Minggu, 30 Desember 2018

Testimoni Kader PKS: Lebih Baik Golput Ketimbang Pilih Prabowo


Calon Presiden RI Nomor Urut 02

Saya mantap memilih Prabowo Subianto sebagai calon presiden.

Tapi, setelah melihat video Prabowo merayakan Natal 25 Desember 2018, sembari berjoged dan bernyanyi, saya jadi ragu memilihnya. Lebih baik saya golput ketimbang memilih orang yang kadang Islam kadang Kristen (Prabowo, red).

Namun saya pastikan, bukan karena saya ragu ke Bapak Prabowo, lantas mendukung Jokowi. Saya tidak akan beralih dan memilih rezim yang didukung partai penista agama. Bagi saya: Pilih Prabowo atau Golput. Titik.

Kembali kepada kekecewaan saya atas Pak Prabowo yang merayakan natal. Bagi saya merayakan natal ini sudah melewati batas toleransi.

Saya harus akui terlebih dulu, bahwa saya menjadikan Natal sebagai salah satu ukuran dalam ber-Islam, minimal bagi diri saya sendiri. Awalnya, saya termasuk muslim yang meyakini mengucapkan natal adalah haram. Mengucap saja haram apalagi ikut merayakan. 

Pandangan ini berubah seiring bertambahnya usia dan juga mendengarkan pandangan beberapa ulama. Jujur saja, dalam hal Natal, saya lebih condong ke pandangan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) ketimbang ulama lain. Saya menilai mengucapkan selamat natal tidak membatalkan akidah sebagai muslim.

Pandangan ini berbeda dengan saudara saya di Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan sebagian besar teman-teman dari Tarbiyah atau PKS. Ustadz-ustadz HTI masih istiqomah. Mereka memvonis haram ucapan selamat natal atau selamat hari raya kepada agama lain selain Islam.

Adapun di Tarbiyah atau PKS, sebagian besar masih mengharamkan mengucap selamat natal. Namun belakangan ini mulai muncul kader PKS yang membolehkan mengucap “selamat natal” meski ragu-ragu dan atau mungkin takut.

Keragu-raguannya itu terlihat dari keengganan menulis kata “natal”. Mereka akan memilih menuliskan: “Selamat Berhari Raya untuk sodaraku Umat Nasrani” daripada “Selamat Natal untuk Umat Nasrani”.

Bagi mereka menuliskan Natal berarti sama saja mengakui kelahiran Yesus sebagai Anak Tuhan sehingga bisa membatalkan akidah. Inilah yang membuat kader PKS takut. 

Meski berbeda pandangan, saya tetap menghormati teman-teman di HTI dan PKS. Apalagi akhir-akhir ini, dengan suasana politik rezim yang kurang adil kepada beberapa ulama, umat Islam bersatu.

Lihat saja Gerakan Aksi Bela Islam 212 pada 2016 juga Reuni 212 pada 2018 yang bertambah besar. Gerakan 212 membuktikan bahwa perbedaan pandangan diantara umat Islam, tidak membuat umat ini terpecah belah, malah bertambah solid. 

Gerakan 212 tidak terlampau tajam mempersoalkan boleh atau tidak mengucap selamat natal.

Lalu, bagaimana terkait merayakan natal bersama, seperti yang ditunjukkan Pak Prabowo, calon presiden favorit saya?

Sudah jelas pandangan-pandangan yang saya tulis sebelumnya. Merayakan natal bersama, adalah haram atau dilarang keras. Ini akidah. Sikap kita tidak bisa bergeser sedikitpun. Tetap haram.

Awalnya, saya tidak percaya dengan video Prabowo merayakan natal. Saya berprasangka video tersebut sengaja diembuskan relawan Jokowi buat mendiskreditkan Pak Prabowo.

Saya meyakini bahwa ulama-ulama 212 sudah memverifikasi keislaman Pak Prabowo. Saya meyakini Pak Prabowo memang pantas menyandang wakil umat Islam dalam pentas politik nasional. 

Ketika ada yang mempertanyakan Pak Prabowo, tidak bisa membaca surat Al-Fatihah dan tidak bisa menjadi imam salat, saya masih mafhum dan tetap berprasangka baik; mungkin beliau, Pak Prabowo, tengah belajar Islam yang benar dan syumul, serta tidak mau riya'. 

Namun semakin hari, prasangka baik saya mulai memudar. Kalau urusan salat, beliau tidak mau mempublikasi agar tidak riya', kenapa saat Pak Prabowo ikut ibadah agama lain malah tidak melarang untuk dipublikasi, agar tidak riya' juga? Di sini saya mulai sedih dan berpikir keras. 

Puncak keraguan saya terjadi pada Natal 25 Desember 2018. Melihat Pak Prabowo merayakan natal bersama keluarga.

Saya tahu betul adik Pak Prabowo, Bapak Hashim Djojohadikusumo, Wakil Ketua Umum Gerindra, adalah seorang Nasrani taat. Ketaatan Pak Hashim pada kristennya bahkan pernah bersinggungan dengan PKS di era Presiden SBY.

Pak Hashim pernah menuding PKS, yang kadernya menjabat sebagai Menteri Pertanian, melakukan diskriminasi karena memecat pegawai Kementerian Pertanian yang beragama Kristen. Tudingan Pak Hashim beredar luas di youtube.

Tapi kekristenan Pak Hashim tak membuat saya luntur mendukung Pak Prabowo. Saya berasumsi kedekatan Pak Prabowo dengan ulama-ulama 212 akan membuat Pak Prabowo bisa mengislamkan Pak Hashim dan keluarganya. Saya yakin itu.  

Namun keyakinan saya itu buyar. Saya mulai meragu karena makin ke sini Pak Prabowo ini terlihat kadang Islam kadang Kristen.


Glory-Glory Haleluya, Mars Prabowo-Sandi


Apalagi baru-baru ini tersiar kabar mars kemenangan Prabowo-Sandi yang lirik awal berbunyi “Solidarity Forever” melodinya menjiplak persis lagu rohani umat Kristen “Glory-Glory Haleluya”.

Awalnya, saya menilai mars itu menjiplak official anthem-nya klub bola Manchester United. Untuk menebalkan keyakinan saya mulai meriset. Saya memang gemar meriset hal apapun. Jadi menelusuri sejarah lagu “Glory-Glory” bukan pekerjaan sulit. 

Hasil riset saya bikin terperangah. Kata “Glory-Glory” berasal dari lirik lagu Battle Hymn of the Republic yang ditulis oleh penulis asal Amerika Serikat, Julia Ward Howe pada 1861. Liriknya pertama kali muncul dalam tulisan Howe di majalah The Atlantic Monthly pada 1862.

Lagu tersebut menceritakan mengenai pertolongan dan keagungan Tuhan Yesus kepada umatnya dengan reff berbunyi “Glory Glory Hallelujah.”

Tambahan informasi juga saya dapatkan dari ceramah seorang pendeta wanita Indonesia; Jacqline Celosse di youtube. Ia menjelaskan sejarah lagu Glory-Glory Haleluya.

Pendeta itu mengatakan lagu ini menceritakan kisah Tentara (Kristen) yang mau maju berperang. Para tentara ini belum berperang dan belum menang. Namun dengan lagu ini, mereka sudah menyanyikan lagu kemenangan.

Dari dua informasi ini saya mengambil kesimpulan bahwa Glory-Glory Haleluya adalah lagu rohani umat Nasrani. Banyak umat Nasrani, fans sepak bola di Inggris Raya, mengambil semangat lagu ini digubah menjadi anthemnya klub bola favorit mereka.

Fans bola yang pernah menggubah Glory-Glory Haleluya adalah pendukung Tottenham Hotspur dan Manchester United.

Setali tiga uang, rupanya para elit Tim Pemenangan Prabowo – Sandi mengikuti jejak umat Nasrani pendukung klub bola di Inggris Raya.

Para Elit Tim Pemenangan Prabowo terinspirasi Glory-Glory Haleluya lalu menggubahnya menjadi Mars Pemenangan Prabowo Sandi.

Pertanyaan saya: Apakah para elit Tim Kampanye Prabowo-Sandi ini lupa kacang sama kulitnya?

Siapa yang habis-habisan mendukung Prabowo, yang berperang melawan penista agama?

Mereka lupa bahwa kita, umat Islam, yang berjuang. Tentu tanpa menyombongkan diri bahwa ini semua Takdir Allah. Tapi menggunakan lagu rohani kristiani untuk mars capres yang didukung Umat Islam, bagi saya, meminjam lagu Cita Citata: “Sakitnya, tuh, di sini.”

Mbok, ya, tahu diri, kalau mau bikin lagu kemenangan Prabowo Sandi sebaiknya terinspirasi dari lagu-lagu perjuangan Islam: Ada “Merah Saga” milik group nasyid Shoutul Harokah, atau “Hai Mujahid Muda” milik group nasyid Izzatul Islam.

Kedua lagu nasyid itu sesuai kondisi umat Islam Indonesia saat ini. Saya yakin jika dua lagu itu digubah menjadi Mars Kemenangan Prabowo, gairah umat Islam yang berjihad di jalur politik Pilpres 2019 akan semakin menggelora. Allahu Akbar!!!

Tapi apa lacur, Tim Pemenangan Prabowo lebih memilih Glory-Glory Haleluya. Apa maksud Anda?

Saya berjam-jam bermuhasabah memikirkan ini dalam setiap kesendirian. Saya terus terang kecewa. Akhirnya saya mendapatkan firasat dalam hati: Mungkin ini (video Mars Prabowo) adalah cara Allah menunjukkan kelompok yang ingin memanfaatkan dan menunggangi Umat Islam.

Saya tak akan sudi membiarkan kemenangan agama lain dengan memanfaatkan umat islam, apalagi memanfaatkan suara saya. Biarlah saya mengambil sikap berbeda dengan saudara-saudara umat Islam, khususnya 212.

Bagi saya, lebih baik golput ketimbang memilih Prabowo. Kemenangan politik praktis bukan tujuan akhir politik Islam. 

Saya teringat nasihat Habib Salim Segaf, Ketua Majelis Syuro PKS, bahwa aktivitas atau dakwah politik kita hanya bertujuan untuk mendatangkan barakah Allah bukan kemenangan suara semata. Maka, anjuran-anjuran agar tidak golput tidak berlaku bagi saya. 

“Lebih baik golput ketimbang memenangkan calon  yang membawa misi agama lain.”

Saya tidak mengajak yang lain golput, saya menunjukkan sikap dan keyakinan bahwa kebarakahan Allah tidak diukur lewat kemenangan demokrasi semata. Lebih baik lama berjuang dan berdakwah ketimbang menyesal dan kecewa lebih cepat.

(AF, Kader PKS yang golput)

Agama, Politik, dan Kemunafikan


Prabowo dalam sebuah perayaan Natal

Akhir-akhir ini, beredar luas potret Prabowo Subianto merayakan Hari Natal. Ada adegan duduk di gereja, ada yang bawa lilin, ada lagi yang dalam pesta dengan berjoged; disebut di malam Natal.

Sebagian pendukung dan lawannya meributkan soal itu. 

Seorang pendukung mengeluh, "Aduh, Pak Prabowo kok  tidak taktis dan hati-hati. Bagaimana nanti orang mempercayai kesepakatan ulama yang mencalongkan dia sebagai pemimpin?"

Lawannya bilang, "Rasain.  Dia pasti bakal sulit dipilih karena ternyata bukan Muslim — bukan Muslim beneran.  Kan ikut ibadah Natal."

Bagi saya, tak sebaiknya agama Prabowo jadi soal pokok dalam pilpres nanti.  Kalaupun dia terus terang bilang, 'Saya  Kristen', atau 'Saya memang bukan Muslim yang diharapkan para ulama yang bersepakat memilih saya', —— itu bagi saya bukan cacat.  

Sebab yang jadi cela adalah apa yang disebut 'ukuran ganda'. Ahok disingkirkan karena non-Muslim, tapi Prabowo malah didukung. 

Ukuran ganda itu kata lain dari kemunafikan, ketidak-jujuran, atau sikap tidak adil.  Lambat laun, jika ini jadi pola perilaku sosial-politik kita, kepercayaan akan nilai-nilai akan ambrol, hilang. 

Sementara yang akan tersisa hanya nihilisme, atau sinisme, yang tak meyakini apa-apa selain kemenangan.

Seorang kenalan yang bingung bertanya lewat WA, "Jadi, mas, agama Prabowo itu apa?"

"Apa itu penting kamu persoalkan?"

"Saya gak mempersoalkan.  Tapi menarik juga jika ada seorang pemimpin yang suatu ketika Islam, dan lain kali Kristen.  Kan pos-mo?"

HP saya matikan.


(Goenawan Mohamad)

Sabtu, 29 Desember 2018

Surat Terbuka untuk Bung Jokowi: Infrastruktur Kebencanaan


Presiden Jokowi di Banten


Assalaamu'alaikum, Bung Jokowi.  Presiden Republik Indonesia. Semoga selalu sehat dan beruntung dalam mengemban tugas.

Bung Jokowi yang terhormat.

Kalau memang Bung concern pada pembangunan infrastruktur (dan katanya 2019 mulai memprioritaskan SDM), dan bertekad untuk jadi presiden lagi, baiknya juga punya tekad untuk mengalokasikan anggaran ke infrastruktur kebencanaan.

Perkuat sistem pengawasan hazard alam dengan melengkapi peralatan dan SDM-nya. Sekarang ini semua gunung api perlu diawasi tapi kita baru bisa mengawasi sebagian.

Kita perlu pengawasan terhadap potensi tsunami, tapi alatnya beberapa hilang. Kita ini sering kebanjiran sehingga perlu sistem drainase atau lebih jauh, perlu mencegah perusakan alam yang bisa menimbulkan banjir.

Kita perlu Early Earning System terhadap semua potensi bencana. Kita perlu tempat tinggal yang aman. Kita perlu fasilitas umum (sekolah, pasar, rumah sakit, dan lain-lain) yang aman. 

Kita perlu jalur evakuasi. Kita perlu tempat ungsi. Kita perlu fasilitas-fasilitas cadangan untuk hidup dalam situasi bencana. Tinggal Anda perhitungkan skala prioritasnya.

Di ranah sistem respon, kita butuh tim respon yang sangat sangat cepat-lengkap dengan peralatan dan aksesnya agar angka kematian kian mengecil. 

Ambulan kita masih kurang cepat, Bung. Tim SAR kita perlu dipercepat. Medical SAR perlu diresmikan dan diperbanyak. Rumah sakit kita perlu kapasitas cadangan yang baik agar bisa menampung pasien yang eskalatif.

Bung ingin fokus pada pencegahan kejadian, pada ketahanan infrastruktur terhadap kejadian, pada pengayaan kapasitas-kapasitas cadangan, atau pada sistem respon kita terhadap kejadian? Itu bagus. Pokoknya lakukan!

Perlu diingat; semua jalan tol, jembatan, dan bangunan akan hilang begitu saja, bahkan trilyunan lenyap seketika bila tak kuat diterjang bencana.

Sebagai gambaran, coba dihitung, bukankan pendapatan tax amnesty yang dilakukan secara rumit itu masih kalah dengan kerugian akibat bencana? 

Infrastruktur-infrastruktur yang Bung bangun dengan kerepotan luar biasa itu akan lenyap seketika menyisakan duka karena tak kuat menghadapi bencana.

Saya tau, ini bukan pekerjaan Bung Jokowi saja. Disaster is everybody's business. Kami juga akan melakukan apa yang harus kami lakukan, dan Bung sebagai pemegang mandat penyelamatan negara saat  ini silakan lakukan sebaik mungkin.

Ya, lakukan sebaik mungkin!


Wassalaamu'alaikum.

Warga Negara Indonesia

Kamis, 27 Desember 2018

Agenda Rutin Debat Tahunan Orang Indonesia


Sumber gambar: boomee.co


Barangkali, sudah menjadi rahasia umum, umat manusia di negeri ini punya agenda debat tahunan yang itu-itu saja. 

Bangsa kita, dewasa ini, memang unik. Apa saja bisa menjadi bahan obrolan yang terkadang di satu sisi mengasyikkan, tapi di sisi lain juga menjengkelkan.

Pernyataan dari masing-masing kubu pembawa kebenaran ada yang cukup argumentatif, tetapi ada juga yang bicaranya selalu tidak berdasar. Akhirnya sesat pikir.

Agenda rutin itu adalah, pertama, Hari Raya Natal. Saban tahun, umat Islam, disibukkan soal hukum mengucapkan selamat dan merayakan Natal.

Sebagian ulama ada yang membolehkan mengucapkan selamat, ada pula yang tidak memperbolehkan sama sekali. Masing-masing ulama tersebut tentu memiliki dasar dalam mengemukakan pendapatnya.

Salah satunya adalah, boleh mengucapkan selama tidak meyakini kebenaran yang dianut oleh umat Kristiani bahwa Yesus atau Isa Al-Masih merupakan anak Tuhan, atau meyakini Trinitas.

Sementara yang melarang lebih kepada penjagaan akidah karena dikhawatirkan mempengaruhi kadar keimanan umat Islam. 

Jelas, ulama yang berpendapat seperti itu punya referensi dan literatur yang mendasar. Tidak asal dan abal. Kita, sebagai umat Islam, berhak meyakini kebenaran yang kita anggap benar.

Kedua, persoalan Tahun Baru Masehi. Lagi-lagi umat Islam dihadapkan pada rutinitas debat yang tak kunjung padam. Ada saja yang memantik suasana menjadi panas, tetapi ada juga yang membuat atmosfer keberagamaan kita berubah menjadi sejuk. Hal ini tergantung dari sisi mana kita melihatnya.

Bagi sebagian muslim, Tahun Baru Masehi adalah tahun barunya umat Kristiani. Karenanya, haram untuk dirayakan dalam bentuk dan kemasan apa pun.

Tetapi, sebagian ulama kontemporer ada pula yang berpendapat bahwa sah-sah saja merayakan malam pergantian baru, dengan beberapa catatan. Misalnya istighotsah, dzikir, dan doa bersama.

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bekasi, KH Zamakhsyari Abdul Majid misalnya, berpendapat bahwa haram hukumnya jika malam pergantian tahun baru diisi dengan aktivitas yang tidak bermanfaat. Seperti misalnya hura-hura, pesta seks, mabuk-mabukkan, dan segala hal yang dilarang oleh agama.

Tapi toh, merayakan atau tidak merayakan, dirayakan atau tidak dirayakan, kita pasti melewati hari besar itu. Sementara itu, sebagai manusia yang menjadi khalifah di bumi, kita tetap dituntut untuk senantiasa berbuat baik. 

Bagi saya pribadi, Tuhan tidak pernah memberikan larangan selama perbuatan yang dilakukan adalah baik dan bermanfaat bagi segenap umat manusia, khususnya di Indonesia.

Sebab, akan menjadi sesuatu yang sangat disesalkan ketika perdebatan itu justru menambah tebal kandungan racun kebodohan di otak kita. Karena akan berdampak pada peradaban bangsa Indonesia yang justru mundur.

Bahkan, bukan tidak mungkin, bangsa lain bisa tertawa melihat kelakuan bangsa Indonesia yang selalu punya agenda rutin debat tahunan hanya untuk mempersoalkan masalah yang itu-itu saja. Alangkah lucunya negeri ini.

Di awal-awal tahun nanti, seperti biasa, kita dipertemukan dengan tiga hal, yakni hujan, Imlek, dan Valentine.

Hujan dan Imlek memang menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan, hujan yang kian hari semakin deras justru membawa keberuntungan, bagi warga penganut ajaran Kanjeng Nabi Konfusius khususnya.

Karena Nabi Konfusius tidak termaktub dalam kitab suci secara harfiyah, maka ajaran Konghucu dianggap mengada-ada dan mengucapkan selamat kepada hal yang kebenarannya diragukan, oleh sebagian umat Islam dihukumi haram.

Tapi toh, puncak dari toleransi antarumat beragama di Indonesia ini adalah karena bisa menikmati hari libur. Bukan begitu?

Kemudian valentine yang jatuh pada setiap 14 Februari. Sebuah momentum yang oleh sebagian besar umat Islam diyakini bermuara pada cerita cinta perzinaan. Maka, menjadi haram untuk diucapkan selamat atau pun merayakannya.

Saya sendiri menganjurkan untuk mewarnai 14 Februari dengan perbuatan yang positif dan bermanfaat. Tidak dengan zina, mabuk-mabukkan, dan semua yang dilarang oleh syariat Islam.

Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Al-Ukhuwah Universitas Islam "45" (Unisma) Bekasi misalnya, saban 14 Februari, mereka melakukan aktivitas yang sangat baik. Yakni membagi-bagikan kerudung atau jilbab di Car Free Day. Mereka menamainya sebagai hari untuk menutup aurat.

Nanti, kita tentu akan menemukan berbagai dalil dan argumentasi keagamaan yang menyeruak ke permukaan media sosial. Menjadi asik jika penyampaian argumentasi itu memiliki dasar yang kuat.

Akan tetapi, menjadi sebuah paradoks manakala dalil yang diutarakan justru diniatkan untuk menyerang umat manusia yang dengan bahagia merayakan valentine secara baik dan positif, atau dengan kata lain, jauh dari perbuatan zina dan maksiat.

Begitu pula halnya saat Imlek. Dalil keagmaan kerap menjadi alat untuk menyerang orang-orang yang ikut membantu dalam perayaan. Padahal, Imlek sama sekali bukan perayaan keagamaan. Melainkan perayaan kebudayaan. 

Apa pun agamanya, asal masih memiliki garis keturunan Tiongkok dan mempercayai kebenaran yang dibawa oleh Konfusius, maka boleh ikut serta merayakan.

Sandra Dewi, misalnya. Ia beragama Kristen, tetapi saban Imlek, artis cantik yang satu itu ikut berbahagia dan merayakannya.

Sebab, Imlek merupakan acara adat dan kebudayaan atau upacara untuk mengusir jin, setan, atau segala hal yang buruk lainnya. Silakan cari referensinya sendiri-sendiri ya.

Valentine pun demikian. Itu produk budaya. Tetapi kebetulan saja yang menjadi pelaku muasalnya adalah orang yang beragama. Kemdian, karena menurut sebagian besar umat Islam, rasa cinta seorang yang bernama Valentino luar biasa dahsyat itulah, maka tanggal kematiannya diperingati dan diberi nama Valentine Day.

Jadi, saya beranggapan, merayakan Hari Valentine dengan beragam hal positif yang jauh dari perbuatan zina dan maksiat, silakan saja.

Akan tetapi dengan catatan, merayakannya tidak dimaksudkan untuk melanggengkan perzinaan. Melainkan diberi niat untuk mengubah keburukan (perzinaan) menjadi kebaikan, melalui hal-hal positif lainnya.

Mengucapkan Selamat Hari Raya Imlek juga tidak menjadi masalah, karena dengan mengucapkan selamat, kita sama saja berdoa atas nama kemanusiaan. Semoga dalam perayaannya, teman-teman Tionghoa diberi kelancaran tanpa suatu kendala apa pun.

Kata "selamat" itu pun memberi makna, semoga perayaan Imlek membawa rezeki. Misalnya, mendapatkan angpao beserta isinya senilai seratus ribu. Lumayan untuk membeli paket data.

Bagaimana?

Kiranya, itulah agenda rutin debat tahunan bangsa Indonesia yang selalu mempersoalkan hal yang itu-itu saja. Kita berharap, semoga negeri ini dijauhkan dari marabahaya. Aamiin. Wallahua'lam.

Rabu, 26 Desember 2018

Prabowo Ucapkan Selamat Natal, Pendukungnya Diam Membisu


Prabowo saat merayakan Natal

Setiap kali Desember tiba, pembicaraan terkait pro dan kontra mengucapkan selamat natal kepada umat Kristen, selalu saja mengemuka. Saya tidak tahu pasti, sejak kapan larangan itu disuarakan.

Namun satu hal yang saya ingat, ketika masih anak-anak dulu, mengucapkan selamat natal, sepertinya tidak ada masalah.

Saat natal tiba, saudara-saudara saya yang muslim, biasanya datang berkunjung ke rumah hanya sekadar untuk bersilaturahmi. Mereka larut dalam kebahagiaan yang sedang kami rasakan.

Mereka saling berbincang dan bercanda satu sama lain, sembari menikmati kue natal yang tersaji. Kami bersatu dalam keberagaman dan kebinekaan.

Indah benar rasanya. Ketika kami bernatal, saudara kami yang muslim seakan juga turut bernatal. Kala Idulfitri tiba, kami juga turut merasakan sukacita kemenangan yang mereka rasakan.

Namun sayang, toleransi antarumat beragama yang dulu terbina begitu baik dan rukun itu, seakan hilang karena keakuan yang semakin menonjol dewasa ini.

Jangankan untuk saling bersilaturahmi, mengucapkan selamat natal saja pun menjadi hal yang sangat tabu saat ini. Ada yang menyebut, haram hukumnya bila seorang muslim mengucapkan selamat natal kepada saudaranya yang Kristen.

Apa benar hanya karena ucapan itu lantas akan mengubah keyakinannya? Tentu tidak.

Atau sebaliknya, apakah ketika seorang Kristen mengucapkan selamat Idulfitri lalu akan menggoyahkan kepercayaan kepada Tuhannya? Tidak juga.

Itu hanya sekadar sebuah ucapan selamat, sebagai wujud penghormatan terhadap kebinekaan, ucapan persaudaraan, dan keramahtamahan. Itu saja. Tidak lebih.

Sesungguhnya, ucapan selamat natal tidak perlu harus menjadi polemik. Bagi mereka yang menganggap bahwa mengucapkan selamat natal bukanlah sesuatu hal yang haram, ya silakan diucapkan.

Sebaliknya, bagi mereka yang menganggapnya haram, maka tidak perlu diucapkan. Juga tidak perlu harus diperdebatkan. Ya, sesederhana itu.

Sebab sesungguhnya, bagi umat Kristen tidak ada pengaruhnya sama sekali apakah mereka mendapat ucapan selamat natal atau tidak dari saudaranya yang beragama non-Kristen.

Diucapkan terima kasih, tidak diucapkan juga tidak apa-apa. Tidak ada yang perlu diributkan sebenarnya. Karena yang terpenting adalah tetap rukun dan damai.

Terkait pro dan kontra ucapan selamat natal tersebut, Profesor Nadirsyah Hosen, salah seorang ulama muda Nahdlatul Ulama, pernah menulis di akun twitternya bahwa sesungguhnya tidak ada larangan bagi umat muslim untuk mengucapkan selamat natal.

Ia justru menyebut, mayoritas ulama kontemporer saat ini membolehkan mengucapkan selamat natal.

Namun para ulama pendukung Calon Presiden Nomor Urut 02, Prabowo Subianto, tidak sependapat dengan Gus Nadir tersebut. Mereka menilai bahwa dengan mengucapkan selamat natal, telah keluar dari akidah.

Beberapa diantaranya adalah Ustadz Abdul Somad, Tengku Zulkarnain, Haikal Hassan, dan Rizieq Shihab. Mereka begitu keras dan lantang menyuarakan bahwa mengucapkan selamat natal adalah haram.

Begitu pula ormas pendukung Prabowo, seperti Front Pembela Islam (FPI) dan eks-Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang tidak sepakat dengan pernyataan beberapa ulama yang menyebut bahwa mengucapkan selamat natal hanyalah sebuah bentuk keramahtamahan, atau hanya sekedar sebuah ucapan sopan santun atas perayaan hari besar agama Kristen.

Ketika FPI dan HTI serta para ulamanya melarang keras mengucapkan selamat natal, ternyata hari ini, capres pilihan mereka itu, capres yang didukung oleh ijtima ulama, Prabowo Subianto, seolah “menentang” larangan yang mereka buat. Prabowo seperti mengabaikan fatwa yang dibuat oleh para ulama pendukungnya itu.

Sebelum ucapan selamat natal yang disampaikan oleh Prabowo lewat akun twitternya itu, telah santer terdengar bahwa Prabowo akan turut merayakan natal bersama keluarga besarnya. Berita itu sudah pastilah membuat para pendukungnya kebakaran jenggot. Namun mereka tidak mampu berkata-kata.

Mereka sudah kadung mendukung Prabowo. Jadi betapa pun Prabowo melakukan kesalahan maka merupakan sebuah kewajiban bagi mereka untuk membela. Bahkan sekalipun itu sudah menyangkut “akidah,” mereka tetap harus pasang badan, meskipun itu terasa begitu sesak di dada.

Dan, tweet ucapan selamat natal Prabowo hari ini (25/12/2018), akan semakin membuat hati mereka tersayat-sayat.

Lewat akun twitternya, Prabowo mencuit:

“Assalamualaikum Warohmatullahi wabarokatuh. Shalom. Saya mengucapkan selamat Hari Natal bagi seluruh umat Kristiani. Semoga damai dan kasih selalu menyertai kita semua.” 

Selain cuitan itu, Prabowo juga menggunggah sebuah video yang isinya sama: mengucapkan selamat natal bagi umat Kristiani.

Klik di sini untuk melihat postingan Prabowo di twitter.

(Penulis adalah Ronny Leung, salah seorang umat Kristen di Indonesia)

Senin, 24 Desember 2018

Ingin Jadi Ketua Umum PP IPNU? Jangan Cacat Komunikasi!


Suasana Sidang Tata Tertib Pemilihan Ketua Umum PP IPNU


Bagaimana mungkin Calon Ketua Umum PP IPNU tidak memiliki rekomendasi dari Pimpinan Wilayah asalnya? Aneh, ketika ada kader IPNU yang tidak menyepakati rekomendasi dari PW asal. 

Calon pemimpin kita nanti itu, akan memimpin sebanyak 34 PW. Ini tidak akan bisa terwujud jika di PW asalnya sendiri tidak punya rekomendasi. Hal ini menunjukkan rapuhnya komunikasi organisasi Calon Ketua Umum dari wilayah tempat awal berproses. Kecacatan komunikasi ini dikhawatirkan bisa terbawa kelak apabila calon kandidat terpilih

Selain itu, PW adalah rumah kedua setelah Pimpinan Cabang (PC) sebelum masuk ke rumah yang baru, yakni PP. Rekomendasi dari PW asal adalah pembuktian secara administrasi bahwa Calon Ketua Umum benar-benar kader terbaik yang telah memiliki kualitas.

Kemudian, kunci dari keberhasilan seorang pemimpin adalah dengan komunikasi yang baik. Nah pertanyaan berikutnya, bagaimana komunikasi Calon Ketua Umum PP IPNU jika tidak ada rekomendasi dari PW asal? Ini sungguh, sebuah kecacatan yang hakiki.

Rekanku yang budiman, mari kita hidupi IPNU dengan baik. Tidak emosional, tetapi dengan rasionalitas yang bisa dipertanggungjawabkan. Jangan memutarbalikkan keadaan hanya untuk supaya argumentasimu diterima dan disepakati.

IPNU bukan tempat bermain orang-orang yang tidak tuntas di rumahnya sendiri. IPNU bukan ruang hampa yang di dalamnya bisa dimainkan sesuka hati, sesuai kehendak emosinya sendiri. Mari kita jadikan IPNU sebagai wahana intelektual yang tuntas, yang selesai dari hal-hal yang kecil menuju sesuatu yang lebih besar.

Wallahua'lam...

Kamis, 20 Desember 2018

Asiknya Punya Istri Pengertian


Sumber: trenlis.co

Siapa yang tidak ingin punya istri yang cantik, baik, dan mengerti keadaan? Saya rasa, istri seperti itu menjadi idaman bagi setiap laki-laki di mana pun berada.

Suatu ketika, seorang suami memberikan uang belanja kepada sang istri.

"Mah, ini ada uang Rp50 ribu. Dicukupin ya buat 3 hari. Syukur-syukur bisa buat seminggu."

"Iya, Pah. Buat setahun juga bisa," jawab istrinya santai.

Mendengar hal itu, sang suami senang bukan main. Bagaimana tidak, uang Rp50 ribu bisa cukup untuk setahun.

Ia lantas memuji istrinya.

"Wah aku beruntung banget, punya istri yang baik, cantik, dan hemat lagi. Memangnya mau dibelikan apa, Mah? Uang Rp50 ribu kok bisa buat setahun?"

"Dibelikan kalender tahun 2019, Pah."

Ditantang Jadi Imam Salat, Kita Harus Sepakat dengan Jawaban Prabowo


Sumber: cnnindonesia.com

La Nyalla Mattalitti adalah orang yang berkhianat kepada Yang Mulia Al-Habib wal Mahbub Prabowo Subianto. Siapa yang tidak kenal dengan La Nyalla? La Nyalla itu berarti mati. Wleee...

Ia menantang Ketua Umum Partai Gerindra itu untuk jadi imam salat, seperti junjungannya yang saat ini dibela hidup-hidupan, eh, mati-matian, yakni Maulana Gusti Kanjeng Joko Widodo. 

Saya heran, deh. Ini kita disuruh milih presiden apa imam salat, sih? Rakyat diadu mulu, ngeselin banget. Kalau cuma soal milih imam salat mah, ada tuh Pak Haji Abdul Hadie, Ketua DKM Masjid Agung Al-Barkah, Kota Bekasi. Calon Anggota DPD Jawa Barat Nomor 27. Ribet amit.

By the way, saya sepakat sama jawaban Habib Prabowo atas tantangan yang diberikannya. Pria berbadan tambun yang menduda sudah sangat lama ini memang tawadhu bukan main. Soal menjadi imam salat, ia serahkan kepada orang yang ilmunya lebih tinggi. 

Ia merasa tak pantas, karena memang tidak paham agama. Ini tawadhu sekali. Saya sepakat. Habib Prabowo memang tidak pantas jadi imam salat, serahkan kepada yang ilmunya lebih tinggi, yakni Maulana Jokowi. Yha~

Saya suka dengan jawaban yang meluncur bebas dari mulut pemelihara kuda itu. Bahwa memang, segala sesuatunya haruslah diserahkan kepada ahlinya. Termasuk imam salat.

Tapi kan Habib Prabowo ini capres hasil jimak, eh ijtimak ulama? Lho kok, tidak bisa jadi imam salat? Bijimana ini urusannya?

Ya tidak apa-apa. Habib Prabowo memang tidak punya sejarah hidup yang menyatakan kalau dirinya pernah belajar agama Islam. Seluruh keluarganya, sebagian besar atau bahkan sebagian tidak kecil, adalah pemeluk agama yang bukan Islam? Kalau kamu meluk apa, mblo? Yhaaaa~

Habib Prabowo juga bukan anak pesantren. Mau tahu sejarah hidupnya pria yang nyapres berkali-kali tapi gagal itu, yang tidak pernah ada irisan sedikit pun dengan agama Islam? Klik disini.

Maka saya, lagi-lagi sepakat dengan Habib Prabowo soal pentingnya tawadhu, rendah hati, tidak sombong, tidak mencaci-maki, tidak umbar kebencian, dan tidak kawin lagi, eh.

Habib Prabowo adalah sosok pemimpin jujur, tokoh publik yang tulus. Kata Gus Dur, hanya Habib Prabowo-lah, pemimpin yang ikhlas. Ikhlas melepas cintanya si doi. Buktinya, Habib Prabowo ikhlas menduda demi mengurus persoalan bangsa dan negara. Luar biasa, kan?

Maka sudah tepat pernyataan Habib Prabowo itu. Bahwa orang yang berhak jadi imam salat itu adalah orang yang ilmu agamanya sudah tinggi. Termasuk Mbak Yenny Wahid, putri Gus Dur, yang pernah diminta oleh Habib Prabowo jadi imam salat. Eaaaaaaak~

Kasus Habib Bahar, Kriminalisasi Ulama? Palelo Peyang!


Sumber: infokanlah.com

Habib Bahar bin Ali bin Alawi bin Abdurrahman bin Sumayt (Smith) resmi menjadi tersangka. Kasus yang menimpanya itu bukanlah karena menghina Presiden RI Maulana Joko Widodo. Akan tetapi karena ulama gondes itu memukuli anak di bawah umur.

Video pemukulan itu kemudian viral, heboh, dan menjadi ghibah hebat di dunia maya. Luar biasa Bang Gondes yang satu ini. Lalu, bagaimana sikap saya? Ada saja yang nanya begitu.

Baik, saya jawab. 

Habib Bahar, memang memiliki garis nasab yang sampai kepada Nabi Muhammad. Makanya disebut Habib oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Karena nasab yang baik itulah, dirinya menjadi tokoh publik yang digandrungi para pecinta Nabi.

Saya pun menaruh takzim dan hormat kepadanya. Kalau nanti ada waktu saya bertemu dengan Habib Bahar, tangannya akan bolak-balik saya cium. Hal ini yang tidak dilakukan oleh kader PKS unyu-unyu dan organisasi-organisasi turunannya.

Tapi sayang, saya tidak akan bisa jumpa dengan Habib Bahar karena jadwal saya yang cukup padat. Maafkan saya, Bib. Tolong sampaikan salam saya untuk beliau. Dari Bang Aru, gitu.

Status tersangka Habib Bahar, tidak membuat saya senang atau pun sedih. Memangnya Habib Bahar siapa, sih? Abang, bukan. Bapak, juga bukan. Om saya juga bukan. Apalagi majikan saya, bukanlah, emang saya pembantu? Hih!

Tapi jujur, hal yang bikin saya sedih adalah karena datuknya Habib Bahar tidak pernah memukul orang lain dengan alasan apa pun. Kecuali kalau situasinya sudah mepet banget dan mengharuskan untuk menyerang.

Jadi ceritanya, berdasarkan informasi yang saya dapat, anak remaja itu menggunakan nama Habib Bahar untuk menipu. Wajar saja, Bang Gondes marah. Saya juga pasti marah, kalau nama sebagus Aru Elgete jadi alat untuk menipu. Enak aja. Palelo peyang!

Tapi kan gak harus gulet juga keleus?! 

Nah, yang bikin saya sedih lagi adalah pernyataan sebagian besar, eh kecil deh, yang mengatakan bahwa status tersangka yang dinobatkan kepada Habib Bahar adalah bentuk kriminalisasi ulama yang dilakukan oleh rezim pir'aun laknatullah sepanjang masa ini. Ya Allaaaaah...

Saya jawab, kriminalisasi dari Taiwan?! Palelo peyang!

Begini, sebagai anggota Gusdurian Bekasi Raya yang punya jargon Bagen Ngapah, saya ingat bahwa salah satu dari sembilan ajaran Gus Dur adalah kesetaraan. Dus, kesetaraan itu pun berlaku juga untuk perbuatan yang berkaitan dengan hukum.

Artinya, semua orang memiliki kesetaraan di mata hukum. Tidak ada pembeda. Mau tukang becak kek, tukang sayur, tukang galon, dan tukang pijit, kalau melanggar hukum ya harus ditindak. Gitu aja kok repost. Eh repot.

Kalau saya misalnya mukulin anak orang, mukulinnya pakai gamis dan sorban, dan saya masuk penjara, terus teman-teman saya teriak-teriak kriminalisasi ulama gitu? Ya kagak lah. Saya kan bukan ulama, tapi ubaru. Wleee...

Begini deh, saya jelasin.

Dalam Surat Al-Maidah ayat 38, Allah sudah menyatakan bahwa semua orang, baik laki-laki atau perempuan memiliki kesamaan di mata hukum. Tidak bisa tidak disama-samakan. Alias jangan dibeda-bedakan.

"Dan pencuri, laki-laki dan wanita, potonglah tangan keduanya sebagai balasan atas perbuatan mereka dan hukuman dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."

Terus bijimane kalau pencurinya itu masih punya kedekatan nasab dengan Nabi Muhammad? Hal ini distrongkan oleh sebuah riwayat yang diabadikan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim.

"Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya, seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku memotong tangannya." 

Sudahlah. Baiknya, kita serahkan kasus itu kepada pihak yang berwajib. Pihak yang punya otoritas soal hukum-menghukum. Jangan dikit-dikit nyalahin Pak Jokowi, nyalahin rezim lah, penguasa lah. Kasihan banget sih, seolah-olah hidupnya ditindas mulu. Bangkit, dong!

Bagaimana caranya bangkit? Fastibaqul khoirot, lah!

Toh, kuasa hukum Habib Bahar juga sudah bilang kalau kliennya yang gondes itu sudah taat hukum dan pasrah dengan hukum yang berlaku di negeri ini. Terus kalian mau apa? Demo? Malu-maluin aja, sih.

Mending berdoa, istighotsah, mohon ampunan kepada Allah semoga negeri ini baik-baik saja. Gitu. Jangan mencaci-maki, jangan menghina, jangaan suuzon, jangan jomblo mulu, eh.

Terakhir, saya ingin katakan bahwa masih banyak keturunan Nabi yang perlu kita teladani sebagai washilah mencintai Kekasih Allah yang nikah pertama kali sama janda kaya umur 40 tahun itu.

Seperti misalnya Habib Luthfi, Habib Syekh, Habib Jindan, dan Habib Aru Elgete. Mari berdoa semoga Habib Bahar segera memperbaiki diri supaya bisa melanjutkan dakwah-dakwahnya yang sejuk dan menenteramkan hati umat. 

Minggu, 09 Desember 2018

Bersama Pengusaha Tionghoa, Prabowo Mengaku Junjung Kemanusiaan


Prabowo bersama Pengusaha Tionghoa.

