Kamis, 08 April 2021

Menyambut Ramadhan (3)

 






Ramadhan bulan mulia.

Sebuah arena kebaikan untuk saling berlomba. Sebagai tempat melakukan peningkatan kadar intelektual. Juga ajang memperhalus rasa, menyeimbangkan raga,
serta melatih kejujuran dalam dada.

Ramadhan bulan pendidikan.

Orang-orang beriman dididik, agar menjadi takwa dan menjadi manusia berkualitas paling baik.

Ramadhan bulan cinta.

Segala yang dilakukan di dalamnya merupakan manifestasi cinta. Banyak kesempatan emas tercipta. Kesempatan-kesempatan itu dimanfaatkan agar cinta terejawantah pada Pemilik Jiwa.

Namun bagi para bijak bestari, cinta tak butuh eksistensi karena cinta bersemayam di ruang paling sembunyi, dalam sanubari.

Karenanya, cinta tak butuh peng-aku-an. Tak butuh hormat. Cinta juga tak perlu apresiasi yang membuatnya kian meninggi. Cinta tak pernah berkenan pada perasaan jemawa, walau sedikit saja.

Lebih jauh,
Cinta bukan sesuatu yang dibangun dari pondasi kemunafikan dan kepura-puraan.

Ramadhan tak pernah beri ruang bagi kepura-puraan. Kalaupun iya, maka sungguh menyedihkan. Atau, barangkali, sebagian besar manusia memanfaatkannya untuk meraup keuntungan.

Orang-orang berlomba-lomba tampil di muka, memakai kostum keagamaan. Penceramah-penceramah pun demikian. Mereka mulai mencari bahan untuk diorasikan di atas mimbar kehormatan.

Hal yang  dikhawatirkan adalah saat mereka, para penceramah-penceramah itu, menggunakan agama seraya memanfaatkan Ramadhan demi mendapat keuntungan semata.

Sekalipun berkali-kali mulut sudah berbusa dan terus berucap: lillahi ta'ala.


*ditulis pertama kali di Bekasi pada 2019

Senin, 05 April 2021

Menyambut Ramadhan (2)





Ramadhan segera tiba.

Orang-orang sibuk berbenah, berlomba mencitra diri dengan kebaikan, mempertontonkan amal ke banyak kanal media sosial. 


Ramadhan segera tiba.

Orang-orang mulai persiapkan diri. Dalam setahun, barangkali, hanya sekali berkunjung dan berwisata ke rumah anak yatim-dhuafa.

Panti asuhan di mana pun berada, penuh tamu. Mendapat rezeki lewat perantara orang kaya. Orang-orang kaya berupaya membersihkan hartanya, seraya meningkatkan elektabilitas
juga popularitas. Barangkali bisa naik tahta hingga yang paling atas.

Ramadhan segera tiba.

Di pinggir-pinggir jalan, menjamur gembel dan gelandangan. Meminta belas kasih agar diberi rezeki untuk makan. Jumlah mereka akan lebih banyak dari bulan-bulan sebelum Ramadhan.

Barangkali seperti itu akting mereka menjadi kaum miskin kota. Mengharap nasi lalu bertamasya dari masjid ke masjid, untuk sekadar dapat memulai dan membatalkan puasa.

Tayangan di layar kaca berubah drastis. Seluruhnya menjadi religi, artis-artis lekas-lekas mengubah diri, masing-masing berperan menjadi saleh dan salehah. Saat Ramadhan usai, peran pun selesai

Ramadhan segera tiba.

Tayangan-tayangan gosip ibu kota, pasti menampilkan aktivisme selebriti yang berbeda, yang rajin beribadah dan bersedekah. Itulah kapitalisasi media yang merasuki sendi-sendi agama. Kaum kapital akan tetap untung, mereka tak mau buntung.

Meski dengan kepura-puraan hanya dalam waktu sebulan, intinya adalah mencari dan mendapat keuntungan. Lumayan.

Nun jauh di sebuah kota, dari negeri sengkarut yang tak tertata, saat nanti Ramadan tiba, warung makan rupanya tetap buka. Entah setengah pintu atau hanya ditutup bagian depan, dengan papan setengah badan.

Ramadhan segera tiba.

Orang-orang yang tak kuat puasa harus sembunyi, bahkan terkesan dipaksa untuk sembunyi. Sungguh, menjadi minoritas di negeri itu rentan siksaan baik fisik maupun psikis.

Siapa yang tak puasa nanti, siap-siaplah menerima siksa duniawi. Sementara solusi agar terhindar dari siksa adalah pura-pura.

Lalu, para bijak bestari bertanya-tanya:

Mengapa harus ada kepura-puraan di bulan penuh cinta? Padahal cinta tak pernah berkenan pada kebohongan.

Benarkah kepura-puraan itu merupakan bentuk penghormatan pada Ramadhan?
Betulkah kemuliaan Ramadhan luntur jika tak dihormati?


