Sebuah Catatan: Melihat Mas Ulil Bicara Menggebu-gebu - Aru Elgete

Breaking

Rabu, 30 Oktober 2019

Sebuah Catatan: Melihat Mas Ulil Bicara Menggebu-gebu


Foto diambil dari Facebook Hasanuddin Ali. 

Baru kali ini saya melihat seorang Ulil Abshar Abdalla bicara menggebu-gebu. Seperti marah, tapi agak tertahan. Selama ini, yang saya tahu, menantu Mustasyar PBNU KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) ini selalu bicara dengan intonasi yang santai. Akan tetapi, berbeda saat dia diundang pada sebuah diskusi membincang radikalisme.

Saat diberi kesempatan bicara, Mas Ulil–sapaan akrab saya untuknya–langsung menegaskan dua hal. Pertama, dalam menghadapi radikalisme, komitmen Nahdlatul Ulama tidak perlu diragukan. Termasuk juga komitmen NU kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia dan menjaga Ideologi negara: Pancasila.

Sejak berdiri hingga kini, dengan tegas dikatakan Mas Ulil, NU tidak pernah melakukan pengkhianatan kepada negeri ini. Belum pernah NU memberontak kepada pemerintahan yang sah, dan tidak pernah juga NU mendukung gerakan terorisme. Komitmen tersebut akan selalu ada, selama NU masih eksis di negeri ini.

Namun, komitmen NU yang seperti itu bukan politis. Komitmen itu murni untuk kepentingan NKRI dan berkenaan dengan akidah warga Nahdliyin, para kiai, serta ulama NU. Lebih besar dari sekadar kepentingan politik praktis, tidak ada sama sekali kaitannya komitmen NU itu dengan kepentingan politik. Watak NU sejak lahir adalah cinta tanah air. 

Bahasan Mas Ulil itu disampaikan dengan intonasi yang tinggi, menggebu-gebu, tegas, dan bahkan raut wajahnya memerah, serius sekali, tidak seperti biasanya. Seketika itu, saya ngeh, bahwa sebenarnya Mas Ulil sedang menyadarkan warga NU terkait 'cawe-cawe' kabinet Jokowi yang tidak menempatkan tokoh NU sebagai menteri agama –walaupun setelahnya ada Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid.

Kedua, radikalisme sebagai isu bisa dijadikan sebagai komoditas politik. Hal ini berbanding terbalik dengan NU, yang menganggap radikalisme bukan untuk kepentingan politik, tapi murni sebagai musuh bersama agama dan bangsa. Siapa pun presiden yang sedang menjabat, Nahdliyin akan tetap cinta tanah air. 

Gerakan antiradikalisme yang dilakukan oleh NU selama ini tidak sama sekali untuk mencari suara dalam Pemilu atau Pilpres. Walau demikian, rupanya ada yang menjadikan isu radikalisme itu menjadi komoditas politik. Kemudian radikalisme ini menjadi tunggangan politik untuk meraup suara dalam mencapai kursi kekuasaan.

"Kita (Nahdliyin) tidak boleh lugu seolah-olah tidak ada yang menjadikan radikalisme sebagai tunggangan politik. Kita juga tidak boleh lugu bahwa ada yang menunggangi NU untuk menggebuk radikalisme. Radikalisme itu bukan isu politik tapi komitmen tanah air," kata Mas Ulil, masih dengan intonasi yang tinggi, menggebu-gebu, dan raut wajah yang memerah.

Dikatakan Mas Ulil, NU punya cara sendiri untuk melawan radikalisme. Sebuah cara yang jelas sangat berbeda dengan cara yang dilakukan oleh pemerintah atau militer. Pendekatan NU bukan pendekatan gaya militeristik yang semata-mata hanya keamanan, sekalipun memang kemanan itu sangat penting. Namun, tugas NU dalam menangani radikalisme ini dilakukan dengan pendekatan kultural dan pemahaman keagamaan, bukan pendekatan keamanan.

NU harus melakukan kerjasama dengan berbagai pihak untuk menangani radikalisme ini. Seperti misalnya bekerjasama dengan polisi, tentara, bahkan pemerintah. Namun perlu diingat, bahwa penanganan yang dilakukan Nahdlatul Ulama untuk melawan radikalisme sangat jauh berbeda dengan cara yang dilakukan oleh polisi, tentara, dan pemerintah.

Watak Islam 

NU merupakan interpretasi dari corak Islam yang rahmah, penuh kasih, dan rahmatan lil alamin. Dalam berbagai kesempatan, NU selalu menampakkan wajahnya dengan ceria, dengan perilaku yang santun, dan dengan gaya dakwah yang bersedia menerima berbagai perbedaan; termasuk pemikiran.

Namun corak Islam seperti itu, bukan hanya NU dan tidak hanya terdapat di Indonesia saja. Islam di berbagai belahan dunia mana pun, terutama Islam Ahlussunnah wal Jamaah atau Sunni, pasti memiliki corak yang sama dengan NU. Maka bisa dikatakan, bahwa corak yang seperti itu merupakan wajah Islam yang sebenar-benarnya.

Mayoritas Islam di dunia, dengan corak keislaman itu pasti memiliki kesadaran dan pemahaman untuk menerima sebuah negara-bangsa, yang secara otomatis menolak sistem Khilafah ala Hizbut Tahrir atau Daulah Islamiyah ala ISIS. 

Seperti itulah watak Islam. Sejak dulu, bahkan sejak zaman Nabi Muhammad, tidak pernah berubah. Islam itu pasti tawassuth (moderat), tidak mungkin tidak. Maka, tak perlu ragu dengan komitmen NU terhadap kecintaannya kepada NKRI, juga tindak-tanduknya melawan wacana dan gerakan radikalisme.

Radikalisme di Kampus

Menurut Mas Ulil, radikalisme di kampus itu sudah barang tentu bukan dikembangkan oleh kader, aktivis, atau warga NU. Kemudian, radikalisme itu pasti marak di kampus-kampus umum, bukan di kampus yang berlatar belakang agama. Sebab, kampus agama justru tidak tertarik dengan gagasan radikalisme itu. Maka tidak heran, wacana radikalisme ini justru laris-manis di kampus nonagama. 

Dalam menangani radikalisme di kampus, pendekatannya harus berbeda. Yakni harus dengan pendekatan emosional, dengan pendekatan dialog yang berkala, terus-menerus, dan tidak terbawa emosi. Seperti itulah corak NU dalam beragama yang jika dipraktikkan, sudah dengan sendirinya punya efek deradikalisasi.

"Jauh sebelum pemerintah yang punya program deradikalisasi itu, NU justru sudah melakukannya," kata Mas Ulil, tegas.

Deradikalisasi di Pesantren

Dikatakan Mas Ulil, pesantren-pesantren di Indonesia dalam ajaran kitab kuning, sesungguhnya sudah mengandung deradikalisasi. Semua orang yang pernah belajar di pesantren NU, ketika ngaji fiqih, pasti diujungnya akan mengaji tentang jihad (perang). Hampir semua kitab fiqih terdapat hal itu.

Dalam Fathul Mu'in misalnya, jihad dihukumi fardhu kifayah dan harus dilakukan minimal setahun sekali. Karenanya, setiap tahun harus jihad (dalam arti perang). Kalau tidak ada, maka seluruh orang yang berada dalam satu wilayah (katakanlah, Indonesia), akan menanggung dosa. 

Pertanyaannya kemudian, "Kenapa santri di pesantren NU yang pernah ngaji jihad justru tidak pernah atau tidak tertarik dengan jihad? Sementara orang-orang yang tidak pernah ngaji Fathul Mu'in justru sangat tertarik untuk melakukan jihad?"

Jawabannya adalah karena ada peran sentral kiai yang sangat luar biasa. Para kiai di pesantren itu tidak hanya memiliki keahlian membaca kitab kuning, tetapi juga lihai membaca kondisi sosial-politik yang sedang terjadi. 

Menurut Mas Ulil, kitab itu ada dua jenis. Pertama, kitab yang tertulis dan berwarna kuning. Kedua, kitab yang tidak tertulis. Yaitu sebuah kitab yang oleh KH Sahal Mahfudh disebut sebagai konteks sosial, yakni gabungan antara kitabun-maktubun dengan kitabun ghairu maktub.

Jadi, para kiai di pesantren itu sudah sangat memahami bagaimana membaca kitab. Itulah sebabnya santri Nahdlatul Ulama tidak pernah jihad, sekalipun pernah mengaji tentang jihad. Pengajaran yang telah dilakukan oleh kiai di pesantren itu, dalam tradisi tasawuf, disebut hikmah atau kebijaksanaan.

Gus Dur pernah menulis dengan mengutip pernyataan KH Ali Maksum Krapyak, "Sing bener durung mesti apik." Sebuah falsafah jawa yang disebut sebagai hikmah. Artinya, orang yang benar dalam pembacaannya terhadap teks kitab kuning, belum tentu baik saat dipraktikkan di lapangan.

Kebijaksanaan Melawan Radikalisme

Dalam Al-Quran dijelaskan, barangsiapa yang diberikan kemampuan membaca kitab yang tertulis sekaligus kitab yang tidak tertulis, maka dia akan mendapat kebaikan yang berlimpah dari Allah. 

Itulah ilmu yang perlu dirawat dalam khazanah keilmuan dalam NU. Oleh karena ilmu yang dimiliki para kiai di pesantren itu, yakni kebijaksanaan, maka Nahdliyin tidak perlu khawatir sekalipun NU dikecewakan dalam politik. Sebab, melawan radikalisme itu bukan semata-mata karena politik. 

"Komitmen kita dalam radikalisme bukan karena politik. Kalau dikecewakan, kemudian marah sebentar, itu merupakan hal yang wajar. Tetapi jangan marah yang terus-menerus dan membabi-buta," kata Mas Ulil.

Terakhir, Pengampu Kopdar Ihya' ini mengungkapkan bahwa Nahdlatul Ulama adalah partner pemerintah secara ideologis, yang setia melawan radikalisme. Maka, jangan pernah sesekali mengecewakan teman yang baik dan punya prinsip yang matang secara ideologis, untuk menghadapi radikalisme. 

Walaupun NU kemarin-kemarin sempat "ngambek", tapi jangan lama-lama ya. Malu!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar