Senin, 06 Juni 2022

6 Juni Ke-28: Membangun Harapan-Harapan Besar

 


Foto: Syakir NF 


Di dalam setiap perjalanan hidup ini, saya yakin, kita tidak pernah tahu ihwal apa yang terjadi detik demi detik, menit per menit, hingga bulan ke bulan, bahkan dari tahun ke tahun. 


Juni datang berkali-kali setiap tahunnya. Hari ini, saya genap berusia 28 tahun. Pada 6 Juni Ke-28 tahun ini, saya merasa sudah saatnya untuk mulai menyusun secara serius berbagai rencana ke depan. Inilah waktunya untuk membangun harapan-harapan besar dalam hidup yang selama ini diinginkan. 


Memang harus saya akui, mungkin juga kita semua, bahwa hidup ini selalu mengalir begitu saja. Rencana-rencana yang sudah kita susun, tak jarang harus dihadapkan pada berbagai rintangan yang sangat sulit untuk dilalui. Namun, semua harus dengan sungguh-sungguh bisa kita hadapi dan lewati.


Mulai saat ini, hingga Juni ke-29 dan Juni-Juni selanjutnya, sampai entah kapan, saya selalu memiliki target. Semua target itu adalah harapan-harapan besar yang harus segera diwujudkan. Sebab, saya masih ingat pesan para guru, bahwa hidup kita saat ini harus lebih baik dari sebelumnya. Tidak boleh sama, karena akan membuat kita tak berdaya di hadapan waktu. 


Waktu terus bergulir, tanpa henti, dan tidak ada yang bisa menghentikannya sedetik pun, bahkan memutarnya kembali. Karenanya, mungkin inilah saatnya saya untuk terus membersamai waktu yang diberikan agar tetap mampu berjalan, bahkan berlari mengejar perwujudan target dan harapan-harapan besar yang telah dicanangkan.


Tentu saja, saya tetap berpegang pada prinsip yang selalu ditanamkan oleh guru-guru saya, termasuk kedua orang tua di rumah. Mereka mengajarkan kepada saya untuk tidak menjadi penjilat bagi orang lain. Lebih dalam lagi, haram hukumnya untuk mengekor pada orang lain. Sebab itu akan menambah beban hidup kita, lantaran bakal terhitung sebagai utang budi. Bagi guru-guru saya itu, berutang budi pada orang lain, akan menambah beban yang tak berkesudahan. 


Utang budi cukup kepada orang tua dan guru-guru yang telah berjasa, dengan tanpa pamrih, membukakan cakrawala pengetahuan tentang cara menghadapi waktu, hari demi hari. Mereka itulah yang harus selalu kita taati dan ikuti. Sebab berkat mereka, hidup saya, dan mungkin kita, menjadi lebih baik dari hari-hari kemarin. 


Baca Juga: 6 Juni Ke-27


Selain kepada mereka, tidak boleh kita menaruh pengharapan yang besar. Lebih jauh, saya dilarang untuk bergantung kepada orang yang punya kepentingan politis, yang hanya akan menguntungkan dirinya dengan memanfaatkan potensi yang saya miliki. Saya punya potensi, tapi saya ingat pesan guru-guru dan orang tua saya, bahwa potensi itu harus ditempatkan pada profesionalitas kerja. 


Sebagai manusia, sebagaimana Sabda Nabi Muhammad, kita akan mendapatkan gelar sebagai sebaik-baiknya manusia jika mampu memberikan manfaat kepada manusia lain. Namun jika ada, sekali lagi jika ada, orang atau kelompok yang dengan sengaja memanfaatkan potensi yang kita miliki, tetapi diiringi dengan embel-embel khidmah (padahal demi kepentingan politis yang hanya menguntungkan satu pihak), maka orang atau kelompok ini harus segera dijauhi dari kehidupan kita.


Kira-kira begitulah prinsip yang sudah sangat tertanam di dalam jiwa dan pikiran saya. Prinsip ini pula yang akan terus saya bawa hingga bertemu dengan Juni-Juni berikutnya. Dengan kata lain, saya tidak akan mengubah prinsip ini. 


Mewujudkan harapan-harapan besar dengan cita-cita yang saat ini telah menjadi satu target, sungguh tidak mudah. Harapan-harapan besar itu mesti diikuti dengan ikhtiar-ikhtiar dan kerja keras. Saya meyakini hadits Nabi, barangsiapa bersungguh-sungguh maka dia akan memperoleh hasil yang selama ini diinginkan.


Pada 6 Juni ke-28 ini, saya sedang fokus menyusun rencana-rencana. Semoga rencana-rencana ini akan segera terwujud dan memperoleh hasil maksimal. Saya akan buktikan bahwa pada 6 Juni ke-29 tahun depan, rencana-rencana yang saat ini sedang saya susun akan berganti menjadi rencana-rencana lain untuk tahun-tahun berikutnya. 


Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak atas segala doa dan harapan yang dilangitkan kepada Allah untuk kelancaran hidup saya selama ini. Doa-doa itu adalah semacam stimulus untuk menggedor pintu langit agar segera memberikan jawaban atas berbagai hal yang hendak diwujudkan. Saya sangat merasa tidak bermakna jika tanpa doa-doa itu. Saya pun mendoakan hal sama. 


Semoga pada tahun-tahun berikutnya, hidup kita akan bermakna dan memiliki berbagai perwujudan atas harapan-harapan yang selama ini diinginkan. Aamiin.


Bekasi, 6 Juni 2022

Senin, 18 April 2022

Ramadhan Momentum Temukan Kesejatian Diri dan Tuhan

 

Ilustrasi. Sumber gambar: NU Online


Ramadhan sudah memasuki sepuluh hari kedua. Menjelang akhir-akhir Ramadhan seperti sekarang ini, hendaknya kita jadikan sebagai momentum yang tepat untuk menghiasi hari-hari dengan peningkatan kualitas ibadah untuk bekal sebelas bulan berikutnya.

 

Kita tidak akan bisa membawa bekal terbaik, apabila melewati Ramadhan dengan percuma. Untuk bisa mendapatkan bekal itu, kita perlu melakukan perenungan. Dari situlah, kita akan mengetahui dan menemukan kesejatian diri. Bahkan, kita juga akan menemukan dan merasakan kehadiran Tuhan di dalam diri.

 

Kita perlu menemukan hakikat kesejatian diri, sebelum merasakan kehadiran Tuhan. Siapakah diri kita ini sebenarnya? Jika di mata orang banyak, kita adalah sosok yang memiliki segudang atribusi dan penghormatan, maka bagaimana Allah memandang kita? Kemuliaan di sisi Allah, hanyalah ketakwaan, bukan gelar dan atribusi keduniaan yang fana.

 

Dalam sebuah hadits yang sangat masyhur disebutkan, man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu (barangsiapa yang memahami hakikat kesejatian dirinya maka dia akan memahami Tuhannya). Poin penting dari hadits itu adalah bahwa pemahaman terhadap kesejatian diri menjadi pintu utama untuk memahami Tuhan. (KH Cholil Nafis, Menyingkap Tabir Puasa Ramadhan, 2015).

 

Imam Al-Ghazali mengklasifikasikan manusia ke dalam tiga sifat. Pertama, sifat bahimiyah atau kebinatangan. Binatang memiliki tugas hidup, makan, minum, tidur, berhubungan seks dengan lawan jenisnya, dan bertengkar dengan sesamanya. Tugas-tugas hidup binatang selalu terkait dengan unsur jasmaniah yang dibantu oleh daya instingnya.

 

Jika seseorang dalam kesehariannya hanya mampu melakukan aktivitas sebagaimana yang dilakukan oleh binatang, maka hidupnya tak berbeda sama sekali seperti binatang. Dengan kata lain, tidak memiliki makna apa pun kecuali hanya kesenangan material.

 

Kedua, sifat syaithaniyah (setan). Para ulama menggambarkan setan adalah makhluk yang memiliki pekerjaan sehari-hari dengan menipu, dusta, fitnah, mengadu domba, dan hasad. Jika kebiasaan binatang yang bersifat fisik, maka perilaku setan berada pada wilayah perilaku abstrak non-fisik.

 

Pertanyaan kemudian muncul, apakah kita selama ini telah melakukan atau bahkan membiasakan diri seperti perilaku-perilaku itu? Jika iya, maka kita bisa disebut sebagai orang yang berperilaku seperti setan.

 

Ketiga, sifat malakutiyah (malaikat). Malaikat adalah makhluk Allah yang paling taat. Mereka tidak dikaruniai nafsu. Tugas utama mereka adalah menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Malaikat adalah makhluk spiritual yang terbuat dari unsur-unsur kebaikan.

 

Karena itu, apabila manusia telah mampu bersikap dan berperilaku laksana malaikat maka akan terpancar dalam hidupnya sebagai sosok yang memiliki cahaya kebaikan dan spiritual yang tinggi.

 

Dari ketiga klasifikasi manusia yang digambarkan Imam Ghazali itu, lantas kita masuk ke dalam kategori mana? Dominan sifat kebinatangan, setan, malaikat, atau campuran dari ketiganya? Pertanyaan-pertanyaan ini penting sebagai renungan agar kita mampu menemukan kesejatian diri dan merasakan kehadiran Tuhan di dalam laku keseharian.

 

Psikolog Muslim seperti Ibnu Sina dan Ibnu Miskawaih menyebutkan bahwa di dalam diri manusia terdapat daya-daya jiwa. Setiap hari, daya-daya jiwa itu terus berdinamika untuk saling menguasai. Kekuatan akal, hati, dan nafsu akan saling mempengaruhi sehingga tergambar dalam sikap dan perilaku, termasuk membentuk dalam level keyakinan.

 

Kita, manusia, adalah makhluk Tuhan yang dikaruniai tiga kekuatan yakni akal, hati, dan nafsu. Hendaknya ketiga kekuatan itu kita jadikan sebagai modal penting untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.

 

Jika kita bisa memahami hakikat kesejatian diri sekaligus mampu mengendalikan kehendak nafsu yang cenderung pada unsur-unsur material (kejahatan atau kemaksiatan), maka kita akan menjadi diri yang bersih, suci, serta mampu teraktualisasi dalam sikap dan perilaku terpuji.

 

Kiai Cholil Nafis dalam buku Menyingkap Tabir Puasa Ramadhan (2015) mengungkapkan bahwa cara yang paling tepat untuk menemukan kesejatian diri dan Tuhan adalah saat seseorang mampu merenungi daya jiwa dalam keheningan. Lebih-lebih merenungi itu semua pada bulan Ramadhan yang penuh berkah ini.

Selasa, 12 April 2022

Ramadhan Menguji Keberagamaan Kita pada 11 Bulan Setelahnya

 

Ilustrasi. Sumber: NU Online


Tak terasa, Ramadhan sudah berjalan sepuluh hari. Fase rahmah atau kasih sayang Allah, akan berakhir. Selanjutnya berganti menjadi fase maghfirah (ampunan Allah) pada sepuluh hari kedua, dan fase dijauhkannya dari api neraka pada sepuluh hari yang terakhir nanti. 


Lalu sudahkah kita melakukan evaluasi diri tentang bagaimana ibadah kita selama sepuluh hari kemarin? Pantaskah kita mendapatkan kasih sayang Allah, ampunan, dan anugerah berupa dijauhkan dari api neraka? Bagaimana jika ibadah kita, ternyata, hanya penuh sungguh pada saat Ramadhan? Kemudian pada bulan-bulan berikutnya, tidak ada peningkatan yang berarti.


Itulah yang harus menjadi evaluasi bagi diri kita, karena kealpaan kita dan kelalaian kita dalam menjalankan keberagamaan pasca-Ramadhan. Padahal di satu sisi, kita sepakat bahwa Ramadhab adalah momen tepat untuk hijrah, berpindah dari keburukan menuju kebaikan; dari kemaksiatan menuju kesalehan; dari kemungkaran menuju ketaatan, sebagaimana inti tujuan puasa yang terdapat dalam QS Al-Baqarah 183-184.


Namun pada kenyataannya, seringkali momen Ramadhan ini menjadi sebatas pengulangan proses yang sama dari tahun ke tahun. Artinya, nyaris tidak ada pertambahan yang signifikan dalam kuantitas dan kualitas ibadah, bahkan soal akhlak dan wawasan keberagamaan.


