JUMATAN: Menjaga Relasi Lintas Iman, Wujud Penghambaan Diri kepada Tuhan - Aru Elgete

Breaking

Jumat, 10 Juli 2020

JUMATAN: Menjaga Relasi Lintas Iman, Wujud Penghambaan Diri kepada Tuhan


Bersama Kang Opi dan Pendeta William

Selamat Jumat. Semoga kita senantiasa diberi kuat dan sehat, agar selalu mampu menjalani hari-hari dengan penuh semangat, hingga segala yang dibutuhi segera didapat. Sesi Jumatan kali ini, saya ingin membahas soal gerakan relasi lintas iman yang saya jalani selama ini.

Sebab bagi saya, menghidupi relasi lintas iman merupakan sebuah perwujudan nyata dalam penghambaan diri kepada Tuhan. Saya akan terus menjalin dan menjaga hubungan ini, bahkan mungkin juga memperluas jangkauan hubungannya, baik secara kuantitas maupun soal kualitas. 

Lalu muncul satu-dua pertanyaan dari banyak orang. Kenapa kok saya mau bersusah-payah menenun hubungan lintas iman? Apakah ada keuntungan yang didapat? Bagaimana awal-mula menjalani sebuah perjalanan 'lintas batas' ini? 

Sebenarnya masih ada banyak pertanyaan lain. Namun, setidaknya tiga pertanyaan itulah yang paling banyak dilontarkan kepada saya. Jujur saja, menenun relasi lintas iman adalah sebuah kebahagiaan bagi saya. Bertemu dengan orang lain yang berbeda secara ideologis-teologis, bahkan mengakrabinya, dapat menambah dan memperluas cakrawala pengetahuan tentang Tuhan. 

Saya jadi tahu bahwa Tuhan—sesuatu yang diyakini punya kekuatan melampaui kekuatan manusia dan yang tak bisa terlihat itu—adalah satu. Ya, Dia satu tetapi orang bijak menyebut-Nya dengan banyak nama. Tuhan adalah sebuah tujuan yang dapat dituju melalui banyak jalan dan cara. 

Kita tentu saja, saya terutama, menganggap cara dan jalan yang kita lakukan untuk menuju Tuhan adalah sebuah kebenaran. Namun, berkat hubungan lintas iman yang telah ditenun dengan baik, saya tidak lantas menganggap jalan dan cara yang digunakan oleh orang lain dalam menuju Tuhan itu, salah. 

Kita ibarat pengendara di jalan raya, jika ingin selamat di jalan, maka harus fokus pada tujuan. Caranya harus melalui jalan yang sudah kita yakini benar dan berkendara dengan baik atau tidak ugal-ugalan, alias tidak mengganggu pengguna jalan yang lain. Sebab, kalau dalam berkendara menuju sebuah tujuan akhir, di jalan raya, kita saling mengganggu satu lain, maka yang terjadi adalah kecelakaan dan mengakibatkan kita tak bisa tiba di tujuan dengan selamat.

Beragama juga harus dilakukan seperti warung nasi. Cara dan jalan kita dalam menyembah Tuhan, harus ditempatkan di belakang layar, sebagaimana proses menyiap-sajikan makanan warung nasi yang mesti dilakukan di dapur. Kemudian, barulah kita sajikan makanan itu ke depan, ruang makan, dengan baik dan disertai senyuman yang hangat. Begitulah cara kita beragama. 

Dengan demikian, kita dapat enjoy dalam beragama. Tidak kaku, tidak kagetan, dan tentu saja tidak mudah marah terhadap kebaruan peristiwa atau perbedaan yang memang telah menjadi sebuah keniscayaan. Selain itu, alasan mengapa saya mau bersusah-payah menenun hubungan lintas iman adalah karena ingin menunjukkan bahwa Islam itu ramah dan penuh rahmah (kasih sayang). Islam tidak ada hubungannya dengan sikap radikal, keras, kaku, apalagi sampai dihubung-hubungkan dengan pelaku teroris. 

Kemudian, apakah ada keuntungan yang saya dapat dalam menjalani dan menenun hubungan lintas iman ini? Tentu saja, ada. Saya merasa beruntung bersahabat dengan banyak orang yang berasal dari latar belakang agama yang berbeda. Perjalanan relasi hubungan lintas iman itu, kemudian saya 'abadikan' dalam skripsi saya, yang lantas mengantarkan saya meraih gelar sarjana sekaligus menyelesaikan studi perkuliahan saya selama 6 tahun. 

Hal itu jelas sangat menguntungkan bagi saya. Sebab, saya jadi berpikir, kalau saja saya tidak menenun hubungan lintas iman, belum tentu saya menjadi diri saya yang saat ini. Perjalanan hubungan lintas iman memberikan dampak positif dan membawa banyak perubahan dalam hidup saya. Soal jaringan dan relasi yang semakin luas? Jangan ditanya. Itu sudah sangat danta (baca: konkret).

Kemudian, terakhir, adalah sebuah pertanyaan mengenai bagaimana awal-mula menjalani sebuah perjalanan lintas iman? Sebenarnya, sejak saya masih di pesantren pun, perjalanan lintas iman ini sudah mulai saya geluti. Saya pernah menjadi utusan dari sekolah (Madrasah Aliyah NU Putra Buntet Pesantren Cirebon) untuk mengikuti kemah lintas iman yang diadakan oleh FKUB Kabupaten Cirebon, pada sekira tahun 2011.

Sejak itu, saya diberi pemahaman soal menjaga relasi lintas iman yang merupakan wujud dari sebuah penghambaan diri kita kepada Tuhan. Singkatnya, seperti yang pernah diungkapkan oleh Gus Dur bahwa memuliakan manusia sama dengan memuliakan pencipta-Nya dan menistakan manusia sama dengan menistakan pencipta-Nya. Ungkapan Gus Dur itulah yang kemudian menjadi penyemangat saya untuk terus menjaga relasi lintas iman, sebagai wujud dari nilai kemanusiaan sekaligus penghambaan diri kepada Tuhan.

Usai mondok, saya diajak abang saya mengikuti kajian-kajian Jaringan Islam Liberal (JIL) di Utan Kayu, dimulai sejak Juni 2013. Di sana, saya belajar tentang pluralisme, sekularisme, dan liberalisme. Bahkan, saya juga belajar bagaimana menciptakan sebuah tatanan masyarakat modern yang berbasis pada multikulturalisme yang berkeadaban serta menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. 

Dari JIL inilah, saya mendapat banyak hal, termasuk soal 'tabungan' untuk bekal menenun relasi lintas iman di kemudian hari (saat ini, maksudnya). Di JIL, setiap orang baru, keimanannya pasti akan didekonstruksi terlebih dulu. Setelah mengikuti berbagai proses dan tahap pembelajaran yang rutin dilakukan, baru kemudian keimanannya akan direkonstruksi menjadi sebuah bangunan keimanan yang kokoh dan tak mudah goyah. 

Saya sangat merasakan perubahan itu. Keimanan saya dihancurkan dan dibangun kembali dengan iman yang lebih baik. Sebuah keimanan yang harus ditempatkan di belakang layar, tidak untuk diumbar ke luar sehingga orang lain menjadi risih. Keimanan yang kokoh itu adalah keimanan yang mampu memberikan keamanan kepada siapa saja, orang-orang yang ada di sekitar, dari berbagai latar belakang. 

Dalam soal perjalanan lintas iman ini, saya pernah menjadi utusan dari kampus, pada akhir 2014. Saya diminta untuk mengikuti Kursus Pengelolaan Keberagaman (KPK) yang diadakan oleh Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika (ANBTI), di bilangan Jakarta Pusat. Saya berdua, bersama seorang teman perempuan, menjadi utusan dari kampus. Di sana, saya bertemu banyak tokoh yang membuka perspektif saya mengenai relasi lintas iman ini menjadi lebih luas. 

Beberapa diantara tokoh itu adalah—tentu saja—Ketua ANBTI Mbak Nia Sjarifuddin, Intelektual NU sekaligus politisi PKB Kang Maman Imanulhaq, Sejarawan Bang JJ Rizal, dan Pakar Pancasila Kang Yudi Latif. Dari kursus selama lima hari empat malam itu, saya mendapat banyak buku yang kemudian benar-benar membuka cakrawala pengetahuan saya lebih luas. 

Tak hanya itu, saya juga sempat 'bergabung' dengan ICRP (Indonesian Conference on Religion and Peace), sebuah NGO—sebagaimana juga ANBTI—yang bergerak di bidang agama-agama dan perdamaian lintas iman. Ketika itu, ICRP dikepalai oleh Ibu Musdah Mulia. Ada pula, yang seringkali memberi petuah menyejukkan kepada saya, yakni Almarhum Mas Mohamad Monib.

Di ICRP, saya juga dipertemukan dengan banyak orang hebat. Beberapa diantaranya adalah Penulis Produktif Bang Alamsyah M Djafar, Pelaku Kebinekaan Mas Achmad Nurcholish, dan tentu saja Mahaguru saya; Mas Ulil Abshar Abdalla. Masih ada banyak lagi tokoh di ICRP yang tidak bisa disebutkan satu per satu.

Lalu pada sekitar tahun 2015, saya mengikuti agenda kegiatan atau program yang diadakan oleh ICRP. Yakni berkunjung ke rumah-rumah ibadah besar yang ada di Jakarta dan kemudian live-in atau menginap selama satu malam bersama teman-teman yang berasal dari latar belakang agama yang berbeda-beda, di Pesantren Motivasi Indonesia (PMI), Setu, Bekasi. 

Momentum itulah, awal pertemuan saya dengan Kiai Nurul Huda (Ayah Enha), Pengasuh Pesantren Motivasi Indonesia yang sangat menginspirasi itu. Perjalanan membangun dan menenun lintas iman, ternyata berangkat dari pesantren yang letaknya berada di pedalaman Bekasi, yang hingga kini seringkali saya kunjungi. 

Kini, sejak bergabung dengan Gusdurian Bekasi Raya pada sekira tahun 2018, relasi lintas iman itu benar-benar nyata di hadapan mata. Saya menjadi pelaku kebinekaan yang—katakanlah—bertindak sebagai 'humas' Islam yang senantiasa membawa pesan damai yang terdapat dalam Al-Quran, ke mana pun dan kepada siapa saja. Tak lupa pula, saya pun 'menjual nama' Gus Dur dalam menenun relasi lintas iman itu. Sebab Gus Dur adalah pemersatu anak bangsa, dari suku atau agama mana pun.

Sekali lagi, bahwa relasi lintas iman yang sudah baik saat ini, akan terus saya jaga sekaligus juga meng-upgrade kualitas dan kuantitasnya. Hal ini saya lakukan sebagai perwujudan nyata atas penghambaan diri, yang hina ini, kepada Tuhan. Dia-lah yang telah menciptakan perbedaan, maka tugas kita adalah untuk menjaga ciptaan itu. 

Sampai di sini paham? Sudah, ya. Saya capek. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar