung
Ibuku banyak berkisah tentangmu
tentang seorang yang berjuang untuk manusia
agar terbebas dari penindasan
harus merdeka dari duka
dari luka
dan dari cengkraman celaka

Semoga kini kau tenang di sana
di pangkuan Kemerdekaan yang sesungguhnya
munajat doa pada setiap langkah
ku persembahkan untukmu
duhai pejuang yang tak kenal lelah

Tak perlu kau bersedih, Bung
biar aku tetap melanjut
segala asa yang belum kau rajut
agar bangsaku tak disebut pengecut
aku tak takut
keberanianku tak pernah mengerucut
bahkan aku rela menjemput maut
untuk negeriku yang harapku penuh salut


Bekasi, 6 Juni 2017

Aru Elgete

Senin, 05 Juni 2017

Strategi Bertahan


Ilustrasi. Sumber: goodnewsfromindonesia.id

Sudah malam kesepuluh. Itu berarti, malam penuh rahmat dan kasih sayang akan segera berganti menjadi malam yang penuh ampunan. Sementara itu, masjid dan musala, mengalami kemajuan. Maksud saya, jamaahnya kian maju. Hanya tinggal beberapa shaf tersisa. Tarawih menjadi tidak menarik, saat ajakan buka bersama (bukber) sudah seperti suasana lalulintas kota; padat merayap.

Malam ini, Amat gunakan untuk belajar. Sebab, menurut pernyataan para ulama, Ramadhan merupakan bulan peningkatan daya nalar dan kadar intelektualitas. Juga sebagai sarana pendidikan, pembinaan, dan pembersihan. Tentu bertujuan untuk memperhalus rasa, menyeimbangkan logika berpikir, dan menjadikan diri lebih giat dalam bergerak menuju kebaikan. 

Iseng-iseng, Amat membuka rekaman audio di smartphone kesayangannya. Saat itu, malam Nisfu Sya'ban, dia merekam pengajian bersama KH Abdussalam di masjid alun-alun kota. Pengajian itu membahas kitab Tanqihul Qoul karya Syaikh Nawawi Al-Bantani. Dalam rekaman yang banyak gangguan itu, lamat-lamat Amat mendengar kalimat yang kalau dibahasarabkan berbunyi:
 نوم العالم خير من عبادة الجاهل
Menurut Kiai Aab, demikian sapaan akrab KH Abdussalam, kalimat di atas memiliki arti, "Tidurnya orang berilmu lebih baik daripada ibadahnya orang bodoh."

Terlepas dari sahih atau tidaknya (hadits) kalimat di atas, Amat tidak peduli. Karena dia sadar, tidak pernah menempuh pelajaran tafsir hadits. Boro-boro belajar itu, mondok saja enggan. Jadi, menurut Amat, kalau sebuah hadits relevan dengan perubahan zaman, maka jadikan itu sebagai pelecut semangat untuk terus meningkatkan kadar kualitas diri. Jadi, soal sanad periwayatan hadits itu, Amat tidak perlu bersikap sok tahu. Serahkan saja kepada ahlinya. Seperti ulama sekaliber KH Abdussalam itu.

Rekaman audio masih panjang. Tapi, usai mendengarkan kalimat tersebut beserta maknanya dari Pak Kiai Aab, Amat mematikan rekaman itu. Dia keluar. Bersandar di tembok serambi rumahnya. Sesekali dia memandang langit yang dipenuhi bintang. Tak lupa juga, dia membakar sebatang rokok, untuk menemaninya melakukan kontemplasi. Ya, Amat ingin merenung. Hal tersebut dilakukan hampir setiap malam jelang dinihari. 

"Islam adalah agama yang menjunjung tinggi intelektualitas, daya nalar, dan tata logika. Kemudian berperan penting dalam proses memperhalus rasa. Hati, jiwa, logika, dan intelektualitas, harus seiring sejalan. Sama halnya seperti ibadah ritual-formalistik dan ibadah moral-substantif," demikian Amat melakukan proses berpikir yang kemudian ditumpahkan ke dalam status Facebook. 

Tersebutlah nama seseorang di dalam benak Amat. Ahmad Suratno, namanya. Orang itu yang sehari-hari, bersama Amat, mengurus musala. Maksudnya, mengurus dalam hal meramaikan. Terlebih di bulan Ramadhan. Meramaikan musala dengan pemenuhan ibadah akan mendapatkan ganjaran pahala yang dilipatgandakan. Begitu kata orator keagamaan di televisi, radio, dan surat kabar harian.

Ratno, panggilan bagi Ahmad Suratno, sama seperti Amat. Tidak pernah mondok. Dia hanya lulusan Sekolah Pendidikan Guru Agama. Soal hapalan surat, tidak bisa diragukan lagi. Soal ibadah, dia paling rajin. Karena intensitasnya beribadah di musala dan mengajar anak-anak kecil mengaji di rumahnya, kini dia mendapat gelar sosial; Ustadz. Karena gelar itu, dia semakin percaya diri. Acapkali mengenakan gamis putih dan merentangkan surban di punggung belakang, diikat di leher. Selain itu, sering pula dia menjadi imam salat. Tanpa disuruh atau dipersilakan.

Namun, di sisi lain, Amat tidak suka dengan Ratno. Karena, Ratno ini selalu merasa diri sebagai tokoh agama setempat. Taktiknya, dia kerap memanggil orang lain dengan sebutan ustadz agar orang lain membalas panggilan itu kepadanya. Praktis Amat berpikir, "Memangnya seberapa bangga sih kalau dipanggil ustadz? Padahal si Ratno itu bacaannya masih amburadul. Ceramahnya juga gak mutu. Kayak ceramah di depan anak-anak kecil," gerutu Amat, sembari menikmati kesejukan malam di teras rumahnya. 

Amat melanjutkan, ustadz itu gelar doktoral. Di Indonesia siapa pun bisa dipanggil ustadz. Termasuk Ahmad Suratno itu. Padahal tajwidnya masih blentang-blentong. Saban tahun, ceramahnya tidak ada kemajuan. Itu-itu saja. Menandakan bahwa wawasan Ratno tidak bertambah luas. Padahal, sudah mendapat gelar ustadz. Dia seperti tidak mengikuti perkembangan zaman. Parahnya lagi, dia seperti tidak pernah mendaras Al-Quran; karena kesalahan dalam pembacaan masih saja terjadi.

Pernah suatu ketika, dalam forum diskusi pengurus musala, Amat memberanikan diri untuk buka-bukaan. Bagi pemuda yang memiliki cita-cita menjadi abdi rakyat itu, kebenaran harus tersampaikan walau sangat pahit rasanya. Dengan sangat hati-hati, Amat membuka omongan. Perihal ilmu, baginya, tidak lagi memandang usia. Karena ini menyangkut umat.

"Pak ustadz, punten, saya mau ngasih tau aja. Anu.... Pak Ustadz sering salah bacaannya. Misalnya khouf di surat Al-Quraisy, Pak Ustadz bacanya hauf. Maaf, itu huruf kho, bukan ha."

Ratno tersenyum menahan malu.

"Terus," Amat melanjutkan, "ayat kedua dalam surat Al-Falaq itu bunyinya min syarri maa kholaqo. Tapi saya sering denger Pak Ustadz me-washal jadi begini, 'Qul A'udzubirobbil falaqi, min(g) syarri maa kholaqi, wa min(g) syarri ghoosiqin idzaa waqob'. Jadi, ayat kedua itu harakatnya fathah, bukan kasroh."

"Kemudian di surat Al-adiyyat, tadz. Ayat ketiga itu bunyinya, 'Fal Mughiirooti Subhaa(n)' tapi pak ustadz bacanya, 'Fal Muuughiiirooti Subhaa(n)'. Beda kan, tadz?"

"Satu lagi, tadz," lanjut Amat sembari memandang wajah Ratno yang sudah memerah, seperti ingin marah tapi harus ditahan, hanya senyum menahan malu yang bisa diberikan, "ayat ketiga surat At-Tin itu berbunyi, 'wa haadzal baladil amiin', tapi pak ustadz bacanya, 'wa haadzal balaaadil amiin'. Hati-hati, tadz. Nanti beda arti, lho."

"Iya, terimakasih Amat atas koreksinya. Saya senang sekali. Dengan diadakan forum seperti ini, masing-masing dari kita sama-sama belajar. Jadi tahu kesalahan sendiri-sendiri yang harus segera diperbaiki. Maklum Mat, saya juga masih belajar. Belum ahli banget," terang Ratno dengan nada Jawa yang menjadi ciri khasnya.

Amat manggut-manggut dan berharap agar Ratno segera memperbaiki kesalahannya. 

Selang beberapa hari, Amat masih mendengar bacaan Ratno yang blentang-blentong itu. Bahkan hingga detik ini pun masih sama. Malam kesembilan kemarin, Ratno menjadi penceramah sekaligus imam salat tarawih. Sejak saat forum itu, Amat me-mufarroqoh-kan diri kalau Ratno yang menjadi imam salat. 

"Bapak-ibu, jamaah musala yang dirahmati Allah. Ijinkanlah kami berdiri di sini (mimbar) dengan niat belajar. Kita saling doa-mendoakan agar kegiatan belajar ini mendapat keberkahan," itu kalimat pembuka dari Ratno setelah mukadimah dibacakan. 

"Kalau masih belajar jangan (sok) jadi ustadz. Belajar dulu aja, baru tampil di depan umat. Gak perlu pakai strategi bertahan begitu. Ya Allah, hidup di perkotaan kok begini banget, ya," Amat membatin dan seketika tersadar, waktu sahur telah tiba. Dia masuk, membangunkan seluruh anggota keluarganya untuk bersama-sama makan sahur. 

Sembari menyaksikan sinetron religi Para Pencari Tuhan jilid 11, hati Amat menggerutu.

"Hadits yang disampaikan oleh Pak Kiai Aab beberapa waktu yang lalu itu menyiratkan bahwa seorang muslim jangan sampai hanya menitikberatkan hidupnya pada persoalan ibadah saja, sehingga lupa kalau dirinya juga wajib meningkatkan kecerdasan intelektual. Supaya tidak ketinggalan zaman. Apalagi jadi bahan tertawaan. Karena tidurnya orang berilmu lebih baik, daripada ibadahnya orang bodoh."


Ratnoooo.... Ratnoooo....




Sekian.


Wallahu A'lam
10 Ramadhan 1438


Aru Elgete
Kepala Bidang Kerohanian Karang Taruna RW 08, Perwira, Bekasi Utara.

Sabtu, 03 Juni 2017

Pekan Pancasila: Saya Bukan Siapa-siapa


Ilustrasi. Sumber: kompasiana.com

Tahun lalu, Presiden Joko Widodo meresmikan Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni. Hari pertama di bulan tersebut menjadi libur nasional, kini. Diadakan upacara bendera di berbagai tempat. Bahkan, sehari sebelumnya ada juga yang mengadakan malam renungan. Semua dilakukan demi menghargai dan menghormati perjuangan para pendiri bangsa. Di media sosial tak kalah ramai.

Video pidato 1 Juni Sang Penggali Pancasila tersebar dengan sangat massif di seluruh penjuru media sosial. Dengan sangat lantang dan memukau, dia sampaikan cita-cita luhur bangsa dan negara Indonesia di depan peserta sidang BPUPKI yang pertama, di Jakarta. Sementara pimpinan sidang yang berlangsung selama 3 hari itu (29 Mei - 1 Juni 1945) adalah Dr KRT Radjiman Wedyodiningrat.

