Kamis, 08 April 2021

Menyambut Ramadhan (3)

 






Ramadhan bulan mulia.

Sebuah arena kebaikan untuk saling berlomba. Sebagai tempat melakukan peningkatan kadar intelektual. Juga ajang memperhalus rasa, menyeimbangkan raga,
serta melatih kejujuran dalam dada.

Ramadhan bulan pendidikan.

Orang-orang beriman dididik, agar menjadi takwa dan menjadi manusia berkualitas paling baik.

Ramadhan bulan cinta.

Segala yang dilakukan di dalamnya merupakan manifestasi cinta. Banyak kesempatan emas tercipta. Kesempatan-kesempatan itu dimanfaatkan agar cinta terejawantah pada Pemilik Jiwa.

Namun bagi para bijak bestari, cinta tak butuh eksistensi karena cinta bersemayam di ruang paling sembunyi, dalam sanubari.

Karenanya, cinta tak butuh peng-aku-an. Tak butuh hormat. Cinta juga tak perlu apresiasi yang membuatnya kian meninggi. Cinta tak pernah berkenan pada perasaan jemawa, walau sedikit saja.

Lebih jauh,
Cinta bukan sesuatu yang dibangun dari pondasi kemunafikan dan kepura-puraan.

Ramadhan tak pernah beri ruang bagi kepura-puraan. Kalaupun iya, maka sungguh menyedihkan. Atau, barangkali, sebagian besar manusia memanfaatkannya untuk meraup keuntungan.

Orang-orang berlomba-lomba tampil di muka, memakai kostum keagamaan. Penceramah-penceramah pun demikian. Mereka mulai mencari bahan untuk diorasikan di atas mimbar kehormatan.

Hal yang  dikhawatirkan adalah saat mereka, para penceramah-penceramah itu, menggunakan agama seraya memanfaatkan Ramadhan demi mendapat keuntungan semata.

Sekalipun berkali-kali mulut sudah berbusa dan terus berucap: lillahi ta'ala.


*ditulis pertama kali di Bekasi pada 2019

Senin, 05 April 2021

Menyambut Ramadhan (2)





Ramadhan segera tiba.

Orang-orang sibuk berbenah, berlomba mencitra diri dengan kebaikan, mempertontonkan amal ke banyak kanal media sosial. 


Ramadhan segera tiba.

Orang-orang mulai persiapkan diri. Dalam setahun, barangkali, hanya sekali berkunjung dan berwisata ke rumah anak yatim-dhuafa.

Panti asuhan di mana pun berada, penuh tamu. Mendapat rezeki lewat perantara orang kaya. Orang-orang kaya berupaya membersihkan hartanya, seraya meningkatkan elektabilitas
juga popularitas. Barangkali bisa naik tahta hingga yang paling atas.

Ramadhan segera tiba.

Di pinggir-pinggir jalan, menjamur gembel dan gelandangan. Meminta belas kasih agar diberi rezeki untuk makan. Jumlah mereka akan lebih banyak dari bulan-bulan sebelum Ramadhan.

Barangkali seperti itu akting mereka menjadi kaum miskin kota. Mengharap nasi lalu bertamasya dari masjid ke masjid, untuk sekadar dapat memulai dan membatalkan puasa.

Tayangan di layar kaca berubah drastis. Seluruhnya menjadi religi, artis-artis lekas-lekas mengubah diri, masing-masing berperan menjadi saleh dan salehah. Saat Ramadhan usai, peran pun selesai

Ramadhan segera tiba.

Tayangan-tayangan gosip ibu kota, pasti menampilkan aktivisme selebriti yang berbeda, yang rajin beribadah dan bersedekah. Itulah kapitalisasi media yang merasuki sendi-sendi agama. Kaum kapital akan tetap untung, mereka tak mau buntung.

Meski dengan kepura-puraan hanya dalam waktu sebulan, intinya adalah mencari dan mendapat keuntungan. Lumayan.

Nun jauh di sebuah kota, dari negeri sengkarut yang tak tertata, saat nanti Ramadan tiba, warung makan rupanya tetap buka. Entah setengah pintu atau hanya ditutup bagian depan, dengan papan setengah badan.

Ramadhan segera tiba.

Orang-orang yang tak kuat puasa harus sembunyi, bahkan terkesan dipaksa untuk sembunyi. Sungguh, menjadi minoritas di negeri itu rentan siksaan baik fisik maupun psikis.

Siapa yang tak puasa nanti, siap-siaplah menerima siksa duniawi. Sementara solusi agar terhindar dari siksa adalah pura-pura.

Lalu, para bijak bestari bertanya-tanya:

Mengapa harus ada kepura-puraan di bulan penuh cinta? Padahal cinta tak pernah berkenan pada kebohongan.

Benarkah kepura-puraan itu merupakan bentuk penghormatan pada Ramadhan?
Betulkah kemuliaan Ramadhan luntur jika tak dihormati?


*Ditulis pertama kali di Bekasi pada 2019