Kamis, 13 Juli 2023

Pidato Lengkap Gus Yahya: Strategi Membangun Perdamaian di ASEAN dan Indo-Pasifik



Gus Yahya dalam Sosialisasi ASEAN IIDC di Palembang, 10 Juli 2023. (Foto: NU Online)


Kita tahu bahwa globalisasi telah menjadikan dunia ini mengarah kepada satu wujud kampung raksasa, dimana tidak ada satu orang atau satu kelompok bisa mengasingkan diri dari yang lain. Kita ini terpaksa harus bersinggungan dengan siapa pun yang tinggal bersama-sama kita di atas bumi yang kecil ini. Tidak lagi mungkin satu peradaban tumbuh sendiri, terpisah dari peradaban yang lain. Dunia masyarakat global ini akan terus mengarah pada terwujudnya satu peradaban tunggal yang saling bercampur satu sama lain. 


Di dalam keadaan seperti ini, maka isu tentang perbedaan itu menjadi semakin krusial. Dulu orang bisa dengan mudah memelihara cirinya sendiri walaupun berbeda dari yang lain, tanpa saling mengganggu, karena ada ruang-ruang yang memungkinkan setiap kelompok hidup dan tumbuh sendiri terpisah dari yang lain. 


Dulu, pada masa yang jauh, Wong Kito (di Palembang) ini, tidak perlu harus berurusan dengan Reng Madureh (orang Madura). Tapi sekarang ini, apa boleh buat, Reng Madureh jadi Ketua PWNU Sumatra Selatan. Ini perkembangan yang meluas di mana-mana. 


Dulu misalnya di Inggris tidak terbayangkan ada orang India, apalagi jadi Perdana Menteri, jadi wali kota saja tidak terbayangkan. Belum lama itu, tahun 1980-an, 1990-an, orang belum bisa membayangkan bahwa di Inggris ada wali kota orang keturunan India. Tiba-tiba belakangan ada wali kota London yang keturunan Pakistan, dan kemudian Perdana Menteri Inggris orang keturunan India. Bagaimana mungkin? Ini karena dunia ini cenderung mengarah kepada satu kampung yang besar dalam satu peradaban tunggal yang saling bercampur. 


Dalam keadaan demikian, sekali lagi, isu-isu tentang perbedaan ini krusial sekali. Orang yang tadinya bisa nyaman memelihara cirinya sendiri-sendiri tanpa terganggu oleh orang lain karena bisa memisahkan diri dari yang lain; sekarang orang saling berbeda terpaksa harus bertemu dan terpaksa harus terlibat dalam urusan bersama, dalam keadaan saling berbeda. Nah, maka jelas bahwa peradaban yang kita hidupi bersama ini membutuhkan unsur-unsur yang dapat memelihara harmoni di antara kita semua, di tengah-tengah perbedaan yang kita miliki ini. 


Di masa lalu yang belum lama juga, baru kira-kira satu abad yang lalu, orang kalau satu peradaban atau satu kelompok aspirasi sosial-politik tertentu ketika bertemu dengan kelompok yang lain, yang terjadi ya konflik begitu saja, dan perang begitu saja. 


Dan ketika globalisasi ini mulai berkembang, kemudian terjadi aliansi-aliansi di antara satu kelompok kepentingan politik dengan kelompok kepentingan politik yang lain membangun persekutuan militer, dan kemudian saling berbenturan di antara konsolidasi kekuatan militer besar secara internasional melawan kekuatan militer besar yang lain. 


Itulah yang kita alami belum sampai satu abad lalu dengan Perang Dunia II yang sebelumnya juga sudah terjadi dalam Perang Dunia I, dan menimbulkan kerusakan-kerusakan yang luar biasa yang tidak ada preseden sebelumnya, belum pernah terjadi sebelumnya. 


Sebetulnya sejak setelah perang dunia itu, sudah ada kesadaran di kalangan masyarakat internasional untuk menginisiasi satu tatanan yang baru, yang bisa memaksa semua orang, walaupun berbeda-beda untuk mengembangkan kemampuan hidup berdampingan secara damai. Maka lahirlah Piagam PBB yang kemudian disusul dengan operasionalisasi PBB sebagai organisasi pada 1945. Kita tahu dalam sejarah bahwa ini bukan hal yang mudah. 


Sesudah konsensus internasional itu sendiri, dunia ini bukannya lalu tiba-tiba menjadi dunia yang aman damai tanpa ada konflik. Sampai hari ini, konflik di antara aspirasi politik yang berbeda-beda juga aspirasi ekonomi yang berbeda-beda juga masih saja berlangsung, masih saja muncul sampai sekarang.


Ada kawasan-kawasan di dunia ini yang memang masih bergolak karena konflik antar kepentingan-kepentingan politik dan ekonomi yang berbeda-beda itu. 


Nah, menjadi tanggung jawab semua orang. Menjadi tanggung jawab setiap manusia sebetulnya untuk memikirkan bagaimana caranya supaya masyarakat manusia di atas bumi yang kecil ini, di masa depan sungguh-sungguh mampu untuk mengembangkan kehidupan yang harmonis di antara perbedaan-perbedaan yang mereka miliki itu. Karena apabila tidak, maka tidak ada arah lain dari konflik antarperbedaan itu yang kemungkinan terus terjadi di antara manusia selain kehancuran bersama. 


Kalau konflik-konflik yang ada ini kita biarkan dan potensi-potensi konflik kita perbolehkan untuk berkembang menjadi konflik-konflik yang aktual, tidak ada masa depan bagi dunia ini selain kehancuran bersama. Tidak akan ada pemenang, yang ada adalah semua kalah. 


Itu sebabnya saya mengikuti, saya yakin betul dari ajaran guru kami, dari teman-teman NU ini yaitu KH Abdurrahman Wahid yang mengatakan bahwa tidak ada cara yang lebih baik untuk membantu Islam selain dengan menolong kemanusiaan seluruhnya. 


Karena kalau hanya berpikir tentang Islam saja, dengan mengabaikan yang lain, apalagi dengan menganggap yang lain sebagai rintangan, maka Islam bukannya akan mencapai kemaslahatan tetapi justru akan terbentur kepada konflik-konflik yang tidak berujung dan tidak akan memenangkan apa-apa, selain hancur bersama-sama yang lain.  


Nah, Indonesia sebagai pemegang presidensi ASEAN, kita tahu insyaallah akhir Agustus atau awal September 2023 yang akan datang, akan digelar Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN. Indonesia telah mengumumkan proposal agenda besar untuk KTT ASEAN ini yaitu menjadikan ASEAN sebagai pusat pertumbuhan, sebagai epicentrum of growth


Nah kita membaca bahwa tawaran yang diajukan itu memang lebih banyak yang menyangkut ekonomi, menyangkut kesejahteraan, menyangkut kemakmuran kawasan. Nah, memang semua orang juga melihat bahwa kawasan ASEAN ini adalah kawasan yang kaya dari segi sumber daya alam, dari segi populasi, dari segi potensi-potensi kapasitas yang lain, ini lengkap dengan unsur-unsur yang menjamin sukses-sukses ekonomi bagi kawasan ini. 


Tapi kita juga perlu berpikir tentang skenario-skenario yang mungkin bukan yang terbaik. Di antara potensi yang bisa menjadi hambatan bagi agenda membangun epicentrum of growth itu adalah jelas potensi-potensi konflik. Karena ASEAN ini di samping merupakan satu kawasan dengan potensi ekonomi yang besar, ini juga kawasan dengan heterogenitas yang luar biasa. ASEAN ini sangat heterogen. 


Jadi, misalnya orang Indonesia ini tidak bisa berpikir hanya bahwa di Indonesia ini penduduk Muslimnya mayoritas. Karena di bagian-bagian lain di ASEAN ini ada masyarakat-masyarakat yang populasi Muslimnya minoritas. Ada yang sangat krusial, populasi Muslimnya minoritas tapi ukurannya besar sekali, seperti di India. 


Kalau di Indonesia ini, menjadi negara mayoritas Muslim terbesar di dunia yang nomor dua itu di India, tapi minoritas. Kalau kita punya sekitar 250-an juta populasi Muslim, di India itu sudah sekitar 200 juta, dan diperkirakan tahun 2050 nanti populasi Muslim di India kemungkinan jadi lebih banyak daripada Indonesia, tapi minoritas di tengah penduduk India yang lebih 1,5 miliar kira-kira.


Menurut statistik secara keseluruhan, saya belum lama juga mendengar ini, mendapatkan data ini, bahwa di seluruh kawasan Indo-Pasifik ini, Indo-Pasifik itu adalah kawasan di sekitar Samudera Hindia dan sekitar Samudera Pasifik, mulai India sampai Filipina sampai Australia, ini Indo-Pasifik. Nah di kawasan Indo-Pasifik ini, kalau dilihat prosentase populasinya, mayoritas Buddha. Jadi ada 43 persen penduduk Indo-Pasifik ini beragama Buddha, yang Muslim itu cuma 42 persen. Ini data yang saya sendiri baru, belum lama saya dapat. Selebihnya yang lain-lain. 


Nah, maka ketika kita berpikir tentang agenda ekonomi, dan berpikir tentang strategi untuk mencapai tujuan-tujuan ekonomi, walaupun saya ingat dulu dalam pelajaran ekonomi sejak SMA itu teori-teori ekonomi itu biasanya Ceteris Paribus, biasanya itu ini bisa tercapai asalkan tidak ada variabel-variabel yang lain, tapi kan dalam realitas ini variabel segala macam campur aduk, termasuk variabel-variabel berupa perbedaan-perbedaan budaya dan agama. 


Maka ketika kita berpikir tentang strategi untuk membangun episentrum pertumbuhan, membangun pusat pertumbuhan ekonomi di ASEAN ini, yang nantinya jelas kita berharap akan meluas ke seluruh kawasan Indo-Pasifik, kita harus berpikir juga tentang variabel-variabel yang lain, termasuk variabel-variabel heterogenitas masyarakat ASEAN dan Indo-Pasifik ini yang berpotensi mendorong terjadinya konflik-konflik sehingga bisa menghambat agenda membangun epicentrum of growth itu sendiri. 


Maka dari wawasan ini, kami mencoba berpikir tentang satu sumbangan yang mungkin berguna bagi pergulatan ASEAN untuk membangun epicentrum of growth ini, yaitu dengan memperhatikan dan berpikir tentang variabel-variabel di luar variabel-variabel ekonomi itu sendiri. 


Kita tahu bahwa kawasan ASEAN dan Indo-Pasifik ini heterogen, tapi juga kita tahu bahwa masyarakat di kawasan ini sebetulnya memiliki warisan budaya dan peradaban yang kurang lebih sama. Kalau dirunut-runut, memang sejarah mencatat bahwa ada satu masa ketika seluruh kawasan Indo-Pasifik ini mengadopsi satu karakter, satu warna budaya yang sama. 


Pada abad ke-3 masehi, di India ada raja besar yaitu Raja Asoka yang setelah menghabiskan separuh kekuasaannya dengan peperangan dan pembantaian yang luar biasa, entah bagaimana kemudian berbalik menjadi raja yang mempromosikan toleransi dan harmoni. 


Kampanye untuk toleransi dan harmoni yang dilancarkan Raja Asoka ini dilakukan dengan sangat deliberate dan dengan pengerahan kapasitas besar-besaran sehingga mencapai ke ujung-ujung Indo-Pasifik. Salah satunya tercatat di Nusantara ini. 


Maka kita pilih Palembang sebagai tempat pertemuan untuk Indonesia di wilayah Barat ini, sebelum ini beberapa waktu lalu kita sudah lakukan pertemuan seperti ini, sama seperti ini untuk Indonesia Bagian Timur di Surabaya. Nah sekarang, hari ini kita selenggarakan pertemuan untuk Indonesia Bagian Barat di Palembang. 


Sengaja pilih Palembang karena sejarah mencatat bahwa Palembang ini menjadi salah satu basis, salah satu aktor peradaban yang menjadi began sangat kuat dari kampanye toleransi dan harmoni dari Asoka itu. Palembang ini, saya sudah pernah menyebut ketika dalam Peringatan Harlah Ke-99 NU dulu di Palembang ini, kita sengaja memilih Palembang sebagai salah satu tempat penyelenggaraan peringatan harlah ini karena Palembang ini adalah pewaris Sriwijaya.


Nah, Sriwijaya ini adalah suar peradaban yang paling kuat dalam sejarah Nusantara ini di dalam menyebarkan nilai-nilai toleransi dan harmoni itu. Di sini dulu ada kerajaan Sriwijaya yang berhasil mempersatukan sebagian besar dari Nusantara, dan saya katakan merupakan inisiatif berskala peradaban yang dilakukan di kawasan Nusantara ini, dan berhasil bertahan lama sampai 7 abad, dari abad ke-7 sampai abad ke-14, sehingga mewariskan nilai-nilai budaya dan peradaban secara sangat dalam di tengah masyarakat. 


Baru di Surabaya saya katakan, ketika Majapahit mengumumkan semboyan Bhinneka Tunggal Ika itu sebetulnya adalah warisan dari Sriwijaya. Jadi, Majapahit ini yang pertama kali mengalami kontroversi perbedaan agama di lingkungan kekuasaan di dalam sejarah politik Nusantara ini.


Karena di mana-mana, dulu itu, sebetulnya bukan hanya di Nusantara tapi di seluruh sejarah peradaban dunia umat manusia di mana-mana, kalau kita bicara dari Sumeria, Mesir Kuno, Romawi Kuno, sama, bahwa peradaban itu bangkit di atas basis utama berupa dua komponen dasar yaitu etnik dan agama. Satu etnik tertentu membawakan gagasan agama tertentu, agama dalam pengertian luas, termasuk agama-agama Pagan, membentuk satu konsolidasi politik, sehingga kita tahu bahwa dari setiap peradaban yang pernah lahir itu ada dua unsur itu; etnik dan agama. Satu agama tertentu dijadikan identitas sebagai satu etnik tertentu untuk melakukan satu konsolidasi politik. 


Majapahit itu pertama kali kontroversi perbedaan agama di lingkungan elitenya. Ketika kemudian ada sebagian elite politik Majapahit, lingkungan keluarga Kraton, yang di samping memeluk agama Buddha, sebagian lain memeluk Hindu, sehingga terjadi kontroversi dan itu diselesaikan oleh Mpu Tantular di dalam Sutasoma dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika; yang berbeda-beda itu sebetulnya Satu, karena Tan Hana Dharma Mangrwa; tidak ada kebenaran yang terbelah. Kalau sudah benar, pasti Satu. Kalau masih terbelah, belum satu, berarti belum benar. 


Bisa kita lihat, gagasan macam ini pertama bahwa perbenturan di antara aspirasi yang berbeda pasti bukan hanya terjadi di Majapahit saja, di tempat-tempat lain pasti juga terjadi. Di Kamboja, Thailand, Syam, pada masa-masa itu sekalipun, termasuk di India, di Cina mungkin, dan berbagai kawasan peradaban yang lain. Tetapi gagasan tentang Bhinneka Tunggal Ika muncul, lahir di Majapahit. Ini unik sekali karena menjadikan Majapahit kerajaan pertama di sepanjang sejarah peradaban umat manusia yang menyatakan menolak identitas agama bagi negara. Belum pernah terjadi sebelumnya. 


Kalau kita lihat kerajaan-kerajaan lain sepanjang sejarah, semuanya mengadopsi satu identitas agama tertentu. Tetapi Majapahit mengatakan, Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa. Sekali lagi, perlu diingat bahwa gagasan ini lahir di Majapahit.


Saya yakin bahwa lingkungan budaya Majapahit memungkinkan bagi lahirnya gagasan tentang Bhinneka Tunggal Ika ini pasti tidak lepas dari warisan Sriwijaya yang begitu dalam. Karena ini sekuensial antara Sriwijaya dengan Majapahit, dan nyaris menjadi satu kontinuitas dari Sriwijaya ke Majapahit, kalau kita lihat dari dinamika kultural dan peradabannya. 


Maka kita dihadapkan atau bisa melihat tampilan dari satu potensi peradaban besar yang luar biasa yang pasti akan berguna apabila kita kapitalisasi sebagai satu strategi untuk membangun kawasan ASEAN dan Indo-Pasifik ini. Karena sudah dalam catatan sejarah itu, masyarakat kawasan ASEAN dan Indo-Pasifik ini sebetulnya dulu pernah mengalami satu kesatuan peradaban yang dibangun di atas nilai-nilai toleransi dan harmoni. Warisan peradaban semacam ini pasti tidak bisa hilang begitu saja. Pasti akan menjadi jejak naluriah bagi masyarakatnya. 


