Mengenal Kiai Ma'ruf Amin (3): Kitab Kuning, Sepak Bola, dan Film - Aru Elgete

Breaking

Rabu, 10 April 2019

Mengenal Kiai Ma'ruf Amin (3): Kitab Kuning, Sepak Bola, dan Film


Sumber foto: medcom.id

Setamat Sekolah Rakyat di awal tahun 1955, Ma’ruf menimba ilmu di Perguruan Islam Al-Khairiyah Citangkil, Cilegon, Banten.

Di pesantren tersebut, ia mulai belajar tata bahasa Arab dari tingkat dasar, seperti mengaji dan menghafal kitab Awamil. Namun di luar jam pengajian, ia tak melupakan hobinya: main bola.

Enam bulan saja ia di Citangkil. Pesantren Tebuireng lalu menjadi tujuannya menekuni ilmu agama lebih dalam. Keluarganya cukup berada sehingga dapat mengirimnya jauh, berkereta api ke Jombang, Jawa Timur. 

Di pesantren ini, ia mengaji kepada para murid Hadlratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, salah seorang pendiri Nahdlatul Ulama. Kiai Hasyim Asy’ari adalah kawan kakeknya, Kiai Ramli, saat belajar di Makkah.

Baca juga: Mengenal Kiai Ma'ruf Amin (2): Nasab Ningrat dan Ulama

Ia diterima di Madrasah Ibtidaiyah yang setara dengan SMP saat ini. Di tingkat ini, ia bersua dengan guru favorit yang mengajar fiqih, namanya Kiai Tahmid. Cara kiai asal Brebes Jawa Tengah itu dalam berbicara dan berargumen, sangat dikaguminya. 

Kepada kiai ahli ushul fiqih ini, Ma’ruf antara lain mengaji kitab Al-Iqna’ fi Halli Alfazh Abi Syuja’ atau dikenal sebagai Iqna’. Kitab tebal tersebut karya Syaikh Syamsuddin Muhammad bin Ahmad As-Syarbini. Iqna’ merupakan syarah (uraian) atas kitab Al-Ghayah wat Taqrib karya Abu Syuja’. 

Kitab ini merupakan standar dalam kajian awal fiqih Mazhab Syafi’i. Di Timur Tengah, seperti Mesir, kitab ini dikaji di tingkat menengah, tetapi Ma’ruf sudah menelaahnya saat ia duduk di bangku Ibtidaiyah.

Kitab ini sangat tebal, cukup merepotkan untuk dibawa santri belia yang berperawakan kecil dan kurus seperti Ma’ruf. Setiap pergi dan pulang mengaji, Ma’ruf terlihat memanggul kitab tersebut. 

Ma’ruf mulai tenggelam dalam kajian kitab-kitab besar dan tebal yang mengupas berbagai disiplin ilmu keislaman. Enam tahun di Tebuireng, ia memuaskan dahaga ilmunya kepada para murid Kiai Hasyim Asy’ari.

Kepada Kiai Idris Kamali, ia mengaji Tafsir Al-Baghawi, Al-Khazin, Ibnu Katsir, Al-Itqan fi Ulumil Qur’an, dan Shohih Bukhori. Kepada Kiai Syansuri Badawi, ia mengaji Jam’ul Jawami dan Shohih Muslim. 

Selain mengambil sanad keilmuan dari para kiai Tebuireng, Ma’ruf juga mendalami Ilmu Falak (astronomi) kepada Kiai Mahfudz Anwar di Pesantren Seblak yang tak jauh dari Tebuireng. Ia juga sering sowan untuk tabarrukan kepada Kiai Adlan Aly, tokoh tarekat pengasuh pesantren Cukir, Jombang. 

Di Tebuireng, hobinya main bola makin tersalurkan. Bakatnya di lapangan rumput semakin terasah karena berjumpa dengan sesama santri yang jago main bola. Lawan mainnya yang sepadan adalah Gus Shohib Bisri putra dari Kiai Bisri Syansuri. Jika keduanya bersua di lapangan, maka permainan menjadi seru.

Begitu pula saat pulang di tengah liburan pesantren, Ma’ruf selalu menjumpai kawan-kawan sepermainannya. Mereka bermain bola, bertandang ke kampung atau desa lain yang siap menerima. 

“Pokoknya kalau Ma’ruf pulang liburan, main bola jadi rame,” ujar H Djana Supriatna, adik iparnya.

“Dia bisa menggerakkan anak-anak kampung untuk ikut bermain bola,” tambahnya.

Di luar main bola, Ma’ruf juga suka menonton film di bioskop. Kalau kiriman uang datang, ia mencari hiburan ke alun-alun Jombang, nonton film di Bioskop Ria.

Saat pergi ia memakai sarung, lalu setibanya di kota, ia berganti celana. Tentu saja, kebiasaan nonton ini hanya bisa dilakukannya sebulan sekali. Selebihnya, uang kiriman harus ia kelola untuk hidup sebulan.

Selain nonton, saat uang kiriman datang, ia tak lupa makan enak, pergi ke tukang sate kambing langganannya. 

Kitab kuning, sepak bola, dan film, membuat masa remaja Ma’ruf selalu ceria. Ia mulai terbiasa membagi waktu untuk mengaji, bermain, dan nonton. Ia menjadi santri kelana, pembelajar yang selalu haus pengetahuan baru, tetapi sebagai remaja, ia tak lupa bermain dengan kawan-kawan sebayanya.

Di Tebuireng ini minat Ma’ruf pada politik mulai tumbuh. Ia menyaksikan kemeriahan Pemilu 1955. Ia mencermati perbedaan pilihan politik di antara keluarga besar pesantren Tebuireng.

Baca juga: Mengenal Kiai Ma'ruf Amin: Politik Jalan Tengah

Ia melihat pula cara berkampanye dari berbagai partai politik yang berebut suara pemilih. Ia juga menyaksikan aktivitas partai NU dalam pemilu pertama itu.


(IIP D Yahya, dalam buku KH Ma'ruf Amin: Santri Kelana Ulama Paripurna)