Grafik peningkatan yang lumayan, hanya bisa dirasakan pada momen Ramadhan hingga tak lama setelah Idulfitri berlalu. Selebihnya, kita kembali menetapi kondisi keberagamaan yang seperti semula, biasa saja.  (KH Cholil Nafis, Menyingkap Tabir Puasa Ramadhan, 2015).


Dari sisi ibadah, misalnya, pada setiap Ramadhan, umat Islam mengalami peningkatan kuantitas jamaah salat di masjid dan musala, meski itu pun hanya terjadi pada awal-awal Ramadhan, sedangkan di akhir bulan nanti pasti tambah surut.


Secara pribadi, kuantitas dan kualitas ibadah tilawah dan tadarus Al-Qur'an juga meningkat. Target satu hari satu juz lebih mudah terlampaui. Pengikut berbagai kajian bertema keislaman pun menjadi ramai, dari yang biasanya harus diseret-seret, tetapi pada bulan Ramadhan justru menjadi sangat rajin dan jamaah datang dari berbagai tempat; tanpa diminta. 


Seharusnya pemahaman keberagamaan tentang fikih, akhlak, dan ilmu-ilmu Al-Qur'an serta keislaman meningkat. Berangkat dari hal ini, sudah pernahkah kita menguji sejauh mana diri ini mengalami peningkatan kualitas pemahaman, pelaksanaan ibadah serta sikap beragama, terutama setelah selesai hingga menuju Ramadhan berikutnya?


Kemudian dari segi ibadah, misalnya, sejauh mana kita mempertahankan, bahkan meningkatkan tradisi Ramadhan selepas Idulfitri? Berapa lama kita bertahan dengan ibadah salat malam (qiyamul-lail) dalam satu pekan, di luar Ramadhan? Berapa target membaca Al-Qur'an yang sanggup kita kejar di hari-hari biasa? Berapa kali dalam sepekan, kita menyempatkan diri datang di forum-forum kajian keislaman?


Lalu dari segi fikih, berapa persen dari pemahaman fikih ibadah dan muamalat yang sanggup kita pertahankan dan tingkatkan selepas Ramadhan? Masihkah kita memburu keutamaan ibadah dan muamalah dengan mengambil fikih yang lebih berhati-hati, ataukah kita kembali mengambil 'yang mudahnya saja' karena kembali berhadapan dengan kesibukan yang bersifat duniawi?


Evaluasi yang berikutnya adalah tentang akhlak dan sikap keberagamaan kita. Secara substansi, Ramadhan mengarahkan kita untuk menjadi lebih takwa, meningkatkan kadar kebaikan akhlak dan sikap, memberi semangat untuk memperbaiki akhlak dan sikap keberagamaan. 


Ramadhan, selama satu bulan penuh, mengajarkan kita sebagai umat Islam untuk memiliki sikap kedermawanan, toleran, memperpanjang silaturahim, berbuat baik kepada orang tua, dan memuliakan tetangga. Ramadhan secara umum mengajarkan kita lebih lembut dan menyebarkan banyak pesan damai kepada umat.


Lantas saat Ramadhan berlalu, masihkah sikap dan perilaku itu terpelihara, bahkan mendarah daging, dan melekat seutuhnya pada diri kita?  Iman memang bisa naik dan turun, tetapi yang paling penting adalah niat dan tindakan untuk meningkatkan atau minimal mempertahankannya. 


Jangan sampai terjadi benturan-benturan setelah Ramadhan yang membuat kita kembali stagnan dengan dalih iman yang fluktuatif. Semoga kita termasuk orang-orang yang dengan sepenuh kesadaran memilih menjadi lebih baik kapanpun dan dimanapun, bukan berdalih wajar iman turun karena Ramadhan telah berlalu.


Semoga seluruh ibadah dan aktivitas muamalah kita pada Ramadhan tahun ini yang sudah baik, bisa terus dipertahankan, bahkan ditingkatkan sesudahnya. Sebab pengujian kadar keberagamaan tidak harus terhenti hanya di bulan Ramadhan, tetapi akan tetap berlangsung seumur hidup.

Senin, 11 April 2022

Puasa Ramadhan Pertajam Kepekaan Sosial

 

Ilustrasi. Sumber: NU Online


Setiap Ramadhan, umat Islam tidak hanya disibukkan dengan ibadah-ibadah yang bersifat ritual, tetapi juga ibadah sosial. Peribadahan ritual tentu saja menjadi meningkat karena ada jaminan ganjaran dari Allah. Ibadah ritual yang bersifat wajib, pahalanya akan dilipatgandakan. Sementara ibadah sunnah, akan dihitung sebagaimana pahala ibadah wajib. 


Fenomena yang selalu tampak saban Ramadhan di antaranya adalah ruang-ruang masjid dan mushala yang penuh, kegiatan tadarus Al-Qur’an (baik dilakukan secara sendiri maupun berjamaah), dan ibadah-ibadah sunnah lainnya. 


Tak hanya itu, umat Islam pun memanfaatkan kemurahan Allah dengan menjalankan ibadah sosial seperti santunan anak yatim, berbagi takjil berbuka puasa dan makanan santap sahur di jalan, hingga bersedekah setiap hari sepanjang Ramadhan. 


Hal tersebut membuktikan bahwa Ramadhan tidak hanya sebagai bulan untuk berpuasa menahan makan dan minum serta meningkatkan ibadah ritual di sisi Allah, tetapi puasa Ramadhan juga mengandung pesan sosial yang luhur. 


Saat menjalankan puasa Ramadhan, umat Islam hendaknya menjalankan ibadah yang berorientasi vertikal (teosentris/hablumminallah) sekaligus horizontal (antroposentris/hablumminannas). Sebab emandang bahwa puasa Ramadhan hanya ibadah yang bersifat teosentris, yakni pahala bagi yang menjalankan dan dosa bagi yang meninggalkan, adalah sebuah pemaknaan yang sempit. 


Ciri pemahaman yang berkutat pada nalar teologis semata yakni melakukan pemusatan atas segala aktivitas dan persoalan kepada Tuhan, tanpa menghiraukan harkat dan martabat manusia serta problem-problem kemanusiaan. 


Sebab, memang harus ada keseimbangan antara aspek hablumminallah dan hablumminannas dari seluruh kegiatan yang kita lakukan. Melalui ibadah puasa Ramadhan, seorang Muslim mesti berharap agar hubungan dengan Allah serta hubungan dengan manusia (dan lingkungannya) terjalin secara baik. 


Jika tidak terjalin secara baik pada salah satu di antara kedua hubungan tersebut, maka pesan puasa Ramadhan terasa pincang dan berakibat mendisorientasi nilai luhur agama Islam. Karena pemahaman yang tidak utuh hanya akan menjadikan agama sebagai candu masyarakat. Artinya, agama hanya memberi ‘iming-iming’ pahala dan surga tanpa terlibat dalam dimensi kemanusiaan. 


Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Cholil Nafis dalam buku Menyingkap Tabir Puasa Ramadhan (2015) menegaskan, agama hadir untuk mengangkat harkat, martabat, serta membela hak asasi manusia (HAM). Karena itu, agama tidak bisa diam ketika melihat realitas sosial yang timpang. 


Melalui puasa Ramadhan, umat Islam akan mendapatkan pendidikan dan pelatihan untuk mempertajam kepekaan sosial di tengah kehidupan masyarakat. Setidaknya, terdapat tiga poin penting yang akan didapat seorang Muslim ketika sungguh-sungguh menjalankan puasa Ramadhan. (KH Cholil Nafis, Menyingkap Tabir Puasa Ramadhan, 2015: 141-142).


Pertama, umat Islam akan terlatih untuk berempati pada manusia lainnya. Empati itu bukan karena sama-sama lapar dan haus tetapi terkait dengan setiap derita kemanusiaan. Dimensi kemanusiaan ini menjadi bagian terpenting yang perlu diupayakan dan disebarluaskan oleh umat beragama, tak terkecuali Muslim. 


Saling menghormati, toleransi, hidup damai, harmonis, dan ramah menjadi bagian terpenting dari kehidupan sosial-keagamaan. Jika demikian, agama diharapkan lebih mencerminkan dimensi kemanusiaan daripada selalu terbelit simbolisme ritual. 


Kedua, puasa Ramadhan dapat mengikis egoisme dan menumbuhkan sikap kebersamaan. Dalam perspektif Islam, kebersamaan merupakan makna hidup yang sejati. Karena itu, setiap individu harus menjadikan orang lain seperti dirinya sendiri.


Apabila ada orang yang tidak betah dalam menjalani hidup yang penuh dengan penderitaan, maka setiap Muslim harus berempati dan mencari solusi untuk melepaskan mereka dari jerat penderitaan. 


Ketiga, puasa Ramadhan menggugah kesadaran progresif dalam beragama untuk keluar dari belenggu menuju pembebasan. Orang yang sedang berpuasa, secara naluriah, tidak akan merasa tega ketika melihat tetangganya kelaparan. Inilah salah satu upaya pembebasan dari belenggu rantai kemiskinan. 


Pembebasan yang dimaksud berarti pembebasan dari segala belenggu dan kooptasi, serta pembebasan untuk cita-cita luhur kemanusiaan. Jelaslah, puasa bukan hanya sekadar ritual yang bersifat teosentris, tetapi harus ikut menumbuhkan kesadaran untuk melakukan amaliyah agama secara antroposentris. 


Misi kemanusiaan seperti ini, telah diungkapkan Nabi Muhammad jauh-jauh hari. Rasulullah menyebut Ramadhan sebagai bulan solidaritas atau bulan kepekaan sosial (syahr al-muwasat). Hal ini tercermin dari anjuran Nabi untuk memberi makan berbuka puasa, sebagaimana hadits yang diriwayatkan Imam Baihaqi dan Ibnu Hibban: 


من فطر فيه صائما كان مغفرة لذنوبه ،  وعتق رقبته من النار ،  وكان له مثل أجره من غير أن ينتقص من أجره شيئ ،  ليس كلنا نجد ما يفطر الصائم!  فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم:  يعطي الله هذا الثواب من فطر صائما على تمرة ،  أو شربة ماء أو مذقة لبن


Artinya, “Barangsiapa memberikan makanan berbuka puasa kepada orang yang berpuasa maka hal itu dapat menjadi tebusan atas dosa-dosanya dan pembebasan dirinya dari api neraka. Ia juga memperoleh pahala seperti pahala orang yang berpuasa itu, tidak berkurang pahalanya sedikit pun.” 


“Tidak semua dari kami memiliki kemampuan untuk memberikan makan kepada orang yang berpuasa,” kata salah seorang sahabat, menanggapi ucapan Nabi Muhammad tersebut. 


“Allah telah menyediakan pahala besar untuk kalian. Apakah kalian tidak sanggup menyediakan buka walau hanya sebutir kurma, segelas air putih, atau secangkir susu?” jawab Rasulullah. Setelah itu, Rasulullah menegaskan kepada para sahabat bahwa kepedulian kepada orang yang berpuasa dapat membuat seseorang meraih rahmat dan ampunan dari Allah. 


Dari kisah tersebut, sangat jelas bahwa Islam menganjurkan seorang Muslim di bulan Ramadhan untuk berbagi kepada sesama, berapa pun jumlah atau nominalnya. Hal ini sebagai wujud solidaritas dan kepekaan sosial. Dengan demikian, puasa Ramadhan tidak hanya dapat meningkatkan hubungan kita kepada Allah semata, tetapi juga harus berimbas pada peningkatan kualitas terhadap kehidupan sosial di tengah masyarakat. 

Minggu, 10 April 2022

Tradisi Bukber, Sebuah Upaya Rekatkan Persaudaraan Kemanusiaan

 

Ilustrasi. Sumber: NU Online


Salah satu tradisi masyarakat Muslim Indonesia, terutama penduduk Muslim urban di perkotaan, di dalam menjalankan puasa Ramadhan adalah buka bersama (bukber). Tradisi ini menarik, karena di dalamnya terdapat nilai luhur yakni silaturahmi sebagai upaya merajut kerekatan sosial dan persaudaraan kemanusiaan.

 

Biasanya, bukber ini menjadi ajang reuni. Sahabat-sahabat yang sudah lama tak jumpa, melalui bukber pada Ramadhan ini, menjadi rekat kembali hubungan emosional setelah jarak dan waktu memisahkan.

 

Namun, fenomena bukber ini akan menjadi masalah ketika justru meninggalkan kewajiban shalat maghrib, isya, dan shalat sunnah tarawih. Biasanya, kelompok orang yang menggelar bukber ini menjadi lupa waktu lantaran terlalu asik bertukar informasi, bercanda-ria, dan melepas rindu setelah sekian lama tidak bertemu.

 

Namun, akan berbeda ceritanya jika bukber ini dilaksanakan dengan membawa misi sosial. Misalnya bukber di tempat-tempat panti sosial yang dimaksudkan untuk berbagi rezeki, tali asih, sedekah, serta ikut merasakan kehidupan orang yang kurang beruntung secara ekonomi.

 

Meski acara bukber seperti tradisi yang terjadi pada masyarakat Muslim di Indonesia ini tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah, tetapi nilai dan spiritnya telah dianjurkan melalui sebuah hadits. Suatu ketika, Nabi pernah menganjurkan kepada para sahabat untuk memberi makan kepada orang yang sedang berpuasa.

 

من فطر فيه صائما كان مغفرة لذنوبه ،  وعتق رقبته من النار ،  وكان له مثل أجره من غير أن ينتقص من أجره شيئ ،  ليس كلنا نجد ما يفطر الصائم!  فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم:  يعطي الله هذا الثواب من فطر صائما على تمرة ،  أو شربة ماء أو مذقة لبن

 

Artinya, “Barangsiapa memberikan makanan berbuka puasa kepada orang yang berpuasa maka hal itu dapat menjadi tebusan atas dosa-dosanya dan pembebasan dirinya dari api neraka. Ia juga memperoleh pahala seperti pahala orang yang berpuasa itu, tidak berkurang pahalanya sedikit pun.”

 

“Tidak semua dari kami memiliki kemampuan untuk memberikan makan kepada orang yang berpuasa,” kata salah seorang sahabat, menanggapi ucapan Nabi Muhammad tersebut.

 

“Allah telah menyediakan pahala besar untuk kalian. Apakah kalian tidak sanggup menyediakan buka walau hanya sebutir kurma, segelas air putih, atau secangkir susu?” jawab Rasulullah. Setelah itu, Rasulullah menegaskan kepada para sahabat bahwa kepedulian kepada orang yang berpuasa dapat membuat seseorang meraih rahmat dan ampunan dari Allah.

 

Memang, silaturahmi dan ikatan persaudaraan sangat terasa dengan tradisi bukber di bulan Ramadhan karena dapat menghadirkan suasana tenang dan rasa kepedulian terhadap sesama manusia. Terasa tenang karena semua Muslim diwajibkan berpuasa pada hari dan waktu yang sama selama satu bulan penuh.

 

Sementara rasa kepedulian dan persaudaraan juga sangat menyentuh pada Ramadhan, karena pada hakikatnya kita sedang menjalankan terapi diri dan merasakan kepedihan yang dialami oleh orang lain, saudara-saudara kita yang kurang beruntung.

 

Efek sosial dari ibadah puasa adalah merasakan penderitaan orang yang berkekurangan dan kepedihan orang-orang fakir tanpa melalui kata-kata atau wejangan. Namun rasa itu digugah oleh jeritan perut dan bunyi usus.

 

Sebab, seringkali orang yang berkecukupan tidak peduli kepada orang tidak mampu karena mengira semua orang seperti dirinya. Puasa adalah cara Allah untuk menyetarakan dan memaksa umat Islam untuk merasakan pedihnya lapar.

 

Jika puasa dapat membangkitkan persamaan antara semua umat Islam untuk meninggalkan kebutuhan raga selama Ramadhan tentunya dapat mengobati rasa sakit dan putus asa orang-orang yang tidak mampu. Sebab saat itu merasa kedudukan yang sama antara yang kaya dengan yang miskin dalam menggapai ridha Allah. (KH Cholil Nafis, Menyingkap Tabir Puasa Ramadhan, 2015).

 

Puasa dapat melahirkan tenggang rasa antarsesama. Secara nyata dan langsung merasakan segala yang dirasakan oleh orang lain tanpa dibatasi oleh strata atau status sosial. Puasa mencerminkan persatuan umat Islam dengan amal yang dilakukan secara bersama, dengan berpuasa di siang hari dan shalat tarawih berjamaah di malam hari.

 

Kepedihan yang dialami bersama dapat melahirkan kerekatan dan kasih sayang. Berikutnya, kasih sayang itulah yang kelak akan menumbuhkan rasa keadilan.