Kamis, 31 Januari 2019

Harlah NU ke-93: Jangan Jadi Kader Mentah!


Bersama Ketua PC IPNU Kota Bekasi


Tepat 1 April 2017, saya telah sah menjadi bagian dari Nahdlatul Ulama (NU) secara struktural. Saya dilantik sebagai pengurus Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kota Bekasi.

Tugasnya adalah membidani berbagai media, yang kala itu belum ada. Kalau pun sudah ada, tapi masih baru berjalan beberapa saja. Yang paling pertama, saya mengadmini akun instagram @ipnukotabekasi. Berbagai postingan menarik dan kegiatan-kegiatan keorganisasian, saya unggah. Walhasil, sila lihat sekarang. 

Kemudian tak hanya itu, keaktifan saya di NU Kota Bekasi, dengan mengemban tugas sebagai penguasa media, saya terus lakukan. Berkali-kali, saya bertanya kepada banyak pengurus, bahwa adakah website atau situs yang bisa saya kelola? Agar pemberitaan NU Kota Bekasi bisa masif dan membanjiri linimasa media sosial anak-anak muda.

Sebab, saya yang ketika itu (2017) sudah tiga tahun hidup di Bumi Patriot, sama sekali tidak mendapat informasi ke-NU-an dari media NU Kota Bekasi, padahal NU di sini sudah ada sejak Bekasi terpisah menjadi dua daerah; kota dan kabupaten. 

Saya tahu NU dari Ketua PC IPNU terpilih, ketika itu Adi Prastyo, yang rupanya kerabat saya di RW 08, Perwira, Bekasi Utara. Ajakan ber-NU, melalui IPNU, saya terima setelah sebelumnya, beberapa tahun yang lalu saya diajak Rizki Topananda, Ketua PC IPNU Kota Bekasi sebelumnya.

Kemelekatan diri sebagai penguasa media NU Kota Bekasi, kian saya buktinyatakan setelah diberi kepercayaan memegang website pcnukotabekasi.com (sekarang nubekasi.id) sejak Februari 2018. Hingga kini, sudah banyak artikel, tulisan, berita, dan sejarah kekaryaan ke-NU-an Kota Bekasi yang tercatat. 

Namun sebelum saya memegang website NU Bekasi itu, saya sering mengirim laporan aktivitas-aktivitas ke-NU-an dan kemudian diberitakan oleh Portal NU Online (nu.or.id). Hal tersebut lah, menjadi Jurnalis NU, yang membuat saya mudah dikenal dan mengenal orang lain. 

Bersama kader IPNU Kota Bekasi (kanan) dan Ketua IPPNU Bantargebang (kiri)

Pertanyaannya adalah, apakah saya ber-NU baru dimulai sejak saya dilantik sebagai IPNU pada 1 April 2017? 

Nyinyir, sindir, ledek, ocehan, dan berbagai omongan tak jarang menerpa saya yang rupa-rupanya masih cukup junior di NU, atau katakanlah, IPNU Kota Bekasi. Saya katakan bahwa aktivitas ke-NU-an saya secara struktural, memang dimulai sejak 1 April 2017.

Saya juga telah sah menjadi Kader NU setelah mengikuti Madrasah Kader Nahdlatul Ulama (MKNU) pada Agustus 2018 lalu di Wisma Kemnaker RI, Ciloto, Cianjur, Jawa Barat. 

Namun, secara kultur, saya sudah di-NU-kan secara biologis oleh kakek saya; Mbah Suwarno bin Mangkudimedjo. Seorang santri dari Kutoarjo dan kemudian menjadi kiai kampung di Kelurahan Kebon Kosong, Kemayoran, Jakarta Pusat, di era 80-an.

Sedangkan intelektualitas saya telah resmi menjadi NU, sejak 2009 di Buntet Pesantren Cirebon. Selama empat tahun digembleng menjadi santri di sana, ada banyak pengetahuan ke-NU-an yang tak banyak didapat oleh anak-anak NU di kota yang tidak berkesempatan nyantri.

Jadi, jauh sebelum saya ber-IPNU, saya sudah dikenalkan dengan berbagai aktivitas atau kegiatan NU kultur, seperti tahlilan, manaqiban, maulidan, ziarah kubur, dan lain sebagainya. 

Strukturalisasi diri ke-NU-an bagi saya adalah bukti bahwa ber-NU tidaklah cukup jika hanya sebatas ikut-ikutan leluhur yang melanggengkan tradisi amaliyah. Bersyukurnya saya adalah, sebelum menstrukturalisasi diri kepada organisasi NU, saya sudah dibekali berbagai pelajaran formal ke-NU-an di Buntet. 

Berorganisasi di struktural NU merupakan sebuah keniscayaan yang sempurna bagi warga NU kultur yang intelektualitasnya sudah tercerahkan. Maka, orang-orang di struktural NU itulah adalah kader NU yang sudah matang, sisi spiritualitas dan intelektualitasnya. 

Kalau toh ternyata, ada kader NU yang masih secara spiritual dan intelektual tidak mumpuni, maka percayalah bahwa mereka itu tetap menaruh takzim kepada para ulama atau kiai NU. Kalau toh tidak menaruh takzim kepada ulama, maka mungkin saja mereka itu hanya ikut-ikutan. Tapi bersyukurlah, karena tetap akan mendapat berkah, melalui washilah para ulama.

Terakhir, di Harlah NU ke-93 ini, saya tidak ingin terlalu banyak berceloteh tentang NU. Sebab, sebagian besar orang sudah tahu bagaimana kedekatan dan kemelekatan saya pada NU. Beberapa waktu terakhir ini, saya sengaja melabeli diri sebagai Jurnalis NU Kota Bekasi.

Bagi saya, NU adalah bagian paling penting yang telah banyak membawa perubahan kebaikan dalam hidup, dalam setiap gerak langkah, laku, perbuatan, dan tindak-tanduk saya selama menghirup udara di dunia. 

NU mengajarkan saya sebuah cara menyelaraskan tawa dan keseriusan. Hal-hal yang serius, bisa dibawakan dengan gaya humor yang membuat audiens tidak bosan mendengar atau menyimaknya. 

Sebab, begitulah para kiai NU mengajarkan santri-santrinya. Jangan terlalu serius, tapi juga jangan terlalu banyak bercanda (tawazzun). Sesekali boleh saja, tapi harus proporsional (i'tidal).

Karenanya pada logo NU, tali pengikat jagad tidak dikencangkan tapi juga tidak terlalu dilonggarkan. Menurut penjelasan para kiai, tali itu melambangkan bahwa NU memiliki sifat memahami yang lain, atau menghargai perbedaan (tasamuh), sehingga luwes dalam beragama akan dapat diterima dengan mudah oleh masyarakat. Demikian para wali membawa Islam ke Tanah Nusantara. 

Di NU, saya banyak belajar tentang cara menertawakan diri sendiri sebelum orang lain menghina pribadi saya yang jelas banyak kealfaan. Mahasuci Allah yang telah menjaga aib-aib hamba-Nya. 

Jadi, sebelum orang lain menghina saya, saya sudah lebih dulu bersetubuh dengan diri sendiri, menertawai dan menghakimi tubuh sendiri. Jika suatu saat ada orang lain yang menghina, maka tak ada sikap yang mesti saya kemukakan, kecuali menertawakan diri saya yang sudah hina ini tapi kemudian masih bisa dihinakan. Apa mulianya tubuh ini? Hahahaha...

Di NU mengajarkan kemerdekaan. Kemerdekaan diri, kemerdekaan perempuan, kemerdekaan orang lain, kemerdekaan kaum lemah, kemerdekaan setiap orang, dan berbagai kemerdekaan lain adalah mutlak harus dibela.

Setiap orang punya kemerdekaannya sendiri, dan tidak boleh melanggar atau menabrak kemerdekaan orang lain. Kalau toh kemerdekaan diri kita dilanggar atau ditabrak oleh orang lain, kalau saya sih, lebih memilih untuk mencari kemerdekaan lain.

Kiranya itulah yang diajarkan kiai-kiai NU, termasuk Kiai Said Aqil Siroj beberapa waktu lalu, saat pidatonya di Harlah ke-73 Muslimat NU yang dipelintir oleh media mainstream tanah air. Tapi apakah Kiai Said bergetar atau menjadi takut? Tidak. Sama sekali tidak.

Duh, banyak ajaran NU yang silakan dicari sendiri dengan keikhlasan dan kekhidmatan ber-NU. Jangan berorganisasi NU hanya ikut-ikutan, supaya tidak menjadi kader NU yang mentah, yang kentang, yang nanggung, yang bahkan bisa busuk suatu saat nanti.

Selamat Harlah NU ke-93, semoga saya dan kita semua semakin paham bagaimana hakikatnya ber-NU supaya tidak ada rasa paling NU sendiri. 


Wallahua'lam...

