Jumat, 31 Desember 2021

Pidato Lengkap Gus Yahya pada Haul Ke-12 Gus Dur di Ciganjur


Sumber gambar: tangkapan layar TVNU

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Terpilih masa khidmat 2021-2026 KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya berkesempatan hadir dan menyampaikan pidato dalam agenda Haul Ke-12 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Ciganjur, Jakarta Selatan, pada Kamis 30 Desember 2021.

"Mari Kita Bangun Gerakan Menghidupkan Gus Dur!" kalimat inilah yang tetiba menghentakkan saya bahwa mungkin saja, saat ini adalah saat-saat di mana Gus Dur harus benar-benar dihidupkan.

Berikut pidato lengkap Gus Yahya di Haul Ke-12 Gus Dur: 

Pada malam ini kita memperingati Haul Gus Dur yang ke-12. Dua belas tahun yang lalu, Gus Dur kembali ke hadirat Allah. Dua belas tahun ini, kita semua terpaksa meneruskan hidup tanpa kehadiran Gus Dur secara fisik, bersama-sama kita.

Tapi kita bisa merasakan dan saya tahu, saya bisa merasakan betapa saudara-saudara semua, sampai detik ini, terus menerus merindukan Gus Dur. Dan kita tahu di luar sana, sekian banyak orang, anak-anak bangsa, anak-anak kemanusiaan, tidak henti-hentinya merindukan Gus Dur.

Kita merindukan Gus Dur karena kita semua masih merasakan kebutuhan akan kehadiran Gus Dur. Di tengah berbagai masalah, sekian banyak kesulitan yang melingkupi kita, melingkupi bangsa ini, merundung kemanusiaan, alangkah sedikit yang tampil dengan kecerdasan untuk menawarkan jalan keluar seperti Gus Dur.

Di tengah mendung moral, yang menggelapi dunia di sekitar kita, alangkah sedikit yang hadir di tengah-tengah manusia dengan kejujuran penuh seperti Gus Dur. Di tengah-tengah begitu banyak ketidakpastian masa depan, kekalutan, alangkah sedikit yang mampu tampil dengan gerakan-gerakan profetik seperti Gus Dur.

Rasanya, tidak ada lagi hari ini seorang manusia yang bisa berperan menggantikan Gus Dur.

Tetapi saudara-saudara sekalian, kita semua mengenal Gus Dur. Kita menghabiskan masa belajar kita untuk belajar tentang Gus Dur. Kita tahu, apa yang ada dalam diri Gus Dur. Kita tahu bahwa Gus Dur adalah idealisme dan visi.

Idealisme Gus Dur adalah idealisme kemanusiaan inklusif, kemanusiaan universal, bahwa kita sebagai manusia harus berpihak kepada seluruh manusia tanpa kecuali, tanpa peduli latar belakang apa pun. Visi Gus Dur adalah bergerak untuk mengupayakan transformasi realitas, transformasi masyarakat seluas-luasnya menuju kualitas kehidupan yang lebih baik untuk semua.

Baca: Gus Yahya Ajak Masyarakat Bangun Gerakan Menghidupkan Gus Dur

Mungkin kita punya peluang untuk menghadirkan kembali apa yang dulu pernah dihadirkan oleh Gus Dur apabila kita mengupayakannya bersama-sama.

Kalau tidak ada satu orang pun yang bisa menggantikan Gus Dur, mari kita sediakan seribu orang untuk bekerja seperti Gus Dur. Kalau seribu orang belum cukup untuk menghadirkan Gus Dur, mari kita sediakan sejuta orang untuk bekerja laksana Gus Dur.

Kalau sejuta orang belum cukup, mari kita ajak seluruh umat manusia untuk bersama-sama mengadopsi, mempercayai nilai-nilai yang dulu diperjuangkan oleh Gus Dur, gerakan yang dulu dijihadi oleh Gus Dur, nilai-nilai kemanusiaan universal dan perjuangan untuk mewujudkan masa depan yang lebih baik, yang lebih mulia bagi peradaban umat manusia seluruhnya.

Mari kita bangun gerakan menghidupkan Gus Dur! (*)

Kamis, 30 Desember 2021

Model Kepemimpinan Nabi Ibrahim


Ilustrasi Nabi Ibrahim. Sumber: Islamidotco


Oleh: Rahmat Wahyudin, Lutfi Amsori, dan Fika*

Konsep dasar tentang kepemimpinan dalam perspektif Islam dirumuskan oleh Prof Syed Muhamamd Naquib al-Attas dan Prof Dr Wan Mohammad Nor Wan Daud dalam buku The ICLIF Leadership Competency Model (LCM) an Islamic Alternatif (Kuala Lumpur): The Intrernational Centre for Leadership in Finance (ICLIF) yang diterbitkan pada 2007. Menurut dua pakar pemikiran Islam itu, kepemimpinan bukanlah semata-mata soal bagaimana mengatur perubahan, tetapi kepemimpinan adalah amanah (trust). Dari konsep amanah inilah, lahir konsep kewajiban dan tanggung jawab.

“Setiap kamu adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban,” begitu pesan penting Rasulullah. Karena itu, soal kepemimpinan dalam Islam adalah soal agama, amanah, dan pertanggungjawaban kepada Allah. Bukan semata-mata soal kuasa, tahta, harta, dan tanggung jawab kepada sesama manusia. Bisa dikatakan, pemimpin ideal merupakan dambaan setiap insan, meskipun tak mudah menjumpainya.

Al-Qur'an menyebut Nabi Ibrahim 'alahissalam sebagai sosok pemimpin ideal. Hal itu termaktub dalam QS An-Nahl ayat 120-122. Allah berfirman: Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan), (lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang shaleh.

Kepemimpinan Nabi Ibrahim ditegaskan langsung oleh Allah dalam ayat itu dengan menyebutnya sebagai ummah. Ibnu Mas'ud dan Ibnu Umar dalam Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan bahwa lafadz ummah pada QS An-Nahl ayat 120 itu bermakna pemimpin yang dijadikan teladan dan mengajarkan kebaikan kepada manusia. Kepemimpinan ini menyebabkannya sukses di dunia dan akhirat. Nabi Ibrahim menjadi orang yang terpilih dan ditunjuk Allah kepada jalan kebenaran.


Tiga Kriteria Utama Nabi Ibrahim

Nabi Ibrahim disebut sebagai imam, karena memiliki tiga kriteria utama. Pertama, qânit lillah yang bermakna tunduk kepada Allah. Syekh Allamah Ar-Raghib Al-Ashfahani dalam Mu’jam Mufradat Alfazh Al-Qur'an menjelaskan bahwa qânit yang asal katanya qunût berarti luzûmut-tha'ah ma'al khudu' atau senantiasa taat dan tunduk. Dengan kata lain, tidak pernah menyimpang dan membantah titah-Nya. Lebih-lebih sampai meragukan dan mengingkari keberadaan-Nya. Nabi Ibrahim jauh dari sifat skeptis, relativis, gnostis, dan pluralis dalam berkeyakinan kepada Allah. Demikian juga jauh dari sikap culas dan maksiat dari perintah dan larangan-Nya.

Kedua, hanîf yang berarti lurus dalam jalan kebenaran. Makna asal dari hanîf atau hanaf ini, sebagaimana dikemukakan Ar-Raghib, sama dengan janaf yakni mail: berbelok atau menyimpang. Bedanya, hanîf atau hanaf menyimpang dari kesesatan menuju kebenaran, sementara janaf menyimpang dari kebenaran menuju kesesatan (lihat QS Al-Baqarah: 182). Pengertian hanîf ini diperkuat dengan penegasan Allah dalam ayat itu yakni wa lam yakun minal musyrikin yang artinya tidak pernah termasuk orang-orang yang menyekutukan Allah. Karena itu, dengan tegas Ibnu Katsir menyatakan bahwa maksud hanîf adalah menyimpang dari syirik menuju tauhid.

Hanif adalah kejujuran dan keterusterangan untuk hanya mengakui Allah sebagai satu-satunya Tuhan,  dan mengakui Ad-Dinul Islam sebagai jalan kebenaran, meski harus berbeda dan berselisih dengan orang lain yang berbeda keyakinan dan agama (QS Al-Mumtahanah: 4). Tujuh ayat yang menyatakan hanîf dalam Al-Qur'an selalu disertai dengan pernyataan muslim dan tidak termasuk golongan musyrik (Lihat QS Al-Baqarah: 135, Ali ‘Imran: 67 dan 95, Al-An’am: 79 dan 161, An-Nahl: 120 dan 123).

Ketiga, syukur. Maksud kata ini, sebagaimana dijelaskan Ar-Raghib adalah mengakui nikmat dan memperlihatkannya. Mengakui nikmat adalah dengan hati, sementara memperlihatkannya melalui lisan dan amal perbuatan. Nabi Ibrahim seorang yang bersyukur kepada nikmat-nikmat Allah. Hatinya senantiasa mengakui keagungan-Nya, lisannya tidak pernah kering dari pengakuan akan nikmat-nikmat-Nya, dan amalnya tidak pernah menyimpang dari tuntunan-Nya.

Sosok pemimpin seperti Nabi Ibrahim jelas jauh dari sifat zalim, korup, dan permusuhan. Nikmat berupa sumber daya alam yang melimpah pasti akan dipergunakan sebagaimana peruntukannya, bukan malah dijadikan lahan korupsi. Nikmat jabatan juga tidak digunakan untuk memperkaya diri dengan melupakan rakyatnya, tetapi akan digunakan untuk mengabdi dengan penuh amanah.

Ketiga kriteria di atas menggambarkan sosok pemimpin yang berkarakter kuat yakni lurus dalam akidah serta mantap dalam ibadah dan akhlak.


Ujian berat

Pemimpin lahir dari proses ujian yang berat. Allah menegaskan dalam QS Al-Baqarah ayat 124 bahwa Nabi Ibrahim dijadikan pemimpin karena telah berhasil melalui proses ujian yang berat. Kalaupun Nabi Ibrahim meminta agar keturunannya juga dijadikan para pemimpin, Allah tetap menegaskan bahwa mereka harus berhasil melewati ujian-ujian terlebih dulu dengan tidak gagal (baca: zalim). Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang zalim”.

Sahabat Ibnu Abbas menjelaskan, Allah telah menguji Nabi Ibrahim dengan thahârah: lima di kepala dan lima di badan. Di kepala yaitu mencukur kumis, berkumur-kumur, menghirup air ke hidung, menggosok gigi, dan bersisir rambut. Di badan berupa memotong kuku, mencukur bulu kemaluan, khitan, mencabut bulu ketiak, dan mencuci bekas buang air dengan air (Tafsir Ibnu Katsir). Meski demikian, menurut para ulama tafsir, tidak berarti bahwa ujian Nabi Ibrahim itu hanya thahârah saja, ini hanya sebagian ujiannya saja. Para ulama tafsir umumnya menafsirkan kalimât yang merupakan bentuk ujian dalam QS Al-Baqarah ayat 124 itu dengan ‘semua perrintah dan larangan’.

Jika merujuk pada ayat-ayat Al-Qur'an yang menceritakan tentang Nabi Ibrahim, Allah telah menguji dengan berbagai ujian yang berat. Pertama, berkorban dengan diri sendiri ketika harus berhadapan dengan ayah dan kaumnya yang musyrik, bahkan sampai harus menghadapi hukuman dibakar hidup-hidup (QS Al-Anbiya: 51-69). Kedua, berkorban dengan keluarga ketika harus meninggalkan anak istrinya di Bakkah (QS Ibrahim: 37).  Ketiga, berkorban dengan anak ketika harus menyembelih Isma’il (QS As-Shaffat: 102-107). Keempat, berkorban dengan harta dan tenaga ketika harus membangun Masjidil Haram (QS Al-Baqarah: 125-127).


Keyakinan

Hanya sedikit yang mampu lulus dari ujian-ujian seperti yang diberikan Allah kepada Nabi Ibrahim. Jika dirumuskan dengan singkat, ciri kepemimpinan Nabi Ibrahim itu dibangun dengan konsep dasar yang kuat, yaitu keimanan yang kokoh dan semangat pengorbanan yang tinggi. Keimanan yang kokoh mampu mengantarkan Nabi Ibrahim ke tingkat pengorbanan yang agung. Demi idealisme, menegakkan Tauhid, Nabi Ibrahim rela diaci-maki kaumnya sendiri. Ia ikhlas berhadapan dengan keluarganya sendiri dan tak surut langkah saat raja dan kaumnya mengusirnya. Demi keyakinan, Nabi Ibrahim berani melangkah ke dalam kobaran api.

Karena itulah, keyakinan (conviction) akan kebenaran dan ketinggian cita-cita wajib dimiliki seorang pemimpin. Sebab, hanya dengan keyakinan, seorang mampu meraih cita-cita besar. Penyair legendaris Pakistan, Dr Mohammad Iqbal menulis dalam puisinya Bal-e-Jibril yang berisi tentang bahaya pendidikan barat modern yang berdampak terhadap hilangnya keyakinan kaum muda Muslim terhadap agamanya.

Hilangnya keyakinan dari diri seorang manusia, kata Iqbal, adalah lebih buruk dari perbudakan. Keyakinanlah yang telah menjadikan seorang Ibrahim dengan tenang memasuki kobaran api. Keyakinanlah yang memungkinkan seorang mampu mencapai derajat yang tinggi berupa pengorbanan diri. Iqbal mengingatkan: Wahai Anda, yang telah jadi korban peradaban modern! Ingatlah, hilang keyakinan lebih buruk dari perbudakan! 

Conviction enabled Abraham to wade into the fire; conviction is an intoxicant which makes men self-sacrificing; Know you, oh victims of modern civilization! Lack of  conviction is worse than slavery.” (Mazheruddin Siddiqi, The Image of the West in Iqbal, (Lahore: Baz-i-Iqbal, 1964).


Kesimpulan

Berbagai perilaku arogan yang dipertontonkan oleh orang-orang zalim di dunia saat ini adalah akibat dari kelemahan orang-orang shaleh. Praktik-praktik buruk seperti korupsi, kolusi, nepotisme, dan berbagai ketidakadilan dalam pemerintahan yang dilakukan orang-orang zalim adalah akibat dari lemahnya orang-orang shaleh. Karena itu, orang-orang beriman haruslah memilih orang shaleh yang memiliki visi dan misi kepemimpinan sebagaimana misi kepemimpinan NabiIbrahim, yakni misi dakwah dan reformasi di semua sektor kehidupan. Barangsiapa memilih orang zalim sebagai pemimpinnya, maka ia ikut bertanggung jawab atas semua kezalimannya di hadapan mahkamah Allah dan bertanggung jawab juga kepada rakyat.

Untuk memilih pemimpin yang shaleh, kita dapat melihat rekam jejak kepribadiannya di masa lalunya. Secara vertikal, ia harus baik hubungan ibadahnya kepada Allah. Sementara secara horizontal, ia selalu berbuat adil, bijaksana, penuh kasih sayang, dan berakhlak baik kepada sesama manusia. Karena atas dasar inilah, Nabi Ibrahim dipilih Allah sebagai imam bagi semua manusia.

Hanya dengan kejelian dan penuh rasa tanggung jawab kita dalam memilih pemimpin yang shaleh, beriman dan bertakwa serta memiliki dedikasi yang tinggi kepada Sang Pencipta, di samping berakhlak mulia dan penuh kepedulian kepada sesamanya. Negeri ini diharapkan dapat keluar dari krisis multidimensi dan menjadi negeri yang penuh berkah dan maghfirah dari Allah, baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

Dari uraian singkat di atas, dapat kita simpulkan bahwa sebagai seorang Muslim kita sangat dituntut untuk menunjukkan komitmen atau keterikatan dan loyalitas kita kepada Allah. Caranya dengan menegakkan nilai-nilai Islam yang telah diturunkan-Nya, sebagai apa pun kita dan di mana pun posisi kita, baik dalam kehidupan berkeluarga atau bermasyarakat dan berbangsa.

Karenanya, Rasulullah berpesan kepada kita agar selalu bertakwa kepada Allah di mana pun kita berada:

 

فاتقوا الله يا عبادالله، وصلوا وسلموا على نبيكم كما أمركم الله في محكم كتابه: “إن الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما”. اللهم صل على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه ومن دعا بدعوته ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين وعلينا معهم برحمتك يا أرحم الراحمين.

 

اللهم اغفرلنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيم. ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين .

 

اللهم أرنا الحق حقا وارزقنا اتباعه وأرنا الباطل باطلا وارزقنا اجتنابه. اللهم ادفع عنا الغلاء والوباء والبلاء والفحشاء والمنكر والبغي والسيوف المختلفة والشدائد والمحن ما ظهر منها وما بطن من بلدنا هذا خاصة ومن بلدان المسلمين عامة إنك على كل شيء قدير


*) Tulisan ini disusun sebagai tugas membuat makalah mata kuliah Pendidikan Agama Islam (PAI), Jurusan Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Islam "45" (Unisma) Bekasi. Seluruh konten adalah tanggung jawab para penulis.


Minggu, 06 Juni 2021

6 Juni ke-27

 

Aru Elgete. Foto: Zulfikar

Tak terasa, perjalanan sudah sangat panjang rupanya. Berbagai fenomena kehidupan telah dilalui dengan beragam perasaan. Ada sedih, gembira, kecewa, sakit hati, dan bangga. Semua bercampur, datang silih berganti. 

Pada 6 Juni ke-27, sebagaimana yang sudah sering dikatakan, saya ibarat sedang berbuka puasa. Saat ini tengah menikmati berbagai hidangan yang melegakan. Saya kadang menyebutnya sebagai 'santapan ruhani' yang bagi setiap orang, pasti berbeda-beda. 

Saya masih ingat betul perjalanan dari Juni ke Juni. Beberapa tahun lalu misalnya, saya sedang berasyik-masyuk dengan kesibukan yang sungguh tidak produktif. Saya pernah pula jadi seperti 'sapi perahan' yang selalu dimanfaatkan hasilnya untuk kepentingan pribadi dan kelompok. 

Saya pernah juga dijauhi, hanya karena memegang teguh prinsip. Sungguh, sejak kecil, saya selalu dididik untuk tidak berkawan dengan orang-orang munafik. Bapak di rumah pun selalu mengajarkan agar selalu komitmen dengan prinsip supaya tidak menjadi munafik. 

Dalam hidup, saya punya prinsip yang tidak bisa diganggu, yakni saya sebagai manusia berjalan di atas dua kaki, kanan dan kiri. Fungsinya, kaki kanan untuk berteman dan kaki kiri untuk melawan. Semua tergantung dari bagaimana sikap yang saya terima. Kalau buruk, saya akan melawan dengan cara saya sendiri. Tapi kalau baik, pertemanan akan sangat baik saya jaga. 

Selama perjalanan menuju 6 Juni ke-27 ini, saya banyak melihat orang-orang yang pernah saya lawan itu, kini masih saja berpuasa. Belum sama sekali berbuka. Mereka masih disibukkan dengan persoalan remeh-temeh: mencari panggung di media sosial. Sebab, eksistensi akan membuahkan apresiasi. Keduanya, masih jadi santapan mereka. 

Sementara saya, sudah sangat kenyang dengan makanan bernama apresiasi dan eksistensi. Saya sudah sejak lama, bergelut dalam hal membuat panggung untuk menciptakan eksistensi dan apresiasi di media sosial. Itu hal mudah. Saya punya banyak peluru sekaligus senjata untuk bertempur. 

Kini, pada 6 Juni ke-27 ada banyak rencana yang tengah dipersiapkan. Saya tidak mungkin lagi mengurusi sesuatu yang remeh-temeh sehingga kehabisan waktu untuk mencapai target tertentu. 

Sejak Juni ke-27 ini, saya berkomitmen untuk senantiasa meningkatkan kualitas penghambaan kepada Allah. Hal ini sebagaimana yang menjadi tujuan manusia diciptakan. Kata Allah, jin dan manusia diciptakan di bumi tak lain hanya bertugas untuk menghamba kepada-Nya.

Karena itu, saya bersumpah tidak akan menghamba kepada selain Allah demi mendapat proyek, harta, dan jabatan. Begitu pula saya tidak akan memperhambakan orang lain demi kepentingan keduniaan. Sebab menghamba dan memperhambakan terhadap sesuatu selain Allah adalah syirik, dosa terakbar yang tidak akan diampuni-Nya. 

Saya bersyukur, karena di usia hampir tiga dasawarsa ini, telah diingatkan tentang pemahaman yang dapat menumbuhkan rasa keimanan paling mendasar itu. Sebab dalam soal menghamba dan memperhambakan itu, jangankan saya yang masih bergelimang dosa, seorang kiai pun bisa saja terjerumus ke dalam perbuatan syirik itu.

Itulah virus sesungguhnya yang harus kita hindari, buat siapa pun, baik pendosa seperti saya maupun para kiai dan tokoh agama yang berkalung kehormatan serta kesucian. Menghamba kepada Allah dan memperhambakan diri sendiri di hadapan Allah, itu berarti berkeyakinan bahwa hanya Allah-lah yang paling berkuasa. Dia-lah yang layak memberikan penghidupan pada kita, bukan yang lain. 

Nah dengan pemahaman yang seperti itu, saya jadi semakin ringan menjalani hidup. Tanpa beban sedikit pun. Saya juga akan semaksimal mungkin menghindari tawaran orang lain yang berpotensi menjadikan saya 'berutang budi'. Itu pasti saya hindari.

Sebab utang budi terbesar yang saya punya, biarlah hanya kepada orang tua yang telah membesarkan dan mendidik saya selama berpuluh tahun. Saya tidak mau menambah beban utang budi kepada selain orang tua saya. 

Terima kasih, saya ucapkan, kepada orang-orang yang telah memberikan tawaran dan iming-iming kenikmatan duniawi. Berbagai hal kebendaan, memang masih menggiurkan. Tetapi bagi saya saat ini, tidak ada yang lebih menggiurkan daripada memegang prinsip agar selalu berhindar dari perbuatan syirik dan berutang budi kepada orang lain. Ini nikmat dan menggiurkan sekali. 

Semoga di perjalanan menuju Juni ke-28 hingga Juni-Juni yang ke sekian, saya selalu diselamatkan untuk tidak terjerumus. Sebagaimana telah Allah selamatkan saya dari gerombolan kaum munafik, beberapa waktu lalu.

Sungguh, saya pun masih munafik, karena berkali-kali menolak previlese atau akses mudah untuk menjadi kaya. Padahal kaya adalah keinginan semua orang. Ya, saya munafik untuk itu. Biarlah. 

Semoga segala hal baik menyertai saya dan kita semua. 


Bekasi, 6 Juni 2021

Rabu, 26 Mei 2021

Kisah Guru dan Murid: Menutup Aib

 

Ilustrasi. Sumber: ideapres.com


Suatu ketika, sekelompok pemuda sedang menghadiri pesta pernikahan teman sejawatnya semasa duduk di masa putih-biru. Salah satu di antara mereka adalah Asep. Setibanya di lokasi, ia melihat Pak Solihin, seorang guru yang dulu pernah menjadi walikelasnya.

Lalu dengan sangat cekatan, karena dibalut rasa rindu yang menebal, Asep langsung menghampiri dan mengecup punggung tangan sang guru dengan penuh takzim (penghormatan) dan takrim (pemuliaan).

Usai mencium tangan gurunya itu, ia membuka percakapan seraya duduk di kursi kosong sebelahnya. "Masih ingat saya kan, pak guru?"

"Wah maaf, saya lupa."

"Masa sih bapak nggak ingat saya?" tanya Asep penuh heran.

Dia melanjutkan, memberi gambaran siapa dan bagaimana dirinya saat di sekolah dulu.

"Saya Asep, Pak. Murid yang dulu nyolong jam tangan punya teman di kelas."

"Ketika anak yang kehilangan jam itu menangis, bapak menyuruh kita untuk berdiri semua, karena akan dilakukan penggeledahan saku murid semuanya," lanjut Asep bercerita.

"Saat itu saya berpikir, saya akan dipermalukan di hadapan teman-teman dan para guru. Bahkan bakal jadi bahan ejekan dan hinaan. Mereka pasti akan melabeli saya sebagai pencuri. Harga diri saya pasti akan hancur selama hidup saya."

Pak Solihin  tetap dengan saksama menyimak cerita Asep sedari awal tadi, sembari berkali-kali menghisap rokok kretek kesukaannya. 

Asep melanjutkan uraiannya, "Bapak menyuruh kami berdiri menghadap tembok dan menutup mata kami semua. Kemudian bapak menggeledah kantong kami. Ketika tiba giliran saya, bapak ambil jam tangan itu dari kantong saya, dan bapak lanjutkan penggeledahan sampai murid terakhir."

"Setelah selesai, bapak menyuruh kami membuka penutup mata, dan kembali ke tempat duduk masing-masing. Saat itu, saya takut bapak akan mempermalukan saya di depan teman-teman saya. Tapi rupanya bapak tunjukkan jam tangan itu dan langsung bapak berikan kepada pemiliknya tanpa menyebutkan siapa yang mencuri."

"Selama saya belajar di sekolah itu, bapak tidak pernah bicara sepatah kata pun tentang kasus jam tangan itu. Bahkan, tidak ada satu orang pun guru atau murid yang bicara tentang pencurian jam tangan itu."

Setelah menjelaskan panjang-lebar, Asep mengajukan pertanyaan sekaligus pernyataan atas kekagumannya kepada Pak Solihin untuk meyakinkan ingatan bahwa dia-lah murid yang dulu pernah ditolong oleh sang guru. 

"Bapak masih ingat saya, kan? Saya adalah murid bapak. Kisah tadi itu adalah cerita pedih yang akan selalu saya ingat sepanjang hidup. Saya sangat mengagumi bapak. Sejak peristiwa itu saya berubah menjadi orang yang baik dan benar hingga sekarang saya jadi orang sukses. Saya juga mencontoh semua akhlak, sikap, dan perilaku bapak."

Guru yang dikagumi Asep itu pun akhirnya buka suara.

"Sungguh aku tidak mengingatmu, karena pada saat menggeledah itu aku sengaja menutup mata agar tidak mengenalimu. Aku tidak mau merasa kecewa atas perbuatan salah satu muridku. Aku sangat mencintai semua murid-muridku."

Pak Solihin menjelaskan kepada Asep bahwa saat ini sudah sama sekali tidak ada orang suci seperti para Nabi yang ma'shum atau terbebas dari dosa. Sebab yang ada sekarang hanyalah orang-orang yang aib atau keburukannya masih ditutup oleh Allah.

Ia lantas menyampaikan sebuah hadits Rasulullah yang diriwayatkan Imam At-Tirmizi. Disebutkan bahwa Allah akan menutup aib orang yang senantiasa menjaga aib orang selama di dunia. 

ومن ستر على مسلم في الدنيا ستر الله عليه في الدنيا والاخرة

"Barang siapa yang menutupi (aib) seorang muslim selama di dunia, Allah akan menutup (aibnya) di dunia dan akhirat."

Setelah mendengar penjelasan Pak Solihin, Asep berkali-kali terisak dan menyeka air mata. Asep merasa haru dan bangga pada keteladanan sang guru. Menurutnya, orang semacam Pak Solihin, saat ini sudah sangat sulit ditemukan.

"Terima kasih, Pak, saya dapat banyak pencerahan dari Bapak. Terima kasih juga karena sudah menutupi Aib saya."

"Iya sama-sama, Sep. Sana kamu makan dulu. Saya pamit pulang, ya. Salam buat teman-temanmu yang lain," kata Pak Solihin, seraya mematikan rokoknya yang sudah pendek dengan diinjak. Ia kemudian berdiri, menyalami Asep, dan berjalan ke luar arena pesta pernikahan. 

Jumat, 14 Mei 2021

Sebuah Catatan: Melupakan Pesan Ramadan


Foto: Syakir Niamillah Fiza

Puasa Ramadan sudah usai. Hari Raya Idulfitri telah tiba. Kini, segala kebaikan, mulai dan sedang dipertaruhkan. Kualitas ibadah pada sebulan penuh, akan dipertontonkan di hari-hari ke depan.

Sudah tidak ada lagi santunan anak yatim, yang digelar tak ubahnya hanya sebatas seremonial dan formalitas, bahkan tidak menyentuh ke akar substansi sama sekali.

Tayangan islami; mulai dari perlombaan menghafal Al-Qur'an, kontestasi ceramah agama, pesantren kilat, kultum Ramadan, tabligh akbar di televisi, hingga iklan sirup di siang hari, sudah habis kontraknya.

Masjid dan musala kembali ditinggalkan. Kotak amal tak lagi dihiraukan keberadaannya, kecuali saban jum'at di masjid-masjid. Al-Qur'an, lagi-lagi menjadi pajangan dan penghuni paling atas di lemari atau rak buku.

Diskotik, hotel esek-esek, warung remang-remang, pekerja seks, pria hidung belang, dan segala macam kemaksiatan bersuka-cita menyambut kepergian Ramadan. Para penceramah dan ustaz-ustaz kampung, kehilangan 'honorarium' berupa uang beserta kain sarung.

Barangkali, hal-hal itulah yang menjadi kesedihan setiap kali Ramadan pergi. Parahnya, sedih pun hanya di mulut dan kata-kata, sementara perilaku sama sekali tidak menggambarkan kesedihan. 

Pada kenyataannya, orang-orang justru berbahagia menyambut datangnya Hari Raya Idulfitri. Bukan karena mengembalikan diri pada kesucian atau lantaran puasa dan tarawih yang tak pernah absen sekali pun, juga bukan karena khatam Al-Qur'an lebih dari tiga kali.

Namun, karena Idulfitri menawarkan segala macam kebebasan. Karena selepas Ramadan, segala hal yang semula ditutup-tutupi, kini terbuka lagi secara gamblang. Lebaran menawarkan kenikmatan yang tidak ada pada Ramadan.

Menengok ke belakang, beberapa hari lalu.

Saat-saat menjelang Ramadan berakhir, orang-orang sibuk menyiapkan (dan bahkan memaksa untuk membawa) segala macam kebutuhan untuk pulang ke kampung halaman. Menemui orang tua, handai taulan, dan kerabat semasa kecil. Bersilaturahmi serta menjalin kembali persaudaraan yang telah renggang selama setahun.

Beberapa hari yang lalu, sebelum tiba lebaran, orang-orang yang memiliki kedudukan di perusahaan dan organisasi, melancarkan aksi pamer jabatan. Mereka membuat desain pamflet dengan diterangkan nama dan jabatannya, sembari dibubuhi kata-kata indah nan manis.

Saat tiba lebaran, usai menemui sanak saudara dan kerabat (silaturahmi), linimasa media sosial dipenuhi sukacita yang (barangkali) sangat berlebihan. Sebab terlalu bahagia, sebagian besar orang (termasuk saya), tidak lupa untuk mengunggah foto ke beranda akun pribadi.

Narsisme terpampang jelas. Bahkan, kuburan pun diajak untuk berswafoto. Semua sibuk merunduk. Mengetik keterangan (caption) foto semenarik mungkin agar disukai dan dikomentari banyak orang. 

Barangkali ada beberapa pesan Ramadan yang kurang mematri jiwa. Pesan mendalam tentang hidup yang harus terus melihat ke bawah. Merasakan lapar sebagaimana saudara kita yang susah-payah mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya di atas rumah gerobak, atau di teras-teras ruko pinggir jalan. Tujuannya, agar kita mampu rendah hati, selalu merasa kecil, dan tak memiliki kekuatan apa pun jika tanpa pertolongan Allah.

Barangkali ada yang lupa, kalau ternyata ibadah ritual adalah tonggak dari berdirinya bangunan sosial. Ramadan juga berpesan agar hidup tak korup. Berlaku jujur, sederhana, amanah, dan tidak riya' atau menampilkan kepongahan.

Sebab, apa yang menjadikan puasa sebagai sesuatu yang pantas disombongkan? Toh, puasa adalah ibadah privat, antara Allah dan seorang hamba. Nilai pahala yang diberikan, diterima atau tidak ibadah selama Ramadan, dan seberapa tingginya kualitas amal saleh yang dilakukan, hanya Allah-lah yang tahu.

Barangkali juga ada yang tertinggal dari Ramadan, yakni soal menyembunyikan keburukan karena ada rasa malu di dalam diri. Bahasa positifnya, bukan munafik, tapi menutupi aib.

Kini, semua terpampang jelas dan kembali mengemuka. Bahkan, lebih dekat dari mata dan telinga. Keburukan atau kemaksiatan kini telah terdigitalisasi. Sejak bangun tidur hingga tertidur lagi, semuanya hadir dalam genggaman.

Lalu, pesan Ramadan apa yang akan kita bawa untuk bekal menuju perjalanan yang jauhnya hingga menempuh kurang lebih 330 hari?

Wallahua'lam...


*Catatan ini pertama kali ditulis pada Juni 2019