Minggu, 14 Februari 2021

Hari Valentine Embel-embel Islami

 

Ilustrasi. Sumber: NU Online


Hari ini, 14 Februari 2021, disebutnyalah sebagai Valentine's Day. Entah dari mana mulanya, tiba-tiba dimaknai sebagai Hari Kasih Sayang. Umat Islam tentu saja berbondong-bondong menolaknya, karena secara kesejarahan, Valentine's Day tidak bernilai. Namun kalau dimaknai secara positif, tentu saja bisa, dan itu lebih baik. 


Kemudian bagaimana misalnya jika valentine kita beri embel-embel Islami saja? Ini bertujuan agar umat Islam tidak alergi dengan valentine alias mampu berpikir positif dan memanifestasikannya ke dalam laku Islam yang penuh selamat, damai, dan sejahtera. Lagi pula, umat Islam di Indonesia ini kan memang suka sekali dengan embel-embel Islami. Ya, kan?


Saya rasa kalau valentine diberi embel-embel Islami, mungkin saja sebagian umat Islam yang kerap membawa-bawa dalil beserta terjemahannya untuk menolak bisa turut merayakan Hari Valentine Islami ini. Setidaknya, mereka tidak turut dalam kebisingan penghakiman. 


Islam secara substantif tentu berbeda dengan kostum drama, sinetron, dan tayangan-tayangan televisi saat Ramadan. Islam adalah nilai sekaligus metodologi. Ia (Islam) bisa memiliki kesamaan atau perjumpaan dengan berbagai macam substansi nilai dan metodologi lain, baik yang berasal dari agama lain, dari ilmu-ilmu sosial modern, dan bahkan khazanah tradisional suatu bangsa. Namun secara entitas, Islam hanya sama dengan Islam.


Bahkan, Islam tidak sama dengan tafsir Islam. Tidak sama dengan pandangan pemeluknya yang beragam. Islam tidak sama dengan Sunni, Syi’ah, Muhammadiyah, NU, Hizbut Tahrir, FPI, dan apapun saja aplikasi atas tafsir terhadap Islam. Islam yang sebenar-benarnya Islam hanyalah Islam yang sejatinya dimaksudkan oleh Allah. (Najib, 2014)


Semua pemeluk Islam, pasti akan berjuang mempertahankan pandangannya masing-masing untuk mendekati kebenaran dan kesejatian Islam. Namun sungguh, pandangan itu pun bukanlah kebenaran dan kesejatian Islam itu sendiri. Secara otomatis, hal itu dapat disimpulkan bahwa tidak ada satu kelompok pun yang legal dan logis untuk mendaku diri bahwa Islam yang benar adalah kelompok Islam yang dianutnya.


Jika ada orang atau sekelompok tengah berjuang melakukan Islamisasi, dakwah Islam, syiar Islam, bahkan perintisan pembentukan Negara Islam, maka yang sesungguhnya mereka perjuangkan adalah (konsep) Islamnya mereka sendiri.


Islamnya setiap orang, tentu tidak bisa diklaim sebagai Islam yang sama persis dengan Islam menurut Allah. Begitulah memang, hakikat penciptaan Allah atas kehidupan sehingga ketika Islam bertamu ke rumah kita, tidak lantas bermaksud untuk memaksa kita agar mau menerimanya.


Ayat Laa ikraha fiddin bermakna bahwa tidak ada paksaan dalam beragama. Termasuk tidak boleh ada pemaksaan dalam menafsirkan Islam. Tafsir populer atas Islam, bahkan bisa menggejala sampai ke tingkat pelecehan atas Islam itu sendiri.


Islam bisa hanya disobek-sobek, diambil salah satu sobekannya yang menarik bagi seseorang karena enak dan sesuai dengan seleranya. Islam bisa diperlakukan hanya dengan diambil salah satu unsurnya, demi mengamankan psikologi subyektif seseorang sesudah hidupnya dipenuhi pelanggaran-pelanggaran terhadap Islam.


Di samping itu, Islam bisa hanya diambil sebagai ikon untuk melakukan kamuflase kekufuran, kemunafikan, kemalasan pengabdian, korupsi, dan keculasan. Islam bisa dipakai untuk menipu diri, diambil satu faktor pragmatisnya saja. 


Sebagian umat Islam berpandangan bahwa memeluk Islam itu sama artinya dengan yang penting tidak tampak kafir, bergabung dengan training shalat, terlihat di mata orang lain bahwa dirinya menjadi bagian dari orang yang mencari surga, berdzikir ingat keserakahan diri dan keserakahan itu bisa dihapus dengan beberapa titik air mata di tengah ribuan jamaah yang berpakaian putih-putih bagai pasukan Malaikat Jibril.


Sedemikian rupa-lah Islam, sehingga (dapat) diselenggarakan dan dilakukan dengan berbagai formula dunia modern, industri liberal, modeshow, pembuatan film, diskusi pengajian, dan yang terpenting adalah dikasih 'kostum Islam'.


Tapi tentu saja jangan diteruskan hingga ke tingkat penyelenggaraan gosip Islami, peragaan busana renang muslimah, lokalisasi pelacuran Islami, bahkan pertandingan voli wantia muslimah berkostum mukena putih-putih. Sampai-sampai dengan sangat polos dan ahistorisnya, kita resmikan salah satu hari ganjil di tengah sepuluh hari terakhir Ramadan, sebagai Hari Valentine Islami.


Lantas apakah ada Hari Kasih Sayang Islam versi Islam? Tentu saja. Ini tak lain dari kisah heroik Nabi Muhammad pada Fathu Makkah yang dalam Al-Quran disebut sebagai Fathan Mubiina (kemenangan yang nyata). Kemenangan ini diraih pada 10 Ramadan tahun ke-8 hijriyah. Pasukan Islam dari Madinah berhasil merebut kembali Makkah. Atas izin Allah, Islam akhirnya memperoleh kemenangan besar. Lalu tawanan musuh diberi amnesti massal.


Setelah itu, Nabi kemudian berpidato di hadapan ribuan tawanan perang, "hadza laisa yaumil malhamah, walakinna hadza yaumul marhamah, wa antumut thulaqa."


Artinya: "Wahai manusia, hari ini bukan hari pembantaian, melainkan hari ini adalah hari kasih sayang, dan kalian semua merdeka kembali ke keluarga kalian masing-masing."


Mendengar pidato itu, pasukan Islam merasa kaget juga. Berjuang hidup mati, diperhinakan, dilecehkan sekian lama, ketika kemenangan sudah di genggaman, musuh diminta untuk dibebaskan. 


Itu pun belum cukup.


Nabi memerintahkan agar seluruh harta rampasan perang, seperti berbagai harta benda dan ribuan onta untuk dibagikan kepada para tawanan. Sayangnya, pasukan Islam tidak memperoleh apa-apa. Sebagian dari mereka mengeluh dan sebagian pasukan Islam yang lainnya mengajukan protes kepada Rasulullah.


Mereka dikumpulkan dan Nabi bertanya: "Sudah berapa lama kalian bersahabat denganku?"


Mereka menjawab: "Sekian tahun, sekian tahun."


"Selama kalian bersahabat denganku, apakah menurut hati kalian aku ini mencintai kalian atau tidak mencintai kalian?”


"Tentu saja sangat mencintai."


Rasulullah mengakhiri pertanyaannya: ”Kalian memilih mendapatkan onta ataukah memilih cintaku kepada kalian?”


Menangislah mereka karena cinta Rasulullah kepada mereka tidak bisa dibandingkan, bahkan dengan bumi dan langit.


Maka tentu saja, seumpama kita berada di situ sebagai bagian dari pasukan Islam, sepertinya kita akan menjawab dengan ungkapan yang berbeda: "Sudah pasti kami memilih cinta Rasulullah, tapi kalau boleh juga diberi onta dan emas barang segram dua gram."


Hahahahahahahaaha....

Jumat, 05 Februari 2021

Sebuah Catatan: Kilas Balik Perjalanan Sebelum 2021


Foto: dokumen pribadi

Tahun ini sudah berjalan lebih dari satu bulan. Mimpi-mimpi dan resolusi yang direncanakan sejak lama, mesti segera diwujudkan. Salah satu impian saya pada 2021 ini adalah ingin mengajak kita semua untuk belajar menulis dengan baik dan benar.


Menulis memang perkara mudah, tetapi hanya segelintir orang saja yang mampu menulis dengan baik, sehingga menjadi renyah ketika dibaca.

 

Sesungguhnya, saya tidak sama sekali punya keterampilan kecuali menulis yang dilakukan setiap hari. Bahkan, dari menulislah saya bisa mendapatkan penghasilan yang kemudian dipakai untuk membayar cicilan rumah, membayar servis motor, dan persiapan menikah di tahun depan. Hahahahahaha percaya nggak?

 

Impian untuk memberikan pemahaman kepada teman-teman soal bagaimana menulis dengan baik dan benar, sudah lama terpendam. Ini serupa nazar ketika saya sedang dalam masa hopeless, hilang harapan.


Ya, sekira akhir tahun 2019 saya benar-benar merasakan bahwa hidup serasa tidak berguna. Kuliah sudah hampir enam tahun, skripsi belum juga selesai, dan tidak pernah punya uang setiap hari. Inilah catatan kilas balik perjalanan sebelum 2021.


Lingkaran setan

 

Jadi, awal persoalan dimulai dari sini. Ketika sudah seharusnya menyelesaikan studi, saya justru berselancara di luar kampus. Mencari kesibukan yang lain. Bahkan, hingga kini pun, saya tidak tahu kenapa waktu itu lebih memilih ‘ke luar’ kampus untuk berkesibukan yang tidak jelas. Sesuatu yang dicari pun tidak sama sekali ditemukan. Nihil.

 

Kesemrawutan hidup ini bermula sekali pada sekira 2018. Saat itu, saya menjadi relawan politik. Baik di tingkat daerah (Pilkada Kota Bekasi) maupun di tingkat nasional (Pilpres 2019). Hasilnya? Nihil. Pascapilpres semuanya berubah.


Saya seperti disadarkan oleh banyak kejadian yang ternyata hampir saja meluluhlantakkan idealisme. Sebab awalnya saya pikir, saat kontestasi politik usai, kehidupan di lingkaran ini menjadi kembali semula yang benar memperjuangkan gagasan bersama. Tetapi ternyata tidak sama sekali, karena mementingkan perut agar kenyang setiap hari adalah agenda yang harus dijalani. Kepentingan kelompok tidak diindahkan.

 

Dengan sangat berat hati, pada pertengahan 2019, akhirnya saya tinggalkan lingkaran setan yang politis itu. Sebuah lingkaran yang hanya beriorientasi pada kepentingan diri sendiri. Perut kenyang, hati senang. Idealisme? Hancur-lebur.


Bagi saya, orang-orang yang ada di lingkaran itu, terutama mereka yang semula sepakat menjaga kesucian idealisme tapi akhirnya tergoda dengan iming-iming duit haram adalah orang-orang munafik. 


Gila, saya merasa tertipu berada di lingkaran ini. Awalnya mereka sepakat memperjuangkan idealisme, tetapi ternyata omong kosong. Tergoda juga dengan harta duniawi. Hahahahaha. 


Saya tidak menemukan kebenaran di dalam lingkaran itu. Semua sudah bias. Karena yang ada hanya pembenaran-pembenaran yang sifatnya politis. Bahkan, orang-orang di lingkaran itu, sudah sangat diplomatis sekali gaya bicaranya. Mirip politisi-politisi anyaran yang belagu karena baru jadi orang kaya, dari duit hasil pemalsuan berbagai dokumen yang diserahkan ke negara. Bocorin jangan nih? Hahahaha.

 

Bersyukur sekali saya tersadar, lingkaran itu ternyata benar-benar tidak baik. Walhasil saya menarik diri, tetapi bukan menyerah. Saya lebih memilih untuk tetap menjaga idealisme agar tidak runtuh. Di sini, saya memutuskan untuk mencari ‘jalan baru’ untuk menemukan kehidupan yang benar-benar saya idamkan.

 

Namun ketika saya sudah keluar dari lingkaran itu, saya masih punya satu pekerjaan lain yang harus dituntaskan, yaitu skripsi yang terbengkalai akibat melingkar di lingkaran setan itu. Hingga akhir 2019, kuliah sudah jalan enam tahun, saya hampir putus asa. Semua orang tidak bisa diandalkan, kecuali diri sendiri untuk benar-benar berkomitmen menyelesaikan tugas akhir itu.