Pantun Pilpres 2019: Jokowi vs Prabowo


Bang Adian Napitupulu

Jual kakap ke kota Bogor
Paling cepat lewat jagorawi
Kalau mau tangkap koruptor
Sudah tepat pilih Jokowi

Suara serak berbeda paham
Ke kota Ngawi naik kereta
Kalau tolak pelanggar HAM
Pasti Jokowi pilihan kita

Beli busa pergi ke toko
Lihat si Ipin naik sepeda
Kalau bisa pilih yang Joko
Ngapain juga pilih yang duda

Paling asik ke Jimbaran
Bawa batik untuk jualan
Kalo penculik bangun kuburan
Orang baik membangun jalan

Baju batik dari surakarta
Dua detik ke menara pisa
Kalau kritik gunakan data
Kuda Meringkik karena rasa

Otot kawat tulang besi
Ambil godam di dalam laci
Kalau mau mendapat kursi
Adu Program bukan mencaci

Ayam berjalu banteng bertanduk
Badan naik pantat terduduk
Dari pada BOSAN malu tertunduk
Lebih baik melempar handuk

Soto kikil berkuah merah
Mobil carter ke kota kudus
Pilih wakil dengan musyawarah
Bukan barter uang sekardus

Ada lada di campur keju
Hidup kotor mengundang sial
Naik kuda pilihan borju
Naik motor pilihan milenial

Hidup sehat perbanyak tawa
Bunga layu lagu pesinden
Naik pangkat karena mertua
Tukang kayu yang jadi Presiden

Karya: Adian Napitupulu

Jumat, 25 Januari 2019

Jangan Mau Dibegoin Elit Politik!


Ilustrasi. Sumber gambar: tribunnews.com

Biar cerdas dan supaya kita tidak ribut melulu karena membela junjungan atau tokoh-tokoh yang ada di kubu junjungan kita, ada baiknya saya memberikan informasi berikut ini agar sesama rakyat jelata tidak gampang dibegoin.

Begini...

Prabowo Subianto ketika Pilpres 2009 adalah cawapres dari Megawati Soekarnoputri. Ketika itu, presiden dan pemimpin nasional terpilih kita adalah Susilo Bambang Yudhoyono dan Budiono. 

Nah, saat Pemilihan Gubernur DKI Jakarta pada 2012, Fadli Zon (kaki tangannya Prabowo) adalah juru kampanye pasangan Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama. Pasangan itu, yang diusung oleh Partai Gerindra berhasil menang. 

Pada 2004, Susilo Bambang Yudhoyono yang pernah menjadi menteri di pemerintahan Megawati Soekarno Putri - KH Abdurrahman Wahid, juga pernah mencalonkan diri menjadi presiden bersama Jusuf Kalla, didukung Surya Paloh. Sementara penantang mereka adalah pasangan Megawati dan KH Hasyim Muzadi. 

Pilpres berikutnya, 2009, Jusuf Kalla mencalonkan diri menjadi presiden dengan wakilnya Wiranto, melawan SBY-Budiono. JK-Wiranto didukung Aburizal Bakrie yang kini lebih dekat dan akrab dengan Prabowo Subianto. Prabowo, menjauh dengan JK dan Wiranto.

Nah, Ratu Hoaks Ratna Sarumpaet di zaman orde baru merupakan sosok yang cukup lantang menentang rezim Soeharto. Aktivis perempuan yang anak teater ini tak kenal lelah untuk terus mendobrak dinding kekuasaan 'pembunuh berdarah dingin' itu. Kini, Ratna digandeng (atau menggandeng) Prabowo yang disokong penuh Keluarga Cendana.

Anies Baswedan, pada 2013, pernah menjadi peserta kandidat calon presiden di konvensi Partai Demokrat. 

Kemudian di Pilpres 2014, Anies berperan sebagai tim sukses Jokowi-JK dan sempat pula masuk kabinet, menjabat Menteri Pendidikan RI. Ia juga dikenal sebagai pengritik keras kelompok 'radikal' seperti FPI melalui Gerakan Merajut Kebangsaan. Sekarang, malah mendekat ke Prabowo, PKS, dan FPI.

Amien Rais, pernah menentang Megawati untuk menjadi presiden. Lalu ia membikin manuver poros tengah, menaikkan Gus Dur. Tapi di tengah jalan, Gus Dur malah digulingkan. Megawati justru dinaikkan jadi presiden.

Pada Pilpres 2004, Amien Rais menjadi capres berpasangan dengan Siswono Yudohusodo melawan pasangan SBY-JK dan Prabowo. Tapi sayang, Prabowo gagal nyapres karena kalah lebih dulu di konvensi Partai Golkar yang menelurkan keputusan, Wiranto-Shalahuddin Wahid (Gus Sholah) maju sebagai capres dan cawapres. 

Nah lucunya, sekarang Amien Rais malah bergandeng mesra dengan Prabowo. Padahal di zaman reformasi, Amien Rais itu adalah target yang harus diamankan (atau barangkali dimusnahkan) oleh Prabowo. 

Ali Muchtar Ngabalin, pada Pilpres 2014 adalah kerabat dekat dan semacam "die-hard" bagi Prabowo yang kemudian paling sengit menyerang Jokowi. Saat ini, Ali justru bergelayut manja di pelukan Jokowi. 

Apa kabar PKS?

Saat Pilpres 2009 dan Pigub DKI Jakarta 2012, PKS itu gila-gilaan menyerang Prabowo. Ketika Pilpres, PKS mengusung pasangan SBY-Budiono melawan Megawati-Prabowo (Mega Pro). Sedangkan Pilkada DKI 2012, PKS mengusung Hidayat Nur Wahid berpasangan dengan Didik J Rachbini, Prabowo mengusung Jokowi-Ahok.

Nah sekarang, PKS berasyik-masyuk dengan Gerindra. Walau sebenarnya juga sedang kisruh terkait kekosongan Wakil Gubernur DKI Jakarta, sejak ditinggal Sandiaga Uno. 

Selain itu, PDI Perjuangan bersama Partai Gerindra pernah mesra sebagai oposisi terhadap rezim SBY yang disokong Partai Golkar, PKS, dan PAN. Sekarang? Ya begitu itu...

Satu lagi yang lucu, musisi kenamaan tanah air, Ahmad Dhani, pernah menjadi musuh bebuyutan FPI. Apa pasal? Dianggap menginjak-injak lafaz Allah. Dibela oleh Gus Dur. Kemudian Dhani bikin lagu Laskar Cinta untuk menyindir FPI. Hari ini, kita bisa lihat bagaimana tingkahnya.

Dari pemaparan di atas, apa pesan yang bisa kita petik sebagai pembelajaran? 

Bahwa sesungguhnya di dalam politik praktis yang orientasinya adalah kekuasaan, tidak ada kawan dan lawan abadi. Karena yang abadi adalah kepentingan. Jika ada kepentingan yang sama, maka kubu yang semula berseberangan menjadi rekat dan akrab. 

Kata orang Babelan, everything is just game, enjoy bae ngapah.

Tidak perlu memusuhi kawan dan kerabat kita, atau bahkan kekasih dan keluarga yang berbeda pilihan politiknya. 

Para elit politik itu bisa kapan saja, sesuka hati, bergonta-ganti pasangan dan kerabat politik. Mereka yang awalnya musuh, bisa saja menjadi kawan. Begitu, sebaliknya. 

Sedangkan kita, sudah terlanjur memutus persahabatan, bahkan persaudaraan demi junjungan politik yang saat ini sedang kita bela dan dukung. Mereka-mereka itu bisa saja, usai Pemilu 2019 ini, sudah kongkow-kongkow bareng di balik panggung. 

Kemudian mereka mendapat kekuasaan, sedang kita hilang persahabatan. Hal yang mesti diingat adalah bahwa saat hidup kita susah, maka orang pertama yang menolong kita bukanlah para elit politik di atas sana, tapi justru saudara, tetangga, dan kawan terdekat kita.

Jadi, jangan mau dibegoin sama elit politik!

Kamis, 24 Januari 2019

Ahok dan Kebebasan


Saat mengurus administrasi pembebasan. Sumber: Instagram/BTP

Kalau tidak menuai 'kehebohan', itu namanya bukan Ahok. Bayangkan saja, sejak awal sepak terjangnya di dunia politik, dia selalu menuai kontroversi. Kehadirannya selalu menjadi sorotan, berita hangat.

Sejak terjerat kasus penodaan agama, proses pengadilannya, bahkan selama berada di penjara, dan ketika dia mau bebas, nyaris menjadi topik yang selalu panas untuk diikuti.

Akhirnya, Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok (sekarang, BTP) bebas pada 24 Januari 2019 setelah menjalani masa hukuman di penjara selama satu tahun dan delapan bulan lima belas hari, dari penjara Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok. 

Tepat tanggal 9 Mei di 2017, dia mulai menjalani hukuman sebagai konsekuensi dari keputusan hakim di Pengadilan Negeri Jakarta Utara. Ahok terbukti bersalah melakukan penodaan agama atas pernyataan soal Surat Al-Maidah 51 saat berkunjung ke Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu.

Sebuah tanya sederhana menjadi menarik untuk diajukan di ruang publik, yaitu sesungguhnya apa makna kebebasan Ahok dari penjara?

Dipastikan semua orang bisa memberikan jawaban untuk pertanyaan ini. Baik yang positif, negatif, atau bahkan jawaban yang kontroversial pun sangat mungkin muncul.

Menarik, karena sosok pribadi Ahok memang menarik. Hampir semua yang dimiliki dan dialami Ahok menarik untuk diuraikan. Bahkan, menjadi referensi dalam dunia politik, sosial, keagamaan, kepemimpinan, pemerintahan, dan birokrasi.

Tidak bisa dipungkiri bahwa sosok Ahok menjadi inspirasi banyak orang, tidak saja di negeri ini, tetapi juga di dunia internasional.

Kebebasan Berpendapat

Salah satu indikator yang sangat mendasar bagi sebuah negeri yang merdeka adalah kebebasan dalam mengemukakan pendapat, tanpa merasa terancam. Peristiwa yang dialami Ahok, akibat kesalahan fatal dalam berpendapat tentang agama, mengantarkan dia menjadi seorang pesakitan.

Namun kejadian ini telah menimbulkan ketakutan yang sangat besar dikalangan publik ketika mengemukakan pendapatnya. Karena sangat mungkin menyinggung dan menista keyakinan dan kepercayaan tertentu. Walaupun sesungguhnya tidak bermaksud untuk itu.

Apabila publik merasa ketakutan untuk bebas berpendapat, lalu menjadi pertanyaan mendasar; seberapa jauh negeri ini telah merdeka dalam bersuara dan mengemukakan pendapatnya di depan publik?

Menjadi traumatis, ketika masa orde baru selama 32 tahun, kebebasan berpendapat ini menjadi sesuatu yang masih langka. Sejak reformasi, ada euforia yang luar biasa ketika kebebasan itu menjadi lepas sama sekali. Lalu, peristiwa Ahok seakan ada kemunduran untuk kembali pada masa yang lalu.

"Jadi buat saya kemerdekaan yang hakiki itu kemerdekaan manusia bisa menyuarakan kebenaran tanpa diancam. Tanpa ditindak. Sesuai undang-undang," kata Ahok

Kepatuhan pada Hukum

Apa jadinya sebuah negara tanpa penegakan hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku? Jawabannya adalah kekacauan, kemunduran, premanisme, dan adu jotos.

Menjadi pimpinan atau aparat birokrasi yang menjadi contoh penegakan hukum dan aturan tidaklah mudah, terutama ditengah-tengah sistem korup, yang semua orang berusaha memanfaatkan kesempatan untuk kepentingan pribadi atau kelompok.

Sejak menjadi wakil gubernur dan kemudian menjadi gubernur DKI Jakarta, Ahok telah mempertontonkan bagaimana agar semua ketentuan yang berlaku, dikawal secara konsisten. Mulai dari hal-hal yang kecil bahkan sepele, hingga pada hal-hal besar. Mulai dari menertibkan sejumlah area parkir yang selalu dibawah kendali premanisme, hingga penyusunan RAPB-D DKI di ruangan para legislatif.

Sesungguhnya, negeri ini kaya akan semua aturan dan hukum yang mengatur birokrasi dan pemerintahan, tetapi sangat lemah dalam melakukannya dengan benar dan konsisten. Itu sebabnya, kemajuan yang ditargetkan agar negeri ini bisa melaju dengan kencang menjadi negara maju sangat lambat, atau bahkan berjalan di tempat saja.

Pemimpin Ksatria

Tidak banyak pemimpin yang memiliki jiwa ksatria dalam menjalankan tupoksinya, terutama dalam pengambilan keputusan. Banyak pemimpin yang tampil sekadar boneka saja; dalam pengertian menjalankan tupoksinya hanya sesuai dengan SOP yang ada. Di luar itu, tidak berani mengambil risiko, bahkan cenderung berkompromi.

Seorang Ahok menjalankan semua ketentuan dan regulasi yang ada, bahkan lebih dari yang tertuang secara tertulis, tetapi implementasi yang menopang kepentingan publiknya, dan mengesampingkan kepentingan pribadinya.

Suatu ketika, Presiden Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal, mengatakan bahwa mantan Gubernur DKI Jakarta itu jauh lebih berani dalam memutuskan upah minimum provinsi, ketimbang Gubernur-Wakil Gubernur DKI Jakarta saat ini; Anies Baswedan-entah.

Pernyataan Iqbal ini tidaklah berlebihan kalau melihat bagaimana kiprah Ahok selama memimpin DKI. Sangat menonjol bagaimana Ahok memimpin serta mengambil keputusan dengan cepat, tepat dan efisien tanpa menunggu berlama-lama. Bahkan di lapangan sekalipun, dia mampu membuat keputusan-keputusan strategis yang berhubungan langsung dengan kepentingan masyarakatnya.

Publik banyak menyaksikan bagaimana seorang Gubernur DKI Jakarta, Ahok, tidak mengambil apa yang bukan haknya. Bahkan yang menjadi haknya sekalipun tidak diambilnya secara semena-mena, seperti pemanfaatan dana taktis sebagai seorang gubernur.

Ahok pembuka tabir kebenaran dan keadilan publik

Ketika menjabat sebagai seorang gubernur, ada banyak hal yang baru diketahui lpublik secara terang benderang tentang berbagai hal dalam pengelolaan birokrasi dan pemerintahan DKI.

Ada banyak penyimpangan dan penyelewangan yang selama ini, bertahun-tahun berjalan tidak diketahui publik. Maka dengan gaya manajemen Ahok yang sangat terbuka, publik tahu dan paham dengan baik.

Sebagai contoh yang bagus adalah pembangunan simpang susun semanggi, yang anggarannya sekitar Rp 350 miliar, tidak dibiayai APBD DKI, tetapi dari sumber jasa pemanfaatan ruang dan pembangunan gedung-gedung pencakar langit di Jakarta.

Bila semua pimpinan dan kepala daerah pemerintahan memiliki sikap yang benar dan adil, maka kesejehteraan dan keadilan akan menjadi milik dari masyarakat di negeri ini. Dan tentu saja akan menjadi fondasi yang kuat agar republik ini cepat maju menyamai negara-negara maju lainnya.

Ahok sebagai Referensi Politik 

Kiprah seorang Ahok dalam dunia politik negeri ini telah menambah ruang referensi untuk sebuah perubahan dan kemajuan yang sesungguhnya sangat dibutuhkan oleh Indonesia menuju level yang lebih tinggi dan lebih maju, agar menjadi negara yang maju.

Sebab, salah satu persyaratan dasar agar menuju level yang lebih tinggi adalah hadirnya banyak sosok yang mampu membuat perubahan itu.

Sosok seorang Ahok telah memberikan acuan bahwa kompetensi seorang politikus untuk membawa perubahan itu jauh lebih baik dan utama dari hal-hal yang lain. Sebuah aliran politik bisa saja tidak besar, tetapi ketika seorang yang memiliki kompetensi yang kuat, maka perubahan bisa diwujudkan dengan mudah melalui instrument politik yang tersedia.

Hal itu tentu menjadi pembelajaran bagi dunia politik Indonesia, agar mendidik dan mempersiapkan kader-kader untuk menjadi pemimpin yang bisa membawa perubahan yang mendasar bagi sebagai negeri.

Pertanyaan yang terus menggoda dan menjadi teka-teki besar adalah kemana arah kiprah politik seorang Ahok? 

Banyak yang meramalkan bahwa Ahok tidak terjun lagi atau rehat sebenatar dari dunia politik, tetapi banyak juga yang memprediksi akan terjun habis. Mengapa pertanyaan ini menjadi menarik? Karena sesungguhnya, sosok seperti Ahok diakui masih langka, dan tentu saja dibutuhkan oleh banyak partai dan juga publik menghendaki.

Dalam pemahaman akademik, sangat mungkin Ahok memasuki kembali dunia politik. Alasan yang sangat kuat adalah karena secara statistik dunia Ahok adalah dunia politik, dan investasinya untuk dunia politik sangatlah besar, disamping tuntutan kehadiran seorang Ahok bagi perubahan dunia politik di republik ini. 

Walaupun demikian, mulai hari ini akan menjadi momen-momen penting untuk melihat kembali arah dari kiprah politik seorang Ahok!


(Yupiter Gulo, Kompasianer)

Selamat Kembali Bersinar Purnama Negeri ini


Sumber gambar: Google Images


Kamis, 24 Januari 2019 Basuki Tjahaja Purnama (BTP) bebas. Inilah momentum yang ditunggu-tunggu di awal tahun ini. BTP menghirup udara bebas seperti sediakala, menjadi manusia yang baru, dan manusia yang sudah mampu menguasai dirinya sendiri. 

Dia menolak dipanggil Ahok. Kenapa? Karena panggilan etnik itu adalah masa lalu, yang mencebloskan dirinya ke dalam jeruji besi. Dia ingin dipanggil BTP, karena baginya panggilan BTP-lah yang nantinya bakal mampu membuat dia terus bergerak maju.

BTP, bagi saya, adalah korban dari amoralitas keagamaan. Dia telah menjadi tumbal dari pemerkosaan ayat dan kitab suci. Dia yang dipaksa menjadi bagian dari penindasan orang-orang beragama yang haus kekuasaan.

Namun BTP sudah berani berlaku sportif, dia mengaku salah, walaupun salah dan benar masih bisa dipertentangkan. Dia-lah yang mengajarkan kita untuk menjadi ksatria sejati. Tidak takut oleh apa dan siapa. Kesalahan sekecil apa pun, akan dilawan dan dihancurkannya. 

Kelakar BTP suatu ketika, Tuhan pun akan dilawan manakala Pencipta Alam Raya itu berbuat salah; tapi Dia tidak pernah salah; kalau Tuhan salah, maka sudah gagal Dia menjadi Tuhan, bukan Tuhan berarti.