*Ditulis pertama kali di Bekasi pada 2019

Selasa, 30 Maret 2021

Menyambut Ramadhan




Apa yang istimewa dari bulan kesembilan tahun hijriyah ini?

Manusia-manusia modern rupa-rupanya hanya berupaya mencari keuntungan semata.

Tayangan iklan, program-program religi, hingga busana muslim-muslimah segera disajikan ke muka.


Apa yang istimewa dari bulan penuh ampunan ini?

Orang-orang di kota tetap saja berkelahi dengan dalih menghargai.

Padahal di kitab suci, sama sekali tak ada perintah untuk menghargai orang yang berpuasa.

Atau jangan-jangan puasanya orang kota hanya pura-pura suci?

Tujuannya, barangkali, agar mendapat ampunan dan penghargaan dari sesama manusia, bukan dari yang memiliki ampunan sungguhan.


Apa yang istimewa dari bulan kasih sayang ini?

Toh ternyata, masih saja ada kata-kata sindir kepada yang tidak menjalankan kewajiban.

Padahal tentu ada banyak alasan.

Kenapa tak bisa saling sayang dengan bertabayun meminta penjelasan?


Apa yang istimewa dari bulan pahala yang berlipat ganda ini?

Jika ternyata agenda-agenda santunan kepada anak yatim dan dhuafa hanya jadi ajang pencitraan.

Berswafoto, lalu diunggah ke seluruh akun media sosial milik pribadi.

Pengaturan privasi diatur publik, dibumbui tulisan pemantik mencitra diri, lalu senang mendapat puji. 

Hanya itu?


Ramadan, bagiku, sejak dulu, adalah bulan kepura-puraan tanpa ragu.

Semua orang berusaha menutup-nutupi diri, agar terlihat lebih saleh daripada kemarin hari.

Kemudian tampil membawa ayat sebiji dan menjadikan mimbar sebagai panggung unjuk gigi, untuk menyalahkan yang lain, menghujat yang tak sama, menafikan yang berbeda.


Marilah segera menjadi munafik, menampilkan diri yang terbalik, seolah-olah baik, tapi bejat di dalam bilik-bilik.


Marilah segera menjadi munafik, menahan haus dari sinar terik, menjaga lapar hingga rembulan naik, tapi sepanjang hari hanya dengki serupa salik.


Marilah menjadi bajik.

Berpuasa bukan hanya karena wajib, tetapi melatih diri untuk tak menjadi munafik.

Sebab gelar takwa akan tersemat dengan baik, bukan di awal pentas ramadan, tetapi di detik-detik akhir menuju kesucian.


Ramadan, benarkah bulan kemunafikan?

Bagiku, iya, jika puasa hanya sekadar.


Ramadan, benar, bulan mulia.

Bagiku, iya, jika puasa tetapi tak ingkar.

Raga, fikir, jiwa, dan seluruhnya turut menahan segala, tak alakadarnya.

Cukup? sudah.


*Ditulis pertamakali pada 2019

Selasa, 23 Maret 2021

Janji yang Terlupakan


Ilustrasi. Sumber: kalderanews.com


Kisah ini bermula ketika seorang pemuda, sebut saja Rohman, berbelanja di sebuah pasar tradisional di desa tempat tinggalnya. Baru selangkah turun dari motornya, Rohman dihampiri seorang pria paruh baya penjual pisang. 


"Pisang, Tong, matang di pohon," kata sang kakek menawarkan barang dagangannya kepada Rohman. 


"Saya belanja dulu ya, Kek. Nanti kalau sudah pulang, saya baru beli."


"Iya, Kakek tunggu ya."


Rohman lantas bergegas masuk ke dalam pasar dengan sedikit berjinjit. Semalam, hujan deras memang mengguyur desa sehingga pasar menjadi banyak genangan air keruh, becek. Kalau tidak hati-hati, celana panjang yang dikenakan Rohman bisa-bisa kotor karena kecipratan air keruh itu. 


Baginya, belanja di pasar segar memang jauh lebih nyaman tapi berbagai harga di sana pasti selangit. Karena itu, Rohman lebih memilih untuk belanja di pasar tradisional kebanggaan masyarakat desa, sekalipun harus rela melewati genangan air dengan sangat hati-hati. 


Usai membeli berbagai kebutuhan, Rohman pulang. Melewati banyak perkebunan dan persawahan yang mendominasi sepanjang perjalanan. Tetiba, ia melihat banyak pisang yang menguning tanda matang, tergantung di pohon pada sebuah kebun pisang yang dilewatinya. Detik itu pula, Rohman langsung ingat pada janjinya kepada sang kakek penjual pisang di pasar tadi. 


"Astaghfirullah," ucap Rohman seketika ia ingat kepada kakek itu.


Sebenarnya, ia ingin langsung putar balik. Namun, barang belanjaan berupa sayuran dan bahan lainnya sedang ditunggu sang ibu di rumah. Sebab, akan dilangsungkan pengajian bulanan majelis taklim di rumah, pada malam hari nanti. Karena itu, mau tidak mau, barang harus sudah tiba di rumah sesegera mungkin. 


Pikiran Rohman bercabang. Jika tidak segera kembali ke pasar, ia merasa bersalah kalau ternyata si kakek terus menanti. Sedangkan kalau benar pedagang pisang itu menunggu dalam waktu cukup lama, pasti akan bosan dan justru lebih memilih untuk pulang. 



"Nggak mungkin dia tunggu sampai pasar bubar," kata Rohman, membatin.


Bayangan kakek tua dengan kopiah miring dan kemeja putih agak lusuh terus menari di pikiran Rohman. Tiba-tiba, ia dikagetkan dengan bunyi suara klakson sangat nyaring. 


"Mas, jangan melamun dong. Bikin celaka aja!" kata seorang pengendara motor di belakang, yang terhalang Rohman karena mengurangi kecepatan motornya.  


Saat terkejut, gas ditarik sehingga motor Rohman melaju dengan sangat cepat. Sampai-sampai ia hampir saja menabrak seseorang yang sedang menyeberang. Rohman kaget bukan main. 


Tapi akhirnya, Rohman tiba di rumah. Sang ibu yang menanti di halaman turut membantu menurunkan barang belanjaan seraya memeriksa karena khawatir ada satu item yang luput dibelanjakan. 


"Loh kok kamu nggak beli pisang, Man? Kan pisang itu nanti kita masukkan ke dalam kotak nasi?" tanya sang ibu.


Mendengar itu, bayang-bayang wajah kakek tua sangat jelas tampak di pikiran Rohman. Ia beranggapan, sang kakek pasti masih menanti kedatangan Rohman untuk membeli pisang dalam jumlah yang banyak.


"Aku lupa, Bu. Memang pisang juga perlu ya?" tanya Rohman. 


Ibu hanya mengangguk seraya meninggalkan Rohman, membawa barang belanjaan ke dalam rumah. Rohman pun turut masuk ke rumah meneguk segelas air untuk menenangkan diri.


Lalu ia langsung keluar. Kembali memacu motor dengan kecepatan tinggi. Terik matahari yang muncul setelah sebelumnya mendung, tidak sama sekali dihiraukan. Di pikiran Rohman hanya ada bayang kakek dengan kayu di pundaknya. 


Tiba di pasar, Rohman melihat sang kakek masih setia menantinya di tempat yang sama. Ia merasa pilu. Batinnya berkata, "Bagaimana kalau aku tidak kembali? Ya Allah itu si kakek masih saja duduk menungguku dengan beberapa sisir pisang uli dan raja."


"Kek, pisangnya masukin semua (20 sisir) ke kantung ini ya," kata Rohman sembari berjongkok dan membuka kantung tas. Ia rentangkan kantung itu dan turut memasukkan pisang, membantu sang kakek. 


"Jangan, Tong, jangan diborong semua. Tadi saya sudah janji sama pemuda yang sudah lebih dulu pesan pisang ini. Nanti dia kecewa. Tadi juga banyak yang mau beli, tapi nggak saya kasih karena sudah janji dengan pemuda itu," kata kakek dengan intonasi suara yang menunjukkan bahwa dirinya sudah lunglai. 


Tak terasa, Rohman meneteskan air mata dari balik kacamata yang dikenakannya. Ia kemudian melepas masker dan helm. 


"Kek, maafkan saya, sudah bikin kakek menunggu. Kakek belum makan ya karena nungguin saya?"


Dilihatnyalah Rohman dengan saksama, dari kaki hingga kepala. Sang kakek merasa heran bahwa ternyata pemuda ini yang tadi berjanji ingin membeli pisang tapi lama tidak kembali, sehingga membuatnya menunggu. 


"Maaf, tadi saya pulang dulu, Kek," kata Rohman lagi. 


Rohman tidak mengatakan kalau sebenarnya ia lupa untuk kembali. Namun setelah membayar harga pisang, ia menyelipkan satu lembaran seratus ribu rupiah ke saku baju sang kakek. 


"Jangan, Tong, kan pisang kakek sudah diborong. Bayar saja sesuai harga," kata kakek, menolak seraya tangannya menahan tangan Rohman. Namun, Rohman tetap meninggalkan uang itu ke saku sang kakek. Akhirnya, uang itu diterima juga. Hati Rohman pun lega. 


Saat melangkah ke motor sambil membawa borongan pisang yang sangat banyak itu, terlintas di benak Rohman tentang hadits Rasulullah yang menyatakan bahwa ciri-ciri orang munafik ada tiga. Salah satu dari ketiga ciri orang munafik itu adalah jika berjanji tidak ditepati. 


"Karena bisa jadi, orang yang kita janjikan bakal betul-betul berharap," ujar Rohman dalam hati, kemudian ia menyalakan motor dan segera melaju, kembali ke rumah. 

Minggu, 21 Maret 2021

Ketika Musim Berganti

 



Ketika musim berganti

segala-gala berubah menjadi yang dinanti
orang-orang lantas bergerombol mendekati
rupanya, ada sesuatu yang dapat melegakan hati

Ketika musim sudah berganti
dan tidak segera berbondong mendekat
percayalah, kau tidak akan mendapat selamat
lebih-lebih ada ancaman yang membuat detak jantung terhenti

"Kau tak dapat jatah," kata seorang pimpinan gerombolan.

"Ada apa gerangan?"

"Karena kau tak ikut kami bergerak bersama-sama."

Sejak itu
seorang pemuda pemberani itu
tak pernah menginjakkan kakinya ke tempat gerombolan itu
dia memisahkan diri karena tak ingin jadi babu
katanya begitu

Musim telah berganti
orang-orang bodoh tetap tak mau pergi
mereka tetap berada di dalam gerbong tadi
entah sampai kapan semuanya berhenti
barangkali hingga musim selanjutnya lagi

Musim depan jika berganti hari
pemuda itu rupanya terselamatkan dengan janji seorang pak haji
diajaknya dia memasuki ruang baru
bukan menjadi babu seperti mereka-mereka itu
tetapi mendapat keinginan yang dimau

Musim kalau berganti nanti
kita tak pernah tahu Tuhan jika memberi
semoga saja kita hidup tetap merdeka
tak menjadi babu kesana-kemari
tetapi mampu menentukan hajat hidupnya sendiri

Kalau demikian
jika musim berganti nanti
seperti Islam, yang dikatakan Gus Dur ketika itu
kita lihat perkembangannya di masa yang akan datang
benarkah demikian?

Minggu, 14 Februari 2021

Hari Valentine Embel-embel Islami

 

Ilustrasi. Sumber: NU Online


Hari ini, 14 Februari 2021, disebutnyalah sebagai Valentine's Day. Entah dari mana mulanya, tiba-tiba dimaknai sebagai Hari Kasih Sayang. Umat Islam tentu saja berbondong-bondong menolaknya, karena secara kesejarahan, Valentine's Day tidak bernilai. Namun kalau dimaknai secara positif, tentu saja bisa, dan itu lebih baik. 


Kemudian bagaimana misalnya jika valentine kita beri embel-embel Islami saja? Ini bertujuan agar umat Islam tidak alergi dengan valentine alias mampu berpikir positif dan memanifestasikannya ke dalam laku Islam yang penuh selamat, damai, dan sejahtera. Lagi pula, umat Islam di Indonesia ini kan memang suka sekali dengan embel-embel Islami. Ya, kan?


Saya rasa kalau valentine diberi embel-embel Islami, mungkin saja sebagian umat Islam yang kerap membawa-bawa dalil beserta terjemahannya untuk menolak bisa turut merayakan Hari Valentine Islami ini. Setidaknya, mereka tidak turut dalam kebisingan penghakiman. 


Islam secara substantif tentu berbeda dengan kostum drama, sinetron, dan tayangan-tayangan televisi saat Ramadan. Islam adalah nilai sekaligus metodologi. Ia (Islam) bisa memiliki kesamaan atau perjumpaan dengan berbagai macam substansi nilai dan metodologi lain, baik yang berasal dari agama lain, dari ilmu-ilmu sosial modern, dan bahkan khazanah tradisional suatu bangsa. Namun secara entitas, Islam hanya sama dengan Islam.


Bahkan, Islam tidak sama dengan tafsir Islam. Tidak sama dengan pandangan pemeluknya yang beragam. Islam tidak sama dengan Sunni, Syi’ah, Muhammadiyah, NU, Hizbut Tahrir, FPI, dan apapun saja aplikasi atas tafsir terhadap Islam. Islam yang sebenar-benarnya Islam hanyalah Islam yang sejatinya dimaksudkan oleh Allah. (Najib, 2014)


Semua pemeluk Islam, pasti akan berjuang mempertahankan pandangannya masing-masing untuk mendekati kebenaran dan kesejatian Islam. Namun sungguh, pandangan itu pun bukanlah kebenaran dan kesejatian Islam itu sendiri. Secara otomatis, hal itu dapat disimpulkan bahwa tidak ada satu kelompok pun yang legal dan logis untuk mendaku diri bahwa Islam yang benar adalah kelompok Islam yang dianutnya.


Jika ada orang atau sekelompok tengah berjuang melakukan Islamisasi, dakwah Islam, syiar Islam, bahkan perintisan pembentukan Negara Islam, maka yang sesungguhnya mereka perjuangkan adalah (konsep) Islamnya mereka sendiri.


Islamnya setiap orang, tentu tidak bisa diklaim sebagai Islam yang sama persis dengan Islam menurut Allah. Begitulah memang, hakikat penciptaan Allah atas kehidupan sehingga ketika Islam bertamu ke rumah kita, tidak lantas bermaksud untuk memaksa kita agar mau menerimanya.


Ayat Laa ikraha fiddin bermakna bahwa tidak ada paksaan dalam beragama. Termasuk tidak boleh ada pemaksaan dalam menafsirkan Islam. Tafsir populer atas Islam, bahkan bisa menggejala sampai ke tingkat pelecehan atas Islam itu sendiri.


Islam bisa hanya disobek-sobek, diambil salah satu sobekannya yang menarik bagi seseorang karena enak dan sesuai dengan seleranya. Islam bisa diperlakukan hanya dengan diambil salah satu unsurnya, demi mengamankan psikologi subyektif seseorang sesudah hidupnya dipenuhi pelanggaran-pelanggaran terhadap Islam.


Di samping itu, Islam bisa hanya diambil sebagai ikon untuk melakukan kamuflase kekufuran, kemunafikan, kemalasan pengabdian, korupsi, dan keculasan. Islam bisa dipakai untuk menipu diri, diambil satu faktor pragmatisnya saja. 


Sebagian umat Islam berpandangan bahwa memeluk Islam itu sama artinya dengan yang penting tidak tampak kafir, bergabung dengan training shalat, terlihat di mata orang lain bahwa dirinya menjadi bagian dari orang yang mencari surga, berdzikir ingat keserakahan diri dan keserakahan itu bisa dihapus dengan beberapa titik air mata di tengah ribuan jamaah yang berpakaian putih-putih bagai pasukan Malaikat Jibril.


Sedemikian rupa-lah Islam, sehingga (dapat) diselenggarakan dan dilakukan dengan berbagai formula dunia modern, industri liberal, modeshow, pembuatan film, diskusi pengajian, dan yang terpenting adalah dikasih 'kostum Islam'.


Tapi tentu saja jangan diteruskan hingga ke tingkat penyelenggaraan gosip Islami, peragaan busana renang muslimah, lokalisasi pelacuran Islami, bahkan pertandingan voli wantia muslimah berkostum mukena putih-putih. Sampai-sampai dengan sangat polos dan ahistorisnya, kita resmikan salah satu hari ganjil di tengah sepuluh hari terakhir Ramadan, sebagai Hari Valentine Islami.


Lantas apakah ada Hari Kasih Sayang Islam versi Islam? Tentu saja. Ini tak lain dari kisah heroik Nabi Muhammad pada Fathu Makkah yang dalam Al-Quran disebut sebagai Fathan Mubiina (kemenangan yang nyata). Kemenangan ini diraih pada 10 Ramadan tahun ke-8 hijriyah. Pasukan Islam dari Madinah berhasil merebut kembali Makkah. Atas izin Allah, Islam akhirnya memperoleh kemenangan besar. Lalu tawanan musuh diberi amnesti massal.


Setelah itu, Nabi kemudian berpidato di hadapan ribuan tawanan perang, "hadza laisa yaumil malhamah, walakinna hadza yaumul marhamah, wa antumut thulaqa."


Artinya: "Wahai manusia, hari ini bukan hari pembantaian, melainkan hari ini adalah hari kasih sayang, dan kalian semua merdeka kembali ke keluarga kalian masing-masing."


Mendengar pidato itu, pasukan Islam merasa kaget juga. Berjuang hidup mati, diperhinakan, dilecehkan sekian lama, ketika kemenangan sudah di genggaman, musuh diminta untuk dibebaskan. 


Itu pun belum cukup.


Nabi memerintahkan agar seluruh harta rampasan perang, seperti berbagai harta benda dan ribuan onta untuk dibagikan kepada para tawanan. Sayangnya, pasukan Islam tidak memperoleh apa-apa. Sebagian dari mereka mengeluh dan sebagian pasukan Islam yang lainnya mengajukan protes kepada Rasulullah.


Mereka dikumpulkan dan Nabi bertanya: "Sudah berapa lama kalian bersahabat denganku?"


Mereka menjawab: "Sekian tahun, sekian tahun."


"Selama kalian bersahabat denganku, apakah menurut hati kalian aku ini mencintai kalian atau tidak mencintai kalian?”


"Tentu saja sangat mencintai."


Rasulullah mengakhiri pertanyaannya: ”Kalian memilih mendapatkan onta ataukah memilih cintaku kepada kalian?”


Menangislah mereka karena cinta Rasulullah kepada mereka tidak bisa dibandingkan, bahkan dengan bumi dan langit.


Maka tentu saja, seumpama kita berada di situ sebagai bagian dari pasukan Islam, sepertinya kita akan menjawab dengan ungkapan yang berbeda: "Sudah pasti kami memilih cinta Rasulullah, tapi kalau boleh juga diberi onta dan emas barang segram dua gram."


Hahahahahahahaaha....

Jumat, 05 Februari 2021

Sebuah Catatan: Kilas Balik Perjalanan Sebelum 2021


Foto: dokumen pribadi

Tahun ini sudah berjalan lebih dari satu bulan. Mimpi-mimpi dan resolusi yang direncanakan sejak lama, mesti segera diwujudkan. Salah satu impian saya pada 2021 ini adalah ingin mengajak kita semua untuk belajar menulis dengan baik dan benar.


Menulis memang perkara mudah, tetapi hanya segelintir orang saja yang mampu menulis dengan baik, sehingga menjadi renyah ketika dibaca.

 

Sesungguhnya, saya tidak sama sekali punya keterampilan kecuali menulis yang dilakukan setiap hari. Bahkan, dari menulislah saya bisa mendapatkan penghasilan yang kemudian dipakai untuk membayar cicilan rumah, membayar servis motor, dan persiapan menikah di tahun depan. Hahahahahaha percaya nggak?

 

Impian untuk memberikan pemahaman kepada teman-teman soal bagaimana menulis dengan baik dan benar, sudah lama terpendam. Ini serupa nazar ketika saya sedang dalam masa hopeless, hilang harapan.


Ya, sekira akhir tahun 2019 saya benar-benar merasakan bahwa hidup serasa tidak berguna. Kuliah sudah hampir enam tahun, skripsi belum juga selesai, dan tidak pernah punya uang setiap hari. Inilah catatan kilas balik perjalanan sebelum 2021.


Lingkaran setan

 

Jadi, awal persoalan dimulai dari sini. Ketika sudah seharusnya menyelesaikan studi, saya justru berselancara di luar kampus. Mencari kesibukan yang lain. Bahkan, hingga kini pun, saya tidak tahu kenapa waktu itu lebih memilih ‘ke luar’ kampus untuk berkesibukan yang tidak jelas. Sesuatu yang dicari pun tidak sama sekali ditemukan. Nihil.

 

Kesemrawutan hidup ini bermula sekali pada sekira 2018. Saat itu, saya menjadi relawan politik. Baik di tingkat daerah (Pilkada Kota Bekasi) maupun di tingkat nasional (Pilpres 2019). Hasilnya? Nihil. Pascapilpres semuanya berubah.


Saya seperti disadarkan oleh banyak kejadian yang ternyata hampir saja meluluhlantakkan idealisme. Sebab awalnya saya pikir, saat kontestasi politik usai, kehidupan di lingkaran ini menjadi kembali semula yang benar memperjuangkan gagasan bersama. Tetapi ternyata tidak sama sekali, karena mementingkan perut agar kenyang setiap hari adalah agenda yang harus dijalani. Kepentingan kelompok tidak diindahkan.

 

Dengan sangat berat hati, pada pertengahan 2019, akhirnya saya tinggalkan lingkaran setan yang politis itu. Sebuah lingkaran yang hanya beriorientasi pada kepentingan diri sendiri. Perut kenyang, hati senang. Idealisme? Hancur-lebur.


Bagi saya, orang-orang yang ada di lingkaran itu, terutama mereka yang semula sepakat menjaga kesucian idealisme tapi akhirnya tergoda dengan iming-iming duit haram adalah orang-orang munafik. 


Gila, saya merasa tertipu berada di lingkaran ini. Awalnya mereka sepakat memperjuangkan idealisme, tetapi ternyata omong kosong. Tergoda juga dengan harta duniawi. Hahahahaha. 


Saya tidak menemukan kebenaran di dalam lingkaran itu. Semua sudah bias. Karena yang ada hanya pembenaran-pembenaran yang sifatnya politis. Bahkan, orang-orang di lingkaran itu, sudah sangat diplomatis sekali gaya bicaranya. Mirip politisi-politisi anyaran yang belagu karena baru jadi orang kaya, dari duit hasil pemalsuan berbagai dokumen yang diserahkan ke negara. Bocorin jangan nih? Hahahaha.

 

Bersyukur sekali saya tersadar, lingkaran itu ternyata benar-benar tidak baik. Walhasil saya menarik diri, tetapi bukan menyerah. Saya lebih memilih untuk tetap menjaga idealisme agar tidak runtuh. Di sini, saya memutuskan untuk mencari ‘jalan baru’ untuk menemukan kehidupan yang benar-benar saya idamkan.

 

Namun ketika saya sudah keluar dari lingkaran itu, saya masih punya satu pekerjaan lain yang harus dituntaskan, yaitu skripsi yang terbengkalai akibat melingkar di lingkaran setan itu. Hingga akhir 2019, kuliah sudah jalan enam tahun, saya hampir putus asa. Semua orang tidak bisa diandalkan, kecuali diri sendiri untuk benar-benar berkomitmen menyelesaikan tugas akhir itu.

 

Nah, setelah hampir putus-asa itulah, pada akhir 2019, saya mendatangi acara tabligh akbar yang diadakan alumni Buntet Pesantren, di masjid Perumahan Prima Harapan, Bekasi Utara. Tabligh akbar itu mendatangkan Ustadz Yusuf Mansur. Saya datang dengan membawa harapan agar mampu menuntaskan masalah yang sedang dihadapi. Barangkali sang ustadz mampu memberikan solusi. Begitu pikir saya, ketika itu.

 

Di awal Januari 2020, saya kemudian teringat tips atau cara mengatasi masalah ala Ustadz Yusuf Mansur yang disampaikannya dalam acara tabligh akbar di pengujung tahun 2019 itu. Yaitu doa. Prinsipnya: Allah dulu, Allah lagi, Allah terus. Doa apa yang diajarkan oleh UYM ini? Yakni doa untuk orang lain yang sedang dilanda kesusahan sebagaimana kita.

 

Artinya, kalau kita sedang kesulitan karena kemiskinan maka kita harus mendoakan orang-orang di sekeliling kita yang miskin agar menjadi kaya. Atau kalau kita sedang kesulitan mencari jodoh, maka kita harus mendoakan orang lain di sekitar kita agar cepat dapat jodoh. Nah soal skripsi ini, saya menjalankan amalan yang sangat sederhana itu. 

 

Setiap selesai salat, saya mendoakan teman-teman dan adik-adik kelas saya agar dimudahkan dalam menggarap skripsi. Saya juga berdoa agar mereka tidak dipersulit dalam proses kelulusan atau 'dibantai' ketika presentasi hasil penelitian di hadapan dosen penguji, di ruang sidang. Apakah doanya harus menggunakan bahasa arab? Tentu saja tidak. Allah paham semua bahasa, kok.


Doa yang baik, menurut UYM dan saya sepakat, adalah doa yang dirincikan serinci-rincinya. Kita harus mempreteli doa itu. Sebut nama siapa orang yang sedang kita doakan, sebut apa yang ingin kita doakan. Semuanya harus disebutkan dengan sangat rinci. Ya, Allah Mahateliti atas segala sesuatu yang tidak terlihat, terdengar, dan terdeteksi oleh hamba-Nya. 

  

Kenapa kok kita harus mendoakan orang lain untuk bisa menyelesaikan masalah kita sendiri? Jawabannya adalah karena kalau kita berdoa untuk diri sendiri, akan ada banyak penghalang: dosa yang terlalu banyak dan amal kebaikan yang sangat sedikit. Tetapi berbeda halnya kalau kita mendoakan orang lain. Berdoa untuk orang lain sama sekali tidak ada batas penghalangnya.

 

Bahkan, malaikat rahmat tidak segan-segan mendoakan si pendoa, yakni kita sendiri, untuk mendapatkan hal serupa dari yang kita doakan untuk orang lain. Itulah sebabnya kenapa para guru, ulama, dan kiai kita sering mengajak umat Islam untuk saling berdoa satu sama lain. Saya pikir, di agama lain, juga menerapkan hal yang sama. Ya, saling mendoakan. 

 

Berbagai kemudahan dalam menggarap skripsi mulai terasa, saat awal-awal 2020. Terutama sejak Maret, awal Covid-19 melanda negeri ini dan harus ada karantina selama 14 hari. Semua harus dilakukan di rumah. Saat itu, tentu saja saya memanfaatkan waktu untuk menggarap skripsi. Maret, April, Mei. Tiga bulan inilah, masa-masa saya menggarap skripsi.

 

Memasuki Juni, keluarga saya dirundung kesedihan. Bapak harus melangsungkan operasi prostat. Di rumah sakit, baru kali itu saya melihat bapak kesakitan setelah sekian lama, bahkan sejak kecil, bapak adalah sosok yang benar-benar tangguh. Tetapi ketika itu, pascaoperasi terutama, saya dan dua orang kakak saya, bergantian melayani keperluan bapak. Di samping itu, masih di bulan yang sama, kakak ipar saya segera melahirkan. Sudah bulannya.

 

Tepat di hari ulang tahun saya, 6 Juni 2020, bapak keluar dari rumah sakit dan memilih untuk berobat jalan. Sementara seminggu setelahnya, 13 Juni 2020, keponakan saya lahir. Dia perempuan bernama Alenaya Cahaya Aksara, putri pertama dari Nisfu Syawaluddin Tsani dan Dwi Niar Damayanti.

 

Juni 2020, terdapat perasaan campur aduk. Antara sedih, senang, haru, gembira, dan was-was. Pasalnya, pada 24 Juni 2020, saya akan melangsungkan sidang skripsi setelah enam tahun kuliah. Tentu saja saya berhasil melewati masa-masa sulit ini dengan baik. Saya meyakini bahwa kesulitan akan selalu membersamai kemudahan. Sejak Juni ini, harapan yang semula hilang, mulai berangsur kembali.

