Selasa, 30 April 2019

Menyambut Ramadan (2)



Ramadan segera tiba
orang-orang sibuk berbenah
berlomba mencitra diri dengan kebaikan
mempertontonkan amal ke publik

Ramadan segera tiba
orang-orang mulai persiapkan diri
dalam setahun, barangkali, hanya sekali
yakni wisata ke rumah anak yatim dan dhuafa

Panti asuhan di mana pun berada, penuh tamu
mendapat rezeki lewat perantara orang kaya
orang-orang kaya berupaya membersihkan hartanya
seraya meningkatkan elektabilitas
juga popularitas
barangkali bisa naik tahta hingga yang paling atas

Ramadan segera tiba
di pinggir-pinggir jalan menjamur gembel dan gelandangan
meminta belas kasih agar diberi rezeki untuk makan
jumlahnya lebih banyak daripada bulan-bulan sebelum Ramadan

Barangkali seperti itu akting mereka menjadi kaum miskin kota
mengharap nasi lalu bertamasya dari masjid ke masjid
untuk sekadar dapat memulai dan membatalkan puasa

Tayangan di layar kaca pun berubah drastis
seluruhnya menjadi religi
artis-artis lekas-lekas mengubah diri
masing-masing berperan menjadi saleh dan salehah
Ramadan usai, peran pun selesai

Ramadan segera tiba
tayangan-tayangan gosip ibukota
pasti menampilkan aktivisme selebriti yang berbeda
yang rajin beribadah dan bersedekah
itulah kapitalisasi media yang merasuki sendi-sendi agama
kaum kapital akan tetap untung
mereka tak mau buntung

meski dengan kepura-puraan
hanya dalam waktu sebulan
intinya adalah mencari dan mendapat keuntungan
lumayan

Nun jauh di sebuah kota
dari negeri sengkarut yang tak tertata
saat tiba Ramadan nanti
warung makan rupanya tetap buka
entah setengah pintu
atau hanya ditutup bagian depan
dengan papan
setengah badan

Ramadan segera tiba
orang-orang yang tak kuat puasa harus sembunyi
bahkan terkesan dipaksa untuk sembunyi
menjadi minoritas di negeri itu rentan siksaan
fisik dan psikis

Siapa yang tak puasa nanti
siap-siaplah menerima siksa duniawi
sedang solusi agar terhindar dari siksa
adalah pura-pura

Lalu, para bijak bestari bertanya-tanya:

Mengapa harus ada kepura-puraan di bulan penuh cinta?
padahal cinta tak pernah berkenan pada kebohongan
benarkah kepura-puraan itu merupakan bentuk penghormatan pada Ramadan?
Betulkah kemuliaan Ramadan luntur jika tak dihormati?


Bekasi, 2019

Senin, 29 April 2019

Menyambut Ramadan




Apa yang istimewa dari bulan kesembilan tahun hijriyah ini?
manusia-manusia modern rupa-rupanya hanya berupaya mencari keuntungan semata
tayangan iklan, program-program religi, hingga busana muslim-muslimah segera disajikan ke muka

Apa yang istimewa dari bulan penuh ampunan ini?
orang-orang di kota tetap saja berkelahi dengan dalih menghargai
padahal di kitab suci, sama sekali tak ada perintah untuk menghargai orang yang berpuasa
atau jangan-jangan puasanya orang kota hanya pura-pura suci?
tujuannya, barangkali, agar mendapat ampunan dan penghargaan dari sesama manusia
bukan dari yang memiliki ampunan sungguhan

Apa yang istimewa dari bulan kasih sayang ini?
toh ternyata masih saja ada kata-kata sindir kepada yang tidak menjalankan kewajiban
padahal tentu ada banyak alasan
kenapa tak bisa saling sayang dengan bertabayun meminta penjelasan?

Apa yang istimewa dari bulan pahala yang berlipat ganda ini?
jika ternyata agenda-agenda santunan kepada anak yatim dan dhuafa hanya jadi ajang pencitraan
berswafoto
lalu diunggah
ke seluruh akun media sosial milik pribadi
pengaturan privasi diatur publik
dibumbui tulisan pemantik mencitra diri
lalu senang mendapat puji
hanya itu?

Ramadan, bagiku, sejak dulu, adalah bulan kepura-puraan tanpa ragu
semua orang berusaha menutup-nutupi diri
agar terlihat lebih saleh daripada kemarin hari
kemudian tampil membawa ayat sebiji
dan menjadikan mimbar sebagai panggung unjuk gigi
untuk menyalahkan yang lain
menghujat yang tak sama
menafikan yang berbeda

Marilah segera menjadi munafik
menampilkan diri yang terbalik
seolah-olah baik
tapi bejat di dalam bilik-bilik

Marilah segera menjadi munafik
menahan haus dari sinar terik
menjaga lapar hingga rembulan naik
tapi sepanjang hari hanya dengki serupa salik

Marilah menjadi bajik
berpuasa bukan hanya karena wajib
tetapi melatih diri untuk tak menjadi munafik
sebab gelar takwa akan tersemat dengan baik
bukan di awal pentas ramadan
tetapi di detik-detik akhir menuju kesucian

Ramadan, benarkah bulan kemunafikan?
bagiku, iya
jika puasa hanya sekadar

Ramadan, benar, bulan mulia
bagiku, iya
jika puasa tetapi tak ingkar
raga, fikir, jiwa, seluruhnya
turut menahan segala
tak alakadarnya

cukup? sudah.

Bekasi, 2019

Rabu, 17 April 2019

Mengenal Kiai Ma'ruf Amin (8-Habis): Ikhtiar untuk Indonesia Sejahtera


Sumber foto: pinterpolitik.com
“Saya memang sudah tua,” ujar KH Ma’ruf Amin dengan santai, menepis keraguan banyak orang yang meremehkan kemampuannya.

“Saya menerima kepercayaan dari Pak Jokowi, bukan untuk saya sendiri, tetapi untuk generasi muda Indonesia. Saya ingin membantu Pak Jokowi untuk melanjutkan upayanya di dalam menyiapkan landasan. Beliau ini yang memantapkan runway-nya, supaya Indonesia pada 2024 dapat tinggal landas.”

“Saya ingin membantu untuk menerapkan Nawacita jilid dua, agar negara ini pada tahun 2024, tidak lagi disibukkan konflik ideologis. Kita ingin memastikan, Indonesia bisa lebih fokus mengembangkan diri ke arah yang lebih baik.”

Jika masyarakat Islam Indonesia selama ini merasa terpinggirkan secara ekonomi, Kiai Ma’ruf Amin telah menyiapkan konsep Arus Baru Ekonomi Indonesia sebagai solusinya.

Suatu konsep yang berdasarkan syariah Islam dan telah melalui kajian mendalam, yang lebih berpihak kepada kaum mustad’afin (terpinggirkan).

Baca juga: Memgenal Kiai Ma'ruf Amin (7): Sisi Lain Sebagai Ulama Penengah

“Karena arus lama itu neoliberal, melahirkan konglomerasi dengan menggunakan teori trickle down effect, menetes ke bawah, tetapi ternyata tidak netes-netes ke bawah. Yang atas makin kuat yang bawah makin lemah,” papar Kiai Ma’ruf.

Kolaborasi pemberdayaan ekonomi diharapkan bisa menyempitkan kesenjangan seluruh lapisan masyarakat. Pemberdayaan juga diharapkan bisa memberikan nilai tambah bagi produk-produk lokal agar bisa bersaing secara global.

Konsep ini ditunjang dengan penguatan pemberdayaan melalui redistribusi aset, tanah, lahan yang ada di negara ini dibagikan kepada pengusaha kecil, koperasi, pesantren, agar mereka tumbuh jadi pengusaha yang kuat. 

“Saya ingin bangsa ini memiliki perilaku positif, agamis, dinamis, kreatif, santun, dan berkemajuan,” tegas Kiai Ma’ruf.

Kini, ia tinggal diberi kesempatan untuk membuktikan kebenaran konsep itu, dan masyarakat muslim Indonesia harus ikut mendukungnya. Kesempatan Kiai Ma’ruf Amin untuk menyejahterakan umat itu, akan lebih berdaya jika ia didukung untuk menduduki kursi Wakil Presiden Indonseia, mendampingi Presiden Joko Widodo.

Semoga terwujud, insyaallah.

(Iip D Yahya, dalam buku KH Ma'ruf Amin: Santri Kelana Ulama Paripurna)

Selasa, 16 April 2019

Mengenal Kiai Ma'ruf Amin (7): Sisi Lain Sebagai Ulama Penengah


Sumber: beritasatu.com

Kiai Ma’ruf menghabiskan usianya untuk berorganisasi di lingkungan NU. Dimulai sebagai pengurus Ansor, ketua NU Tanjung Priok dan DKI Jakarta, politisi PNU dan PPP, katib syuriyah, lalu Rais Aam PBNU.

Di lingkungan MUI, ia memulai dari anggota Komisi Fatwa, ketua komisi tersebut, lalu Ketua Umum MUI. Di luar itu, ia memimpin Yayasan Al-Jihad dan Yayasan Syekh Nawawi Al-Bantani, yang keduanya mengelola lembaga pendidikan dari tingkat TK hingga perguruan tinggi.

Dari mana energi dalam dirinya itu berasal? Apa resepnya memiliki napas panjang sebagai muharrik (penggerak) itu?

Kiai Ma’ruf seorang yang taat aturan organisasi, menghormati senior dan sesepuh. Ia tak pernah berambisi mengejar suatu jabatan, tetapi ketika sebuah kedudukan diamanahkan di pundaknya, ia tunduk dan patuh.

Ia akan menjaga amanah itu dan membuktikan kemampuan terbaiknya sebagai tanda ia mampu menjabatnya. Dalam semua kedudukan yang pernah dipegangnya, ia membuktikan sebagai seorang yang mumpuni. Amanah organisasi itu menjadi sumber energinya.

“Kita berorganisasi itu untuk agama,” demikian ditegaskan Kiai Ma’ruf, sebagaimana dikutip KH Arwani Faishal, Ketua Komisi Fatwa MUI Pusat.

Sementara napas panjangnya bersumber dari kepribadiannya yang penyabar, pemaaf, dan bersahaja.

“Kiai Ma’ruf itu sangat sabar, tidak cepat marah, dan mampu mengendalikan emosinya. Dalam menghadapi masalah, Beliau selalu mengedepankan kemaslahatan yang lebih luas dengan pendekatan musyawarah. Mencari solusi yang bisa diterima oleh semua pihak. Seringkali Beliau mengalah dan mengambil sikap kompromi demi tercapainya kesepakatan bersama itu,” papar KH Zainut Tauhid, Wakil Ketua MUI Pusat.

“Kiai Ma’ruf itu seorang pendengar yang baik. Beliau mau mendengar orang yang berpendapat keliru dan mengingatkannya tanpa menyakiti,” jelas KH Zulfa Mustofa, Wakil Katib Syuriyah PBNU.

“Beliau juga tak pernah menolak tamu, orang yang pernah menyakiti hatinya pun diterimanya dengan baik,” sambungnya.

Baca juga: Mengenal Kiai Ma'ruf Amin (6): Kedekatannya dengan Gus Dur

Kiai Ma’ruf pandai memilih mitra kerja, yang membantu penuh kinerjanya di PBNU dan MUI. Para mitra ini sekarang sudah tampil sebagai kadernya yang mumpuni, baik di PBNU maupun di MUI.

“Untuk tugas-tugas di MUI, ada tim ahli yang menyiapkan berbagai kajian dalam pengambilan sebuah fatwa,” terang KH Masduki Baidlowi, Ketua Bidang Pengkajian dan Penelitian MUI Pusat. 

“Namun untuk draf akhir, pasti dibaca dan dikoreksi oleh Kiai Ma’ruf,” sambung Kiai Masduki.

Dalam pengambilan hukum, Kiai Ma’ruf memilih jalan moderat, yakni keputusan yang tidak memberatkan (ta’assur) tetapi juga menghindari keputusan yang menggampangkan (tasahhul). 

Ketika terjadi kerusuhan akibat rencana penataan Makam Mbah Priok pada 2010, MUI DKI Jakarta membentuk Tim Kajian yang terdiri berbagai ahli, atas permintaan Gubernur DKI, Fauzi Bowo. 

Sebagai pengarah tim, Kiai Ma’ruf dengan cermat memverifikasi setiap laporan. Dengan detail ia menelisik; Apa temuan anda? Siapa narasumber yang ada tanya? Apa analisa Anda? Mengapa Anda sampai pada kesimpulan tersebut?

Dengan kecermatan itu, tidak ada anggota tim yang membuat laporan yang asal jadi atau menjiplak. Tim ini kemudian menghasilkan sebuah buku putih dan kasus makam Mbah Priok pun dapat diselesaikan. 

“Para ahli yang terlibat dalam tim, sangat kagum dengan cara Kiai Ma’ruf mengarahkan tim kajian ini,” kata Kiai Zulfa Mustofa yang ikut di dalam tim tersebut selaku Ketua MUI Jakarta Utara.

Menjelang pelaksanaan Muktamar NU ke 33 di Jombang pada tahun 2015, ada utusan dari seorang tokoh yang dikenal sebagai ahli spiritual. Menurut utusan itu, Rais Aam yang akan terpilih adalah ulama yang berasal dari kulon (barat).

Kiai Ma’ruf hanya bisa mengiyakan informasi itu. Ia tak berpikir lebih jauh karena saat itu kandidat rais aam yang ramai dibicarakan adalah KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus (Jawa Tengah) dan KH Hasyim Muzadi (Jawa Timur). 

Ketika Muktamar NU Jombang mengalami jalan buntu dengan pengunduran diri Gus Mus, tim ahlul halli wal ‘aqdi kemudian meminta kesediaan Kiai Ma’ruf Amin untuk menjadi rais aam. Sebagai pribadi yang selalu tunduk pada keputusan organisasi, ia menerima amanah tersebut. 

Dengan kesediannya itu, Muktamar NU Jombang pun dapat dilanjutkan kepada pemilihan Ketua Umum PBNU sehingga muktamar dapat diselesaikan dengan terpilihnya rais aam dan ketua umum. Kiai ma’ruf Amin memang berasal dari Kulon, tepatnya dari Banten.

Rumahnya Terbuka untuk Aktivis Muda

Rumah Kiai Ma’ruf selalu terbuka untuk para aktivis muda. Mereka menjadikan Kiai Ma’ruf dan Nyai Huriyah sebagai orang tua tempat berkeluh kesah. Endin AJ Soefihara yang saat itu aktif di IPNU dan PMII, telah menganggap rumah di Lorong 27 Koja itu seperti rumahnya sendiri.

“Saya at home berada di rumah Kiai Ma’ruf. Karena anak-anak beliau saat itu masih kecil, saya sudah seperti anak laki-laki terbesar saja di sana,” ujar mantan anggota DPR RI dari PPP itu. 

Nyai Huriyah yang aktif berdakwah juga senang berdiskusi dengan para aktivis. Hal itu membuat suasana di rumah selalu hangat dan cair.

Salah satu kegelisahan Kiai Ma’ruf adalah keinginannya untuk memuliakan Syekh Nawawi Al-Bantani. Ulama penulis ratusan kitab itu besar namanya di Makkah, tetapi nyaris tak ada jejaknya di Banten.

Keturunan langsung dari Syekh Nawawi tidak ada yang meneruskan jejak keilmuan ulama besar itu. Syekh Nawawi menikah dengan perempuan asal Tanara juga, namanya Nyai Nasimah.

Mereka mempunyai tiga orang anak, yaitu Nafisah, Maryam, dan Rubi’ah. Rupanya dari ketiga putrinya itu, tidak ada yang meneruskan jejak keilmuan Syekh Nawawi di Banten.

“Kiai Ma’ruf ingin membangun pesantren di tempat Syekh Nawawi dilahirkan, yaitu di Tanara, Serang,” papar Endin.

Pada 1987 dibentuklah Yayasan Syekh Nawawi Al-Bantani dan Kiai Ma’ruf menjadi ketua umumnya. Sejak 1990 ia pun menjadi pengasuh pesantren An-Nawawi.

Dalam perkembangannya, pesantren ini menyelenggarakan pendidikan tingkat tsanawiyah, aliyah, dan Sekolah Tinggi Ilmu Fiqih. Dari sinilah diharapkan lahir para ahli fiqih yang meneladani jejak Syekh Nawawi Al-Bantani Al-Jawi. 

Sementara aktivis Zainut Tauhid, mengenal Kiai Ma’ruf melalui kegiatan di Yayasan Al-Jihad mulai 1983. Saat itu Zainut sebagai pengurus IPNU Jakarta ingin membentuk IPNU Jakarta Utara. Ia meminta izin agar Al-Jihad menjadi pusat kegiatannya. 

Keinginan Zainut itu diterima dengan tangan terbuka. Sembari mengembangkan IPNU, ia juga juga diminta untuk mengajar.

“Kiai Ma’ruf itu orangnya sangat terbuka, senang diskusi dan memiliki pengalaman yang sangat luas baik di bidang organisasi, dakwah, pendidikan dan politik,” terang Zainut.

Dalam berbagai kesempatan santai, Zainut menyimak kegelisahan Kiai Ma’ruf yang selalu memikirkan bagaimana umat Islam bisa lebih baik posisinya. Dari segi kesejahteraan, sumber daya manusia, ekonomi, dan kontribusi untuk kemajuan bangsa. 

“Kiai Ma’ruf sangat gelisah terhadap berbagai ancaman perpecahan umat dan bangsa. Maka dalam setiap ceramahnya beliau selalu mengingatkan soal menjaga ukhuwah; Islamiyah, wathaniyah, dan basyariyah,” kata Zainut.

Kegelisahan itulah yang memotivasi Kiai Ma’ruf untuk mematangkan konsep ekonomi Syariah yang kemudian mengkristal dalam konsep Arus Baru Ekonomi Indonesia.

Untuk memahami persoalan ekonomi itu, Kiai Ma’ruf tak segan untuk belajar dari para ahli ekonomi dan perbankan. Ia menelisik persoalan teknis keuangan Syariah dan kemudian memberikan solusi berupa fatwa melalui MUI.

Untuk kepentingan itulah, MUI membentuk Dewan Syariah Nasional yang secara khusus membidangi persoalan ekonomi dan perbankan.

(Iip D Yahya, dalam buku KH Ma'ruf Amin: Santri Kelana Ulama Paripurna)

Senin, 15 April 2019

Mengenal Kiai Ma'ruf Amin (6): Kedekatannya dengan Gus Dur


Sumber gambar: pinterpolitik.com
Kegiatan dakwah juga berlangsung di halaman rumahnya. Setiap Minggu pagi, dilaksanakan pengajian umum yang dipenuhi jamaah. Mubalig kondang KH Zainuddin MZ, sering terlihat mengikuti pengajian ini.

Rumah Kiai Ma’ruf juga kerap dikunjungi para kiai. KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), KH Fuad Hasyim (Bunten, Cirebon), Habib Luthfi bin Yahya (Pekalongan) sering berdiskusi sambil lesehan di ruang tamunya. 

“Kadang obrolan mereka berlangsung sampai subuh,” ujar KH Zulfa Mustofa, keponakan Kiai Ma’ruf yang kini menjadi salah seorang Katib Syuriyah PBNU. 

Gus Dur semakin dekat dengan Kiai Ma’ruf setelah peristiwa Tanjung Priok 1984. Gus Dur menemukan kawan seiring dalam mengembangkan NU ke depan, yakni kiai yang menguasai khazanah klasik kitab kuning, terbuka untuk mengkaji kitab modern, dan selalu mengikuti perkembangan melalui media.

“Setiap hari Kiai Ma’ruf membaca tiga surat kabar nasional. Majalah mingguan pun juga dibacanya. Beliau lebih baik tidak punya kendaraan pribadi daripada ketinggalan informasi,” lanjut Kiai Zulfa.

Gus Dur sering diundang dalam acara yang diadakan Yayasan Al-Jihad, khususnya dalam upaya mensosialisasikan mengenai hubungan Islam dan Pancasila, kepada para ulama dan mubalig.

Gus Dur juga beberapa kali meminta Kiai Ma’ruf menggantikannya berceramah, seperti pada acara akhirussanah (akhir tahun pelajaran) di Pesantren Al-Ishlahiyah Singosari Malang tahun 1987.
Kiai Ma’ruf yang saat itu menjadi Wakil Ketua LDNU Wilayah Jakarta, menggantikan Gus Dur yang berhalangan hadir. Melalui Gus Dur pula, Kiai Ma’ruf disarankan untuk sowan kepada para ulama waskita, antara lain Kiai Hamid Kajoran, Magelang.

Saat pertama kali sowan ke Kajoran, Kiai Hamid sedang kurang sehat dan berbaring di ranjangnya. Sementara para tamu lain duduk bersila di bawah, Kiai Ma’ruf diminta oleh Kiai Hamid Kajoran untuk duduk di atas kasur bersamanya.

Ulama yang disebut sebagai waliyullah itu meminta Kiai Ma’ruf untuk berziarah ke makam Syekh Belabelu di Parangtritis.

Kiai Ma’ruf memenuhi anjuran Mbah Hamid Kajoran itu. Ia pergi ke Pamancingan, Parangtritis, makam Syekh Belabelu atau Raden Jaka Bandem, putra dari Raja Brawijaya V dan murid Syekh Maulana Maghribi.

Tiba di lokasi pemakaman, seseorang yang tampaknya sudah menunggu, segera menyapanya.

“Ma’ruf Amin, ya?” ujar orang itu menyapa ramah.

“Iya betul,” jawab Kiai Ma’ruf.

“Anda akan mendapat amanah besar, insyaallah,” ujarnya menyambung.

Kiai Ma’ruf tak sempat berkomentar dan bertanya lebih lanjut hingga tak sadar orang yang menyambutnya itu sudah pergi. 

Tak lama berselang sejak pertemuan dengan sosok misterius itu, berlangsung Muktamar NU ke-28 di Pesantren Krapyak Yogyakarta. Dalam hajat terbesar PBNU ini, KH Achmad Siddiq terpilih sebagai Rais Aam Syuriyah dan Gus Dur sebagai Ketua Umum Tanfidziyah.

Kiai Ma’ruf Amin dipercaya sebagai Katib Syuriyah. Pada struktur PBNU yang kemudian, nama posisi ini menjadi Katib ‘Aam Syuriyah.

Sejak menjadi katib inilah, kealiman Kiai Ma’ruf mulai menonjol dan produktif menelurkan pemikiran-pemikiran baru. Jabatan itu merupakan lompatan karirnya di PBNU, karena sebelumnya ia belum masuk dalam struktur di tingkat PBNU.

Posisi ini tak lepas dari usulan Gus Dur. Posisi ini pula yang pernah diduduki Gus Dur dalam PBNU periode 1979-1984.

Sebagai katib, Kiai Ma’ruf mulai rutin berkantor di PBNU. Ia menyiapkan konsep sistem pengambilan keputusan hukum berdasarkan manhaji (metodologi) yang dibahas secara diamis dalam Munas NU di Lampung tahun 1992.

Dalam munas tersebut dibahas pula hukum perbankan dan rencana mendirikan bank NU, sebuah isu yang menjadi spesialisasinya. Hasil Munas Lampung ini merupakan lompatan pemikiran para ulama NU.

Majalah AULA edisi April 1992 menyebutnya dengan, “Pintu Ijtihad sudah Ketemu Kuncinya.” 

Dalam istilah Kiai Ma’ruf, Munas Lampung merupakan periode tajididi (pembaruan) dalam tubuh NU, yakni merumuskan konsepsi untuk menghadapi konservatisme pemikiran menuju dinamisasi.

Suksesnya bahtsul masail dalam Munas Lampung itu, tak lepas dari tangan dingin Kiai Ma’ruf sebagai katib syuriyah.

Pelaksanaan bahtsul masail tak terganggu oleh situasi internal NU yang cukup pelik, akibat pengunduran diri KH Ali Yafie sebagai Wakil Rais Aam dan Pejabat Pelaksan Rais Aam sepeninggal almagfurlah KH Achmad Siddiq.

Munas itu kemudian menetapkan KH Moh Ilyas Ruhiat sebagai Pejabat Pelaksana Rais Aam.

Dengan demikian, sebagai katib, Kiai Ma’ruf melayani dua Rais Aam. Dalam Muktamar ke-29 di Pesantren Cipasung 1994, Kiai Ma’ruf menjadi Rais Syuriyah urutan ketiga, di bawah KH Dr Nahrowi Abd Salam, MA, dan KH Syafi’i Hadzami.

(Iip D Yahya, dalam buku KH Ma'ruf Amin: Santri Kelana Ulama Paripurna)

Jumat, 12 April 2019

Mengenal Kiai Ma'ruf Amin (5): Memulai Dakwah di Jakarta


Sumber foto: merdeka.com
Setelah berhenti dari tugas sebagai legislator pada 1982, seiring dengan menguatnya wacana kembali ke Khittah NU 1926, Kiai Ma’ruf mulai berkonsentrasi pada kegiatan sosial dan pendidikan.

Ia mengembangkan lembaga pendidikan di bawah naungan Yayasan Al-Jihad yang berpusat di Jalan Papanggo, Warakas, Jakarta Utara. Yayasan ini terbentuk sejak 1976 sebagai pengembangan dari Musala Al-Jihad.

Saat itu warga Warakas kesulitan untuk menunaikan Salat Jumat. Musala Al-Jihad yang tanahnya merupakan wakaf dari H Asmaran tidak lagi memadai. Bahkan untuk kegiatan tarawih di bulan Ramadan, terpaksa dilakukan di rumah warga. 

Oleh karena adanya kebutuhan yang mendesak itu, sejak 1975, dimulailah pembangunan Masjid Al-Jihad di atas tanah milik negara di bawah Otorita Sunter.

Tentu saja kegiatan pembangunan itu mendapat teguran dari pihak otorita, karena dilakukan tanpa izin. Warga akhirnya meminta bantuan kepada Ustaz Ma’ruf Amin sebagai anggota DPRD DKI.

Baca juga: Mengenal Kiai Ma'ruf Amin (4): Politis Muda Taklukkan Jakarta

Kiai Ma’ruf melayani kepentingan warga itu dan segera menghubungi pihak-pihak terkait. Pemerintah melalui Walikota Jakarta Utara Adwinanto kemudian menghibahkan tanah seluas 5000 meter persegi itu.

Tanah seluas itu sudah termasuk untuk kepentingan fasilitas umum seperti pelebaran jalan. Pada 1976, terbentuklah Yayasan Al-Jihad sebagai pengelola tanah hibah tersebut. Ustaz Ma’ruf didaulat menjadi ketua yayasan dibantu oleh warga.

Dimulai dari pembangunan masjid, Yayasan Al-Jihad berkembang membuka kegiatan pendidikan mulai dari taman kanak-kanak hingga SLTA. 

Kemudian terjadilah perisiwa kerusuhan Tanjung Priok pada 12 September 1984. Yayasan ini tiba-tiba dianggap ada kaitannya dengan Gerakan Komando Jihad (Komji). 

Pengurus yayasan cukup terusik dengan tuduhan tersebut, padahal mereka sedang menyiapkan pendirian Sekolah Tinggi Islam Salahuddin Al-Ayubi (STAISA). Kiai Ma’ruf lalu menghubungi Pangdam V Jaya Mayjen Tri Sutrisno agar bersedia meresmikan STAISA. 

Dengan kehadiran Pangdam, maka isu keterkaitan dengan Komji menjadi hilang. STAISA pun berkembang baik, hingga kini sudah meluluskan tak kurang dari 17000 sarjana. Nama yayasan kemudian berubah menjadi Yayasan Al-Jihad Shalahuddin Al-Ayyubi.

(Iip D Yahya, dalam buku KH Ma'ruf Amin: Santri Kelana Ulama Paripurna)

Rabu, 10 April 2019

Mengenal Kiai Ma'ruf Amin (4): Politisi Muda Taklukkan Jakarta


Sumber foto: pinterpolitik.com
Setelah dirasa cukup menuntut ilmu, saat usianya masuk angka dua puluh, Ma’ruf menikahi gadis pilihannya, Nyai Huriyah. Tak lama setelah menikah, pada 1963 itu, Ma’ruf memulai jejak pengabdiannya dengan hijrah ke Koja, Tanjung Priok. 

“Di Jakarta nanti,” ujar Kiai Romli saat menerima cucunya yang akan berpamitan merantau ke ibukota, “Kamu harus mengaji kepada kawan kakek saat belajar di Makkah. Namanya Habib Ali bin Husen Al-Attas. Orang menyebutnya Habib Ali Bungur. Beliau seorang alim...”

Di Jakarta, Ma’ruf mengikuti jejak kakaknya, Nyai Musawwamah, yang sudah lebih dulu menetap di Koja. Nyai Musawwamah adalah istri dari KH Ahmad Mi’an, seorang ulama terkenal di wilayah Priok. Ia populer sebagai Mua’llim Mi’an. 

Ia menjadi tokoh NU Tanjung Priok dan salah seorang pengelola masjid Al-Fudlola yang terkenal dan bersejarah. Ma’ruf banyak belajar kepada kakak iparnya ini. Di masjid ini ia berguru juga kepada Kiai Usman Perak.
Kehadiran Ma’ruf di Koja menambah kekuatan pengembangan NU. Apalagi hampir sebagian besar warga Koja merupakan pendatang dari Kresek, kampung halamannya. Pedagang di Pasar Ular misalnya, 80% berasal dari Kresek.

Ma’ruf pun memulai aktivitasnya di NU sebagai Ketua Gerakan Pemuda Ansor ranting Koja. Dengan dukungan kakaknya, Ma’ruf berhasil mengembangkan Ansor. Ia juga didukung oleh H Muhammad Ali, Ketua NU Tanjung Priok. Ayahanda Suryadharma Ali ini sosok yang low profile dan memberi ruang bagi munculnya anak muda. 

Dengan berbagai dukungan ini, Ma’ruf berhasil membentuk grup drum band. Satu-satunya drum band Ansor di Jakarta saat itu. Tak lama kemudian, kariernya naik, memimpin Ansor Cabang Tanjung Priok. Saat itu nama Jakarta Utara belum digunakan. Ia juga memimpin Front Pemuda yang beranggotakan pemuda dari berbagai organisasi.

Memasuki tahun 1965, Muallim Mi’an mulai meminta Ma’ruf mewakilinya dalam berbagai pengajian di seputar Tanjung Priok. Ma’ruf memenuhi mandat itu dengan baik. Ia menjadi seorang penceramah yang digemari. Seorang orator yang banyak menyisipkan guyonan dalam pengajiannya. Nama Ustaz Ma’ruf Amin mulai populer dan digemari jamaah.

Sejak memasuki kehidupan Jakarta, Ma’ruf tak lupa dengan pesan kakeknya. Secara rutin, ia mendatangi majelis taklim Habib Ali di Bungur. Di majelis ini, ia bersua dengan banyak ulama di Jakarta, antara lain Kiai Sya­fi’i Hadzami.

Di sela-sela kesibuk­annya Ma’ruf masih menyempatkan waktu untuk kuliah di Fakultas Ushuludin Universitas Ibnu Chaldun Jakarta. Tahun 1967, ia meraih gelar sarjana muda (BA).

Kepiawaian Ma’ruf mengelola organisasi, membuatnya dipercaya untuk memimpin Partai Nahdlatul Ulama (PNU) cabang Tanjung Priok (1966-1970). Saat itu NU memang merupakan sebuah partai politik, sesuai keputusan Muktamar tahun 1952.

Baca juga: Mengenal Kiai Ma'ruf Amin: Politik Jalan Tengah

Sebagai pengurus cabang, Ma’ruf ikut menghadiri Muktamar NU ke-24 tahun 1967 di Bandung. Inilah muktamar pertama yang dihadirinya. Dengan kedudukan ini dan dukungan kakak iparnya, Ma’ruf menjadi calon anggota DPRD I DKI Jakarta dalam Pemilu 1971. 

Itulah kehidupan Ma’ruf muda di Jakarta. Menjadi aktivis Ansor, mengaji kepada Mu’allim Mi’an, Kiai Usman Perak, dan Habib Ali Bungur, kuliah, dan keliling untuk berceramah. Tujuh tahun sejak kedatangannya ke Koja, kinerja Ma’ruf sudah mendapat simpati warga.

Ia terpilih sebagai anggota DPRD mewakili PNU. Suara PNU pun ikut naik signifikan untuk wilayah Tanjung Priok. Ia telah muncul sebagai tokoh muda NU di Jakarta bagian utara, mendampingi Kiai Syatibi, tokoh NU yang lebih senior.

Karir Politik yang Komplit

Sumber foto: gatra.com
Pada usia 28 tahun, Ma’ruf Amin dilantik sebagai anggota DPRD DKI Jakarta hasil Pemilu 1971. Ia menjadi yang termuda di antara 40 anggota. Sesuai aturan, ia memimpin persidangan pertama DPRD DKI mendampingi Sjamsidae Murdono (Golkar) sebagai anggota tertua (54 tahun).

Sejak dilantik pada 14 Oktober 1971, Ma’ruf sudah diingatkan oleh Gubernur Ali Sadikin, yang melantik mewakili Menteri Dalam Negeri, bahwa anggota DPRD DKI adalah wakil dari seluruh rakyat ibukota yang harus mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan lainnya. Pada periode ini, Ma’ruf dipercaya sebagai Ketua Fraksi Golongan Islam.

Ada empat inisitif Ma’ruf yang diterima sebagai kebijakan pemerintah DKI Jakarta, yaitu; pencantuman bulan dan tahun masa habis STNK dalam plat nomor kendaraan, pengaturan dana renovasi pasar yang menjamin pedagang lama tidak tergusur, dana bantuan untuk madrasah dan standarisasi dan pemerataan guru, serta soal pemakaman yang meliputi aturan pemakaman di tanah wakaf dan periode pembongkaran makam. 

Pada 1973, partai-partai politik Islam difusikan dalam PPP. Peserta pemilu hanya tinggal tiga saja: PPP, Golkar, dan PDI. Nama fraksi PNU kemudian berganti menjadi Fraksi PPP. Ma’ruf didaulat menjadi ketua fraksi. Dalam Pemilu 1977, Ma’ruf kembali menjadi anggota DPRD DKI. Ia menjadi pimpinan Komisi A yang membidangi urusan pemerintahan. 

Kedekatan Ma’ruf dengan konstituen dibuktikan dengan perolehan suara PPP di Koja yang selalu unggul dibandingkan Golkar dan PDI. Bahkan sampai Pemilu 1982, ketika ia sudah tidak mencalonkan diri lagi, suara PPP Kecamatan Koja tetap unggul. Kiai Ma’ruf kemudian berjeda dari kegiatan politik praktis, ia berkonsentrasi pada kegiatan dakwah dan pendidikan.

Sebagai rangkaian dari gerakan reformasi Mei 1998, PBNU mewadahi aspirasi politik warga NU dengan mendirikan partai politik, menyertai kelahiran 40 parpol baru setelah tumbangnya Orde Baru. KH Ma’ruf Amin sebagai salah seorang Rais Syuriyah, memimpin Tim Lima yang terdiri dari KH M Dawam Anwar, KH Said Aqil Siroj, KH Rozy Munir, dan KH Ahmad Bagdja.

Bersama tim lain yang dibentuk, pada 23 Juli 1998 berdirilah Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Kiai Ma’ruf didaulat sebagai Ketua Dewan Syuro mendampingi Mathori Abdul Jalil sebagai Ketua Dewan Tanfidz PKB. Dewan Syuro adalah pimpinan tertinggi yang menentukan kebijakan partai. Ia kembali ke jalur politik praktis setalah jeda selama 16 tahun.

PKB meraih suara besar ketiga (12,61 %) setelah PDIP dan Golkar, dan mengantarkan KH Abdurrahman Wahid sebagai Presiden RI yang keempat.

Hasil Pemilu 1999 menempatkan Kiai Ma'ruf kembali sebagai anggota DPR RI. Ia menjadi Ketua Komisi VI yang membidangi agama, pendidikan, dan olahraga. Di samping itu, ia menjadi anggota komisi anggaran fraksi PKB, dan sempat pula menjadi anggota Komisi II yang membidangi urusan pemerintahan dalam negeri.

Baca juga: Mengenal Kiai Ma'ruf Amin (3): Kitab Kuning, Sepak Bola, dan Film

Karier panjang sebagai legislator itu membuatnya paham proses pembuatan undang-undang dan cara memperjuangkan aspirasi umat ke dalam kebijakan pemerintahan. Karier politiknya yang panjang itu ia jalani dengan disiplin. Ia tak pernah sengaja bolos sidang dan memakan gaji buta.

Ia bukan tipe anggota legislatif yang datang-duduk-duit. Ia dikenal sebagai sosok legislator yang disiplin, tak pernah terlambat datang di persidangan yang sudah terjadwal. Ia pun tahu bagaimana bernegosiasi dengan sesama anggota dewan.

Lalu lintas Jakarta Utara yang macet, ditambah tronton besar yang hilir mudik sepanjang waktu di jalan menuju rumahnya di Koja, tak menyurutkan langkahnya. Dari Jalan Deli Lorong 27 Koja, ia melintasi semrawutnya jalanan ibukota itu, bekerja untuk konstituen yang telah memilihnya dalam pemilu. 

Jalan politiknya menuju Istana Negara semakin komplit ketika ia ditetapkan sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden mulai 10 April 2007. Posisi itu dijabatnya sampai masa jabatan kedua Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berakhir pada 2014. Ia membidangi hubungan antaragama dan kehidupan beragama.

Dengan kedudukan tersebut, Kiai Ma’ruf Amin sudah terbiasa dengan kehidupan kantor dan mengerti cara kerja di Istana Negara. Langkah yang akan memudahkannya dalam mendampingi Presiden Joko Widodo nanti.

(Iip D Yahya, dalam buku KH Ma'ruf Amin: Santri Kelana Ulama Paripurna)

Mengenal Kiai Ma'ruf Amin (3): Kitab Kuning, Sepak Bola, dan Film


Sumber foto: medcom.id

Setamat Sekolah Rakyat di awal tahun 1955, Ma’ruf menimba ilmu di Perguruan Islam Al-Khairiyah Citangkil, Cilegon, Banten.

Di pesantren tersebut, ia mulai belajar tata bahasa Arab dari tingkat dasar, seperti mengaji dan menghafal kitab Awamil. Namun di luar jam pengajian, ia tak melupakan hobinya: main bola.

Enam bulan saja ia di Citangkil. Pesantren Tebuireng lalu menjadi tujuannya menekuni ilmu agama lebih dalam. Keluarganya cukup berada sehingga dapat mengirimnya jauh, berkereta api ke Jombang, Jawa Timur. 

Di pesantren ini, ia mengaji kepada para murid Hadlratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, salah seorang pendiri Nahdlatul Ulama. Kiai Hasyim Asy’ari adalah kawan kakeknya, Kiai Ramli, saat belajar di Makkah.

Baca juga: Mengenal Kiai Ma'ruf Amin (2): Nasab Ningrat dan Ulama

Ia diterima di Madrasah Ibtidaiyah yang setara dengan SMP saat ini. Di tingkat ini, ia bersua dengan guru favorit yang mengajar fiqih, namanya Kiai Tahmid. Cara kiai asal Brebes Jawa Tengah itu dalam berbicara dan berargumen, sangat dikaguminya. 

Kepada kiai ahli ushul fiqih ini, Ma’ruf antara lain mengaji kitab Al-Iqna’ fi Halli Alfazh Abi Syuja’ atau dikenal sebagai Iqna’. Kitab tebal tersebut karya Syaikh Syamsuddin Muhammad bin Ahmad As-Syarbini. Iqna’ merupakan syarah (uraian) atas kitab Al-Ghayah wat Taqrib karya Abu Syuja’. 

Kitab ini merupakan standar dalam kajian awal fiqih Mazhab Syafi’i. Di Timur Tengah, seperti Mesir, kitab ini dikaji di tingkat menengah, tetapi Ma’ruf sudah menelaahnya saat ia duduk di bangku Ibtidaiyah.

Kitab ini sangat tebal, cukup merepotkan untuk dibawa santri belia yang berperawakan kecil dan kurus seperti Ma’ruf. Setiap pergi dan pulang mengaji, Ma’ruf terlihat memanggul kitab tersebut. 

Ma’ruf mulai tenggelam dalam kajian kitab-kitab besar dan tebal yang mengupas berbagai disiplin ilmu keislaman. Enam tahun di Tebuireng, ia memuaskan dahaga ilmunya kepada para murid Kiai Hasyim Asy’ari.

Kepada Kiai Idris Kamali, ia mengaji Tafsir Al-Baghawi, Al-Khazin, Ibnu Katsir, Al-Itqan fi Ulumil Qur’an, dan Shohih Bukhori. Kepada Kiai Syansuri Badawi, ia mengaji Jam’ul Jawami dan Shohih Muslim. 

Selain mengambil sanad keilmuan dari para kiai Tebuireng, Ma’ruf juga mendalami Ilmu Falak (astronomi) kepada Kiai Mahfudz Anwar di Pesantren Seblak yang tak jauh dari Tebuireng. Ia juga sering sowan untuk tabarrukan kepada Kiai Adlan Aly, tokoh tarekat pengasuh pesantren Cukir, Jombang. 

Di Tebuireng, hobinya main bola makin tersalurkan. Bakatnya di lapangan rumput semakin terasah karena berjumpa dengan sesama santri yang jago main bola. Lawan mainnya yang sepadan adalah Gus Shohib Bisri putra dari Kiai Bisri Syansuri. Jika keduanya bersua di lapangan, maka permainan menjadi seru.

Begitu pula saat pulang di tengah liburan pesantren, Ma’ruf selalu menjumpai kawan-kawan sepermainannya. Mereka bermain bola, bertandang ke kampung atau desa lain yang siap menerima. 

“Pokoknya kalau Ma’ruf pulang liburan, main bola jadi rame,” ujar H Djana Supriatna, adik iparnya.

“Dia bisa menggerakkan anak-anak kampung untuk ikut bermain bola,” tambahnya.

Di luar main bola, Ma’ruf juga suka menonton film di bioskop. Kalau kiriman uang datang, ia mencari hiburan ke alun-alun Jombang, nonton film di Bioskop Ria.

Saat pergi ia memakai sarung, lalu setibanya di kota, ia berganti celana. Tentu saja, kebiasaan nonton ini hanya bisa dilakukannya sebulan sekali. Selebihnya, uang kiriman harus ia kelola untuk hidup sebulan.

Selain nonton, saat uang kiriman datang, ia tak lupa makan enak, pergi ke tukang sate kambing langganannya. 

Kitab kuning, sepak bola, dan film, membuat masa remaja Ma’ruf selalu ceria. Ia mulai terbiasa membagi waktu untuk mengaji, bermain, dan nonton. Ia menjadi santri kelana, pembelajar yang selalu haus pengetahuan baru, tetapi sebagai remaja, ia tak lupa bermain dengan kawan-kawan sebayanya.

Di Tebuireng ini minat Ma’ruf pada politik mulai tumbuh. Ia menyaksikan kemeriahan Pemilu 1955. Ia mencermati perbedaan pilihan politik di antara keluarga besar pesantren Tebuireng.

Baca juga: Mengenal Kiai Ma'ruf Amin: Politik Jalan Tengah

Ia melihat pula cara berkampanye dari berbagai partai politik yang berebut suara pemilih. Ia juga menyaksikan aktivitas partai NU dalam pemilu pertama itu.


(IIP D Yahya, dalam buku KH Ma'ruf Amin: Santri Kelana Ulama Paripurna)

Selasa, 09 April 2019

Haul Buntet 2019: Menyoal Santri dan Alumni


Usai ziarah ke makam Sesepuh Pondok Buntet Pesantren Cirebon, di Maqbaroh Gajah Ngambung
"Sejauh apa pun kau melangkah, jangan pernah lupakan Buntet Pesantren Cirebon sebagai bagian integral dari setiap proses perubahan-perbaikan diri ke arah yang lebih baik," kata saya, kepada diri sendiri, sesaat usai melangkahkan kaki dari tanah Buntet menuju Bekasi.

Haul Almarhumin Sesepuh dan Warga Pondok Buntet Pesantren Cirebon, pada Sabtu, 6 April 2019, sudah berlalu. Namun, kesan dan berbagai pesan yang didapat tak bisa dilalui begitu saja.

Saban tahun, saya turut merayakan haul dengan mendatangi serta melakukan sowan kepada beberapa guru dan kiai yang berjasa dalam perjalanan hidup saya.

Bagi santri, kiai adalah cahaya yang menerangi jalan; sejak masih berjibaku dengan perjalanan hidup semasa di pondok, juga setelah menjalani kehidupan nyata bersama masyarakat.

Satu hal yang saya dapati, pada Haul Buntet tahun ini adalah soal makna santri dan alumni. Bagi saya, santri adalah santri. Sampai kapan pun. Selamanya. Bahkan, hingga kiamat tiba. Sampai Israfil meniup sangkakalanya, kelak.

Saya merasa aneh, kepada mereka yang datang ke almamaternya dengan penuh angkuh; jemawa; dan merasa diri sebagai seorang yang tak lagi membutuhkan petuah para gurunya. Menurut hemat saya, santri tak pernah ada kata alumni atau mantan.

Sebab menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), alumni adalah lulusan sebuah sekolah, perguruan tinggi, atau universitas. Bentuk tunggalnya adalah alumnus. Bisa juga dimaknai sebagai mantan anggota, karyawan, kontributor, atau tahanan, selain mantan siswa.

Sementara santri adalah sebutan bagi seseorang yang mengikuti pendidikan agama Islam di pesantren. Biasanya menetap di tempat tersebut hingga pendidikannya selesai. Menurut bahasa, istilah santri memiliki akar kata yang sama dengan kata sastra yang berarti kitab suci, agama, dan pengetahuan.

Pertanyaannya: lazimkah sebutan mantan santri atau alumni santri karena sudah tuntas menyelesaikan pendidikannya di pesantren? Menurut saya, tidak demikian. Kalau toh, ada yang merasa diri sebagai alumni dari pondok pesantren (sebut saja: Buntet), silakan saja. Namun sungguh, itu kurang tepat.

Sebab bagi saya, sebutan santri sama maknanya dengan kata sifat. Siapa yang berstatus sebagai santri, selamanya akan menjadi santri. Seorang yang berguru kepada kiai, yang juga tak lazim jika disebut sebagai alumni atau mantan kiai.

Mensifati santri, berarti selalu takzim dan takrim kepada kiai hingga keturunan-keturunannya yang mewarisi pondok pesantren untuk terus diasuh agar tetap eksis dan kokoh berdiri.

"Kalau kamu merasa bahwa Buntet tidak memberi manfaat atau keberkahan kepada dirimu, percayalah bahwa anak-cucumu nanti bakal menerima itu sebagai dampak dari rasa takzimmu kepada kiai di Buntet," kata H Abdullah Sidik, Guru Sosiologi MA NU Putra Buntet Pesantren Cirebon, saat saya sowani, pada Ahad (7/4) dinihari.

Sedangkan Putra Pendiri Pondok Pesantren Al-Hikmah K1 KH Busyrol Karim, yang akrab disapa Kang Ale, mengatakan bahwa sejauh apa pun santri melangkah, ketika ke Buntet, maka pertama kali yang harus didatangi adalah kiai (atau dzuriyat kiai) tempat menggali ilmu agama semasa di pondok.

Artinya, ketika kiai yang dulu mengajari kita tentang akhlak dan budi pekerti sudah tiada, maka salah satu penghormatan kita adalah dengan mendatangi dzuriyat-nya: sowan. Sekalipun dzuriyat-nya itu lebih muda usianya dari kita.

Peringatan dan perayaan haul di Buntet Pesantren Cirebon, bagi saya, sama maknanya dengan hari raya atau lebaran. Itulah yang dinyatakan juga oleh Ketua Umum Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) Buntet Pesantren Cirebon, KH Adib Rofiuddin Izza.

"Kalau di pesantren-pesantren yang lain, yang dihauli itu adalah kiai atau pendiri pesantrennya. Tapi di Buntet, berbeda. Semua warga, sesepuh, dan santrinya pun sama-sama dihauli. Semuanya bersukacita, berbahagia, dan bergembira," katanya, dalam sambutan, pada acara puncak haul, Sabtu (6/4) malam.

Haul Pondok Buntet Pesantren adalah momentum terindah bagi santri, untuk menyatakan atau menceritakan keberhasilan di luar sana. Menjadi sebuah kebanggaan bagi para guru dan kiai, jika kebermanfaatan santri di masyarakat, selalu membawa kebesaran Buntet Pesantren Cirebon.

Maka, saya ingin katakan, bahwa Buntet Pesantren Cirebon adalah tanah keramat. Keberkahan yang dikucurkan menembus dimensi waktu. Itulah karomah yang diberikan Pendiri Pondok Buntet Pesantren Cirebon, Mbah Muqoyyim. 

Ia sebelumnya berpuasa selama 12 tahun. Empat tahun pertama dipersembahkan untuk tanah Buntet dan sekitarnya, empat tahun kedua untuk anak-cucunya, dan empat tahun ketiga untuk para santrinya.

Adakah Mbah Muqoyyim berpuasa untuk alumni Buntet Pesantren Cirebon? 

Maka, menjadi santri berarti selamanya adalah santri. Bukan alumni atau mantan santri. Dengan begitu, insyaallah keberkahan dari Mbah Muqoyyim akan terus menjadi cahaya dalam setiap langkah yang terderap, hingga anak-cucu kita. 

Pesan saya, dan juga menjadi pesan dari guru yang saya sowani, adalah jangan jemawa, angkuh, dan sombong hanya karena merasa diri lebih berilmu dari generasi penerus kiai yang mengajari kita, ketika itu.

Sebab jabatan, kedudukan, tahta, dan harta yang dimiliki saat ini adalah semata-mata karena para kiai di Buntet Pesantren Cirebon meridhoi perjalanan hidup kita. 

Lantas, apa yang mau disombongkan?

Buat kalian yang masih merasa dan menamakan diri sebagai alumni, silakan simak video saya berikut ini:


Wallahua'lam...