Sekalipun beragama Kristen, guyonannya itu sudah setingkat dengan humor ala Nahdlatul Ulama, yang dibawa oleh KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Yakni menertawakan sesuatu hal yang paling sensitif agar suasana bisa menjadi cair. Paling kerennya, jika seseorang sudah mampu menertawakan dirinya sendiri. BTP? Sudah!

Saya berhasil mendapatkan tulisan dan kesaksian dari Pengasuh Pesantren Motivasi Indonesia Bekasi, KH Nurul Huda. Suatu ketika, dia menjenguk BTP dan menjadi saksi bahwa masih ada cinta yang mengitarinya. 

*****

Ahok dan Cinta yang mengitarinya

Jum'at, 3 November 2017 menjadi momentum yang penuh kenangan. Bukan hanya untuk saya, tapi juga 14 teman yang datang bersama mengunjungi Ahok (sekarang, BTP) di Mako Brimob. Sebagian mereka datang dari luar Jakarta, dengan penerbangan dan sewa hotel masing-masing.

Pendaftaran menjenguk Ahok satu bulan sebelumnya, dan itu menjadi pertanda daftar antrian yang panjang. Benar saja, saat tiba di Mako Brimob, Depok, antrian itu sudah terlihat. Untungnya kami dijadwalkan tepat pada jam kami tiba, sehingga hanya cukup menunggu 10 menit untuk bisa langsung berjumpa dengan manusia yang dikelilingi cinta.

Bahkan, bila di luar sana ada tujuh juta orang yang membencinya, kekuatan cinta yang mengitari Ahok tetap membuatnya bersinar, sinar keteduhan akibat tempaan hidup yang tidak ringan.

"Tanpa keikhlasan, kita akan sulit berdamai dengan tekanan, stigma penjara akan membunuh mental orang yang tidak bisa mengubah dirinya," Begitu kata Ahok, saat kami menanyakan kabar dirinya menghadapi situasi ini.

Ahok tampak sehat, tubuhnya lebih berotot, tinggi yang menjulang dengan perpaduan otot yang kekar membuatnya tampak lebih muda dan gagah. 

"Olahraga itu kuncinya, push up, sit up, pull up, saya lakukan sekitar 80% dari detak normal kerja jantung. Ini penting. Jadi, push up itu bukan soal kuat atau tidak, tapi sejauh mana tubuh kita mengizinkan kita menguras energi dengan takaran yang tepat." Begitu Ahok menjawab pertanyaan, "berapa kali push up yang dilakukannya setiap hari?"

Ya, Ahok selalu menggunakan alat deteksi detak jantung sampai menemukan kondisi normal untuk berapa kali melakukan push up dan sit up. Ahok memang detail bukan cuma urusan pekerjaan tapi juga kesehatan tubuhnya.

Kami lebih banyak mendengar, membiarkan Ahok bercerita, sambil tangannya tak henti menulis pesan dan menandatangani puluhan buku, kertas, kanvas, baju, dan bahkan tulisan seorang anak SD yang minta tulisannya dinilai oleh Ahok.

"Kayak gini kan gue jadi terbiasa, ngomong sambil tangan terus bekerja. (Dan) gue nulis gak asal, harus detail dan tepat. Gue baru tau hikmah kenapa saat sekolah dulu, seorang guru mengajarkan menulis bukan scan suatu teks dengan mata kita."

"Dengan menulis, memori kita menyimpan dengan lengkap dan tahan lama, ini berbeda dengan membaca dan menandatangani disposisi. Ribuan surat yang gue terima dan semua harus gue balas, dan supaya bisa membalas dengan baik gue harus membacanya satu persatu, supaya bisa menjiwai saat membalas surat mereka. Kamu tidak akan bisa membalas surat seseorang hanya dengan membacanya sambil lalu, kalaupun kamu jawab pasti tidak dari hati."

Huufft, sorry, saya harus menghela nafas, tidak bisa ditahan lagi, tangis saya pecah, saya duduk persis bersebelahan dengan Ahok, dan menyaksikan sendiri bagaimana Ahok melayani dengan cinta, kami yang mengaguminya.

Sebenarnya tidak tega melihat Ahok harus menandatangani dan menulis pesan puluhan buku serta kertas yang menumpuk, tapi Ahok melakukannya dengan cinta.

"Ini mah gak seberapa, saya menulis memoar Ahok di penjara sudah 176 halaman, lalu menulis Renungan Perjalanan Hidupku sudah 200 halaman, dan semua tulis tangan. Pernah pergelangan tangan ini bengkak karena kelamaan menulis, gak bisa disembuhin pake obat, tau gak sembuhnya pake apa? Pake push up, hahaha, itu mengapa ada dua hal yang aku seneng banget di penjara ini; olahraga dan baca buku."

Mendengar pemaparan Ahok itu, kami menggeleng. Ya Allah, saya benar-benar tidak sedang menjenguk pesakitan di sebuah penjara. Saya menyaksikan manusia tegar, seorang motivator dan inspirator sejati. Ahok menggugah kami, bukan hanya setiap pesan yang meluncur dari mulutnya yang mungil, tetapi gerak tangannya, tatapan matanya, dan gerak tubuhnya.

Bahkan, dia membalikkan badan seluruhnya untuk menjawab pertanyaan dan ia menjawabnya tidak sambil lalu, penuh gairah dan serius menghargai yang bertanya. 

Ahok sehat dan dikelilingi cinta.

"Ikhlas itu menguatkan, kita harus menerima kenyataan, melawan hanya akan membuat kita semakin terpuruk dalam kemarahan dan dendam. Selain ikhlas tubuh kita juga harus sehat, badan yang sehat akan menggerakkan jiwa kita lebih bergairah. Gerak kita yang positif akan menguatkan jiwa kita."

Saya menimpali ringan, "Iya Pak Ahok, ada yang mengatakan begini, emotion depend on motion."

"Benar itu, makanya kalau kamu tanyakan soal tanah abang berantakan lagi, Ahok yang dulu bisa marah, tapi aku bisa menahan diri sekarang. Pertanyaan itu kan bikin gue keki, lha gue bukan Gubernur lagi, elu tanyain yang begitu, udah tau gue lagi di penjara," timpal Ahok dan kemudian dia tertawa. 

Ahok tertawa dan saya pelan-pelan menelan ludah getir. Pertanyaan teman soal tanah abang berantakan lagi disikapi dengan penuh canda. Perlu diketahui, saya memperhatikan banyak teman saya yang diam-diam menangis haru menyaksikan gaya Ahok yang di luar dugaan kami. Ahok benar-benar membuat suasana kunjungan kami begitu cair tapi penuh ilmu dan motivasi. 

Tiga puluh menit tak terasa, sang penjaga mengingatkan kami. Waktu sudah habis. Di belakang kami masih banyak yang antri.

Selasa dan Jum'at memang menjadi waktu kunjungan yang disediakan Mako Brimob. Sementara Ahok tidak kehabisan energi melayani orang-orang yang mengunjunginya.

Kami berdiri. Ahok menyalami kami satu-persatu. Setiap kami menerima pesan. Utamanya soal semangat mencintai negeri dan membangun bangsa.

Kami datang ingin menyemangati Ahok, tapi yang kami dapatkan dia telah mendapatkan terang kehidupan dan terus menerangi kami.

Kaki kami melangkah meninggalkan ruang kunjungan, mengambil kembali handphone dan barang-barang yang kami titipkan di meja penjaga.

Ahok sehat karena ia menyebar cinta dan dikelilingi cinta. Rasanya tak sabar menantimu kembali berkiprah untuk negeri tercinta.

*****

Ke mana BTP Berlabuh?

Menjadi politisi, sesungguhnya bukanlah cita-citanya sedari kecil. Namun, dia harus terjun ke ruang politik agar mampu membasmi orang-orang jahat, kotor, dan maling-maling kelas kakap.

Kalau terjun ke politik, itu berarti dia harus masuk atau mengenakan pakaian partai politik (parpol), sedangkan menurut BTP, parpol adalah sarangnya (atau minimal, langkah awal) para maling untuk kemudian berkeliaran di berbagai instansi. 

Atau jika memang BTP ingin berparpol, maka pasti dia memilih parpol yang lebih sedikit koruptornya. 

Tapi bagi saya, BTP tak perlu masuk parpol. Dia cukup menjadi seorang yang profesional, keliling memberikan motivasi dari berbagai permasalahan hidup yang dihadapinya, dan menunggu saja sampai tiba waktunya ditugaskan untuk menjadi seorang menteri. 

Saat itulah kemudian, BTP mampu memberantas para pemain yang sering menggerogoti uang negara. Menteri apa yang cocok? Menurut saya, Menteri Dalam Negeri. Entahlah, saat ini, biarkan BTP bebas dulu.

Terlepas dari berbagai prediksi itu, yang jelas, BTP akan tetap berlabuh pada kebenaran dan melawan berbagai kemunafikan.

BTP telah membuktikan, bahwa menjadi manusia haruslah berani menghadapi apa pun, tidak kemudian lari dari masalah dan memprovokasi massa agar seolah-olah telah terjadi kriminalisasi. Itu namanya playing victim! Paham?

Selamat datang dan kembali bersinar, purnama negeri ini. Sinarilah bangsa ini dengan keteguhan hati, ketegaran jiwa, dan kemantapan gerak untuk terus berbuat baik dalam memperbaiki keadaan negeri.

Selamat berlabuh, di udara kebebasan...

Rabu, 23 Januari 2019

Menuju Satu Abad, NU Wajib Mengubah Pola Dakwah




Tahun ini, organisasi massa Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) telah memasuki usia ke-93. Sepanjang itu pula, NU berkhidmat pada umat, bangsa, dan negara. 

Bahkan, dalam usia yang senja itu, NU masih saja eksis dalam melakukan transformasi nilai-nilai ajaran Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).

Namun pada saat yang sama, upaya untuk melemahkan NU terus dilakukan kelompok-kelompok anti-NU. Persoalan ini kian mengkhawatirkan dengan adanya polarisasi di kalangan NU sendiri. Seperti munculnya fenomena NU Garis Lurus, beberapa tahun lalu. 

Gerakan yang mengatasnamakan NU Garis Lurus itu kerap mengkritik (bahkan menyerang) petinggi-petinggi NU, mulai dari Rais 'Aam, Ketua Umum PBNU, dan ulama-ulama sepuh NU lainnya. 

Kondisi ini jelas mengkhawatirkan, bahkan menyedihkan. Sebagai kader muda NU, saya merasa sedih melihat warga NU saling bertikai satu sama lain. Sementara itu, pada saat yang sama, kelompok-kelompok Islam radikal kian gigih menjalankan aksinya. 

Menguatnya kelompok Islam radikal, sebenarnya tidak berpengaruh secara signifikan terhadap NU secara kelembagaan. Sebab, NU akan tetap kukuh selama masih ada ulama, kiai, dan pesantren. 

Namun perlahan, NU akan lemah manakala warganya banyak menyeberang ke aliran lain. Atas dasar ini, kita perlu mengkhawatirkan warga Nahdliyin yang masih awam pemahaman keagamaannya. Mereka itulah yang rentan dimasuki dan dipengaruhi. 

Selain itu, keterdesakan ekonomi juga bisa menjadi salah satu faktor warga NU menyeberang ke aliran lain. Sebab, belakangan ini, banyak orang yang berani menggadaikan akidah karena keadaan ekonomi yang sangat mendesak. 

Fenomena itu diperparah dengan kebijakan ekonomi pemerintah yang masih timpang dan belum merata. Sehingga, kesenjangan ekonomi terjadi di mana-mana. Kemiskinan dan pengangguran grafiknya terus naik saban tahun. 

Di saat kesenjangan ekonomi semakin kentara, ada pula praktik korupsi di kalangan elit pemerintah yang kian marak. Akibat yang ditimbulkan adalah kesengsaraan rakyat makin menjadi-jadi, terlebih di era globalisasi ini yang sudah pasti menempatkan ekononi sebagai elemen penting dalam kehidupan manusia. 

Dalam kondisi ekonomi yang seperti itu, yang carut-marut, dan kacau-balau, aliran-aliran keagamaan yang bertentangan dengan paham Islam Ahlussunnah wal Jamaah terus bereaksi mencari massa ke daerah-daerah pelosok yang terpencil; perdesaan. 

Dakwah Melalui Pemberdayaan Ekonomi

NU adalah organisasi keagamaan dan kemasyarakatan yang getol mengampanyekan Islam moderat dan rahmatan lil alamin. Istilah rahmatan lil alamin ini kemudian diterjemahkan ke dalam berbagai program seperti, sosial keagamaan, pendidikan, ekonomi kerakyatan, dan politik kebangsaan.

Melalui program-program itu, NU mesti menjadi mitra pemerintah dalam menciptakan stabilitas sosial dan kesejahteraan umat, dan kemudian menjadi benteng kuat NKRI melalui transformasi islam moderat dan toleran.

Menurut Yusuf Qordlowi, segala prilaku ekstrem yang terjadi di masyarakat antara lain karena: lemahnya pemahaman dan pandangan terhadap hakikat agama, kecenderungan tekstual dalam memahami nash-nash, sibuk mempertentangkan hal-hal sampingan kemudian melupakan permasalahan utama, pemahaman keliru terhadap beberapa pengertian, serta mengikuti yang tersamar dan meninggalkan yang jelas.

Karena itulah, tidak cukup hanya berdakwah dari mimbar ke mimbar, NU juga harus memberikan solusi agar warga NU dari kelas menengah ke bawah bisa keluar dari desakan ekonomi atau kemiskinan.

Pasalnya, berdakwah untuk mengajak pada kebaikan harus bersinergi dengan penyelesaian kebutuhan hidup masyarakat. Pesan-pesan takwa kepada Allah SWT menjadi tidak bermanfaat apabila disampaikan pada masyarakat yang tengah mengalami keterdesakan ekonomi.

Modifikasi Pola Dakwah NU



Volume dakwah dari panggung ke panggung atau mimbar ke mimbar harus dikurangi untuk selanjutnya menggalakkan dakwah melalui pemberdayaan ekonomi masyarakat. Sebab, dakwah pemberdayaan ekonomi inilah yang paling efektif dan efesien untuk memperkuat organisasi (NU).

Di samping memperkuat pemahaman ajaran Aswaja kepada warganya, dakwah bisa dilakukan sembari mendampingi masyarakat dalam mengembangkan perekonomian mereka. Dalam konteks ini, NU sebenarnya bisa memanfaatkan peluang ekonomi syariah yang kini sedang booming.

Dalam mengembangkan ekonomi syariah, NU bisa menggunakan instrumen pesantren dan organisasi (NU) mulai dari tingkat ranting hingga cabang. Jika NU mampu mengelola peluang ekonomi syariah ini, maka ia bisa memberikan solusi ekonomi pada umatnya. Sehingga organisasi ini semakin kuat dan mengundang simpatik dari masyarakat yang lebih luas.

Dakwah Melalui Media Sosial

Saya merupakan, barangkali, salah satu kader muda NU di Kota Bekasi yang sangat senang sekali menceburkan diri ke dalam ruang maya, bernama media sosial. Di sana, berbagai informasi membanjiri linimasa yang semakin ke sini kian mengkhawatirkan. 

Beberapa tahun lalu, berbagai pengetahuan Islam yang pertama kali muncul, dengan kata kunci fiqih, tasawuf, sufi, amaliyah, dan aktivitas keagamaan apa pun, di halaman awal google akan bermunculan portal-portal keislaman yang jelas bukan Aswaja, apalagi An-Nahdliyah. 

Namun kini, perlahan NU mulai bangkit. Warganya dibekali ilmu 'bela diri' untuk berperang dan bertempur di hutan belantara yang segala rupa tumpah-ruah di sana. Kata para pepatah, lebih baik terlambat daripada tidak sekali. 

Selain pengelolaan media sosial yang massif, terstruktur, dan terukur, NU harus terus menggiatkan warganya untuk menulis. Tentu, menulis dengan terampil agar enak dibaca dan mampu mempengaruhi pikiran pembaca. 

Sebab selama ini, yang saya lihat di lapangan, orang NU hanya pandai beretorika, pandai ceramah di mimbar-mimbar keagamaan, dan orasi yang meledak-ledak di acara lailatul ijtima' misalnya, tapi berapa banyak tenaga yang mampu mendokumentasikan itu, berupa tulisan (atau video) yang menarik, ke dalam postingan di media sosial?

Saya melihat, pelatihan-pelatihan menulis yang diadakan oleh NU atau badan otonom dan lembaganya, seperti hanya angin lalu saja. Sekadar formalitas, dimasukkan ke dalam daftar lembar pertanggungjawaban, dan tidak ada output yang benar-benar massif.

Pelatihan menulis tidak cukup dalam waktu sehari, tiga hari, seminggu, atau sebulan saja. Tapi mesti berkala, terus-menerus, serta dilakukan pendampingan secara nyata agar kemampuan dan keahlian warga NU terasah. 

Pertanyaan terakhir, yang tidak perlu dijawab. Ada berapa orang di setiap pengurus cabang (kota/kabupaten) yang punya keahlian menulis dan gemar berselancar di media sosial? 

Semoga di usia yang ke-93, menuju satu abad, NU tetap jaya dan berkenan mengubah pola dakwahnya agar bisa senantiasa beradaptasi dengan perkembangan zaman. Lebih jauh, agar tak hilang dimakan waktu karena digerus oleh paham keagamaan (Islam) populer, tapi radikal dan fundamental.

Selasa, 22 Januari 2019

Maha Benar Cewek dengan Segala Bacotnya


Ilustrasi, sumber gambar: kompasiana.com

Rico, seorang pria penyayang yang sering bertandang ke rumah kekasihnya, Nila. Perempuan cantik yang tercinta ini, kerap menyajikan masakan untuk seorang yang beberapa bulan lagi menjadi suaminya.

"Mau dimasakin apa nanti malam, Mas?" kata Nila, pada Sabtu siang, melalui pesan singkat aplikasi WhatsApp.

"Terserah kamu aja deh," jawab Rico singkat.

"Jangan bilang terserah dong. Bikin bingung yang mau masak aja."

"Ya sudah opor ayam, gimana?"

"Ih, tapi ayam lagi mahal banget."

Agak lama, Rico berpikir. Memberikan saran perihal masakan apa yang bakal disajikan Nila untuknya.

"Oreg tempe deh kalau gitu," kata Rico setelah beberapa menit.

"Sayang, tempe di Mang Soleh yang biasa aku beli itu lagi kurang enak. Kedelainya hancur."

"Atau sambel sama telor dadar juga aku udah seneng, kok."

"Cabe sekarang harganya lagi gila-gilaan," kata Nila hampir kesal.

"Oh, kalau begitu beli makan di warung padang aja. Atau kita makan di alun-alun."

Dengan nada sensi dan menulis dengan huruf kapital, Nila merajuk.

"KAMU TUH GAK MENGHARGAI AKU BANGET, SIH. AKU PENGIN MASAKAN BUAT CALON SUAMI SENDIRI MALAH MAU BILANG SEOLAH-OLAH MASAKANKU GAK ENAK. IYA KAN?"

Malam minggu kali ini, Rico memutuskan untuk tidur lebih awal. Batal apel.

*********

Rico dan Nila sudah menikah. Sudah berjalan sekitar dua minggu. Untuk menu makan siang yang sangat panas, Nila ingin menyajikan masakan yang pedas-pedas.

"Ayam ungkep enaknya pakai sambal nih. Mau dibikinin sambal apa kamu?"

Belajar dari pengalaman, Rico pantang bilang terserah. Dengan singkat ia katakan, "Sambal tomat aja".

"Tomatnya ijo-ijo, nih. Asem."

"Sambel terasi deh kalau begitu."

"Yah terasinya lagi habis."

"Ya sudah sambal mentah aja," kata Rico, santai.

"Ah kamu mah, bikin sakit perut aja itu. Sambal teri aja gimana? Enak kayaknya."

"Kamu pasti lupa ya kalau aku alergi teri? Coba yang lain deh."

"Susah banget, sih. Mau dibikinin sambal aja protes terus."

Diam-diam, Rico keluar. Makan di warung sunda yang tak jauh dari rumahnya, pakai ayam ungkep pakai sambal.

********

"Sayang, besok libur panjang nih. Enaknya ke mana ya?"

Tetap pada prinsip awal, Rico anti bilang terserah. Ia bilang, "ke pantai aja yuk".

"Jangan ah, banyak ubur-ubur. Aku jijik," kata Nila menolak.

"Atau kita sewa villa di puncak?"

"Musim hujan jalanan licin. Bahaya," lagi-lagi Nila menolak.

"Ke kebun binatang?"

"Ah, capek muternya. Panas kan."

"Gimana kalau kita liburan di rumah aja? Sekalian coba-coba resep baru yang kamu punya," kata Rico seraya mengelus rambut istrinya dengan lembut penuh kasih sayang.

"Tuh kan. Kalau diajak liburan pasti ujungnya di rumah aja. Enggak modal banget sih!"

Kepala Rico seperti akan tumbuh tanduk, tapi tertahan oleh rasa takutnya kepada istri. Takut dan sayang, beda-beda tipis, sih.

*********

Di commuter line tujuan Stasiun Jakarta Kota, Nila melihat seorang pasangan, entah masih pacaran atau sudah suami istri, hampir tak bisa terdeteksi.

"Sayang, lihat deh pasangan itu. Jomplang banget."

"Mana?" tanya Rico antusias, sembari matanya menyapu segala hal yang ada di depan tatapnya.

"Itu yang berdiri di dekat pintu. Si cewek cantik banget, tinggi, seksi kayak model. Cowoknya kok kuntet (pendek banget) begitu ya? Kalau menurut kamu, si cowok beruntung gak?"

"Ya jelas dong, beruntung."

Nila memulai dramanya. Bersyukur, commuter line sedang tidak terlalu ramai. Lagi-lagi ia merajuk.

"Kamu kok kayaknya gak beruntung banget punya istri aku. Gak tinggi, gak putih, gak cantik pula. Iya kan? Bilang aja gitu."

"Ya enggak dong, sayang. Aku beruntung banget kok punya pendamping hidup yang kayak kamu begini," kata Rico lirih, membisik di telinga Nila.

"Kalau beruntung, kenapa kamu liatin cewek itu mulu?" 

Rico nahan kesel sembari membatin: Mahabenar cewek dengan segala bacotnya.

Minggu, 13 Januari 2019

Syarat Bisa Menulis: Berlatih Intens dan Tidak Instan


Kelas Menulis, pertemuan kedua

Untuk bisa menulis, syaratnya harus berlatih secara intens dan tidak instan.

Sudah sejak lama saya punya cita-cita dan keinginan untuk membuat sebuah riung rutin mingguan. Perkumpulan itu, tidak dihadiri oleh banyak orang sebagaimana seminar dan diskusi publik. Rutinitas yang saya maksud adalah Kelas Menulis yang dihadiri tidak lebih dari 10 orang.

Bagi saya, melakukan transfer pemahaman kepada sedikit orang akan sangat mudah diterima. Orang-orang yang sedikit itulah kemudian melingkar menjadi satu, membentuk sebuah kesepakatan bahwa menulis di era milenial seperti ini menjadi sangat penting.

Oke, siapa pun bisa menulis. Akan tetapi menulis seperti apa yang enak dan renyah untuk dibaca? Bagi saya, untuk bisa menulis, langkah utamanya adalah banyak membaca terlebih dulu. Ini yang saya tekankan kepada mereka; kader intelektual, demikian saya menyebut mereka.

Kemudian, mengasah keterampilan menulis juga penting. Saya lantas berpikir, bahwa ilmu Jurnalistik yang telah saya pelajari 2-3 tahun silam, sangat berguna untuk melatih agar tulisan menjadi tajam, runcing, dan tentu asyik dibaca.

Ketika itu, saya banyak belajar teori; dan setelahnya, tentu saja praktik. Mulai dari Dasar-Dasar Jurnalistik, Bahasa Jurnalistik, Penulisan Berita dan Opini, Logika Bahasa, dan lain sebagainya. Di luar pelajaran formal pun, saya menggali keilmuan dengan memperbanyak diskusi bersama wartawan kawakan, terutama di Kota Bekasi.

Usai hampir seluruh ilmu itu terserap, saya lantas memberanikan diri untuk menulis. Menulis apa pun. Mulai dari tulisan santai, inspiratif, persuasif, hingga provokatif. Berita, saya juga menulisnya. Kini, berkat kompetensi yang saya punya itu; saya dipercaya memegang Website NU Bekasi atau nubekasi.id.

Selain itu, saya ini adalah Kontributor NU Online (nu.or.id) yang tentu sering menulis berita, artikel, atau opini yang juga banyak dibaca orang. Menulis itu mudah dan asyik. Syaratnya, ada kemauan.

Kelas Menulis Pelajar NU Bekasi adalah jawaban dari kegelisahan saya selama ini dalam mencari kader penerus yang mampu menulis kreatif. Bertempat di Kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Bekasi, saya menjadi pengampu ilmu bagi murid yang ingin bisa menulis dengan baik dan terampil.

Waktunya, saban Sabtu bakda zuhur. Jumlah muridnya? Jelas tidak banyak. Hanya sekitar 6-7. Intens dan rutin. Ini baru angkatan pertama. Jika memungkinkan, bakal ada angkatan kedua, ketiga, keempat, bahkan hingga keseratus; barangkali. He he he he.

Kelas Menulis itu tergagas atas saran saya dan disetujui oleh Ketua IPPNU Kabupaten Bekasi. Saya memang senang memberi saran, kalau setuju dijalankan, tapi kalau tidak biar ‘mampus kau dikoyak-koyak hoaks dan tak bisa melawannya’. Begitu saja, pikirku singkat.

Bersyukur, Nur Arfah menyetujui. Awalnya, menurut saya, ia ragu karena memikirkan ‘ongkos’ per pertemuan. Saya tertawa saja, dan kemudian menekankan bahwa saya tidak akan datang lagi kalau dikasih amplop yang isinya uang.

Sebab, inilah yang saya maksud juga sebagai bentuk khidmat kepada organisasi yang telah banyak memberi manfaat dan berkah bagi kehidupan saya sejauh ini. Maka, pemahaman yang saya punya ini biar menjadi amal saleh saja; yang tak bisa terhitung oleh nominal sebesar apa pun. Soal duit, bisa dicari di tempat lain.

Rutinitas ini baru berjalan sejak dua minggu lalu. Berarti baru dua pertemuan. Tanggal 5 Januari 2019, pertemuan pembuka. Rencananya, hingga akhir Maret. Setelah itu, kader-kader unggul, penulis milenial, dan jurnalis hebat kepunyaan Bekasi sudah bisa tampil di muka. Kita lihat nanti.

Di pertemuan pertama, saya buka dengan sesi perkenalan. Menggali sejarah hidup, mengenali diri, dan sejak kapan mulai suka menulis. Saya pun membuka itu, meski dalam tulisan ini tidak mungkin saya kemukakan awal mula menulis dan mencintai pekerjaan yang bakal abadi ini.

Kelas Menulis, pertemuan pertama

Ya, bagi Pramoedya Ananta Toer, menulis adalah bekerja untuk keabadian. Bagi saya, sebagaimana yang dijadikan tagline aruelgete.id, bahwa menulislah agar abadi.