 

Setelah bapak pulih, Alenaya lahir dengan sempurna, dan sidang skripsi tuntas dengan hasil memuaskan, tapi saya malah jadi bingung. Bingung harus kerja di mana. Ya, saya harus tetap mencari cara untuk bisa bertahan hidup. Bekerja maksudnya, mencari penghasilan. Usai sidang skripsi, sekira di akhir Juni, saya menetapkan dua pilihan pekerjaan ke depan.

 

Salah satu dari dua pilihan itu adalah saya berencana melamar untuk menjadi wartawan nasional di NU Online. Toh sudah sejak 2017, saya menjadi kontributor warta di sana. Pada Maret 2018, tulisan-tulisan saya di NU Online sudah resmi diberi harga. Pikir saya, ketika nanti saya melamar di NU Online, saya sudah punya bekal cukup. Ditambah, saya menempuh kuliah dengan konsentrasi jurnalistik. Linier sekali, kan?

 

Tetapi sesungguhnya, saya sudah sejak lama punya prinsip ingin bekerja (atau menghasilkan uang) tanpa melamar dan tanpa lampiran ijazah, SKCK, kartu kuning, surat lamaran, CV. Selama satu bulan, sejak Juni, saya menimbang-nimbang prinsip itu. Haruskah tetap mempertahankan prinsip atau tidak? Saya gamang.

 

Pucuk dicinta ulam pun tiba.

 

Akhir Juli 2020, saya ditelpon oleh salah seorang redaktur NU Online. Diminta untuk menghadap pemimpin redaksi (pemred), dan diajak untuk bergabung, membantu keredaksian nasional NU Online. Wah, saya senang bukan kepalang. Impian saya menjadi wartawan NU akhirnya terwujud. Saya iyakan seketika itu. Kemudian bertemu pemred pada awal Agustus 2020. Terhitung sejak 10 Agustus 2020, saya mulai bekerja untuk NU Online.

 

Bangga dan bahagia sekali, bisa ikut serta menggawangi medianya ormas Islam terbesar di negeri ini. Meski penghasilan yang diperoleh tidak sebesar gaji karyawan pabrik, tetapi setidaknya saya memiliki kepuasan tersendiri karena bekerja sesuai dengan passion dan keterampilan diri sendiri. Di saat orang-orang sulit mendapatkan pekerjaan akibat pandemi, saya justru ditawari kerja yang sesuai dengan keahlian sendiri, tanpa persyaratan apa pun, kecuali pengalaman menulis jurnalistik yang sudah dilakukan sejak 2017. Menarik bukan?

 

Ya, saya bangga karena sama sekali tidak bergantung hidup pada orang lain. Murni, saya bergantung hidup pada keterampilan menulis, terutama keahlian jurnalistik. Melakukan wawancara, menentukan sudut berita, judul, dan menyajikan informasi dengan bahasa yang enak dibaca.

 

Nah sekarang di tahun 2021 ini, waktunya nazar itu perlahan diwujudkan. Di web pribadi saya ini, aruelgete.id, saya akan memberikan berbagai materi, tips, dan pemahaman tentang kebahasaan dalam tradisi menulis. Sebab, bahasa lisan dengan bahasa tulisan tentu saja beda.

 

Saya terkadang geregetan melihat orang yang menulis tapi kerapkali menabrak kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Karena itu, agar menjadi amal jariyah saya, ke depan akan disajikan berbagai pemahaman tentang cara membuat supaya tulisan kita enak dibaca. Nantikan tulisan-tulisan berikutnya.


Wallahua'lam...

Rabu, 03 Februari 2021

Rindu Embun Pagi

 

Ilustrasi. Sumber foto: aswirusani.com


Oleh: Silvi Insani Zein


Redup redup mata memandang

melihat sosok yang sebenarnya tak pernah kupandang


Inginku bertanya, siapakah dirinya? 


Tuhan..

Makhluk ciptaanmu amatlah menawan

sampai tiada kata bosan 

kabut pagi pun bukan halangan 


Diam diam, sering kali kucuri pandang

menatapnya dengan tenang


Senyum sapa menyapa

tak ada lagi sebuah kata 

terdiam, tanpa bicara menyambutnya


Sampai pada saatnya, uluran jemari-Mu mengait erat tanganku

dalam hati kubicara, "Ah, Ya Tuhan, ini mimpi atau tidak sebenarnya?"

seketika tak sengaja mengukir senyumku

sampai pipiku merona

 

Kalau saja seperti itu, inginku terus-menerus rasanya

lebih baik, kumemilih jatuh saja

agar kembali kurasakan hangat tangannya


Akhir pertemuan memanglah sulit

perasaan menahan sakit

Karena belum tentu ku bisa kembali merasa sweet


Dari sekian banyak harapan

hanya satu yang ingin kembali terulang, yaitu sebuah pertemuan

dengan suasana yang kembali menenangkan