Mengenal Alit Jamaludin: Sebuah Perjalanan Menjadi Aktivis (Bagian 1) - Aru Elgete

Breaking

Selasa, 01 Januari 2019

Mengenal Alit Jamaludin: Sebuah Perjalanan Menjadi Aktivis (Bagian 1)


Alit Jamaludin

Kang Alit, demikian kini ia akrab disapa. Lengkapnya, Alit Jamaludin. Saya mengenal baik sosok yang sangat bersahaja ini. Pembawaannya yang santun dan humoris, membuat siapa pun yang berada di dekatnya merasa bahagia.

Sehari-hari, sikap dan perilaku santri kerap dibawa. Ramah, patuh terhadap titah kiai, takzim kepada orang-orang yang lebih tua, serta haus akan ilmu pengetahuan. Hal yang paling terakhir disebutkan itulah, membuat pria asli Garut ini memiliki banyak pengalaman penting sepanjang hidupnya, hingga kini.

Ia lahir dari keluarga yang sederhana, tapi penuh cinta, dari pasangan HM Amar Rahmat dan Hj Idah Syarifah. Di Garut, Kang Alit pertama kali melihat dunia. Tepatnya pada 10 Oktober 1980. 

Namun tujuh tahun setelah dilahirkan, ia hijrah bersama orang tuanya ke Bekasi. Walhasil di Bumi Patriot-lah, ia banyak menorehkan berbagai tinta sejarah yang membanggakan.

Alit kecil mulai bersekolah formal di Sekolah Dasar (SD) Tirta Jaya 1, Bekasi. Lulus pada 17 Maret 1992. Kemudian, ia melanjutkan pendidikan di SMP Tunas Harapan Bekasi dan dinyatakan lulus pada 1995. Setelah itu, ia kembali ke Garut. Melanjutkan pendidikan ke Pesantren Al-Musaddadiyah.

Di pondok, ke-NU-annya digodok. Alit ikut serta dalam Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU). Setahun di sana, dan setelah mengikuti jenjang kaderisasi di tubuh organisasi IPNU, dan umumnya NU, ia didaulat sebagai Ketua Pimpinan Komisariat IPNU Al-Musaddadiyah masa khidmat 1997-1998.

Usai menuntaskan kehidupannya di pesantren, Alit kembali ke Bekasi. Ia melanjutkan pendidikan Diploma 3 (D3) di Akademi Manajemen Informatika dan Komputer (AMIK) Bina Sarana Informatika (BSI). Di saat suasana dan atmosfer negeri sedang memanas karena reformasi, ia memberanikan diri untuk menjadi Ketua Senat Mahasiswa.

Alit remaja pun, ikut pergi juga ke Senayan. Menuntut Presiden Soeharto untuk turun dari jabatan tertinggi negara yang sudah bertahta selama 32 tahun. Idealisme Alit sebagai remaja kian terasah. Penggalian pengetahuan tak cukup jika tidak diteruskan.

Ia akhirnya memutuskan untuk melanjutkan kuliah ke jenjang sarjana (Strata 1) di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Mulia Pratama pada 1999-2000. Lagi-lagi, karena jiwa yang aktivis nan idealis, ia terpilih menjadi Ketua Pengurus Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Di periode yang sama, ia merangkap jabatan sebagai Ketua Bidang I BEM STIE Mulia Pratama.

Usai menghabiskan masa baktinya di PK PMII dan BEM STIE Mulia Pratama, Kang Alit kian melebarkan sayap. Ia dipercaya untuk mengampu jabatan yang lebih tinggi dan luas jangkauannya. Pada 2000-2001, masih dalam suasana reformasi, ia menjabat sebagai Ketua Umum PMII Kabupaten Bekasi.

Keaktifan dan khidmatnya di PMII rupanya tidak main-main. Ia dilirik oleh Pengurus Besar (PB) PMII untuk ikut serta dalam kepengurusan. Ia ditempatkan sebagai anggota di salah satu departemen pada periode 2003-2005. Di periode berikutnya, yakni 2005-2008, Alit yang masih berstatus sebagai mahasiswa itu diamanahi sebagai Ketua Lembaga Advokasi PB PMII.

Organisasi, baginya, adalah sebuah pijakan awal untuk mencapai satu titik tuju dalam meraih angan dan cita-cita. Sembari mengurus PMII di tingkat pusat, ia memegang jabatan pula sebagai Wakil Sekretaris di Dewan Pengurus Daerah (DPD) Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kota Bekasi.

Alit beranjak dewasa.

Ia menamatkan perkuliahannya pada 2006, saat masih menjabat sebagai pengurus di PB PMII dan DPD KNPI Kota Bekasi. Pada 2008, di usia 28 tahun, ia menikahi gadis bernama Shelly. Perempuan asal Boyolali kelahiran 15 Januari 1982 ini, yang akhirnya menjadi saksi serta pendukung setia Kang Alit dalam berkarir.

Tepat sembilan bulan ia menikah, pada 30 September 2008, pasangan Alit-Shelly dikaruniai seorang putri. Inilah yang menjadi semangat baru Kang Alit. Malaikat kecil itu diberi nama Azalea Titania Fitrian. Tiga tahun berselang, Azalea memiliki seorang adik laki-laki yang bernama Azka Javas Abyan, lahir pada 21 Juni 2012.


Sejak berkeluarga, Kang Alit berdomisili di Jalan Arjuna Raya, Blok F43, No 15 RT011/013, Kelurahan Duren Jaya, Kecamatan Bekasi Timur.



Bersambung...