Bisa kita lihat, Palembang ini misalnya, karena Palembang ini adalah pewaris peradaban Sriwijaya yang merupakan peradaban maritim yang begitu besar, maka kita bisa lihat sekarang masyarakat Palembang ini satu-satunya yang berhasil membangun kapal selam dari tepung ketan. Luar biasa. Ini menarik sekali kok bisa imajinasinya kapal selam? Padahal kalau di tempat saya, bentuk semacam itu cemilan genting. Di sini kok imajinasinya kapal selam. Saya kira ini karena warisan naluri peradaban sehingga imajinasinya orang Palembang itu dihubungkan ke kapal selam. 


Kita bisa berharap bahwa apabila ingatan kolektif tentang peradaban, tentang warisan peradaban bersama ini, yang meliputi kawasan ASEAN dan Indo-Pasifik ini, kita bangkitkan, ini bisa menjadi strategi untuk membangun kebersamaan di tengah-tengah heterogenitas yang semakin tajam dengan datangnya macam-macam pengaruh baru. 


Kita tahu bahwa kalau perbedaan-perbedaan yang ada sekarang ini, yang ragamnya semakin banyak. Dulu itu, misalnya, Islam yang masuk ke Nusantara ini, itu satu brand saja yang masuk. Sampai dengan awal abad ke-20 sebetulnya Islam di Indonesia satu brand saja, jadi tidak ada macam-macam kayak sekarang ini. Nah sekarang tiba-tiba ada Al Zaytun, ada FPI, macam-macam itu kan karena masuknya pengaruh-pengaruh baru ini. 


Nah, keberagaman yang sedemikian tajam dan banyak ini harus kita atasi dengan cara apa? Kalau prinsip strateginya, tempo hari sudah saya tawarkan dalam salah satu forum yang disebut sebagai International Forum of Religious Freedom di Washington DC, bahwa prinsip dasar untuk membangun koeksistensi damai di antara kelompok-kelompok yang berbeda itu adalah pertama-tama kita perlu identifikasi dulu apa nilai-nilai bersama yang sudah kita pegangi bersama-sama? 


Kenyataannya walaupun kita berbeda kelompok tapi ada nilai yang sama dan yang sama-sama kita yakini. Walaupun misalnya yang satu Islam, yang satu Kristen, yang satu Katolik, yang satu Hindu, Buddha, dan sebagainya, tapi di antara yang berbeda-beda ini ada nilai-nilai yang semuanya setuju. Misalnya nilai tentang kasih sayang, nilai tentang keadilan. Ini nilai-nilai yang kita semuanya setuju. Nilai tentang ikatan keluarga, semuanya setuju. 


Jadi kita identifikasi nilai-nilai yang memang sudah kita pegangi bersama. Nilai yang memang kita sudah saling berbagi. Itu kita pegangi sebagai titik tolak wawasan bahwa kita ini sebenarnya punya agenda bersama, wong nilainya sama kok. Berarti walaupun kita kelompok yang berbeda-beda tapi kita bersama-sama punya agenda yang sama, berdasarkan nilai-nilai yang kita pegangi bersama itu. 


Selanjutnya, mari kita identifikasi nilai-nilai apa yang harus kita kembangkan, supaya kita tidak lagi terdorong untuk berkonflik satu sama lain. Kalau perlu dengan merekontekstualisasi dengan mengadaptasikan, menyesuaikan, membuat penyesuaian-penyesuaian terhadap nilai-nilai yang lama, yang tadinya mendorong konflik. 


Tempo hari saya satu forum dengan Pimpinan Muhammadiyah di Yogyakarta. Saya jadikan contoh bagaimana hubungan Muhammadiyah dengan NU itu. Dulu itu, ada nilai di dalam lingkungan NU itu yaitu tidak boleh besanan dengan orang Muhammadiyah. Orang NU cari jodoh orang Muhammadiyah itu tidak boleh. Orang NU punya menantu subuhan nggak qunut itu bencana besar, dulu itu. Demikian juga orang Muhammadiyah, sebaliknya.


Tapi karena kemudian ada kesadaran bersama tentang kebutuhan untuk membangun, memelihara, dan menjaga bangsa ini bersama-sama, maka masing-masing bersedia mengoreksi. 


Ini ada contoh yang ekstrem sekali di masa lalu. Di Rembang, di tempat kelahiran saya sendiri, dulu itu ada kiai yang sangat anti-Muhammadiyah. Nah sementara itu, ada kiai lain yang Muhammadiyah. 


Sebetulnya di antara mereka ini hubungan di permukaan baik-baik saja, sehingga saling mengunjungi satu sama lain. Tapi kiai yang anti-Muhammadiyah ini, itu kalau ketamuan kiai Muhammadiyah, temannya itu, ya diterima, disambut dengan baik, dengan sopan. 


Tapi begitu si tamu Muhammadiyah ini pulang, dia panggil orang-orang untuk membawa kursi yang tadi diduduki itu ke laut supaya dicuci tujuh kali, salah satunya dengan pasir. Itu sangking antinya kepada Muhammadiyah, ekstrem sekali. Tapi belakangan, putra dari kiai ini menjadi ketua cabang Muhammadiyah di Rembang. 


Ya sekarang orang sudah mau saling mengoreksi. Walaupun kadang-kadang lahir gagasan-gagasan berbeda yang baru. Tapi pada dasarnya ada kemauan, sudah ada nilai yang ditegakkan untuk saling bertoleransi satu sama lain. Walaupun kemudian muncul perbedaan-perbedaan baru. Seperti contohnya NU-Muhammadiyah itulah. 


NU-Muhammadiyah itu kan tadinya saling ada perbenturan yang tajam, tapi kemudian masing-masing mau melakukan penyesuaian-penyesuaian dalam nilai-nilai ini sehingga berhasil membangun kehidupan berdampingan secara damai, sehingga tetap saja bisa saling mentolerir walaupun lahir perbedaan-perbedaan baru, seperti soal hisab-rukyah ini. 


Ini teman-teman Non-Muslim mungkin tidak terlalu concern dengan ini. Tapi ini salah satu ilustrasi bahwa dulunya misalnya Muhammadiyah itu yang mengusulkan sidang isbat. Dulu pada zaman orde baru, supaya ada sidang isbat di Kementerian Agama. Itu yang mengusulkan Muhammadiyah.


Nah dulu prinsipnya masih sama, sama-sama rukyah atau kalau hisab ya imkanur rukyah itulah, itu istilah teknis sekali. Teorinya sama untuk hisab itu pakai teori yang sama. Nah sekarang tiba-tiba Muhammadiyah itu membuat teori baru soal ini, sehingga menghasilkan elemen perbedaan yang baru. Tapi kita bisa melihat bahwa bisa mentolerir satu sama lain. 


Bahkan, kemarin ketika ada usulan untuk membuat hari libur Idul Adha untuk masing-masing tanggal yang diyakini, akhirnya bisa dibuat kompromi, ya sudah kita bikin cuti bersama, sehingga liburnya lebih lama, tiga hari. 


Ini hal-hal yang sebetulnya merupakan ilustrasi dari kemauan dan kemungkinan. Artinya, bahwa ini bisa dilakukan untuk membuat penyesuaian-penyesuaian di dalam nilai-nilai kita supaya kita bisa hidup berdampingan secara damai. Kalau kita mampu masing-masing membuat penyesuaian, kita bisa damai. 


Ini seperti yang dilakukan oleh NU misalnya pada tahun 2019, kami menyelenggarakan Munas Alim Ulama di Banjar dan kami menyatakan bahwa kategori Non-Muslim, status Non-Muslim tidak punya relevansi hukum di dalam konteks negara-bangsa modern. Ini adalah rekontekstualisasi. 


Dulunya kalau dalam wawasan Islam yang lama, yang namanya Non-Muslim itu wajib didiskriminasi. Wajib. Makanya ada ide tentang kafir harbi, dzimmi. Kafir harbi itu berarti harus diperangi. Kafir dzimmi ini kafir yang dijadikan warga negara kelas dua. Itu dalam wawasan lama. 


Tapi karena kita sadar bahwa di tengah-tengah konteks realitas kita hari ini tidak mungkin mempertahankan nilai-nilai itu, maka harus dibuat rumusan baru, sehingga NU menyatakan bahwa status kafir, status Non-Muslim tidak punya relevansi hukum di dalam konteks negara-bangsa modern karena setiap warga negara harus setara di depan hukum. Ini salah satu contoh.


Nah hal yang sama sebetulnya sudah dilakukan oleh Gereja Katolik pada tahun 1965 dalam Konsili Vatikan II ketika Gereja Katolik mengatakan bahwa ada keselamatan di luar Gereja Katolik. Itu berarti penghargaan terhadap perbedaan.


Nah tahun 2016 itu ada satu kelompok Yahudi yang menyebut dirinya sebagai gerakan Masorti. Gerakan ini mereka mengklaim sebagai Yahudi konservatif tapi bukan ortodoks. Konservatif tapi bukan ortodoks. Mereka masih memegangi warisan-warisan tekstual dari wacana agama Yahudi tapi mereka bersedia melakukan rekontekstualisasi. Jadi kira-kira ini Yahudi-NU lah. Mirip dengan NU, konservatif tapi tidak ortodoks. 


Mereka melakukan hal sama. Tahun 2016 itu ada pertemuan rabi-rabi di kalangan Yahudi Masorti yang kemudian menghasilkan dokumen yang mereka sebut sebagai Teshuvah atau dokumen pertobatan. Di situ dengan terang-terangan dan jujur sekali, rabi-rabi Yahudi ini membuat tinjauan kritis terhadap gagasan dalam wawasan agama Yahudi yang menganggap Non-Yahudi sebagai manusia kelas dua. 


Karena di dalam khazanah wacana Yahudi itu ada yang menyatakan bahwa Non-Yahudi yang mereka sebut sebagai gentile,  manusia yang derajatnya lebih rendah dari orang Yahudi. Bahkan ada satu dokumen menyatakan bahwa kalau orang Yahudi itu diciptakan dari cahaya, tapi manusia lain diciptakan dari api. Jadi ini mirip urusan malaikat sama setan kalau dalam wacana Islam. Itu ada begitu-begitu dan ini ditinjau secara kritis oleh Gerakan Yahudi Masorti ini dan mereka membuat usulan tentang rekontekstualisasi bahwa nilai-nilai semacam ini tidak bisa lagi diteruskan, harus direkontekstualisasi. 


Ini menunjukkan bahwa sebetulnya membangun konsolidasi untuk harmoni di tengah perbedaan itu mungkin bisa dilakukan dan sudah dilakukan. Kita tinggal melakukan kapitalisasi dari semua ini untuk membangun strategi yang lebih kuat ke depan. Jadi, sekali lagi kita perlu mengidentifikasi nilai-nilai apa yang harus kita tegakkan supaya kita bisa saling toleransi di tengah perbedaan. 


Nah kalau sudah begitu yang nilai-nilai yang sama kita tahu, nilai-nilai yang harus kita tegakkan supaya bisa damai kita tahu, selebihnya perbedaan apa pun ya mari saling mentolerir saja seperti NU dan Muhammadiyah. 


Kalau Muhammadiyah mau puasa duluan, silakan. Kami besok saja. Muhammadiyah mau lebaran duluan, silakan. NU besok saja. Tidak masalah, tidak perlu memaksa untuk sama. Karena ya tidak apa-apa kok berbeda. Orang NU ke masjid, orang Kristen ke gereja, ya nggak harus sama, harus jadi satu ibadahnya; kan nggak harus begitu. Karena nyatanya beda-beda tetap nggak apa-apa. Jadi tidak perlu ada penyamaan.


Kalau sudah begini insyaallah kita yakin bahwa kita punya landasan untuk strategi ke depan. Nah, yang semacam ini, strategi semacam ini, ternyata dulu sudah pernah ada di kawasan ini sebagai warisan peradaban dari Asoka. Itulah sebabnya kami teman-teman di NU ini berpikir tentang satu strategi yang kemudian kami menyebutnya sebagai pendekatan Asoka, Asoka Approach. Kenapa? Karena ini modal kita bersama yaitu warisan peradaban yang sama, peradaban Asoka yang basisnya adalah nilai-nilai tentang toleransi dan harmoni. 


Nah kalau ini kita kapitalisasi, kita punya alat untuk mengonsolidasikan satu basis konstituensi masyarakat yang luas sekali di ASEAN dan Indo-Pasifik ini untuk memberikan wujud yang konkret dari apa yang disebut sebagai peradaban yang harmonis. Karena secara logika, kita tidak punya pilihan. Seluruh umat manusia ini tidak punya pilihan di tengah-tengah arah perkembangan menuju satu peradaban tunggal yang saling bercampur ini. 


Kita tidak bisa mengangankan satu visi tentang peradaban masa depan itu demi keselamatan semua orang, demi kemaslahatan semua orang selain untuk mengupayakan terwujudnya satu peradaban yang dilandaskan dengan tatanan yang sungguh-sungguh adil dan harmonis.


Karena kalau tidak adil, tidak mungkin harmonis. Jadi adil dan harmonis. Adil dan harmonis itu hanya mungkin diwujudkan atas dasar penghargaan, penghormatan terhadap kesetaraan hak dan martabat bagi setiap manusia. Selama masih ada diskriminasi tidak akan ada keadilan, dan selama tidak ada keadilan tidak akan ada harmoni dan selama tidak ada harmoni tidak akan ada kedamaian. 


Inilah gagasan-gagasan dasar yang ingin kami sumbangkan. Banyak, belum jadi. Belum jadi satu bangunan strategi yang jelas konstruksinya, belum. Ini baru menginisiasi diskusi, menginisiasi wacana. Tapi modalnya sudah jelas dan siapa yang mau menolak? Karena ini adalah realitas yang tidak terbantahkan dari warisan peradaban kita bersama.


Kita berharap bahwa wacana yang kita kembangkan ini bisa disumbangkan dalam konteks ASEAN dan perwakilan kami di Kemenlu ini sudah melakukan upaya-upaya, makanya kita upayakan supaya forum ini, ASEAN Intercultural and Interreligious Dialogue Confefencs (IIDC) kita selenggarakan sebelum KTT ASEAN itu sendiri. Kami sudah mendapatkan izin dari Presiden, bahkan bekerja bersama Kemenlu. Harapannya adalah agar sumbangan, kontribusi dari forum ini nanti bisa diadopsi di dalam kesimpulan-kesimpulan dari KTT ASEAN itu sendiri. Insyaallah


Ke depannya, tentu saja kita berharap bahwa di dalam strategi ASEAN ini ada elemen-elemen yang berasal dari wacana tentang IIDC ini. Inilah gagasan yang kami tawarkan dan kami mohon maaf apabila di dalam memproses ini seolah-olah mungkin diproses di dalam lingkungan yang terbatas. Sebetulnya bukan cuma teman-teman NU saja yang memproses gagasan ini, sebetulnya campur dengan yang lain. Cuma, lingkungannya terbatas sekali karena memang ini gagasan yang masih sangat embryonal, belum jadi betul. 


Tetapi kita berharap dengan sosialisasi semacam ini dan dengan pelaksanaan Forum IIDC itu sendiri, mudah-mudahan bisa menjadi wacana yang diterima oleh kalangan yang lebih luas dan kemudian diproses di lingkungan masing-masing untuk didialogkan kembali bersama-sama, sehingga menjadi strategi yang nyata, dan memberikan sumbangan yang signifikan terhadap strategi membangun ASEAN sebagai epicentrum of growth


Mudah-mudahan harapan-harapan baik ini bisa mencapai wujudnya, maksud-maksud baik ini bisa mencapai tujuannya. Apa yang akan menjadi artikulasi-artikulasi di dalam diskusi pagi hari ini insyaallah akan kami bawa di dalam forum IIDC nanti, dan tentu saja sumbangan bantuan dari bapak-ibu sekalian dalam hal ini akan sangat berharga bagi kami.


*) Tulisan di atas adalah transkrip utuh pidato Gus Yahya dalam agenda Sosialisasi Menuju ASEAN IIDC atau Dialog Antar-Budaya dan Antar-Agama di Asia Tenggara, 10 Juli 2023. 


Baca juga artikel-artikel saya di bawah ini:


1. Hindari Konflik, Gus Yahya Tegaskan Semua Orang Bertanggung Jawab Upayakan Kehidupan Harmonis


2. Dialog Antar-Budaya dan Antar-Agama Jadi Sumbangsuh PBNU Jadikan ASEAN Pusat Pertumbuhan Ekonomi


3. Gus Yahya: Warisan Peradaban Nusantara Jadi Strategi Bangun Kebersamaan di Masa Depan


4. Tawaran Solusi dari Gus Yahya untuk Hidup Damai di Masa Depan


5. Munas NU di Banjar hingga Teladan Raja Asoka di India Jadi Landasan PBNU Inisiasi ASEAN IIDC