Saya rasa tak perlu panjang lebar bicara sejarah. Karena mengenai pidato 1 Juni 1945 yang menjadi cikal bakal Pancasila sudah menjadi rahasia umum. Silakan cari sendiri sejarahnya karena saya bukan sejarawan.


*****

Sudah dua hari ini, Amat terlihat murung. Padahal, di pengujung Mei kemarin lusa, wajahnya sangat sumringah. Namun sejak Kamis siang, dia tak seperti biasanya. Kalau dibaca dari status terakhirnya, di Facebook, dia semacam sedang kecewa terhadap kondisi bangsa yang kian sengkarut ini. Amat marah. Tapi, entah siapa yang mesti dimarahi.

"Tiba-tiba semua orang cinta sama Pancasila. Cuih. Pakai hestek #PekanPancasila segala dan dengan bangga menyebut diri sebagai Pancasila, sebagai Indonesia. Padahal kemarin-kemarin, hobinya cuma jalan-jalan dan belanja. Atau bahkan, senang-senang di warung makan ala Eropa dan Amerika.

Sekarang ngaku nasionalis, besok ngaku kaum agamais. Padahal Pancasila gak pernah membedakan keduanya. Justru, keduanya terdapat dalam Pancasila. Tapi seolah-olah, akhir-akhir ini, antara kaum nasionalis dengan kaum agamais sedang diadu. Supaya Indonesia pecah kayak di Suriah. Ngeriiiiii," kata Amat panjang lebar dalam status Facebooknya kemarin (2/6) siang.

Pancasila itu menjadi jalan tengah. Sebagai alternatif ideologi. Tidak terlalu ke kanan dan ke kiri. Merangkul semua. Maka, kata Bung Karno, Pancasila itu semua untuk semua. Bukan untuk segelintir orang, sekelompok, apalagi hanya untuk keluarga Bung Karno saja. Pancasila adalah cinta. Sudah ada sejak ratusan tahun silam. Kemudian diotak-atik hingga susunannya menjadi enak dibaca dan dipahami seperti sekarang ini.

Demikian maksud Amat saat ditemui di Masjid KH Hasyim Asy'ari peninggalan ulama terkemuka bernama Tuan Guru Bassuqi Nurul Badri, Jumat (7/9/1438).

Di media sosial, Amat mengamati. Perayaan Pancasila hanya sebatas simbolik dan seremonial belaka. Masing-masing pemilik akun memajang fotonya bersama tulisan 'Aku Pancasila, Aku Indonesia, dengan tagar #PekanPancasila'. Menurut Amat, itu lebay. Berlebihan. Pertanyaannya, untuk apa mengaku sebagai Pancasila dan Indonesia, kalau masih suka berbuat semena-mena terhadap orang lain, sekalipun hanya dalam pikiran?

Amat teringat pernyataan seorang kiai dalam acara hari lahir Nahdlatul Ulama beberapa waktu yang lalu. "Di Timur Tengah itu, gak ada ulama yang nasionalis. Dan, orang yang nasionalis pasti bukan dari kalangan ulama. Sedangkan di Indonesia, ada banyak ulama yang nasionalis. Termasuk Hadlratus Syaikh Hasyim Asy'ari. Makanya, sampai sekarang NU tetap kokoh menjaga nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan."

Tak perlu mengaku Pancasila, menurut Amat, kalau masih suka memecah-belah persatuan. Karena Pancasila dibuat selain sebagai dasar negara, juga sebagai pedoman hidup bangsa. Karenanya, kalau sudah kuat, negeri yang agraris ini akan kokoh. "Tahu kan perbedaan negara, bangsa, dan negeri?" tanya Amat kepada teman-teman dan pengikutnya di Facebook. 

Mengaku Pancasila, mengaku Indonesia, mengaku Bhinneka Tunggal Ika, dan mengaku anak kandung Ibu Pertiwi, tapi masih suka mengumpat saudara sendiri dengan istilah 'kaum sumbu pendek dan bumi datar' atau 'pengidap virus Sepilis dan kaum munafik sesat ahli neraka'. Aneh, bukan? 

Ada juga yang seringkali bilang, "jangan fanatik terhadap sesuatu, apalagi agama. Bahaya." Tapi sendirinya justru marah-marah kalau idolanya dihina dan dicaci. Satu sama lain saling menghina, saling melempar ujaran kebencian. Singkatnya, pelaku hatespeech adalah mereka yang teriak anti-hatespeech. Atau, korban berita hoax adalah mereka yang juga bertindak sebagai pelaku hoax. 

Kedua pihak saling bertikai. Amat kian bingung. Semuanya merasa paling berhak memegang kebenaran. Semua orang yang berada di luar lingkar dan jangkauannya adalah musuh, harus dijauhi. Padahal di sisi lain mengaku sebagai Pancasila. Mengaku sebagai penganut agama. Dan, sepakat bahwa Pancasila dan agama saling menguatkan, tidak bisa dipertentangkan, apalagi dibentur-benturkan. Kecuali, kata Amat, Hizbut Tahrir Indonesia yang tidak pernah sepakat terhadap konsepsi negara-bangsa.

Usai salat tarawih malam ke delapan, Amat kembali melingkar bersama para ustadz dan jajaran pengurus musala. Kini, dia berani membuka omongan. Membahas soal Pancasila di hadapan tetua. Dia paling muda. Karena remaja musala setempat, kurang gandrung terhadap agama. Remaja di sana hanya sibuk kerja, hidup mewah, dan senang-senang setiap hari. Amat kecewa dengan fenomena anak remaja seperti itu. Mengaku Pancasila, lagi.

Rupanya persoalan 8 rakaat dan 20 rakaat masih saja menjadi perdebatan sengit di sana. Amat kemudian bercerita panjang lebar mengenai sejarah Pancasila sejak Piagam Madinah. Sebuah tata negara yang diciptakan Rasulullah untuk membentuk negara yang berkeadaban. Isinya penuh dengan perjanjian. Kalau melanggar atau khianat, silakan keluar dari teritorial wilayah negara. Namun, yang terpenting adalah, setiap orang memiliki dan mendapat hak, tanggungjawab, serta kewajiban masing-masing.

Hak mereka dijamin. Yakni, untuk melaksanakan segala sesuatu yang bersifat pribadi. Beribadah, misalnya. Kemudian, kewajiban setiap orang di sana adalah menjaga keutuhan negara agar aman, damai, dan sejahtera. Sementara memelihara komitmen persatuan menjadi tanggungjawab bersama yang mesti dipikul secara kekeluargaan. Kiranya itu yang Amat sampaikan guna menciptakan harmoni di dalam tubuh keagamaan. Khususnya di musala tempat dia melaksanakan ibadah sehari-hari.

Tapi, Amat sadar. Dia belum bisa melakukan apa-apa kecuali bicara soal ide dan gagasan. Dia sadar, belum mampu mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila dalam keseharian. Pemuda yang satu itu, tak lebih dari sekadar penjual kecap. Maksudnya seperti para politisi dan pejabat pemerintah yang hanya bisa bicara tapi sangat sulit untuk mewujudkan kata-kata menjadi kerja nyata. Amat sadar betul soal itu. 

Kemudian, dia membuat meme sendiri. Hampir mirip dengan kebanyakan orang. Hanya berbeda tulisannya. Di gambar itu tertulis, "#PekanPancasila Saya Bukan Siapa-siapa."



Sekian.



Wallahu A'lam


Sabat, 8 Ramadhan 1438


Aru Elgete
Imam cadangan salat tarawih di musala Al-Manaar, Perwirasari, Bekasi Utara.