Selain itu, saya juga menjelaskan soal minat dan bakat. Keduanya bukanlah satu kesatuan yang utuh, tetapi masing-masing dari keduanya itu memiliki independensi. Minat, bagi saya adalah kemauan yang kuat, sehingga dari tidak bisa menjadi mahir atau ahli. Sementara bakat merupakan keahlian naluriah, yang sudah ada atau terlihat sejak seorang manusia dilahirkan.

Saya, bisa menulis karena minat. Sejak kecil, tidak ada sedikit pun cita-cita untuk menulis. Karena menulis, bagi saya ketika itu, bukan pekerjaan yang menjanjikan. Juga, kedua orang tua saya pun tidak pernah mengarahkan anak bungsunya ini menjadi seorang penulis kelak di kemudian hari.

Di pertemuan kedua, sudah masuk ke materi. Saya jelaskan materi dasar Jurnalistik yang harus mereka ketahui. Seperti misalnya pengertian dan ciri-ciri Jurnalisme, sembilan prinsip Jurnalisme, dan karakteristik Jurnalis serta produk-produk Jurnalistik.

Mereka, dengan antusias, memperhatikan. Seperti berharap ada energi baru yang masuk untuk giat menulis dan kemudian tulisan-tulisan mereka dibaca banyak orang, sehingga menjadi kepuasan batin tersendiri. Setelah itu, mereka mendapat ‘berkah’ dari tulisan yang dibuatnya sendiri.

Saya juga menjelaskan tentang masalah-masalah yang sering dilakukan oleh Jurnalis. Terlebih Jurnalis yang tidak pernah belajar Jurnalisme, atau belajar tapi tidak lama; singkat saja. Seperti pesantren kilat, 2-3 hari kelar. Ilmu kok instan, bisa-bisa penyakitan nanti. Demikian pikirku.

Maka, sering juga kita menemukan penulisan yang acakadul dan semrawut. Bahkan logika bahasa yang tidak teratur kerap tampil, sehingga membuat pembaca jadi harus berpikir dua kali.

Saya jadi ingat dawuh guru Jurnalistik ketika itu. Katanya, penulis yang baik adalah yang tulisannya ketika dibaca bisa dengan sangat mudah dipahami. Tidak membuat pembaca kepusingan, atau membuat mereka membaca dua kali.

Kesalahan-kesalahan (typo) penulisan nama orang dan lokasi, juga tak jarang kita temukan. Jurnalis, banyak juga yang pemalas. Tidak mau melakukan konfirmasi sehingga mendapatkan data yang valid. Tak sedikit pula yang malas untuk mengedit tulisan-tulisan yang typo.

“Makanya, sebelum tulisan itu dikirim atau ditayangkan, haruslah dibaca terlebih dulu secara berulang-ulang sampai yakin tidak ada kesalahan dalam penulisan, sekecil apa pun,” kata saya mendoktrin murid Kelas Menulis, dan mereka mengangguk tanda mengerti.

Kurang lebih seperti itu gambaran Kelas Menulis, sebuah ruang atau wadah kaderisasi intelektual yang intens dan tidak instan, sehingga melahirkan kader unggul yang sangat dibutuhkan dalam suasana perang ideologi seperti sekarang ini.

So, menulislah mulai dari sekarang. Belajar menulis sekarang juga. Jangan ditunda. Menulislah agar abadi. Begitu kata saya kepada setiap orang yang bilang ingin menulis, tapi tidak juga memulainya.

Wallahua’alam.

Rabu, 09 Januari 2019

Teladan Kenabian Seorang Jokowi


Jokowi menjenguk Ustadz Arifin Ilham, di RSCM Jakarta

Jokowi Dodo, nabikah dia? Jelas, bukan. Jauh api dari panggang. Dia hanya seorang alit (kecil), wong cilik. Akar dan batang darahnya bukan siapa-siapa.

Allah 'Isra Mikrajkan' dari pedagang mebel, jadi Walikota Solo dua periode, Gubernur DKI Jakarta secara singkat dan 'mikraj' sebagai Presiden RI.

Benar, dia seorang biasa. Tidak lahir dari keluarga elit, darah biru, dan bangsawan. Juga bukan dari Brahma, romo, bikhu, rabi, kiai, ustadz, atau tokoh agama apa pun. Bukan dari dinasti politik apa dan siapa pun dari sejarah politik Indonesia seperti orang kebanyakan. 

Hanya Allah-lah yang kuasa menjalankan pengabdian dan dedikasinya pada umat juga bangsa. Darahnya bukan Soekarno yang proklamator itu. Juga bukan Soeharto yang hebat itu. Bukan siapa-siapa.

Mari lihat kerja, karya, dan amal-amalnya. Sangat jelas dan faktual. Kita, pendukung dan pembencinya pun menikmati itu. 

Mari kita lihat jiwa agungnya. Air bah caci maki, dengki, fitnah menghujam dirinya. Dia tetap bekerja, ikhtiar, dan berdoa untuk kemajuan bangsa. Saat berbagai kalimat kasar, busuk, dan kotor menimpa, ia lapangkan jiwanya.

Serupa samudera ditelannya. Termasuk orang dalam foto di depan dirinya. Ia menjenguknya. Senyum lepas padanya. Duduk takzim dihadapan sang pencelanya. Menghormati perisak dirinya. Pelabel buruk pada dirinya. Jokowi datang, memanjatkan doa bagi kesembuhannya. 

Mari lihat tauladan yang dihadirkannya. Sabar, ikhlas, lapang hati, tenang, santun, dan terukur bahasanya. Mari lihat 'sunnah hasanah' selama dapat amanah sebagai the number one.

Anaknya jualan martabak dan pisang. Ada yang mau jadi Aparatur Sipil Negara (ASN), gagal mencapainya. Ia bersih dan membersihkan orang-orang dekatnya. Ia tidak tergoda dan kemaruk harta yang bukan haknya. Justru yang ada bagaimana memajukan bangsa dan memakmurkan rakyat. 

Dia bukan tukang sulap yang mampu merombak gubuk jadi istana. Ia tidak punya tongkat Nirmala yang bimsalabim. Bukan juga kisah 1001 malam. Bangsa ini ratusan suku dan agama. Tumpukan sejarah, mental, hutang, sengketa agama dan politik diwarisinya. Dia sudah memulai menata dan mencuci piring pesta-pesta rezim sebelumnya. 

Itu akhlak sempurna seorang muslim. Moral luhur kenabian. Tak mampu melakukannya kecuali sang pemilik jiwa besar. Kita hanya pernah membacanya dalam kisah-kisah kenabian; perilaku orang-orang suci dalam agama-agama. Jiwa-jiwa yang kuasa menanggalkan ego, gengsi dan amarah. 

Dia, Joko Widodo. Presiden RI. Dan, Ustadz Arifin Ilham semoga sehat afiat bugar kembali. Ya Allah, anta al-syafii la syifa'a illa minka. Fasyfiihi syifaan kamilan.

(Mohammad Monib)

Jumat, 04 Januari 2019

Sudahkah Kalian Nge-Share Info Hoaks Hari Ini?


Sumber gambar: indoprogress.com


Pemerintahan Orde Baru yang dipimpin seorang keji nan bengis berhasil dibangun dari berita palsu (hoaks). Di hari-hari awal pasca Gerakan 30 September merupakan periode krusial sejarah palsu diciptakan.

Pada periode itu, narasi tentang para jenderal yang dimutilasi oleh Gerwani berkembang. Hasil visum dokter yang mengautopsi jenazah, membuktikan bahwa itu hoaks.

Kenyataannya, sebagian besar jenderal tewas ditembak sebelum dikubur di Lubang Buaya. Namun, masyarakat ketika itu terlanjur termakan hoaks yang diciptakan Soeharto. 

Menurut Peneliti Senior Lembaga Studi Pers dan Pengembangunan, Ignatius Haryanto, surat kabar menjadi media utama tersebarnya hoaks itu. 

Selama hampir sepekan, 1-6 Oktober 1965, TNI Angkatan Darat melarang penerbitan semua surat kabar, kecuali Angkatan Bersenjata dan Berita Yudha. Keduanya lalu memonopoli pemberitaan terkait G30S.

Dari koran-koran itulah, dimulai propaganda negatif terkait Gerwani. Hoaks di masa orde baru diproduksi dalam rangka mendukung rezim. Hoaks kemudian berubah menjadi alat untuk melegitimasi kekuasaan Soeharto yang baru terbentuk.

Propaganda negatif itu lantas mengakar sangat dalam di benak masyarakat semasa rezim Soeharto. Bahkan, hampir semua hal yang berkaitan atau berbau dengan komunisme menjadi tabu dan terlarang. 

Dari hoaks itulah, orde baru kemudian membuat berbagai aturan yang diskriminatif dan represif terhadap orang-orang yang dianggap terlibat PKI.

Hoaks orde baru berkelindan dengan pengekangan kebebasan pers. Namun, hegemoni media ala orde baru itu tumbang seiring bergulirnya reformasi pada 1998. Kebebasan pers kemudian berkembang, tapi rupanya hoaks tetap menjadi persoalan.

Hanya bedanya, jika semula hoaks dimanfaatkan rezim Soeharto untuk mendukung kekuasaannya, yang terjadi kini justru sebaliknya. Saat ini, dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi, masyarakat bisa dengan mudah membuat dan menyebarkan informasi.

Karenanya, bisa dikatakan dan sangat bisa diucapkan bahwa hoaks dewasa ini cenderung digunakan atau dimanfaatkan untuk merongrong rezim yang sah secara konstitusional.

Salah satu dari sekian banyak hoaks yang digunakan untuk menjatuhkan Pemerintahan Presiden Joko Widodo adalah munculnya isu pekerja imigran dari Tiongkok. Kemudian muncul seruan, 'pengangguran tambah banyak karena tenaga kerja cina malah didatangkan'.

Seruan itu disebarkan dengan sangat massif di media sosial, sebuah ruang di mana generasi muda di era revolusi industri keempat 'nongkrong'. Akhirnya, anak-anak yang tak paham sejarah, yang malas bekerja, dan tidak punya keahlian apa pun termakan isu hoaks tersebut. Miris.

Tak hanya itu, seruan tersebut dibumbui dengan hoaks soal masuknya sepuluh juta tenaga kerja Tiongkok ke Indonesia. Ironisnya, masyarakat sangat dengan mudah percaya. Padahal, validitas data itu tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Inilah pentingnya kita untuk terus menggiatkan gerakan melek literasi, agar tidak mudah termakan isu hoaks yang cenderung provokatif dan propagandis, dan kemudian berpotensi memecah belah persatuan bangsa Indonesia.

Lagi saya katakan, berita-berita hoaks itu kini disebarkan melalui media sosial dan disalurkan ke aplikasi chatting. Secara umum, berita hoaks mudah dipercaya dan kemudian disebar (meski baru hanya membaca judul) karena dekat secara emosional, dan praktis dibuat berhubungan dengan preferensi pribadi pembaca.

Contoh misalnya, isu SARA yang digunakan untuk mematahkan kampanye Basuki Tjahaya Purnama dalam Pilkada DKI Jakarta lalu.

Seluruh pencapaian Ahok-Djarot dimentahkan dengan seruan 'kalau pilih Ahok masuk neraka' atau 'Ahok penista agama'. Sebab, isu agama adalah pemantik yang paling efektif dalam memancing emosi masyarakat muslim.

Sekadar mengabarkan, Ahok akan bebas dari masa hukumannya pada 24 Januari mendatang. 

Nah, penggunaan isu SARA dan komunisme itu berpotensi bakal terus dipakai untuk kampanye-kampanye negatif. Kedua isu tersebut terbukti tetap efektif hingga kini.

Karena itulah kemudian edukasi dan diskursus terkait literasi media yang baik agar masyarakat tidak kian termakan hoaks harus terus digiatkan.

Masyarakat harus selalu diingatkan untuk tetap kritis terhadap kredibilitas sumber berita. Di balik suatu media, terdapat kepentingan. Karena itu kita tidak bisa hanya kritis terhadap media arus utama, tetapi juga harus kritis kepada media non-arus utama.

Dan pada akhirnya, hoaks hanya membuat masyarakat menjadi bertambah ketakutan. Dampak paling parah yang ditimbulkan dari hoaks adalah pesimisme masyarakat untuk terus maju dan bersaing.

Bangsa kita, jika terus-menerus kalah oleh hoaks akan mengalami degradasi kekuatan karena yang bisa dilakukan hanyalah mengumpat, marah-marah, dan emosi yang tidak jelas sama sekali.

So, sudahkah kalian ngeshare berita hoaks hari ini? Jangan, ya. Bahaya.

Menjadi Aktivis Islam Politik, Teori dan Praktik (2-Habis)



Sumber gambar: tirto.id


Sejauh ini, gagasan Islam politik hanya menguat pada wilayah pembaruan pemikiran. Dimensi filosofis dari Islam, melulu menjadi perhatian paling besar para aktivisnya.

Sedang dua jalur lainnya, yakni reformasi politik dan transformasi sosial yang merupakan keutamaan dari politik (Islam) seolah redup. 

Saat kita menilai bahwa dimensi filosofis sebagai jantung persoalan utama, maka jelas akan mengurangi keotentikan dari Islam politik itu sendiri. Akibatnya, agenda Islam politik hanya sampai pada taraf kontemplatif semata.

Hal tersebut memang menjadi fakta, bahwa aspek filosofis pemikiran Islam belum sampai pada taraf kesepakatan bersama. Konsep sekularisasi (desakralisasi) Cak Nur, reaktualisasi Munawir, atau pun pribumisasi Islam milik Gus Dur, belum sepenuhnya dapat diterima oleh kalangan luas.

Padahal, yang dilakukan oleh para aktivis Islam ini merupakan, apa yang disebut Leonard Binder sebagai, 'perantara kultural'. Mereka adalah orang-orang yang mau berpikir bukan untuk diri pribadi atau generasinya sendiri saja. Akan tetapi, mereka berpikir untuk masa depan Indonesia yang lebih baik.

Islam dan Negara

Secara filosofis, Islam dan Negara punya visi imperatif yang sama. Yakni, keadilan sosial. Prinsip-prinsipnya pun sangat mencerminkan kesesuaian di antara keduanya. Konsep monoteisme Islam adalah apa yang dikandung dalam sila pertama dalam ideologi negara.

Kemanusiaan yang adil dan beradab adalah prinsip keutamaan dalam Islam. Kemudian ada persatuan (nasionalisme) serta penyelesaian masalah-masalah secara kemufakatan (demokrasi). Maka, menjadi sebuah kegagalan dalam berpikir jika sampai prinsip-prinsip yang dikandung Islam dan Negara tersebut dianggap saling menegasi.

Terlepas darinya, pembaruan pemikiran harus tetap diupayakan. Landasan filosofis apapun tetap harus dipandang sebagai akar yang mesti dituntaskan terlebih dahulu. Bahwa sikap reaksioner terhadap tindakan pembaharuan adalah ciri ketidakmampuan kita dalam berpikir. Bertindak tanpa pikiran berarti hendak menjadi manusia naif lagi banal (dangkal).

Anggaplah pemahaman secara prinsip di atas telah usai.

Selanjutnya, kita berpikir tentang bagaimana prinsip-prinsip tersebut harus direalisasikan. Di sinilah reformasi politik membentuk dirinya sebagai rangkaian lanjutan dari tinjauan di atas. Bahwa reformasi politik adalah langkah utama lainnya yang harus dilakukan aktivis politik Islam. Masuk dalam sistem (birokrasi) berarti hendak menjadi jembatan perwujudan ide-ide politik.

Giddens pernah bertutur bahwa sistem kerja kapitalisme itu ibarat mobil tronton. Ia melaju cepat, bebas hambatan, tanpa ada celah untuk menghentikannya. Menghadangnya secara vis-a-vis, jangankan hendak memperlambat lajunya, tindakan konyol seperti itu hanya akan menambah semangatnya untuk terus melaju dan melaju. Tak ada cara lain kecuali mengejarnya, terlibat, dan berusaha untuk mengambil-alih kemudi.

Dalam konteks reformasi politik, cara-cara seperti itulah yang harus dipraktikkan. Ikut dalam birokrasi, terlibat dalam mekanisme pengambilan keputusan, atau paling tidak mempengaruhinya, adalah cara paling mutakhir yang sangat relevan dalam dunia modern dewasa ini.

Sayangnya, kebanyakan yang terlibat dalam birokrasi, mereka yang terlanjur menyeburkan diri ke dalam praktik politik, umumnya mengkhianati cita-cita politiknya sendiri.

Mereka yang awalnya diharapkan sebagai jembatan perantara untuk membawa serta kepentingan umum, pada akhirnya hanya mampu mewujud sebagai pelacur-pelacur politik. Maka tak heran ketika banyak pihak yang menilai politik sebagai sesuatu yang kotor.

"Tai kucing!" kata Soe Hok Gie.

Baca juga: Menjadi Aktivis Islam Politik (1)

Meski demikian, inilah awal bagi kita untuk memulai. Kompromi politik harus kita maknai dalam kerangka fungsinya. Sejauh ia mendatangkan manfaat positif, semisal pengembangan demokratisasi atau keadilan sosial, tentu tidak ada salahnya untuk kita berlaku demikian. Pragmatisme selamanya tidak bernuansa negatif.

Membangun jembatan berarti hendak mencapai suatu tujuan. Tujuan Islam politik, juga tujuan politik secara esensi, adalah kebebasan. Pada ranah inilah transformasi sosial harus digiatkan. Bahwa visi yang harus politik Islam tempuh tiada lain adalah kemaslahatan untuk sekalian umat.

Sementara kemaslahatan hanya akan terwujud jika manusia-manusianya hidup dalam kondisi kebebasan. Berpikir secara otonom, kritis dan kreatif, serta bertindak tanpa tekanan. Itulah masyarakat yang islami.

Ya, transformasi sosial bertitik tekan pada pembangunan basis sosial. Hal ini tentu tidak sah jika kita maknai sebagai pembangunan sebuah oposisi, apalagi atas Negara.

Upaya tersebut semata-mata adalah upaya untuk membangun infrastruktur yang kuat. Bahkan, upaya pembangunan basis politik yang sesungguhnya ada pada tingkat akar rumput.

Bukankah dengan keberadaan basis semacam ini adalah penopang lahir dan berkembangnya suatu sistem politik yang demokratis: berkemanusiaan dan berkeadilan?

Inilah cita-cita otentik dari Islam yang harus kita camkan! Selamat berpikir. Selamat menjadi aktivis Islam politik.


(Maman Suratman)