Rabu, 08 Juli 2020

Ramai-Ramai Hijrah ke Youtube: 'Nyampah' Link di Grup WA


Sumber gambar: liputan6.com

Virus corona ini, memang harus diakui, telah memberikan dampak yang begitu dahsyat bagi perubahan kehidupan kita. Orang-orang dituntut harus kreatif. Bekerja, sekolah, dan kuliah dari rumah. Secara virtual. Hal itu membuat media sosial kita begitu sangat ramai sekali. 

Tayangan televisi dibatasi. Sehingga banyak selebritis yang merayakan selebrasinya di media sosial. Terutama di platform youtube. Bukan saja selebritis, sebenarnya. Tetapi semua orang yang bekerja atau mendapatkan penghasilan finansial melalui sebuah panggung. 

Maka tak heran, jika banyak para pemuka agama, yang bekerja mengandalkan retorika bicara di atas panggung, harus memutar otak agar bagaimana pesan-pesan yang biasa disampaikan melalui mimbar keagamaan dan disaksikan oleh massa yang besar, kini harus benar-benar bisa menguasai penggunaan media sosial.

Saya melihat, pemuka agama yang berada di lingkaran saya, baik yang muslim (ustadz atau kiai) maupun yang nonmuslim (pendeta dan romo pastur), berbondong-bondong hijrah ke media sosial. Mereka-mereka itu, tetap bisa berceramah dan disaksikan oleh umatnya, hanya saja tidak disaksikan secara langsung. Maka mereka, kini, mau tidak mau juga harus bisa menguasai media sosial, terutama youtube. 

Youtube kini menjadi media sosial nomor satu yang digandrungi banyak orang dari berbagai kalangan. Media sosial lainnya hanya menjadi 'alat' untuk menyebarkan tautan youtube agar tayangan videonya dapat ditonton oleh orang banyak. Saya yakin sekali, orang-orang—termasuk para pemuka agama itu—yang baru hijrah ke youtube, sama sekali tidak punya tujuan agar mendapat penghasilan dari youtube.

Mereka hanya sekadar ingin menyampaikan gagasan, ilmu, dan pemikirannya agar tidak pusing. Saya yakin itu. Kalaupun nanti bisa berpenghasilan melalui youtube—sekalipun corona telah usai—itu hanya bonus. Selebihnya, mereka hanya seperti berkeinginan agar gagasannya tidak sia-sia. Ya, menurut Abraham Maslow, salah satu kebutuhan mendasar bagi manusia adalah aktualisasi diri. 

Jadi dibayar atau tidak, mendapat penghasilan atau tidak, menyampaikan gagasan melalui saluran youtube merupakan bagian dari pengaktualisasian diri. Tujuannya, supaya mendapat penghargaan atau apresiasi dari orang lain. Baik berupa suka (like), langganan (subscribe), komentar, atau justru kontennya itu dibagikan oleh orang lain sehingga menjadi viral. Ini menjadi sebuah kebanggaan tersendiri dan tentu saja ada kepuasan batin yang bisa dirasakan. Nikmat sekali.

Saya pun demikian. Akun youtube saya, Aruelgete ID, sudah ada sejak sekira 5 tahun lalu. Mulanya, akun youtube itu hanya menjadi semacam 'arsip' dari video-video yang menurut saya memorable, memiliki nilai sejarah yang cukup membanggakan untuk ditonton di kemudian hari. Saya juga tidak seperti orang-orang yang membagikan tautan (link) konten youtube ke semua platform media sosial, dan bahkan 'nyampah' atau 'nyepam' di grup-grup whatsapp. 

Bahkan sampai sekarang pun, saya begitu. Saya hanya membagikan link; baik konten video youtube maupun konten tulisan di website ini, di akun media sosial milik saya pribadi. Tidak nyampah dan nyepam di grup whatsapp. Sebab pada prinsipnya, menurut saya, di media sosial ini kita berperan sebagai sales of personal branding. Tidak lebih. Kalau penjual atas brand diri kita sendiri, maka cukup untuk menawarkannya melalui akun media sosial. Tidak sampai 'memaksa' orang lain untuk mengklik tautan yang kirim ke grup-grup whatsapp itu. 