 

Nah, setelah hampir putus-asa itulah, pada akhir 2019, saya mendatangi acara tabligh akbar yang diadakan alumni Buntet Pesantren, di masjid Perumahan Prima Harapan, Bekasi Utara. Tabligh akbar itu mendatangkan Ustadz Yusuf Mansur. Saya datang dengan membawa harapan agar mampu menuntaskan masalah yang sedang dihadapi. Barangkali sang ustadz mampu memberikan solusi. Begitu pikir saya, ketika itu.

 

Di awal Januari 2020, saya kemudian teringat tips atau cara mengatasi masalah ala Ustadz Yusuf Mansur yang disampaikannya dalam acara tabligh akbar di pengujung tahun 2019 itu. Yaitu doa. Prinsipnya: Allah dulu, Allah lagi, Allah terus. Doa apa yang diajarkan oleh UYM ini? Yakni doa untuk orang lain yang sedang dilanda kesusahan sebagaimana kita.

 

Artinya, kalau kita sedang kesulitan karena kemiskinan maka kita harus mendoakan orang-orang di sekeliling kita yang miskin agar menjadi kaya. Atau kalau kita sedang kesulitan mencari jodoh, maka kita harus mendoakan orang lain di sekitar kita agar cepat dapat jodoh. Nah soal skripsi ini, saya menjalankan amalan yang sangat sederhana itu. 

 

Setiap selesai salat, saya mendoakan teman-teman dan adik-adik kelas saya agar dimudahkan dalam menggarap skripsi. Saya juga berdoa agar mereka tidak dipersulit dalam proses kelulusan atau 'dibantai' ketika presentasi hasil penelitian di hadapan dosen penguji, di ruang sidang. Apakah doanya harus menggunakan bahasa arab? Tentu saja tidak. Allah paham semua bahasa, kok.


Doa yang baik, menurut UYM dan saya sepakat, adalah doa yang dirincikan serinci-rincinya. Kita harus mempreteli doa itu. Sebut nama siapa orang yang sedang kita doakan, sebut apa yang ingin kita doakan. Semuanya harus disebutkan dengan sangat rinci. Ya, Allah Mahateliti atas segala sesuatu yang tidak terlihat, terdengar, dan terdeteksi oleh hamba-Nya. 

  

Kenapa kok kita harus mendoakan orang lain untuk bisa menyelesaikan masalah kita sendiri? Jawabannya adalah karena kalau kita berdoa untuk diri sendiri, akan ada banyak penghalang: dosa yang terlalu banyak dan amal kebaikan yang sangat sedikit. Tetapi berbeda halnya kalau kita mendoakan orang lain. Berdoa untuk orang lain sama sekali tidak ada batas penghalangnya.

 

Bahkan, malaikat rahmat tidak segan-segan mendoakan si pendoa, yakni kita sendiri, untuk mendapatkan hal serupa dari yang kita doakan untuk orang lain. Itulah sebabnya kenapa para guru, ulama, dan kiai kita sering mengajak umat Islam untuk saling berdoa satu sama lain. Saya pikir, di agama lain, juga menerapkan hal yang sama. Ya, saling mendoakan. 

 

Berbagai kemudahan dalam menggarap skripsi mulai terasa, saat awal-awal 2020. Terutama sejak Maret, awal Covid-19 melanda negeri ini dan harus ada karantina selama 14 hari. Semua harus dilakukan di rumah. Saat itu, tentu saja saya memanfaatkan waktu untuk menggarap skripsi. Maret, April, Mei. Tiga bulan inilah, masa-masa saya menggarap skripsi.

 

Memasuki Juni, keluarga saya dirundung kesedihan. Bapak harus melangsungkan operasi prostat. Di rumah sakit, baru kali itu saya melihat bapak kesakitan setelah sekian lama, bahkan sejak kecil, bapak adalah sosok yang benar-benar tangguh. Tetapi ketika itu, pascaoperasi terutama, saya dan dua orang kakak saya, bergantian melayani keperluan bapak. Di samping itu, masih di bulan yang sama, kakak ipar saya segera melahirkan. Sudah bulannya.

 

Tepat di hari ulang tahun saya, 6 Juni 2020, bapak keluar dari rumah sakit dan memilih untuk berobat jalan. Sementara seminggu setelahnya, 13 Juni 2020, keponakan saya lahir. Dia perempuan bernama Alenaya Cahaya Aksara, putri pertama dari Nisfu Syawaluddin Tsani dan Dwi Niar Damayanti.

 

Juni 2020, terdapat perasaan campur aduk. Antara sedih, senang, haru, gembira, dan was-was. Pasalnya, pada 24 Juni 2020, saya akan melangsungkan sidang skripsi setelah enam tahun kuliah. Tentu saja saya berhasil melewati masa-masa sulit ini dengan baik. Saya meyakini bahwa kesulitan akan selalu membersamai kemudahan. Sejak Juni ini, harapan yang semula hilang, mulai berangsur kembali.

 

Setelah bapak pulih, Alenaya lahir dengan sempurna, dan sidang skripsi tuntas dengan hasil memuaskan, tapi saya malah jadi bingung. Bingung harus kerja di mana. Ya, saya harus tetap mencari cara untuk bisa bertahan hidup. Bekerja maksudnya, mencari penghasilan. Usai sidang skripsi, sekira di akhir Juni, saya menetapkan dua pilihan pekerjaan ke depan.

 

Salah satu dari dua pilihan itu adalah saya berencana melamar untuk menjadi wartawan nasional di NU Online. Toh sudah sejak 2017, saya menjadi kontributor warta di sana. Pada Maret 2018, tulisan-tulisan saya di NU Online sudah resmi diberi harga. Pikir saya, ketika nanti saya melamar di NU Online, saya sudah punya bekal cukup. Ditambah, saya menempuh kuliah dengan konsentrasi jurnalistik. Linier sekali, kan?

 

Tetapi sesungguhnya, saya sudah sejak lama punya prinsip ingin bekerja (atau menghasilkan uang) tanpa melamar dan tanpa lampiran ijazah, SKCK, kartu kuning, surat lamaran, CV. Selama satu bulan, sejak Juni, saya menimbang-nimbang prinsip itu. Haruskah tetap mempertahankan prinsip atau tidak? Saya gamang.

 

Pucuk dicinta ulam pun tiba.

 

Akhir Juli 2020, saya ditelpon oleh salah seorang redaktur NU Online. Diminta untuk menghadap pemimpin redaksi (pemred), dan diajak untuk bergabung, membantu keredaksian nasional NU Online. Wah, saya senang bukan kepalang. Impian saya menjadi wartawan NU akhirnya terwujud. Saya iyakan seketika itu. Kemudian bertemu pemred pada awal Agustus 2020. Terhitung sejak 10 Agustus 2020, saya mulai bekerja untuk NU Online.

 

Bangga dan bahagia sekali, bisa ikut serta menggawangi medianya ormas Islam terbesar di negeri ini. Meski penghasilan yang diperoleh tidak sebesar gaji karyawan pabrik, tetapi setidaknya saya memiliki kepuasan tersendiri karena bekerja sesuai dengan passion dan keterampilan diri sendiri. Di saat orang-orang sulit mendapatkan pekerjaan akibat pandemi, saya justru ditawari kerja yang sesuai dengan keahlian sendiri, tanpa persyaratan apa pun, kecuali pengalaman menulis jurnalistik yang sudah dilakukan sejak 2017. Menarik bukan?

 

Ya, saya bangga karena sama sekali tidak bergantung hidup pada orang lain. Murni, saya bergantung hidup pada keterampilan menulis, terutama keahlian jurnalistik. Melakukan wawancara, menentukan sudut berita, judul, dan menyajikan informasi dengan bahasa yang enak dibaca.

 

Nah sekarang di tahun 2021 ini, waktunya nazar itu perlahan diwujudkan. Di web pribadi saya ini, aruelgete.id, saya akan memberikan berbagai materi, tips, dan pemahaman tentang kebahasaan dalam tradisi menulis. Sebab, bahasa lisan dengan bahasa tulisan tentu saja beda.

 

Saya terkadang geregetan melihat orang yang menulis tapi kerapkali menabrak kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Karena itu, agar menjadi amal jariyah saya, ke depan akan disajikan berbagai pemahaman tentang cara membuat supaya tulisan kita enak dibaca. Nantikan tulisan-tulisan berikutnya.


Wallahua'lam...

Rabu, 03 Februari 2021

Rindu Embun Pagi

 

Ilustrasi. Sumber foto: aswirusani.com


Oleh: Silvi Insani Zein


Redup redup mata memandang

melihat sosok yang sebenarnya tak pernah kupandang


Inginku bertanya, siapakah dirinya? 


Tuhan..

Makhluk ciptaanmu amatlah menawan

sampai tiada kata bosan 

kabut pagi pun bukan halangan 


Diam diam, sering kali kucuri pandang

menatapnya dengan tenang


Senyum sapa menyapa

tak ada lagi sebuah kata 

terdiam, tanpa bicara menyambutnya


Sampai pada saatnya, uluran jemari-Mu mengait erat tanganku

dalam hati kubicara, "Ah, Ya Tuhan, ini mimpi atau tidak sebenarnya?"

seketika tak sengaja mengukir senyumku

sampai pipiku merona

 

Kalau saja seperti itu, inginku terus-menerus rasanya

lebih baik, kumemilih jatuh saja

agar kembali kurasakan hangat tangannya


Akhir pertemuan memanglah sulit

perasaan menahan sakit

Karena belum tentu ku bisa kembali merasa sweet


Dari sekian banyak harapan

hanya satu yang ingin kembali terulang, yaitu sebuah pertemuan

dengan suasana yang kembali menenangkan

Jumat, 11 Desember 2020

Gus Dur dan Ekonomi Kerakyatan


Sumber gambar: alif.id


Salah satu tujuan dan cita-cita Indonesia merdeka adalah untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat. Dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 disebut dengan istilah masyarakat adil dan makmur. 


Bagi KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, dalam buku ‘Islamku, Islam Anda, Islam Kita: Agama, Masyarakat, Negara, Demokrasi’ (2006) upaya yang dicita-citakan dalam UUD 1945 itu memiliki persamaan dengan prinsip maslahah dalam Islam.


Prinsip itu diambilnya dari sebuah kaidah yang sangat populer di kalangan Nahdlatul Ulama (NU) yakni tasharruful imam  ala raiyyah manutun bil maslahah. Artinya, kebijaksanaan dan tindakan seorang pemimpin harus bertautan dengan kesejahteraan rakyat. 


“Maka jelas bahwa upaya mewujudkan kesejahteraan rakyat menjadi bagian dari integral perjuangan Islam,” kata Gus Dur.


Dalam  Islam, lanjut Gus Dur, masalah kecukupan jelas ada aturannya. Salah satunya adalah mencapai perolehan yang tinggi tanpa mencegah orang lain mencapai hal sama. Kesamaan hak itulah yang menurut Gus Dur perlu mendapat tekanan. 


Sebab dalam konsep kapitalisme klasik tidak pernah dipikirkan tentang gairah mencapai hal yang maksimal. Namun senantiasa manusia lain justru menjadi korban. Hal tersebut merupakan pemaknaan Gus Dur dari Surat At-Takatsur ayat 1-2. 


Menurut Gus Dur, hal paling pertama yang mesti dilakukan dalam upaya mewujudkan kesejahteraan rakyat adalah perubahan orientasi ekonomi yang terletak pada dua bidang utama. 


Pertama, pertolongan kepada Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang dilakukan dengan pemberian kredit dengan bunga rendah sebagai modal pembentukan UKM untuk mengatasi kemiskinan. 


Kedua, langkah pertolongan kepada UKM itu harus disertai dengan pengawasan yang ketat. Hal tersebut mesti dilakukan di tengah lika-liku birokrasi yang memang merupakan hambatan tersendiri bagi upaya memberikan kredit murah untuk menolong UKM. 


Selain itu, Gus Dur juga menekankan pada tiga hal yang lain. Di antaranya peningkatan pendapatan masyarakat untuk menciptakan kemampuan daya beli yang besar, pengerahan industri guna menghidupkan kembali penyediaan barang untuk pasaran dalam negeri, dan independensi ekonomi dari yang sebelumnya bergantung pada tata niaga internasional.


Lebih jauh Gus Dur mengatakan bahwa ekonomi adalah pemenuhan kebutuhan manusia dan memiliki mekanismenya sendiri. Oleh karena itu, haruslah dirumuskan para ahli ekonom. Mereka harus mempertimbangkan kaitan perekonomian dengan hal-hal dalam kehidupan. Seperti politik, hukum, teknologi, pasar, agama. 


Selanjutnya menurut Gus Dur, perekonomian tidak pernah terlepas dari perdagangan atau transaksi. Baik di tingkat lokal, nasional, maupun internasional. Dengan kata lain, tidak ada tempat untuk memisahkan perekonomian dalam negeri degan perekonomian global.


“Oleh karenanya, globalisasi ekonomi merupakan suatu hal yang niscaya selagi menghilangkan sifat eksploitatif perusahaan-perusahaan besar atas perekonomian negara berkembang. Dengan pendekatan non-eksploitatif, tidak dibenarkan adanya perkembangan pasar tanpa campur tangan pemerintah, minimal untuk terjadinya eksplotasi itu sendiri,” tulis Gus Dur dalam buku Islamku, Islam Anda Islam Kita halaman 188-190.

Kamis, 10 Desember 2020

Gara-gara Humor, Gus Dur Masyhur di Negeri Abu Nawas


Sumber gambar: NU Online


Presiden Republik Indonesia keempat, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur merupakan sosok yang sangat dikenal dengan kelakar-kelakarnya. Dengan humor, ia dapat mengritik berbagai macam kebijakan pemerintah yang tidak berorientasi pada keadilan. 


Bahkan dalam sebuah kutipan yang sangat populer, Gus Dur pernah menyatakan bahwa perdamaian tanpa keadilan adalah ilusi. Melalui humor pula, Gus Dur dikenal dengan sosok yang cerdik dalam berbagai situasi dan kondisi.  


Gara-gara humor pun, Gus Dur sangat dikenal di Negeri seorang sufi cerdik bernama Abu Nawas. Saat ia berkuliah di Universitas Baghdad, Irak dan menjadi mahasiswa di sana, Gus Dur pernah mengeluarkan anekdot soal anjing dan kepala ikan.


Alkisah, Gus Dur bersama sepuluh temannya yang berasal dari Indonesia, Gus Dur menyewa sebuah rumah besar. Untuk menghemat waktu, mereka juga bergiliran memasak.


Ketika tiba giliran Gus Dur untuk memasak, menu yang disajikan selalu istimewa berupa jerohan yang terdiri dari ati ampela, paru, dan lainnya yang memang biasa dimakan di Indonesia. Namun ternyata makanan itu tidak biasa dikonsumsi oleh orang Irak. 


Teman-temannya menikmati saja apa yang disajikan Gus Dur dan tidak menanyakan bagaimana strategi mendapatkan makanan enak dan murah itu.


Suatu ketika aka nada rombongan tamu dari Indonesia. Untuk menyambutnya, para mahasiswa itu berencana membuat masakan istimewa dengan makanan seperti yang dibuat oleh Gus Dur. Maka pergilah salah seorang mahasiswa ke penjual daging untuk membeli jerohan-jerohan itu.


“Pak minta jerohan 10 biji,” kata salah seorang mahasiswa itu kepada pedagang.


“Oh ya, mana temanmu itu yang biasa minta daging-daging jerohan ini untuk makanan sepuluh ekor anjingnya?” tanya pedagang tersebut, menanyakan Gus Dur. 


“Hah?” mahasiswa itu kaget bukan kepalang bak disambar petir karena tak mengira bahwa Gus Dur akan memperlakukan teman-temannya sama dengan anjing untuk mendapatkan makanan itu secara cuma-cuma alias gratis.


Ia pun langsung buru-buru pulang dengan hati penuh amarah karena tak terima diperlakukan sama dengan anjing. Ia langsung dan tak segan-segan memarahi Gus Dur.


Dikutip dari Jurnal Kebudayaan dan Demokrasi Pesantren Ciganjur (2010), kelakar Gus Dur tersebut sangat memiliki kesan mendalam bagi Duta Besar Irak untuk Indonesia kala itu, Ismail Shaafiq Muhsin.


Bahkan humor Kepala Ikan dan Sepuluh Anjing itu, menjadikan Gus Dur sangat terkenal di Irak. Menurut Ismail, kini cerita tersebut menjadi kisah yang banyak diceritakan dan menjadi anekdot di mana-mana di Kota Baghdad. 


“Di Baghdad, memelihara satu ekor anjing saja adalah sebuah kerepotan tersendiri. Lalu bagaimana ada seorang mahasiswa asing (Gus Dur, maksudnya) bisa memelihara sepuluh ekor anjing? Karena itulah seorang pemilik warung bersimpati kepada Gus Dur yang ingin membeli ikan sehingga dengan senang hati dia memberikan kepala ikan secara gratis kepada Gus Dur secara berkala,” katanya.