Rabu, 14 Maret 2018

bagaimana kita?






angin berembus
dedaun tergerak karenanya
malam menghunus
pagi terbunuh olehnya


kekasih;
saat senja; kala rembulan perlahan beranjak menggantikan matahari
kau tentu persaksikan itu
bahwa sesungguhnya, persetubuhan itu ialah nestapa


keduanya melipat waktu
sedang asa kian menebal
aku belum apa-apa
siap pun tak tentu


lalu bagaimana kita?





Bekasi Selatan, 14 Maret 2018


Aru Elgete

Rabu, 07 Maret 2018

Surat Terbuka untuk Bapak Zulkarnain Alregar



Foto ini diambil dari akun Facebook Zulkarnain Alregar


Kepada Yth 
Bapak Zulkarnain Alregar 
di tempat

Assalamu 'alaikum wa rahmatullah wa barakatuh


Bapak Zulkarnain (selanjutnya disebut Pak Zul) yang terhormat, semoga sepanjang hari dilimpahi keberkahan yang tak berhingga dari Allah. Tulisan ini, saya buat atas kegelisahan dan kekecewaan menyaksikan adegan yang terjadi akhir-akhir ini. 


Dari surat ini, saya ingin mengucapkan banyak terima kasih. Berkat ketelatenan dan kedisplinan bapak mengajarkan mahasiswa nakal nan bodoh ini, sekarang saya telah dipercaya Nahdlatul Ulama (NU) Online menjadi Kontributor Warta dan Penulis Keislaman. Per tulisan, tentu diberi harga sesuai ketentuan tim redaksi. 


Menulis, bagi saya, merupakan pemindahan gagasan agar dapat tertular dan tersampaikan kepada pembaca. Tulisan serupa peluru. Ia dapat menembus ribuan kepala manusia dalam sekali tembak. Saya jadi candu. Dalam sehari, rasanya ada yang kurang kalau tidak menulis. Apa pun itu, terlebih menulis berita untuk NU Online.


Pak Zul yang saya muliakan...

Sejak matakuliah Bahasa Jurnalistik, saya jadi paham soal teori menulis berita. Membentuk kepala berita (lead) yang baik, tubuh berita yang menarik, hingga dapat dibaca dengan asik. Bapak pernah bilang bahwa tulisan yang enak dibaca itu adalah tulisan yang mengalir, pembaca tidak dibuat pusing karena harus berpikir dua kali.


Kemudian, saya belajar juga matakuliah Jurnalisme Online. Di era digital ini, media cetak memang kurang laris di pasaran. Anak-anak muda seperti saya, mustahil berlangganan koran. Sebab, membaca berita online sangat mudah dan praktis ketimbang harus membeli surat kabar di lapak-lapak yang entah ada di mana. 


Berkat itu pula, kini saya dipercaya oleh Pengurus Cabang NU (PCNU) Kota Bekasi untuk mengelola website pcnukotabekasi.com dan beberapa akun media sosial ke-NU-an lainnya di Kota Bekasi. Saya jadi tertarik untuk terus menekuni dan mempelajari bagaimana menjadi wartawan online yang baik. Selain cepat, media online tidak memakan biaya yang banyak. Praktis.


Tak hanya itu, bapak juga pernah mengajak saya bergabung menjadi wartawan di salah satu media cetak lokal di Kota Bekasi. Namun, maafkan saya pak, karena beberapa hal yang tidak berkesesuaian, saya memutuskan untuk keluar. Saya memilih untuk menuntaskan ilmu jurnalistik di perkuliahan, baru kemudian fokus berprofesi sebagai wartawan.


Terakhir, bapak mengampu matakuliah Peliputan Investigasi. Bagi saya, dan teman-teman, menjadi investigator sangat mengerikan; tapi menantang. Pak Zul tidak hanya mengajarkan soal teori, tetapi juga pengalaman kehidupan wartawan yang 'ngeri-ngeri sedap'.


Ada sebuah prinsip bapak, yang hingga kini saya jadikan pegangan dalam menulis. Yakni, kita berdiri di atas dua kaki. Kaki kanan untuk berteman, kaki kiri untuk melawan. Berteman tanpa tebang pilih dan mengapresiasi segala hal yang baik. Akan tetapi, tidak akan tinggal diam ketika melihat ada kezaliman yang hadir di muka.


Pengalaman-pengalaman bapak yang diceriterakan menjadi pemantik semangat bagi mahasiswa Jurnalistik, Fakultas Komunikasi Sastra dan Bahasa, Universitas Islam "45" (Unisma) Bekasi.


Sudah cukuplah bapak mengabdi di fakultas termuda itu. Kompetensi bapak sudah sangat luar biasa. Bapak pernah merasakan bagaimana rasanya mengajar hanya dihadiri dua mahasiswa. Hal itu bukan karena mahasiswa yang lain tidak masuk kuliah, tapi memang pada awal-awal jurusan Ilmu Komunikasi, mahasiswanya hanya bisa dihitung jari.


Kini, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Konsentrasi Jurnalistik sudah banyak. Biarlah mahasiswa di bawah saya, yang tidak sempat menimba ilmu kepada bapak menjadi tanggung jawab pihak fakultas dan program studi. Tanggung jawab bapak sudah selesai saat mereka tidak lagi membutuhkan ilmu, pengalaman, dan kompetensi bapak di bidang jurnalistik.


Bapak tidak berdosa. Justru berpahala, karena ilmu yang telah diberikan. Kalau boleh jujur, setiap saya memulai sebuah tulisan, saya selalu menghadirkan bapak dalam ingatan. Amal saleh bapak selama ini, biar Allah yang membalas. Sebab, dengan cahaya ketulusan yang bapak berikan selama ini, segala macam perbuatan zalim dan lalim yang ditujukan ke bapak, akan segera sirna.


Saya tetap menaruh hormat kepada siapa pun yang telah berjasa dalam perkembangan intelektualitas dan mentalitas saya, termasuk bapak yang telah berjasa di kehidupan saya sebagai wartawan. Semoga bapak diberi kesehatan dan dihadiahi keberkahan selama ilmu yang bapak tularkan diaplikasikan dalam laku kehidupan mahasiswa atau murid bapak. 


Salam rindu, pak. Kalau ada waktu luang, saya pasti sowan dan menemui bapak. Kita bertemu dan dipertemukan melalui tulisan. Saya masih ingat pesan bapak, "jadi wartawan itu jangan bermental tempe!"


Pak Zul, terima kasih sudah menginspirasi banyak hal. Maafkan saya belum sempat membalas.


Wassalamu 'alaikum wa rahmatullah wa barakatuh. 




Purwakarta, 7 Maret 2018


Aru Elgete
Mahasiswa Jurnalistik Unisma Bekasi