Kita boleh berbeda pandangan dengan pandangan ini. Karena jujur saja, saya merasa risih dengan orang-orang yang punya konten di youtube, kemudian membagikan tautan ke banyak grup whatsapp; atau bahkan sampai mengirimnya melalui chat personal. Ini, jujur, mengganggu sekali. Apalagi, membagikan link itu dilakukan setiap hari. Walaupun itu hak pribadi masing-masing orang, tapi menurut saya, itu sangat mengganggu. 

Di era pandemi ini, kita dituntut untuk kreatif. Kita semua, kini menjadi content creator atau kreator digital. Tetapi, orang-orang yang memasarkan konten dengan 'seperti' memaksa, bagi saya, sangat kampungan sekali. Toh, kalau kontennya bagus dan konsisten, orang lain pasti akan tertarik dan bakal berlangganan untuk kemudian menjadi penonton setia. 

Konten-konten di saluran youtube milik saya, Aruelgete ID atau anda bisa mengaksesnya melalui www.youtube.com/c/AruelgeteID, sangat sederhana sekali. Sehingga, saya tidak berani untuk 'memaksa' orang lain agar menonton tayangan video yang saya buat. Saya membuat empat segmentasi tayangan di sana.

Pertama, segmentasi vlogging. Kegiatan ngevlog atau sebuah perjalanan saya ke suatu tempat untuk menginformasikan bahwa saya tertarik dengan tempat itu, seraya mengajak atau merekomendasikan orang lain agar berkunjung ke situ. Kedua, podcast. Sebuah tayangan yang hanya berupa audio dengan tampilan gambar foto lawan bicara saya dilengkapi spectrum suara. 

Ketiga, obral-obrol. Ini mirip seperti podcast. Tapi bagi saya beda. Segmen ini adalah video ngobrol dengan lawan bicara saya, membahas tema apa saja, tetapi dengan tampilan audio-video dan berdurasi agak panjang dari podcast. Betah atau tidak betah anda menonton tayangan obral-obrol, saya tidak peduli. Kalau menurut anda, konten saya itu menarik sekaligus mendidik, maka silakan tonton sampai tuntas. 

Keempat, dialog tokoh. Ini adalah segmen yang sudah lama terhenti. Segmen ini merupakan konten dimana saya berdialog dengan seseorang yang saya anggap sebagai tokoh dan ditokohkan oleh banyak orang. Tetapi karena jangkauan pergaulan saya kurang cukup luas, maka segmen ini belum saya aktivasi lagi. 

Dari keempat segmen itu, anda bisa melihat betapa semua konten yang saya buat adalah bagian dari implementasi pemikiran dan idealisme saya. Secara sederhana, jika anda ingin tahu bagaimana ideologi atau pemikiran seseorang, maka lihatlah dari apa yang orang itu buat dan lakukan. Kini, kita bisa melihat bagaimana pemikiran seseorang melalui postingan-postingan atau konten di media sosialnya, termasuk youtube. 

Tetapi bagaimana dengan selebritis? Ya namanya saja selebritis, maka yang dilakukan hanya sebatas selebrasi atau sebuah perayaan eksistensi yang dilebih-lebihkan. Bisa saja hanya gimik atau berpura-pura. Selain selebritis, saya yakin, konten-konten digital yang diposting melalui saluran youtube atau media sosial lainnya adalah bentuk pengejawantahan atas pemikiran atau arah ideologinya.

Jadi, mari bagikan konten-konten video youtube kita dengan tanpa mengganggu kenyamanan orang lain, karena mengirimnya ke grup-grup whatsapp atau bahkan sampai mengirim link konten youtube itu lewat chat personal. Sekali lagi saya tekankan, kalau toh konten anda bagus, orang lain pasti tertarik kok. Jadi nggak usah dipaksa-paksa begitu lah. 

Sampai di sini paham? Sudah, ya. Saya capek.
Previous Post
Next Post

0 komentar: