Menyoal Radikalisme: Siapa Bisa Batasi Pemikiran? - Aru Elgete

Breaking

Rabu, 30 Oktober 2019

Menyoal Radikalisme: Siapa Bisa Batasi Pemikiran?


Sumber gambar: tempo.co

Siapa yang bisa membatasi ideologi atau pemikiran? 

Saya rasa tidak ada satu pun orang atau kelompok yang mampu melakukan hal itu. Pemikiran akan selalu hidup, selama manusia masih bisa menghirup udara bebas. Memberangus pemikiran, bagi saya, sama saja dengan membunuh kehidupan. 

Pemikiran harus juga dilawan dengan pemikiran. Akan tetapi, jika pemikiran itu sudah menjadi sebuah gerakan yang dapat menghancurkan hidup dan kehidupan, maka harus segera ditindak. Bukan ditindak karena berpikir, tetapi ditindak karena perbuatannya, seperti misalnya anarkis, melakukan perbuatan yang keji, membunuh, meledakkan diri, dan lain sebagainya.

Begitu juga terorisme. Sebuah paham-gerakan yang berawal dari wacana atau pemikiran tentang dasar-dasar kebenaran yang jika tidak dibenarkan oleh orang lain, maka orang lain itu menjadi salah. Itulah yang disebut radikalisme. Sebuah pemahaman mendasar tentang konsep (pemegang) kebenaran. Karenanya, muncul sikap intoleransi; enggan menerima perbedaan.

Karena gerak terorisme itu bermula dari sebuah pemikiran, maka kita tidak boleh tidur nyenyak. Pemikiran-pemikiran itu masih tetap ada di sekitar kita. Menghantui tiap gerak-langkah masyarakat Indonesia. Hal ini terbukti, dengan aksi-aksi penangkapan teroris yang kerap terjadi; terutama di daerah-daerah penyangga Ibukota.

Dalam sebuah diskusi, Teroris Hijrah Ustadz Haris Amir Falah mengungkapkan bahwa gerakan radikalisme, ekstremisme, dan terorisme dewasa ini sangat sulit dideteksi. Sebab, seseorang akan menjadi radikal karena pengaruh media sosial. Kemudian, dia akan menikmati virus radikalisme melalui media sosial itu.

Berbeda dengan zaman dulu, yang dalam perekrutan menjadi teroris harus seringkali bertatap-muka. Paling minimal yang dilakukan adalah menyebar buletin. Itu pun jarang terjadi. Hal yang sering terjadi untuk merekrut orang agar menjadi teroris itu adalah dengan metode 'satu amanah'. Menjadikan satu ikhwan satu kawan. Kalau sudah masuk jaringan, maka mereka akan berdialog secara rutin.

Namun hari ini kondisinya sangat jauh berbeda. Bahkan pernah suatu ketika sebuah jaringan terorisme, seorang imamnya, melakukan bai'at. Tapi, sang imam sebenarnya tidak pernah tahu siapa gerangan yang akan di-bai'at itu. Maka, itulah yang disebut dengan bai'at ghaib. Sebab tidak penting orangnya siapa, asalkan secara pemikiran memiliki frekuensi yang sama.

"Bahkan isinya sangat menjengkelkan sekali. Dikatakan oleh mereka bahwa, kami siap ditelantarkan oleh imam dalam keadaan apa pun," kata Ustadz Haris Amir Falah yang telah menelurkan sebuah karya, buku, berjudul Hijrah dari Radikal ke Moderat.

Agar Radikalisme Tak Muncul

Ustadz Haris Amir Falah mengatakan, terdapat dua hal yang tidak boleh dilakukan oleh orang yang beragama.

Pertama, jangan berlebihan dalam beragama. Dalam jaringan terorisme, segala hal dibahas tuntas secara berlebihan. Bahkan, ayat apa saja, bisa ditafsirkan sebagak ayat motivasi untuk berjihad (perang, red). Agama, dalam gambaran seorang teroris, adalah susah dan harus berusah-susah. 

Konsep keagamaan itu menjadi sulit dan sangat rumit untuk dipahami. Berbanding terbalik dengan cara beragama yang diajarkan oleh Rasulullah. Bahwa setiap perkara, harus dipermudah, tidak boleh dibikin susah, njelimet, dan seperti tak berujung-pangkal. Hal itu lantaran mereka, para teroris, hampir tidak pernah mengkaji teks-teks keagamaan yang berkaitan dengan toleransi, perdamaian, dan persatuan.

Ayat yang dikaji oleh teroris itu hanya dua. Ayat jihad (perang) dan ayat furqon (pembeda). Artinya, jika ada orang atau kelompok lain yang tidak mendukung gerakan mereka, maka tidak dianggap sebagai golongan mereka. Dan jika bukan bagian dari golongan mereka (berbeda secara doktrin dan ideologis), maka harus segera diperangi. 

"Saya dulu berpaham kalau NKRI ini adalah negara kafir. Semua kafir, dari presiden hingga Ketua Rukun Tetangga. Pernah suatu ketika, saya jadi bingung sendiri. Karena semua sudah saya kafirkan, maka saya bertanya-tanya, saya sebenarnya kafir atau muslim? Nah, kemudian saya sadar bahwa takfiri itu memang sangat berbahaya sekali," kata Ustadz Haris Amir Falah. 

Para teroris itu kemudian berkesimpulan bahwa hanya kelompoknya-lah yang paling benar. Maka tak heran, untuk mempertahankan kebenaran kelompok itu, banyak sekali yang rela dan berani melakukan pertumpahan darah. Hal tersebut dilakukan lantaran ada perasaan jemawa atas kebenaran. Padahal, tujuan ditegakkan hukum agama (maqasid syariah), salah satunya adalah memelihara nyawa (hifdzhunnafs).

Harga nyawa dan darah begitu sangat murah, karena sikap berlebihan dalam beragama. Percayalah, bahwa terorisme berawal dari sikap berlebihan dalam beragama, dan itu tidak dikehendaki oleh Allah sama sekali.

Kedua, tasyaddud atau kekerasan. Agama Allah, Islam terutama, merupakan agama yang sangat mudah. Maka, dalam perspektif Gus Dur sering terucap, gitu aja kok repot. Dalam bahasa Yunani diungkapkan, simplex veri sigillum, atau dalam bahasa Inggris, simplicity is the sign of truth. 

Berbagai perkara dan seteru, dalam agama, haruslah diselesaikan dengan cara baik-baik. Itulah kemudian Nabi diperintahkan oleh Allah untuk mengajak para musuh-musuhnya ke dalam jalan kebenaran dengan cara bijaksana, nasihat yang menyejukkan, dan debat argumentasi secara santun. 

Maka sesungguhnya, tidak ada satu alasan pun–serta tidak dibenarkan pula–bagi seorang muslim melakukan kekerasan atas nama agama. Ajaran-ajaran kasih, teladan Nabi yang santun, cara penyelesaian dalam agama yang sangat bijaksana, dan berbagai doktrin perdamaian itulah yang tidak dilihat bahkan tidak ada dalam kajian para teroris.

Di Bekasi dan sekitarnya, merupakan sebuah wilayah yang menjadi tempat persembunyian sekaligus persinggahan para teroris. Ustadz Haris sendiri pada 2009, ditangkap oleh Densus 88 di sekitar Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi. Sebelum dirinya, ada juga teroris di Setu yang ditangkap bersama dengan bom yang beratnya lebih dari 10 kilogram. 

Gerakan Islam ekstrem, sesungguhnya masih terus menggeliat. Bahkan, mereka punya program revitalisasi. Mereka akan membangun kembali wilayah yang pernah menjadi basis terkuat bagi terorisme. Salah satunya adalah Jawa Barat, dan Bekasi termasuk wilayah yang sangat berbahaya. 

Maka, inilah sesungguhnya yang menjadi tugas dari organisasi keagamaan sekaliber Nahdlatul Ulama, untuk melakukan kontra-wacana terhadap gagasan terorisme itu. Sebab, para teroris itu adalah kelompok yang seringkali menyitir berbagai hadits tentang akhir zaman. Setelah itu, akan dialihkan kepada sosok Imam Mahdi. Lalu akan didukung oleh kelompok yang paling baik keislamannya, yakni kelompok yang keluar dari Irak dan Syiria; tidak lain adalah ISIS.

Pertanyaannya: Mampukah aktivis, pengurus, dan bahkan kiai-kiai NU melakukan kontrawacana soal itu? Mampukah (juga) mengubah metode dakwah yang harus mengikuti trend zaman tanpa harus menghilangkan tradisi lama? Kalau mampu, saat ini juga harus kita lakukan!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar