Senin, 06 Juni 2022

6 Juni Ke-28: Membangun Harapan-Harapan Besar

 


Foto: Syakir NF 


Di dalam setiap perjalanan hidup ini, saya yakin, kita tidak pernah tahu ihwal apa yang terjadi detik demi detik, menit per menit, hingga bulan ke bulan, bahkan dari tahun ke tahun. 


Juni datang berkali-kali setiap tahunnya. Hari ini, saya genap berusia 28 tahun. Pada 6 Juni Ke-28 tahun ini, saya merasa sudah saatnya untuk mulai menyusun secara serius berbagai rencana ke depan. Inilah waktunya untuk membangun harapan-harapan besar dalam hidup yang selama ini diinginkan. 


Memang harus saya akui, mungkin juga kita semua, bahwa hidup ini selalu mengalir begitu saja. Rencana-rencana yang sudah kita susun, tak jarang harus dihadapkan pada berbagai rintangan yang sangat sulit untuk dilalui. Namun, semua harus dengan sungguh-sungguh bisa kita hadapi dan lewati.


Mulai saat ini, hingga Juni ke-29 dan Juni-Juni selanjutnya, sampai entah kapan, saya selalu memiliki target. Semua target itu adalah harapan-harapan besar yang harus segera diwujudkan. Sebab, saya masih ingat pesan para guru, bahwa hidup kita saat ini harus lebih baik dari sebelumnya. Tidak boleh sama, karena akan membuat kita tak berdaya di hadapan waktu. 


Waktu terus bergulir, tanpa henti, dan tidak ada yang bisa menghentikannya sedetik pun, bahkan memutarnya kembali. Karenanya, mungkin inilah saatnya saya untuk terus membersamai waktu yang diberikan agar tetap mampu berjalan, bahkan berlari mengejar perwujudan target dan harapan-harapan besar yang telah dicanangkan.


Tentu saja, saya tetap berpegang pada prinsip yang selalu ditanamkan oleh guru-guru saya, termasuk kedua orang tua di rumah. Mereka mengajarkan kepada saya untuk tidak menjadi penjilat bagi orang lain. Lebih dalam lagi, haram hukumnya untuk mengekor pada orang lain. Sebab itu akan menambah beban hidup kita, lantaran bakal terhitung sebagai utang budi. Bagi guru-guru saya itu, berutang budi pada orang lain, akan menambah beban yang tak berkesudahan. 


Utang budi cukup kepada orang tua dan guru-guru yang telah berjasa, dengan tanpa pamrih, membukakan cakrawala pengetahuan tentang cara menghadapi waktu, hari demi hari. Mereka itulah yang harus selalu kita taati dan ikuti. Sebab berkat mereka, hidup saya, dan mungkin kita, menjadi lebih baik dari hari-hari kemarin. 


Baca Juga: 6 Juni Ke-27


Selain kepada mereka, tidak boleh kita menaruh pengharapan yang besar. Lebih jauh, saya dilarang untuk bergantung kepada orang yang punya kepentingan politis, yang hanya akan menguntungkan dirinya dengan memanfaatkan potensi yang saya miliki. Saya punya potensi, tapi saya ingat pesan guru-guru dan orang tua saya, bahwa potensi itu harus ditempatkan pada profesionalitas kerja. 


Sebagai manusia, sebagaimana Sabda Nabi Muhammad, kita akan mendapatkan gelar sebagai sebaik-baiknya manusia jika mampu memberikan manfaat kepada manusia lain. Namun jika ada, sekali lagi jika ada, orang atau kelompok yang dengan sengaja memanfaatkan potensi yang kita miliki, tetapi diiringi dengan embel-embel khidmah (padahal demi kepentingan politis yang hanya menguntungkan satu pihak), maka orang atau kelompok ini harus segera dijauhi dari kehidupan kita.


Kira-kira begitulah prinsip yang sudah sangat tertanam di dalam jiwa dan pikiran saya. Prinsip ini pula yang akan terus saya bawa hingga bertemu dengan Juni-Juni berikutnya. Dengan kata lain, saya tidak akan mengubah prinsip ini. 


Mewujudkan harapan-harapan besar dengan cita-cita yang saat ini telah menjadi satu target, sungguh tidak mudah. Harapan-harapan besar itu mesti diikuti dengan ikhtiar-ikhtiar dan kerja keras. Saya meyakini hadits Nabi, barangsiapa bersungguh-sungguh maka dia akan memperoleh hasil yang selama ini diinginkan.


Pada 6 Juni ke-28 ini, saya sedang fokus menyusun rencana-rencana. Semoga rencana-rencana ini akan segera terwujud dan memperoleh hasil maksimal. Saya akan buktikan bahwa pada 6 Juni ke-29 tahun depan, rencana-rencana yang saat ini sedang saya susun akan berganti menjadi rencana-rencana lain untuk tahun-tahun berikutnya. 


Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak atas segala doa dan harapan yang dilangitkan kepada Allah untuk kelancaran hidup saya selama ini. Doa-doa itu adalah semacam stimulus untuk menggedor pintu langit agar segera memberikan jawaban atas berbagai hal yang hendak diwujudkan. Saya sangat merasa tidak bermakna jika tanpa doa-doa itu. Saya pun mendoakan hal sama. 


Semoga pada tahun-tahun berikutnya, hidup kita akan bermakna dan memiliki berbagai perwujudan atas harapan-harapan yang selama ini diinginkan. Aamiin.


Bekasi, 6 Juni 2022

Senin, 18 April 2022

Ramadhan Momentum Temukan Kesejatian Diri dan Tuhan

 

Ilustrasi. Sumber gambar: NU Online


Ramadhan sudah memasuki sepuluh hari kedua. Menjelang akhir-akhir Ramadhan seperti sekarang ini, hendaknya kita jadikan sebagai momentum yang tepat untuk menghiasi hari-hari dengan peningkatan kualitas ibadah untuk bekal sebelas bulan berikutnya.

 

Kita tidak akan bisa membawa bekal terbaik, apabila melewati Ramadhan dengan percuma. Untuk bisa mendapatkan bekal itu, kita perlu melakukan perenungan. Dari situlah, kita akan mengetahui dan menemukan kesejatian diri. Bahkan, kita juga akan menemukan dan merasakan kehadiran Tuhan di dalam diri.

 

Kita perlu menemukan hakikat kesejatian diri, sebelum merasakan kehadiran Tuhan. Siapakah diri kita ini sebenarnya? Jika di mata orang banyak, kita adalah sosok yang memiliki segudang atribusi dan penghormatan, maka bagaimana Allah memandang kita? Kemuliaan di sisi Allah, hanyalah ketakwaan, bukan gelar dan atribusi keduniaan yang fana.

 

Dalam sebuah hadits yang sangat masyhur disebutkan, man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu (barangsiapa yang memahami hakikat kesejatian dirinya maka dia akan memahami Tuhannya). Poin penting dari hadits itu adalah bahwa pemahaman terhadap kesejatian diri menjadi pintu utama untuk memahami Tuhan. (KH Cholil Nafis, Menyingkap Tabir Puasa Ramadhan, 2015).

 

Imam Al-Ghazali mengklasifikasikan manusia ke dalam tiga sifat. Pertama, sifat bahimiyah atau kebinatangan. Binatang memiliki tugas hidup, makan, minum, tidur, berhubungan seks dengan lawan jenisnya, dan bertengkar dengan sesamanya. Tugas-tugas hidup binatang selalu terkait dengan unsur jasmaniah yang dibantu oleh daya instingnya.

 

Jika seseorang dalam kesehariannya hanya mampu melakukan aktivitas sebagaimana yang dilakukan oleh binatang, maka hidupnya tak berbeda sama sekali seperti binatang. Dengan kata lain, tidak memiliki makna apa pun kecuali hanya kesenangan material.

 

Kedua, sifat syaithaniyah (setan). Para ulama menggambarkan setan adalah makhluk yang memiliki pekerjaan sehari-hari dengan menipu, dusta, fitnah, mengadu domba, dan hasad. Jika kebiasaan binatang yang bersifat fisik, maka perilaku setan berada pada wilayah perilaku abstrak non-fisik.

 

Pertanyaan kemudian muncul, apakah kita selama ini telah melakukan atau bahkan membiasakan diri seperti perilaku-perilaku itu? Jika iya, maka kita bisa disebut sebagai orang yang berperilaku seperti setan.

 

Ketiga, sifat malakutiyah (malaikat). Malaikat adalah makhluk Allah yang paling taat. Mereka tidak dikaruniai nafsu. Tugas utama mereka adalah menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Malaikat adalah makhluk spiritual yang terbuat dari unsur-unsur kebaikan.

 

Karena itu, apabila manusia telah mampu bersikap dan berperilaku laksana malaikat maka akan terpancar dalam hidupnya sebagai sosok yang memiliki cahaya kebaikan dan spiritual yang tinggi.

 

Dari ketiga klasifikasi manusia yang digambarkan Imam Ghazali itu, lantas kita masuk ke dalam kategori mana? Dominan sifat kebinatangan, setan, malaikat, atau campuran dari ketiganya? Pertanyaan-pertanyaan ini penting sebagai renungan agar kita mampu menemukan kesejatian diri dan merasakan kehadiran Tuhan di dalam laku keseharian.

 

Psikolog Muslim seperti Ibnu Sina dan Ibnu Miskawaih menyebutkan bahwa di dalam diri manusia terdapat daya-daya jiwa. Setiap hari, daya-daya jiwa itu terus berdinamika untuk saling menguasai. Kekuatan akal, hati, dan nafsu akan saling mempengaruhi sehingga tergambar dalam sikap dan perilaku, termasuk membentuk dalam level keyakinan.

 

Kita, manusia, adalah makhluk Tuhan yang dikaruniai tiga kekuatan yakni akal, hati, dan nafsu. Hendaknya ketiga kekuatan itu kita jadikan sebagai modal penting untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.

 

Jika kita bisa memahami hakikat kesejatian diri sekaligus mampu mengendalikan kehendak nafsu yang cenderung pada unsur-unsur material (kejahatan atau kemaksiatan), maka kita akan menjadi diri yang bersih, suci, serta mampu teraktualisasi dalam sikap dan perilaku terpuji.

 

Kiai Cholil Nafis dalam buku Menyingkap Tabir Puasa Ramadhan (2015) mengungkapkan bahwa cara yang paling tepat untuk menemukan kesejatian diri dan Tuhan adalah saat seseorang mampu merenungi daya jiwa dalam keheningan. Lebih-lebih merenungi itu semua pada bulan Ramadhan yang penuh berkah ini.

Selasa, 12 April 2022

Ramadhan Menguji Keberagamaan Kita pada 11 Bulan Setelahnya

 

Ilustrasi. Sumber: NU Online


Tak terasa, Ramadhan sudah berjalan sepuluh hari. Fase rahmah atau kasih sayang Allah, akan berakhir. Selanjutnya berganti menjadi fase maghfirah (ampunan Allah) pada sepuluh hari kedua, dan fase dijauhkannya dari api neraka pada sepuluh hari yang terakhir nanti. 


Lalu sudahkah kita melakukan evaluasi diri tentang bagaimana ibadah kita selama sepuluh hari kemarin? Pantaskah kita mendapatkan kasih sayang Allah, ampunan, dan anugerah berupa dijauhkan dari api neraka? Bagaimana jika ibadah kita, ternyata, hanya penuh sungguh pada saat Ramadhan? Kemudian pada bulan-bulan berikutnya, tidak ada peningkatan yang berarti.


Itulah yang harus menjadi evaluasi bagi diri kita, karena kealpaan kita dan kelalaian kita dalam menjalankan keberagamaan pasca-Ramadhan. Padahal di satu sisi, kita sepakat bahwa Ramadhab adalah momen tepat untuk hijrah, berpindah dari keburukan menuju kebaikan; dari kemaksiatan menuju kesalehan; dari kemungkaran menuju ketaatan, sebagaimana inti tujuan puasa yang terdapat dalam QS Al-Baqarah 183-184.


Namun pada kenyataannya, seringkali momen Ramadhan ini menjadi sebatas pengulangan proses yang sama dari tahun ke tahun. Artinya, nyaris tidak ada pertambahan yang signifikan dalam kuantitas dan kualitas ibadah, bahkan soal akhlak dan wawasan keberagamaan.


Grafik peningkatan yang lumayan, hanya bisa dirasakan pada momen Ramadhan hingga tak lama setelah Idulfitri berlalu. Selebihnya, kita kembali menetapi kondisi keberagamaan yang seperti semula, biasa saja.  (KH Cholil Nafis, Menyingkap Tabir Puasa Ramadhan, 2015).


Dari sisi ibadah, misalnya, pada setiap Ramadhan, umat Islam mengalami peningkatan kuantitas jamaah salat di masjid dan musala, meski itu pun hanya terjadi pada awal-awal Ramadhan, sedangkan di akhir bulan nanti pasti tambah surut.


Secara pribadi, kuantitas dan kualitas ibadah tilawah dan tadarus Al-Qur'an juga meningkat. Target satu hari satu juz lebih mudah terlampaui. Pengikut berbagai kajian bertema keislaman pun menjadi ramai, dari yang biasanya harus diseret-seret, tetapi pada bulan Ramadhan justru menjadi sangat rajin dan jamaah datang dari berbagai tempat; tanpa diminta. 


Seharusnya pemahaman keberagamaan tentang fikih, akhlak, dan ilmu-ilmu Al-Qur'an serta keislaman meningkat. Berangkat dari hal ini, sudah pernahkah kita menguji sejauh mana diri ini mengalami peningkatan kualitas pemahaman, pelaksanaan ibadah serta sikap beragama, terutama setelah selesai hingga menuju Ramadhan berikutnya?


Kemudian dari segi ibadah, misalnya, sejauh mana kita mempertahankan, bahkan meningkatkan tradisi Ramadhan selepas Idulfitri? Berapa lama kita bertahan dengan ibadah salat malam (qiyamul-lail) dalam satu pekan, di luar Ramadhan? Berapa target membaca Al-Qur'an yang sanggup kita kejar di hari-hari biasa? Berapa kali dalam sepekan, kita menyempatkan diri datang di forum-forum kajian keislaman?


Lalu dari segi fikih, berapa persen dari pemahaman fikih ibadah dan muamalat yang sanggup kita pertahankan dan tingkatkan selepas Ramadhan? Masihkah kita memburu keutamaan ibadah dan muamalah dengan mengambil fikih yang lebih berhati-hati, ataukah kita kembali mengambil 'yang mudahnya saja' karena kembali berhadapan dengan kesibukan yang bersifat duniawi?


Evaluasi yang berikutnya adalah tentang akhlak dan sikap keberagamaan kita. Secara substansi, Ramadhan mengarahkan kita untuk menjadi lebih takwa, meningkatkan kadar kebaikan akhlak dan sikap, memberi semangat untuk memperbaiki akhlak dan sikap keberagamaan. 


Ramadhan, selama satu bulan penuh, mengajarkan kita sebagai umat Islam untuk memiliki sikap kedermawanan, toleran, memperpanjang silaturahim, berbuat baik kepada orang tua, dan memuliakan tetangga. Ramadhan secara umum mengajarkan kita lebih lembut dan menyebarkan banyak pesan damai kepada umat.


Lantas saat Ramadhan berlalu, masihkah sikap dan perilaku itu terpelihara, bahkan mendarah daging, dan melekat seutuhnya pada diri kita?  Iman memang bisa naik dan turun, tetapi yang paling penting adalah niat dan tindakan untuk meningkatkan atau minimal mempertahankannya. 


Jangan sampai terjadi benturan-benturan setelah Ramadhan yang membuat kita kembali stagnan dengan dalih iman yang fluktuatif. Semoga kita termasuk orang-orang yang dengan sepenuh kesadaran memilih menjadi lebih baik kapanpun dan dimanapun, bukan berdalih wajar iman turun karena Ramadhan telah berlalu.


Semoga seluruh ibadah dan aktivitas muamalah kita pada Ramadhan tahun ini yang sudah baik, bisa terus dipertahankan, bahkan ditingkatkan sesudahnya. Sebab pengujian kadar keberagamaan tidak harus terhenti hanya di bulan Ramadhan, tetapi akan tetap berlangsung seumur hidup.

Senin, 11 April 2022

Puasa Ramadhan Pertajam Kepekaan Sosial

 

Ilustrasi. Sumber: NU Online


Setiap Ramadhan, umat Islam tidak hanya disibukkan dengan ibadah-ibadah yang bersifat ritual, tetapi juga ibadah sosial. Peribadahan ritual tentu saja menjadi meningkat karena ada jaminan ganjaran dari Allah. Ibadah ritual yang bersifat wajib, pahalanya akan dilipatgandakan. Sementara ibadah sunnah, akan dihitung sebagaimana pahala ibadah wajib. 


Fenomena yang selalu tampak saban Ramadhan di antaranya adalah ruang-ruang masjid dan mushala yang penuh, kegiatan tadarus Al-Qur’an (baik dilakukan secara sendiri maupun berjamaah), dan ibadah-ibadah sunnah lainnya. 


Tak hanya itu, umat Islam pun memanfaatkan kemurahan Allah dengan menjalankan ibadah sosial seperti santunan anak yatim, berbagi takjil berbuka puasa dan makanan santap sahur di jalan, hingga bersedekah setiap hari sepanjang Ramadhan. 


Hal tersebut membuktikan bahwa Ramadhan tidak hanya sebagai bulan untuk berpuasa menahan makan dan minum serta meningkatkan ibadah ritual di sisi Allah, tetapi puasa Ramadhan juga mengandung pesan sosial yang luhur. 


Saat menjalankan puasa Ramadhan, umat Islam hendaknya menjalankan ibadah yang berorientasi vertikal (teosentris/hablumminallah) sekaligus horizontal (antroposentris/hablumminannas). Sebab emandang bahwa puasa Ramadhan hanya ibadah yang bersifat teosentris, yakni pahala bagi yang menjalankan dan dosa bagi yang meninggalkan, adalah sebuah pemaknaan yang sempit. 


Ciri pemahaman yang berkutat pada nalar teologis semata yakni melakukan pemusatan atas segala aktivitas dan persoalan kepada Tuhan, tanpa menghiraukan harkat dan martabat manusia serta problem-problem kemanusiaan. 


Sebab, memang harus ada keseimbangan antara aspek hablumminallah dan hablumminannas dari seluruh kegiatan yang kita lakukan. Melalui ibadah puasa Ramadhan, seorang Muslim mesti berharap agar hubungan dengan Allah serta hubungan dengan manusia (dan lingkungannya) terjalin secara baik. 


Jika tidak terjalin secara baik pada salah satu di antara kedua hubungan tersebut, maka pesan puasa Ramadhan terasa pincang dan berakibat mendisorientasi nilai luhur agama Islam. Karena pemahaman yang tidak utuh hanya akan menjadikan agama sebagai candu masyarakat. Artinya, agama hanya memberi ‘iming-iming’ pahala dan surga tanpa terlibat dalam dimensi kemanusiaan. 


Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Cholil Nafis dalam buku Menyingkap Tabir Puasa Ramadhan (2015) menegaskan, agama hadir untuk mengangkat harkat, martabat, serta membela hak asasi manusia (HAM). Karena itu, agama tidak bisa diam ketika melihat realitas sosial yang timpang. 


Melalui puasa Ramadhan, umat Islam akan mendapatkan pendidikan dan pelatihan untuk mempertajam kepekaan sosial di tengah kehidupan masyarakat. Setidaknya, terdapat tiga poin penting yang akan didapat seorang Muslim ketika sungguh-sungguh menjalankan puasa Ramadhan. (KH Cholil Nafis, Menyingkap Tabir Puasa Ramadhan, 2015: 141-142).


Pertama, umat Islam akan terlatih untuk berempati pada manusia lainnya. Empati itu bukan karena sama-sama lapar dan haus tetapi terkait dengan setiap derita kemanusiaan. Dimensi kemanusiaan ini menjadi bagian terpenting yang perlu diupayakan dan disebarluaskan oleh umat beragama, tak terkecuali Muslim. 


Saling menghormati, toleransi, hidup damai, harmonis, dan ramah menjadi bagian terpenting dari kehidupan sosial-keagamaan. Jika demikian, agama diharapkan lebih mencerminkan dimensi kemanusiaan daripada selalu terbelit simbolisme ritual. 


Kedua, puasa Ramadhan dapat mengikis egoisme dan menumbuhkan sikap kebersamaan. Dalam perspektif Islam, kebersamaan merupakan makna hidup yang sejati. Karena itu, setiap individu harus menjadikan orang lain seperti dirinya sendiri.


Apabila ada orang yang tidak betah dalam menjalani hidup yang penuh dengan penderitaan, maka setiap Muslim harus berempati dan mencari solusi untuk melepaskan mereka dari jerat penderitaan. 


Ketiga, puasa Ramadhan menggugah kesadaran progresif dalam beragama untuk keluar dari belenggu menuju pembebasan. Orang yang sedang berpuasa, secara naluriah, tidak akan merasa tega ketika melihat tetangganya kelaparan. Inilah salah satu upaya pembebasan dari belenggu rantai kemiskinan. 


Pembebasan yang dimaksud berarti pembebasan dari segala belenggu dan kooptasi, serta pembebasan untuk cita-cita luhur kemanusiaan. Jelaslah, puasa bukan hanya sekadar ritual yang bersifat teosentris, tetapi harus ikut menumbuhkan kesadaran untuk melakukan amaliyah agama secara antroposentris. 


Misi kemanusiaan seperti ini, telah diungkapkan Nabi Muhammad jauh-jauh hari. Rasulullah menyebut Ramadhan sebagai bulan solidaritas atau bulan kepekaan sosial (syahr al-muwasat). Hal ini tercermin dari anjuran Nabi untuk memberi makan berbuka puasa, sebagaimana hadits yang diriwayatkan Imam Baihaqi dan Ibnu Hibban: 


من فطر فيه صائما كان مغفرة لذنوبه ،  وعتق رقبته من النار ،  وكان له مثل أجره من غير أن ينتقص من أجره شيئ ،  ليس كلنا نجد ما يفطر الصائم!  فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم:  يعطي الله هذا الثواب من فطر صائما على تمرة ،  أو شربة ماء أو مذقة لبن


Artinya, “Barangsiapa memberikan makanan berbuka puasa kepada orang yang berpuasa maka hal itu dapat menjadi tebusan atas dosa-dosanya dan pembebasan dirinya dari api neraka. Ia juga memperoleh pahala seperti pahala orang yang berpuasa itu, tidak berkurang pahalanya sedikit pun.” 


“Tidak semua dari kami memiliki kemampuan untuk memberikan makan kepada orang yang berpuasa,” kata salah seorang sahabat, menanggapi ucapan Nabi Muhammad tersebut. 


“Allah telah menyediakan pahala besar untuk kalian. Apakah kalian tidak sanggup menyediakan buka walau hanya sebutir kurma, segelas air putih, atau secangkir susu?” jawab Rasulullah. Setelah itu, Rasulullah menegaskan kepada para sahabat bahwa kepedulian kepada orang yang berpuasa dapat membuat seseorang meraih rahmat dan ampunan dari Allah. 


Dari kisah tersebut, sangat jelas bahwa Islam menganjurkan seorang Muslim di bulan Ramadhan untuk berbagi kepada sesama, berapa pun jumlah atau nominalnya. Hal ini sebagai wujud solidaritas dan kepekaan sosial. Dengan demikian, puasa Ramadhan tidak hanya dapat meningkatkan hubungan kita kepada Allah semata, tetapi juga harus berimbas pada peningkatan kualitas terhadap kehidupan sosial di tengah masyarakat. 

Minggu, 10 April 2022

Tradisi Bukber, Sebuah Upaya Rekatkan Persaudaraan Kemanusiaan

 

Ilustrasi. Sumber: NU Online


Salah satu tradisi masyarakat Muslim Indonesia, terutama penduduk Muslim urban di perkotaan, di dalam menjalankan puasa Ramadhan adalah buka bersama (bukber). Tradisi ini menarik, karena di dalamnya terdapat nilai luhur yakni silaturahmi sebagai upaya merajut kerekatan sosial dan persaudaraan kemanusiaan.

 

Biasanya, bukber ini menjadi ajang reuni. Sahabat-sahabat yang sudah lama tak jumpa, melalui bukber pada Ramadhan ini, menjadi rekat kembali hubungan emosional setelah jarak dan waktu memisahkan.

 

Namun, fenomena bukber ini akan menjadi masalah ketika justru meninggalkan kewajiban shalat maghrib, isya, dan shalat sunnah tarawih. Biasanya, kelompok orang yang menggelar bukber ini menjadi lupa waktu lantaran terlalu asik bertukar informasi, bercanda-ria, dan melepas rindu setelah sekian lama tidak bertemu.

 

Namun, akan berbeda ceritanya jika bukber ini dilaksanakan dengan membawa misi sosial. Misalnya bukber di tempat-tempat panti sosial yang dimaksudkan untuk berbagi rezeki, tali asih, sedekah, serta ikut merasakan kehidupan orang yang kurang beruntung secara ekonomi.

 

Meski acara bukber seperti tradisi yang terjadi pada masyarakat Muslim di Indonesia ini tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah, tetapi nilai dan spiritnya telah dianjurkan melalui sebuah hadits. Suatu ketika, Nabi pernah menganjurkan kepada para sahabat untuk memberi makan kepada orang yang sedang berpuasa.

 

من فطر فيه صائما كان مغفرة لذنوبه ،  وعتق رقبته من النار ،  وكان له مثل أجره من غير أن ينتقص من أجره شيئ ،  ليس كلنا نجد ما يفطر الصائم!  فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم:  يعطي الله هذا الثواب من فطر صائما على تمرة ،  أو شربة ماء أو مذقة لبن

 

Artinya, “Barangsiapa memberikan makanan berbuka puasa kepada orang yang berpuasa maka hal itu dapat menjadi tebusan atas dosa-dosanya dan pembebasan dirinya dari api neraka. Ia juga memperoleh pahala seperti pahala orang yang berpuasa itu, tidak berkurang pahalanya sedikit pun.”

 

“Tidak semua dari kami memiliki kemampuan untuk memberikan makan kepada orang yang berpuasa,” kata salah seorang sahabat, menanggapi ucapan Nabi Muhammad tersebut.

 

“Allah telah menyediakan pahala besar untuk kalian. Apakah kalian tidak sanggup menyediakan buka walau hanya sebutir kurma, segelas air putih, atau secangkir susu?” jawab Rasulullah. Setelah itu, Rasulullah menegaskan kepada para sahabat bahwa kepedulian kepada orang yang berpuasa dapat membuat seseorang meraih rahmat dan ampunan dari Allah.

 

Memang, silaturahmi dan ikatan persaudaraan sangat terasa dengan tradisi bukber di bulan Ramadhan karena dapat menghadirkan suasana tenang dan rasa kepedulian terhadap sesama manusia. Terasa tenang karena semua Muslim diwajibkan berpuasa pada hari dan waktu yang sama selama satu bulan penuh.

 

Sementara rasa kepedulian dan persaudaraan juga sangat menyentuh pada Ramadhan, karena pada hakikatnya kita sedang menjalankan terapi diri dan merasakan kepedihan yang dialami oleh orang lain, saudara-saudara kita yang kurang beruntung.

 

Efek sosial dari ibadah puasa adalah merasakan penderitaan orang yang berkekurangan dan kepedihan orang-orang fakir tanpa melalui kata-kata atau wejangan. Namun rasa itu digugah oleh jeritan perut dan bunyi usus.

 

Sebab, seringkali orang yang berkecukupan tidak peduli kepada orang tidak mampu karena mengira semua orang seperti dirinya. Puasa adalah cara Allah untuk menyetarakan dan memaksa umat Islam untuk merasakan pedihnya lapar.

 

Jika puasa dapat membangkitkan persamaan antara semua umat Islam untuk meninggalkan kebutuhan raga selama Ramadhan tentunya dapat mengobati rasa sakit dan putus asa orang-orang yang tidak mampu. Sebab saat itu merasa kedudukan yang sama antara yang kaya dengan yang miskin dalam menggapai ridha Allah. (KH Cholil Nafis, Menyingkap Tabir Puasa Ramadhan, 2015).

 

Puasa dapat melahirkan tenggang rasa antarsesama. Secara nyata dan langsung merasakan segala yang dirasakan oleh orang lain tanpa dibatasi oleh strata atau status sosial. Puasa mencerminkan persatuan umat Islam dengan amal yang dilakukan secara bersama, dengan berpuasa di siang hari dan shalat tarawih berjamaah di malam hari.

 

Kepedihan yang dialami bersama dapat melahirkan kerekatan dan kasih sayang. Berikutnya, kasih sayang itulah yang kelak akan menumbuhkan rasa keadilan.

Kamis, 07 April 2022

Puasa Ramadhan Latih Kepedulian, Daya Juang Bangun Kesejahteraan

 


Ilustrasi. Sumber: NU Online


Saat menjalankan ibadah puasa, sebenarnya kita sedang mencoba merasakan kepedihan lapar, haus, dan dorongan syahwat. Ikut merasakan langsung penderitaan yang dialami oleh orang-orang yang berkekurangan adalah metode paling efektif untuk mengasah kepedulian sosial dan mau berkorban untuk kepentingan orang lain.


Pada Ramadhan ini, kita pun dianjurkan agar banyak bersedekah. Kita tahu bahwa Rasulullah adalah orang yang dermawan, dan lebih dermawan ketika masuk bulan Ramadhan.


Sedekah berasal dari kata shadaqah (benar) dan satu akar kata dengan shadaaqah (persahabatan). Artinya, orang yang ersedekah adalah mereka yang berlaku benar dan bersahabat. Ada dua makna sedekah, yaitu makna sedekah secara umum dan khusus.


Secara umum, segala yang diberikan untuk kebaikan adalah sedekah; seperti senyum dan kalimat santun. Bahkan memberi makan kepada hewan dan ikan adalah sedekah. Sementara secara khusus, sedekah adalah sesuatu yang dikeluarkan dari dirinya untuk menghilangkan kekikiran.


Al-Qur'an menyebut sedekah itu berarti zakat, infak, dan wakaf. Zakat adalah kadar minimal dari kewajiban harta yang dimiliki untuk berbagi dengan orang lain. Meski begitu, zakat bukan kedermawanan, tetapi kewajiban yang bertujuan untuk menyebarkan kesejahteraan. 


Sementara infak adalah pemberian untuk memenuhi kebutuhan yang menjadi tanggung jawab dan kewajiban; seperti belanja rumah tangga atau derma karena empati kepada yang lain dan biaya perjuangan.


Adapun wakaf adalah derma untuk kepentingan kemanusiaan jangka panjang. Sebab, benda wakaf tidak boleh dikonsumsi dan dihabiskan, tetapi harus dikelola oleh nazhir (pengelola) sehingga hasilnya dapat dimanfaatkan sesuai peruntukannya. Saat orang berwakaf berarti telah menyadari untuk memenuhi kepentingan umat yang hidup di dunia dan bekal untuk dirinya di alam baka selamanya.


Dalam tradisi Islam, Nabi Muhammad dan para sahabat tak pernah meninggalkan berwakaf. Wakaf bagaikan tradisi kedermawanan untuk kepentingan umat dalam jangka panjang. Sejarah Islam mencatat bahwa peradaban dan kemajuan banyak dibangun dengan basis wakaf. 



Universitas Al-Qurawiyin di Fes, Maroko yang didirikan pada tahun 245 H/859 M, misalnya. Kampus ini adalah universitas pertama dalam sejarah dan dibangun atas biaya wakaf. Ilmuan yang lahir dari sana di antaranya Ibnu Khaldun, Ibnu 'Arabi, Ibnu Maimun Al-Ghamari, dan Ibnu Ajrumi. Perpustakaan terbesar di zaman khalifah Al-Ma'mun juga dibiayai dari wakaf. 


Kemudian, Universitas Al-Azhar pun berdiri dan aktifitasnya berbasis wakaf. Bahkan pemerintah mesir pernah meminjam dana kepada Al-Azhar ketika kekurangan untuk menutupi belanja negara.


Sementara itu, di Indonesia popular digerakkan wakaf produktif. Wakaf ini tidak hanya berorientasi akhirat seperti kuburan dan masjid tetapi juga bernilai ekonomi. Ini paradigma baru perwakafan untuk mengembalikan arti wakaf yang sebenarnya. 


Contohnya, wakaf pertama yang dilakukan oleh Sayyidina Umar berupa kebun di Khaibar yakni lahan subur agrobisnis yang didermakan untuk kesejahteraan masyarakat, dengan cara dikelola dan hasilnya disalurkan untuk kesejahteraan masyarakat.


Wakaf adalah bentuk sedekah yang didorong oleh rasa kedemawanan untuk memenuhi kepentingan umat jangka panjang. Saat seseorang mengeluarkan wakaf maka ia mendapat pahala. Lalu setelah wakafnya dikelola maka perbuatannya itu mendatangkan pahala yang berkelanjutan. Pada dasarnya, wakaf adalah kegiatan yang produktif secara pahala dan ekonomi.


Ramadhan pun mengajarkan kedermawanan, baik jangka pendek maupun panjang. Saat menjalankan ibadah puasa Ramadhan, sebenarnya kita sedang menjalankan terapi asa dan rasa agar tertanam rasa empati kepada yang berkekurangan, sekaligus menanamkan nilai juang untuk kepentingan umat di masa depan. 


Puasa bukan hanya untuk kepentingan diri dalam satu bulan, tetapi untuk kepribadian manusia yang peduli dan berjuang untuk jangka panjang.


Karena itu, pada Ramadhan ini hendaklah dijadikan sebagai bulan untuk mengasah kepedulian bagi orang yang membutuhkan dengan zakat dan infak, juga dijadikan bulan perjuangan untuk kemajuan dan peradaban umat dengan sedekah wakaf.


Sumber: KH Cholil Nafis, Menyingkap Tabir Puasa Ramadhan, 2015.

Rabu, 06 April 2022

Imam Tarawih, Potret Kepemimpinan Bangsa

 

Ilustrasi. Sumber: NU Online


Pemilu serentak dan Pilpres, sebagaimana jadwal yang telah ditetapkan oleh KPU dan DPR RI, akan berlangsung pada 14 Februari 2024 mendatang. Saat ini, semua perangkat politik disipkan. Mesin-mesin partai politik juga sudah dipanaskan. Para tokoh politik, mulai bergerak dan bergerilya ke daerah pemilihannya masing-masing. 


Pada 2024 nanti, kita berharap pemimpin bangsa kita lebih baik dari sebelumnya. Memahami kondisi masyarakat serta menelurkan solusi atas berbagai permasalahan yang dihadapi. Dalam kaitan Ramadhan, mari kita mencontoh gaya kepemimpinan imam tarawih apabila ingin menjadi pemimpin di masa mendatang. 


Jadi begini...


Imam, berasal dari kata ummun yang berarti ibu. Sudah jamak kita ketahui bahwa seorang ibu memiliki sifat penyayang. Sikapnya pun santun. Dia yang tentu selalu merasa berkewajiban untuk menyenangkan dan menenangkan hati sang anak. Ibu tak akan mungkin membuat si buah hati kecewa dan terluka hatinya.


Seorang ibu tentu harus paham keadaan dan keinginan anak. Terlebih kalau memiliki anak lebih dari satu. Masing-masing anak memiliki perilaku yang berbeda, seorang ibu harus bisa memahami segala sesuatu yang dikehendaki anak, agar tidak terjadi keretakan dalam rumahnya.


Begitu juga halnya imam tarawih. 


Jumlah rakaat tarawih berbeda-beda. Ada yang berpendapat 36 rakaat, 20 rakaat, bahkan hanya 8 rakaat. Tentu semuanya memiliki argumentasi matang yang menjadi dasar kokoh untuk menjalankan tarawih.


Terkait bacaan surat dan gerakan pun berbeda. Ada yang membaca surat dengan intonasi dan gerakan salat yang sangat cepat, tetapi ada pula yang lambat. Namun, ada juga yang biasa-biasa saja.


Biasanya, kalau jumlah rakaatnya banyak maka salat tarawih dilaksanakan dengan gerakan yang agak cepat. Begitu pula sebaliknya, apabila tarawih dilaksanakan dengan jumlah rakaat yang sedikit, maka tarawih dilakukan dengan gerakan yang tidak cepat.


Demikian juga dengan bacaan imam. Kalau bacaan yang dipilih adalah surat-surat panjang, maka gerakan salat alangkah baiknya dipercepat. Namun jika surat-surat pendek yang dibaca, maka gerakan salat eloknya diperlambat.


Terlepas dari itu semua, seorang imam mesti memahami kondisi para makmum yang mengikutinya. Kalau sebagian besar adalah orang yang sudah berusia lanjut, maka jangan cepat-cepat melakukan gerakan salat. Sementara apabila makmumnya sebagian besar adalah anak muda, jangan pula terlalu lambat gerakan salatnya.


Hal-hal itulah yang harus kita pelajari dan terapkan dalam mencari atau menjadi seorang yang berjiwa kepemimpinan untuk bangsa dan negara Indonesia di masa mendatang. Kita mesti cerdas dalam mencari pemimpin yang mengerti keadaan dan kemauan masyarakat Indonesia.


Sebab dewasa ini, untuk menjadi seorang pemimpin tidak mudah. Selain harus mengeluarkan biaya yang mahal, seorang pemimpin juga seringkali hanya menjadi objek caci-maki. Sepertinya ada hal yang salah dan mesti diluruskan. Entah dari bagaimana kepemimpinan itu sendiri diterapkan, atau bisa jadi dari ketidakpuasan rakyat dalam dipimpin.


Dalam Islam, misalnya, seorang pemimpin punya kriteria tertentu yakni empat sifat Nabi Muhammad. Berkata benar (shiddiq), menepati janji (amanah), cerdas (fathanah), dan transparan (tabligh). Keempatnya itulah dasar yang mesti ada dalam jiwa kepemimpinan setiap individu. Terlebih, kalau ingin menjadi seorang pemimpin bangsa.


Kalau empat sifat mulia itu terterap, maka makmum (masyarakat) akan sangat senang dengan keberadaan seorang pimpinannya (imam). Begitu pula sebaliknya, imam akan paham bagaimana seharusnya memperlakukan makmum dengan baik. Tidak semena-mena atau bahkan hanya menjadikan makmum sebagai objek yang pasif.


Karenanya, belajar dari sikap imam tarawih yang memahami kondisi makmumnya itu, ke depan, insyaallah bangsa Indonesia akan dipimpin oleh sosok yang benar-benar memiliki karakter seperti imam; yang memiliki sikap dan sifat keibuan. Penyayang, mengayomi, dan mengerti keinginan anak-anaknya. Anak-anak negeri, anak-anak bangsa. Insyaallah...

Ramadhan Bulan Idealisme, Melatih Keteguhan Prinsip

  

Ilustrasi. Sumber: NU Online


Tak terasa, kita sudah memasuki hari keempat Ramadhan. Sebagai sebuah latihan, tentu kita masih berada pada tahap awal. Masih jauh dari tanda-tanda keberhasilan meraih gelar takwa di akhir nanti. Masih ada banyak berbagai kemungkinan yang terjadi di depan.


Namun, memang pada dasarnya, Ramadhan merupakan tempat paling ampuh untuk berlatih agar mampu menahan berbagai hawa nafsu yang menyelimuti jiwa dan raga. 


Karena itu, menurut saya, Ramadhan adalah bulan idealisme bagi orang-orang beriman. Siapa yang teguh berpendirian atas prinsip yang sejak awal diikrarkan, maka dia akan mendapat gelar kemenangan dan memperoleh banyak kebaikan dari Allah. Singkatnya, derajat kita akan naik, menjadi bagian dari orang-orang yang bertakwa. 


Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Idealisme memiliki tiga makna. Salah satunya bermakna hidup atau berusaha hidup menurut cita-cita, menurut patokan yang dianggap sempurna. Sejalan dengan itu, kita bisa memaknai bahwa jika puasa itu hidup  maka cita-cita atau patokan kesempurnaan dari hidup itu adalah takwa. 


Sementara untuk menggapai derajat takwa tak bisa serta-merta. Gelar ketakwaan itu akan bisa diraih oleh bukan sembarang orang. Buktinya, kita lihat di akhir nanti, tinggal sedikit orang-orang yang masih mengupayakan agar cita-cita kesempurnaan hidup yang disebut takwa itu, benar-benar terwujud. Perwujudannya, terimplementasi dalam sebelas bulan berikutnya. 


Syarat untuk mendapatkan gelar takwa, melalui arena pelatihan pada Ramadhan, yakni harus tidak terpengaruh sama sekali oleh berbagai bentuk hasutan dan ajakan yang berakibat membatalkan pahala puasa. Bisakah kita?


Jadi begini, Ramadhan itu laksana ruang privat yang diberikan Allah agar orang-orang beriman mampu meningkatkan kualitas. Caranya tidak mudah. Bukan hanya sekadar beribadah menahan haus dan lapar, menahan berbagai perbuatan lahiriah yang dapat merusak ibadah, tetapi juga berbagai perbuatan batiniah yang hanya kita sendiri dan Allah yang tahu.


Saya memaknai itu sebagai idealisme keilahian. Inilah yang harus terus kita jaga hingga akhir Ramadhan. Menjaga berarti mempercayakan. Mempercayakan berarti memasrahkan. Memasrahkan berarti tak lagi mempedulikan apa pun, kecuali keintiman kita dengan Allah.


Dalam memperoleh cita-cita yang diidamkan, orang-orang beriman ini menjadikan Allah sudah tidak lagi sebagai objek yang terpisah sehingga jauh dari diri. Namun, dia dan Allah sudah menyatu sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam diri, jiwa, raga, pikiran, nurani, dan segala unsur yang terdapat dalam tubuh; lahiriah maupun batiniah. Seluruh aktivitas yang dilakukan, Allah yang memiliki kuasa. Tak ada kekuatan apa pun, kecuali Allah. Hanya Allah di dunia. Tiada yang lain. 


Kalau sudah seperti itu, berarti yang keluar ke luar untuk kehidupan adalah berbagai hal yang baik. Idealisme, memang begitu, apabila terus-menerus dipertahankan, walau pahit dirasa karena harus melewati berbagai tahap rintangan. Namun, kelak di kemudian hari akan mendapat hasil yang sesuai ekspektasi. Asalkan komitmen menjaga idealisme itu. 


Ramadhan adalah bulan idealisme, berarti sepakat untuk tidak membuat kerusuhan, baik secara fisik maupun nonfisik. Fisik berupa penghancuran terhadap bangunan-bangunan, bentrok antarkelompok, dan menggangu aktivitas manusia secara umum. Sementara nonfisik berarti melakukan penghancuran pemikiran, memberangus pendapat yang berbeda, atau bahkan memaksakan kehendak pikiran agar orang lain dapat seragam.


Selain itu, kerusuhan nonfisik juga kerap terjadi di media sosial. Kalau kita terhanyut dalam kerusuhan itu, maka batal sudah idealisme kita sebagai orang beriman yang idealis. Sebab, itu berarti kita sudah terperangkap pada pragmatisme pemikiran yang mudah diterima, baik dikonsumsi untuk kemudian menghancurkan yang lain maupun justru menjadi korban dari penghancuran pemikiran itu sendiri.


Namun, sekali lagi, jika Allah sudah menempati di setiap ruang di dalam diri maka tidak akan ada yang mampu menghancurkan keteguhan idealisme itu. Siapa yang dapat menghancurkan Allah? Satu pun sama sekali tak berdaya di hadapan-Nya.


Kalau keyakinan itu sudah kuat, teguh, dan kokoh maka selama sebulan kita dapat menjaga idealisme itu sehingga di akhir Ramadhan nanti, kualitas keberimanan kita, berkat idealisme yang dirawat dan dijaga, dapat meningkat menjadi level takwa yang lebih tinggi derajatnya. 


Cara agar mampu menumbuhkan kualitas, utamanya adalah menjaga idealisme. Itu menjadi kunci agar mampu mengejawantahkan berbagai tugas-tugas keilahian yang kemudian terkristal menjadi perilaku kemanusiaan. Sebab tak mungkin, nilai-nilai ilahi terus ditingkatkan tetapi justru mengurangi dan bahkan sama sekali tak mampu menciptakan dampak, berupa nilai-nilai kemanusiaan.


Salah satu contoh dari tugas keilahian yang terkristal menjadi perilaku kemanusiaan itu, yakni menjalankan ibadah puasa dan seperangkat ibadah lainnya, seraya tidak merasa lebih baik dan terhormat dari orang-orang yang tidak berpuasa. Karena ketika sudah terbersit dalam pikiran, merasa diri lebih hebat lantaran melakukan tugas-tugas keilahian, gagal sudah kita meningkatkan kualitas. 


Kemudian saya membayangkan, jika para politisi dan elite negeri ini mampu menjaga idealisme pada Ramadhan kali ini, insyaallah sebentar saja, Indonesia akan menjadi negara yang ideal sebagaimana yang sejak dulu kita cita-citakan. Yakni, alladzii ath'amahum min juu'in, wa aamanahum min khouf. Negeri yang optimis, maju, adil, dan makmur.


Negeri yang terbebas dari kelaparan, sehingga seluruh rakyat sejahtera. Negeri yang juga aman dari berbagai ancaman, sehingga orang-orang beriman dapat terhindar dari rasa takut yang dapat membahayakannya.


Hiruk-pikuk menuju Pemilu 2024 dan isu-isu yang terkandung di dalamnya, termasuk penundaan waktu pemilu atau perpanjangan masa jabatan presiden, menjadi tantangan tersendiri bagi kita. Pertanyaannya, apakah Ramadhan kita kali ini berkualitas sehingga mampu menjadi peredam dan penyejuk atas hiruk-pikuk kegaduhan suasana politik kita? Belum lagi permasalahan-permasalahan sosial-ekonomi yang masih saja kita hadapi sebagai negara yang didaulat menjadi salah satu dari deretan 20 negara maju.


Mari menjadi penyejuk. Mari menjaga idealisme. Mari menjaga kesucian Ramadhan. Mari untuk tidak jemawa karena beribadah. Mari beribadah seraya berkemanusiaan. Mari bersama-sama membangun Indonesia. Mari gotong-royong, bekerja sama, bahu-membahu mendirikan harga diri dan martabat bangsa yang kerap jatuh karena permusuhan, menjadi terangkat oleh persatuan dan kesatuan yang solid. Mari kita jaga Indonesia. 


Semoga Ramadhan beserta idealisme yang sedang kita perjuangkan ini, membawa dampak kebaikan bagi kehidupan kita selanjutnya, dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Selasa, 05 April 2022

Ramadhan Eratkan Persaudaraan, Ciptakan Perdamaian

 

Ilustrasi. Sumber: NU Online


 

Beberapa hari lalu, sebelum memasuki Ramadhan, saya menjadi moderator dalam sebuah diskusi bertajuk ‘Dialog Kebangsaan’ di Kecamatan Jatisampurna, Kota Bekasi. Karena temanya tentang kebangsaan, sudah barang tentu yang menjadi pembahasan utama adalah soal jati diri keindonesiaan kita.

 

Pada kesempatan itu, saya mengawal jalannya diskusi yang dipaparkan oleh empat tokoh yakni Romo Agustinus Heri Wibowo dari Konferensi Waligereja Indonesia, Ketua Ikatan Sarjana Katolik Indonesia Yustinus Prastowo, Sesepuh Penghayat Kepercayaan Aliran Kebatinan Perjalanan Abah Mait Sardi, dan Koordinator Jaringan Gusdurian Alissa Wahid yang hadir secara daring.

 

Karena para tokoh itu berlatar belakang dari lintas agama, maka yang kami bincang bukan hanya soal tentang kebangsaan tetapi juga mengenai pola perilaku keberagamaan untuk menguatkan kebangsaan. Kami sepakat bahwa agama membawa nilai-nilai luhur demi kemaslahatan dan kemakmuran bumi.

 

Semua agama, pasti mengajarkan kebaikan untuk diwartakan dan diimplementasikan kepada seluruh makhluk, termasuk kepada sesama manusia. Sebab, manusia ini adalah gambaran dari citra Allah. Memuliakan manusia berarti memuliakan pencipta-Nya, menghina manusia berarti menghina pencipta-Nya.

 

Meski agama-agama sudah sepakat soal nilai-nilai luhur itu, tetapi masih saja ada perilaku keberagamaan yang terkadang mencederai kemanusiaan. Kalau demikian, yang salah bukan pada agamanya tetapi pada perilaku beragama manusia. Lebih-lebih jika kepentingan politik dan kekuasaan menggandrungi agama.

 

Pada kesempatan itu, saya menyampaikan bahwa Nahdlatul Ulama sebagai organisasi keagamaan dan kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia, sudah memiliki konsep tri ukhuwah atau tiga persaudaraan. Yakni ukhuwah diniyah/islamiyah (persaudaraan keagamaan/umat Islam), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan), dan ukhuwah basyariyah (persaudaraan kemanusiaan).

 

Ketiga konsep persaudaraan tersebut, sebenarnya ada di dalam semua ajaran agama/kepercayaan apa pun. Terbukti, Dialog Kebangsaan di Jatisampurna itu diadakan juga dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan. Inilah bukti bahwa persaudaraan itu masih ada.

 

Mereka, meskipun memeluk agama yang berbeda dengan saya, menyambut gembira atas kedatangan Ramadhan. Sebab pada bulan yang mulia ini, semua keberkahan tersedia dan persaudaraan serta perdamaian akan tercipta. Umat Islam selalu saja dengan riang gembira menyambut Ramadhan karena hendak berpuasa satu bulan penuh, sebagai ‘pelebur’ dosa yang telah dilakukan selama sebelas bulan sebelumnya.

 

Akan tetapi, selalu ada pertanyaan menggelitik yang dilontarkan dari teman-teman saya yang mengaku agnostik (percaya Tuhan tetapi tidak meyakini kebenaran agama). Kata mereka, untuk apa berpuasa? Apakah puasa hanya untuk menahan makan dan minum di siang hari?

 

Buktinya, kata mereka, berbagai kejahatan masih kerap terjadi seperti aksi intimidasi, kekerasan, terorisme, korupsi, kolusi, nepotisme, dan penindasan. Semua itu masih saja terus mewarnai kehidupan kita. Tidak ada yang berubah dari tahun ke tahun. Rupanya puasa tidak memberikan efek apa-apa selain tidak makan dan tidak minum.

 

Padahal, dalam Dialog Kebangsaan itu kami bersepakat bahwa nilai-nilai luhur agama itu menghendaki para pemeluknya untuk peduli kepada sesama, mengutuk ketidakadilan, membangun persaudaraan, menciptakan perdamaian, dan mencari solusi untuk kemaslahatan bersama.

 

Namun, Ramadhan sebagai wahana pendidikan dan pelatihan bagi umat Islam dengan berpuasa selama satu bulan penuh yang seharusnya memberikan jalan keluar atas problematika kehidupan, justru tidak melahirkan efek apa pun bagi kebaikan atas peradaban kehidupan.

 

Karenanya benarlah sabda Nabi Muhammad sebagaimana yang kerap disampaikan para khutaba (penceramah) dari atas mimbar:

 

رب صائم حظه من صيامه إلا الجوع والعطش

 

Artinya: “Betapa banyak orang yang berpuasa, namun tak mendapatkan sesuatu dari puasanya kecuali sengatan rasa lapar dan dahaga.”

 

Banyak orang yang ketika berpuasa Ramadhan, hanya bisa merasakan lapar dan haus, tetapi makna kehadiran puasa sama sekali tidak berpengaruh pada dirinya. Jika seseorang memiliki mental seperti itu maka kejahatan, kekerasan, dan korupsi tetap akan dilakukan walaupun dirinya dalam keadaan berpuasa.

 

Idealnya, yang berpuasa itu tidak hanya mulutnya, tapi seluruh anggota tubuh ikut melakukan puasa, tanpa terkecuali. Karena prinsip utama dari ibadah puasa adalah pengendalian diri dari sesuatu yang dilarang agama, termasuk di dalamnya adalah larangan bertikai, konflik, dan permusuhan. Dengan begitu, puasa harusnya dapat mendorong terciptanya perdamaian dan persaudaraan di antara sesama manusia. (KH Cholil Nafis, Menyingkap Tabir Puasa Ramadhan, 2015).

 

Kaitan antara puasa Ramadhan dengan perdamaian dan persaudaraan ini sangat penting untuk ditegaskan. Sebab pertikaian atas nama agama, etnis, bangsa, dan negara masih saja menghiasi peradaban manusia modern, tak terkecuali di Indonesia. Kalau aksi kekerasan masih saja terus terjadi maka perdamaian dan persaudaraan tentu tidak akan pernah kita rasakan lagi.

 

Pada titik ini, momentum puasa Ramadhan menjadi sangat berharga karena ajaran Islam tentang puasa mengajarkan hamba-hamba Allah untuk menahan diri dari kebencian, kedengkian, dan kemungkaran antarumat manusia.

 

Bahkan, jika menilik sejarah, pesan perdamaian dan persaudaraan melalui ibadah puasa ini begitu sangat terkait. Puasa tidak saja menjadi ritual umat Islam (karena agama-agama lain juga menganjurkan kepada pemeluknya berpuasa untuk pensucian jiwa, seperti Kristen dan Yahudi), tetapi ternyata ibadah puasa ini ternyata tidak hanya dimonopoli oleh agama abrahamik.

 

Hindu dan Buddha pun mempunyai anjuran puasa. Mereka menjalankan puasa sebagai sarana atau persiapan untuk melakukan ritual dalam rangka mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Konektifitas puasa dalam ajaran agama-agama ini seperti ditegaskan di dalam QS Al-Baqarah ayat 183:

 

يا أيها الذين أمنوا كتب عليكم الصيام كما كتب على الذين من قبلكم لعلكم تتقون 

 

Artinya: “Wahai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.”

 

Dari ayat tersebut, sudah jelas bahwa ibadah puasa tidak hanya menjadi ajaran Islam saja tetapi juga menjadi salah satu mata rantai yang menunjukkan aspek ritual penting dalam setiap agama. Melalui ibadah puasa, nuansa perdamaian dan persaudaraan seharusnya lebih dikedepankan.

 

Al-Qur’an pun sudah sangat jelas memperingatkan agar kita, umat Islam, tidak melakukan tindakan kekerasan di muka bumi. Hal ini ditegaskan Allah di dalam QS Al-Hajj ayat 40.

 

وَلَوْلَا دَفْعُ ٱللَّهِ ٱلنَّاسَ بَعْضَهُم بِبَعْضٍ لَّهُدِّمَتْ صَوَٰمِعُ وَبِيَعٌ وَصَلَوَٰتٌ وَمَسَٰجِدُ يُذْكَرُ فِيهَا ٱسْمُ ٱللَّهِ كَثِيرًا ۗ وَلَيَنصُرَنَّ ٱللَّهُ مَن يَنصُرُهُۥٓ ۗ  إِنَّ ٱللَّهَ لَقَوِىٌّ عَزِيزٌ

Artinya: “Andaikan Allah tidak menolak (tindak kekerasan) antarsuatu kelompok manusia dengan kelompok lain, niscaya gereja-gereja, Sinagog (rumah ibadah umat Yahudi), rumah ibadah apa pun (Mushollah) dan masjid-masjid yang dan semua rumah ibadah dengan atas nama Allah banyak disebut itu akan dihancurkan.”

 

Inilah bukti Islam sebagai agama yang damai dan anti-kekerasan. Sikap ini perlu dipupuk di bulan Ramadhan. Harapannya, setelah Ramadhan nanti sikap damai dan anti-kekerasan itu terus dipertahankan.

 

Peran ini seirama dengan ajaran Islam yang berorientasi pada rahmatan lil alamin. Maksudnya, seseorang beragama bukan bertujuan untuk menakut-nakuti orang lain yang berbeda, tetapi justru harus merangkul serta bergandengan tangan dengan semua kalangan untuk memupuk persaudaraan dan perdamaian bersama-sama dalam perbedaan.

 

Sikap itu menunjukkan bahwa persaudaraan dan perdamaian adalah bagian dari solidaritas kemanusiaan yang tidak dapat dipisahkan dari bangunan keimanan. Sebab, keimanan tidak hanya berdimensi vertikal (manusia dengan Tuhan/hablumminallah) tetapi juga horizontal (manusia dengan sesamanya/hablumminannas).

 

Karenanya, kesempurnaan proses puasa Ramadhan harus dituntaskan dengan zakat fitrah, yaitu pelepasan kekayaan untuk dibagikan kepada orang yang membutuhkan. Sebab, klimaks dari ajaran puasa adalah apabila seseorang telah berhasil melepaskan keakuan demi solidaritas kekitaan.

 

Sebagai amal saleh, ibadah puasa di bulan Ramadhan ini hendaknya dimaknai sebagai manifestasi perjalanan spiritual menuju persaudaraan antarsesama umat manusia dan perdamaian yang sejati; dunia dan akhirat.

Senin, 04 April 2022

Fenomena Saleh Tahunan


Ilustrasi. Sumber: NU Online


Ada yang unik saban Ramadhan datang. Dalil dan argumentasi keagamaan diulang-ulang setiap tahun. Seolah-olah umat pelupa. Disuguhi berbagai petuah yang itu-itu saja.


Lucunya, sebagian besar umat di musala dan masjid, baik di perkampungan maupun di perkotaan, manggut-manggut seakan mengerti. Sementara sebagian yang lain, selalu menebak tema ceramah para ustadz di atas mimbar. Tebakan itu pun selalu tepat.


Di hari kedua puasa, Amat mulai memperlihatkan kepongahannya. Melalui akun facebook milik pribadi, Amat menyinyir para ustadz yang setiap tahun seperti kaset kusut. Mengulang-ulang omongan yang sama. 


Amat selalu menempati shaf pertama saat salat Isya di musala dekat rumahnya. Tepat di belakang imam atau setidaknya rada ke kanan, berhadap-hadapan dengan mimbar. Dia gandrung soal agama. Kegigihannya mencari ilmu agama luar biasa. Sayangnya, dia enggan mondok. 


"Dari tahun ke tahun, tema ceramah gak pernah ganti. Padahal kondisi masyarakat selalu berubah-ubah. Tapi, penceramah di mimbar-mimbar itu selalu membahas hal-hal yang sifatnya ngawang-ngawang (abstrak) Seperti puasa mendatangkan pahala, mendapat surga, bla-bla-bla," tulis Amat dalam status facebooknya, usai sahur tadi pagi.


Amat menyayangkan sikap para mubaligh yang seperti meninabobokan umat. Lebih-lebih, dia kecewa karena umat seperti dicekoki zat adiktif yang menenangkan sehingga tidak ada kritik yang bisa dilancarkan.


Secara tidak langsung, para orator keagamaan di atas mimbar itu selalu menganggap umat sebagai objek yang pasif. Bahkan, dianggap sebagai bagian pelengkap saja. Parahnya, dianggap sebagai alat komoditas supaya ceramah-ceramahnya didengar dan para penceramah itu mendapat keuntungan.


Begitu pikir Amat.


Lebih jauh, Amat pernah menyatakan bahwa Ramadhan sesungguhnya adalah ajang untuk mengubah diri menjadi seorang yang saleh, tetapi hanya musiman. Disebutnya, saleh tahunan. Mungkin, menurut Amat, karena suguhan adiksi yang menenangkan itu, sehingga umat menjadi giat beribadah di bulan Ramadhan. Rumah ibadah jadi ramai. Kitab suci dibuka. Setiap hari selalu menyisihkan uang untuk bersedekah. Silaturahmi jalan terus. 


Mungkin semua itu karena pengaruh dari pemuka agama setempat. Masyarakat jadi mendadak saleh. Santunan anak yatim berjalan lancar. Hampir seluruh masyarakat Muslim Indonesia gandrung terhadap sesuatu yang sifatnya ritual-formalistik dan seremonial keagamaan. Lagi-lagi, kuat dugaan Amat bahwa ustadz, kiai, dan para tetua di kampung, berhasil mempengaruhi orang-orang awam. Akan tetapi, ada hal yang sangat disayangkan Amat.


Dia pernah mengomentari status Kiai Mudzakkar asal Rembang yang membahas terkait pahala dan keistimewaan Ramadhan.


"Pak kiai, alangkah lebih baiknya orang-orang seperti pak kiai ini nggak hanya berkoar mempedulikan masyarakat pada saat Ramadhan saja, tetapi juga terus-menerus melakukan pendampingan agar orang-orang di akar rumput nggak terjangkit virus saleh tahunan. Saya mohon kiai, komentar saya ini jangan dianggap hatespeech. Tolong dipertimbangkan, demi kemaslahatan umat."


Usai salat tarawih malam ketiga, Kiai Mudzakkar membuka layar smartphone-nya. Aplikasi facebook dibuka. Penuh notifikasi. Ada yang mengirim tulisan ke dindingnya, ada pula yang menyukai status yang baru diposting. Tak ketinggalan dan tak luput dari perhatian Kiai Mudzakkar adalah komentar Amat.


Spontan, ketika membaca komentar itu, Kiai Mudzakkar tersenyum. Dia bahagia melihat Amat yang sudah mulai peduli dan memperhatikan kehidupan masyarakat. Dia tidak membalas komentar Amat, tetapi hanya menyukai. Pertanda bahwa Kiai Mudzakkar memang setuju dengan pernyataan dan masukan dari Amat.


"Saleh Tahunan," kata itu yang membuat Kiai Mudzakkar berpikir. Berulangkali. Bahkan bertanya-tanya, "Benarkah selama ini, masyarakat Muslim Indonesia terjangkit virus saleh tahunan?" Kiai Mudzakkar termenung. Merenung. Apa yang salah dengan para pemuka agama sehingga tercetuslah istilah saleh tahunan?


Tak lama, dia tersadar.


Usai ngaji pasaran, pengasuh salah satu pondok pesantren di Rembang itu mengumpulkan seluruh santrinya untuk membincang 'saleh tahunan'. Di aula utama, baik santri laki-laki maupun santri perempuan dengan sangat saksama memperhatikan tokoh yang menjadi panutan mereka yang sedang berbicara. Sebagian ada manggut-manggut, tetapi ada juga yang bisik-bisik seperti membicarakan sesuatu terkait yang sedang dibicarakan. Sebagian lagi, tertidur sambil duduk. Sebab, waktu sudah tengah malam.


Apa hasil? Sepertinya, nihil. 


Sebab, para santri masih disibukkan dengan berbagai kegiatan dan aktivitas yang membuat mereka enggan memperhatikan kehidupan masyarakat. Lagi pula, masyarakat di sekitar pondok pesantren pun seragam. Semuanya manut-manut saja apa kata kiai. Masyarakat setempat pun tidak saleh tahunan karena hidup di lingkungan yang sungguh-sungguh islami.


Sementara di lingkungan yang tidak berada dalam lingkaran keagamaan, penyakit saleh tahunan masih terjadi saban tahun. Namun, Amat tetap optimis bahwa sebelas bulan pasca-Ramadhan nanti, orang-orang di sekitarnya akan melanggengkan kesalehan, baik saleh secara ritual maupun saleh sosial.


Kalau saleh tahunan masih saja berlangsung, maka ada hal yang mesti dikritisi dari cara penyampaian dan penjagaan yang dilakukan para pemuka agama terhadap umat.


Demikian, Amat berpikir.


Puasa Ramadhan dan Paradoksnya

 

 

Ilustrasi. Sumber: NU Online


Secara ideal, puasa Ramadhan bertujuan untuk membangun keintiman antara seorang hamba dengan pencipta-Nya demi mencapai ketakwaan. Selain itu, puasa Ramadhan juga bisa memompa produktivitas, menyehatkan, menyejahterakan, dan membangun solidaritas.

 

Saat berpuasa, seseorang sungguh-sungguh sedang berinteraksi secara langsung, jujur, dan spesial dengan Allah. Saat menjalankan puasa Ramadhan, seseorang akan mengurangi jadwal dan jumlah konsumsi sehingga lebih sehat, kondisi perut akan lebih stabil, dan banyak waktu untuk berkarya.

 

Puasa Ramadhan akan melahirkan rasa solidaritas kemanusiaan. Kita akan merasakan betapa menderitanya menahan haus dan lapar, sehingga mengetuk pintu hati untuk berbagi kebaikan kepada sesama.

 

Namun pada kenyataannya, fenomena puasa Ramadhan justru seringkali berlawanan atau menimbulkan paradoks. Seseorang kerap berpuasa hanya sebagai rutinitas keagamaan tahunan; tidak makan, tidak minum, dan tidak bersetubuh di siang hari tetapi tidak ada perubahan dalam berperilaku. Pikiran dan hatinya tidak dibersihkan dari rasa hasud sehingga puasa Ramadhan tidak memberikan efek perubahan kebaikan dalam hidupnya.

 

Saat Ramadhan, seharusnya harga bahan pokok menjadi lebih murah dan terdapat banyak persediaan. Sebab, seorang yang menjalankan puasa Ramadhan tentu akan mengurangi kebutuhan konsumsi. Tetapi realitanya, harga bahan pokok dan kebutuhan justru naik.

 

Naiknya harga bahan pokok itu menunjukkan bahwa permintaan justru meningkat. Demikian bunyi hukum ekonomi. Itu berarti, pelaksanaan puasa Ramadhan tidak membuat orang-orang Islam mengurangi atau membatasi konsumsi. Sikap konsumerisme umat Islam di bulan Ramadhan, tak lagi terbantahkan.

 

Tak hanya itu, puasa Ramadhan seringkali menjadi alasan untuk tidak melakukan banyak aktivitas. Bahkan jam kerja di kantor-kantor dikurangi dua jam. Sudah begitu, masih ada saja pegawai atau karyawan yang datang terlambat karena alasan puasa, sehingga banyak pekerjaan yang tertunda dan bahkan terbengkalai.

 

Padahal sebenarnya, ketika orang menjalankan puasa Ramadhan justru memiliki banyak waktu karena telah menghilangkan jadwal makan pagi dan siang. Bahkan mau cepat-cepat pulang ke rumah pun masih menunggu waktu maghrib untuk makan malam.

 

Puasa Ramadhan haruslah menambah produktivitas. Namun, puasa Ramadhan justru sering menjadi alasan untuk menghambat atau menghentikan aktivitas. Padahal saat berpuasa, seseorang akan menstabilkan konsumsi dan memperbanyak gerak dengan ibadah, sehingga tubuh dan rohani menjadi bersih.

 

Ketika berbuka puasa, kita justru seperti ‘balas dendam’ dengan mengonsumsi makanan yang beraneka ragam dan berlebihan. Kalau begitu, puasa Ramadhan berarti hanya mengubah jadwal makan di siang hari menjadi makan di waktu malam, tidak berkurang sedikit pun, bahkan malah bertambah banyak.

 

Puasa Ramadhan seharusnya menyehatkan tubuh, karena ada proses pencernaan yang membersihkan dan menghancurkan racun-racun di dalam tubuh. Tetapi justru sebaliknya, saat berpuasa tubuh akan terasa lemas dan banyak tidur.

 

Rasulullah bersabda:

أذيبوا طعامكم بذكر الله عز وجل والصلاة،  ولا تناموا عليه فتقسوله قلوبكم

 

Artinya: “Cairkan makanan kalian dengan berdzikir kepada Allah dan shalat, serta janganlah kalian langsung tidur setelah makan karena dapat membuat hati kalian menjadi keras.”

 

Semestinya, puasa Ramadhan juga bisa membangkitkan rasa solidaritas. Sebab saat berpuasa, kita dapat merasakan kesengsaraan menahan lapar dan haus, sebagaimana yang diderita oleh orang yang tidak mampu. Akan tetapi, pada kenyataannya, orang-orang yang berpuasa kerap berlebihan mengonsumsi makanan saat berbuka dan sahur, bahkan banyak pula makanan yang terbuang atau basi.

 

Pelaksanaan ibadah puasa seharusnya semakin hari akan meningkat hingga pada waktu sepuluh hari terakhir Ramadhan, terutama untuk mendapatkan Lailatul Qadar. Faktanya, sebagian besar umat Islam justru hanya akan semangat di awal-awal Ramadhan dan semakin hari justru kian menyusut semangatnya.

 

Tuntutan puasa Ramadhan sering tidak sesuai dengan pelaksanaannya, sehingga nilai puasa tidak terinternalisasi dalam kehidupan. Karena itu, puasa tidak memberikan efek perubahan karakter dan pencapaian kesejatian diri manusia.

 

Lebaran Idulfitri yang sebenarnya menjadi simbol ‘kemenangan’ melawan hawa nafsu selama satu bulan penuh, ternyata hanya sebatas simbolik belaka tanpa substansi apa pun. Sebab yang baru hanya baju dan pakaiannya saja. Puasa Ramadhan yang dilakukan hanya sekadar menahan lapar dan haus, tidak menuntun pada perubahan untuk menggapai fitrah.

 

Puasa semestinya dilakukan oleh seluruh organ tubuh, pikiran, dan hatinya untuk menyatu dengan Sang Pencipta. Sebagaimana yang diungkapkan Sahabat Jabir bin Abdillah:

إذا صمت فليصم سمعك وبصرك ولسانك عن الكذب والم آثم ودع أذى الجار وليكن عليك وقار وسكينة يوم صومك ولا تجعل يوم فطرك ويوم صيامك سواء

 

Artinya: “Jika kamu berpuasa, hendaknya berpuasa pula pendengaranmu, penglihatanmu, linsamu dari dusta dan dosa-dosa. Tinggalkan menyakiti tetangga dan hendaknya kamu senantiasa bersikap tenang pada hari kamu berpuasa, jangan pula kamu jadikan hari berbukamu sama dengan hari kamu berpuasa.”

 

Disadur dari sumber utama: KH Cholil Nafis, Menyingkap Tabir Puasa Ramadhan, 2015: halaman 87-90.