Calon Presiden Nomor Urut 02 Prabowo Subianto menghadiri acara ramah tamah bersama pengusaha Tionghoa yang tergabung dalam Tim 9, di Ballroom Suncity, Jakarta Pusat, Jumat (7/12) malam lalu.

Dalam acara tersebut, ia menjadi narasumber dalam diskusi dengan tema, Tionghoa dan Bisnis di Mata Prabowo. 

Di hadapan para pengusaha Tionghoa itu, ia berkisah mengenai hidupnya dari kecil hingga menjadi prajurit TNI.

Dalam kancah militer, Prabowo juga sering menjumpai banyak orang dengan beragam latar belakang.

"Saya sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan," kata Prabowo.

Ia mengaku banyak menemukan pengalaman dari berbagai suku, diantaranya orang Timor, Papua, Dayak, Lampung, Toraja, Minahasa, Batak, dan Aceh.

"Karena sebagai tentara dan komandan atau pimpinan, banyak (menemui) orang dari semua suku dan agama," katanya.

Ia pernah pula operasi di beberapa daerah memimpin banyak orang dari berbagai etnis suku, agama, dan memimpin sukarelawan Tionghoa.

"Mereka (orang-orang) Tionghoa berjuang bersama Republik Indonesia," pungkasnya.

Dalam acara tersebut juga dihadiri Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Berkarya Titiek Soeharto, Wakil Ketua Dewan Pembina DPP Partai Gerindra Hashim Djojohadikusumo, Istri Cawapres Sandiaga Uno Nur Asia Uno, dan Ibunda Sandiaga Uno yakni Mien Uno, serta tokoh-tokoh dari Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi lainnya.


(Sumber: merdeka.com)

Desember 2009, Presiden SBY: Gus Dur Bapak Pluralisme Indonesia


Presiden SBY saat pimpin upacara pemakaman Gus Dur, Desember 2009. Foto: antarafoto.com


Saat memimpin upacara pemakaman KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), di Komplek Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, pada 31 Desember 2009, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) secara terbuka mengakui Gus Dur sebagai ‘Bapak Pluralisme’.

Jauh sebelum itu, yakni pada 24 Agustus 2005, sejumlah tokoh lintas agama, Jaringan Doa Nasional Tionghoa Indonesia, dan warga Ahmadiyah menganugerahi Gus Dur sebagai Bapak Pluralisme Indonesia. Penganugerahan ini kemudian disampaikan di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta Pusat.

Ideologi pluralisme yang dibawa Gus Dur dan penghormatannya kepada pluralitas, sepenuhnya berdasarkan pemahaman yang mendalam terhadap ajaran Islam, serta tradisi keilmuan yang ada dalam lingkungan Nahdlatul Ulama.

Pertama, prinsip pluralisme diakui di dalam kitab suci. Al-Qur’an secara tegas mendeklarasikan bahwa pluralitas masyarakat, dari segi agama, etnis, warna kulit, bangsa, dan lain sebagainya itu merupakan keharusan sejarah yang menjadi kehendak Allah.

Karenanya, upaya penyeragaman dan berbagai bentuk homogenisasi yang lain, termasuk dalam hal pemahaman dan implementasi ajaran agama, adalah sesuatu yang bertentangan dengan semangat dasar Al-Qur’an. (Baca: QS Al-Maidah: 48).

Pluralitas agama dan masyarakat menjadi alat uji atau parameter kualitas keberagamaan umat. Dengan pluralitas itu, bisakah setiap kelompok atau umat beragama bisa hidup berdampingan secara damai dengan pemeluk agama lain, dengan semangat saling belajar dan saling menghormati.

Atau, justru sebaliknya. Pluralitas itu malah menjadi alasan untuk membangun klaim-klaim kebenaran yang bersifat sectarian.

Kedua, nalar keagamaan NU sepenuhnya dibangun di atas spirit pluralisme. NU mengikuti tradisi pemikiran madzhab yang menjadi pilar tegaknya peradaban fiqih.  Sebab, ajaran Islam tidak digali secara langsung dari sumbernya, tapi melalui pemikiran ulama madzhab.

Dengan demikian, maka pemikiran NU terhindar dari pendekatan tekstual dan interpretasi tunggal terhadap Al-Qur’an dan Hadits.

Fiqih dirumuskan sebagai hukum atau kumpulan hukum yang ditarik dalil-dalil syar’i, yakni Al-Qur’an dan Hadits. Definisi ini, menurut Gus Dur dalam Pengembangan Fiqih secara Kontekstual, jelas menampakkan adanya proses untuk memahami situasi yang di situ ayat Al-Qur’an dan Hadits memperoleh pengolahan untuk disimpulkan berdasarkan kebutuhan manusia.

Kalau pemikiran radikal berusaha memberikan ajaran Islam dari tradisi masyarakat yang dianggap tidak murni, menyimpang dan sesat, maka fiqih sebagai teori-teori hukum (ushul fiqh) dan kaidah-kaidah hukum (qawaid fiqhiyyah) memungkinkan agama menyatu dengan tradisi masyarakat setempat.

Dengan sentuhan tradisi, agama menjadi lebih membumi, dinamis, dan tanggap dengan kepentingan kemanusiaan yang bersifat lokal dan aktual.

Fiqih adalah produk kreativitas intelektual ulama. Karenanya, maka muncul berbagai madzhab fiqih. NU menganut empat madzhab, yakni madzhab Hanafi, Maliki, asy-Syafi’i, dan Hanbali.

Kesediaan untuk bermadzhab kepada lebih dari satu aliran pemikiran dengan sendirinya merupakan kesadaran total untuk menerima pluralitas. Maka tak heran jika ulama NU seperti ditunjukkan dalam sejarah bangsa ini yang sangat menghargai pluralitas dan tidak mudah untuk membuat fatwa yang menyesatkan kelompok lain.

Di sinilah, nyata terlihat bahwa pluralisme yang dikembangkan Gus Dur adalah revitalisasi dari ajaran Islam dan tradisi berpikir pesantren yang telah berkembang selama berabad-abad.


(Tulisan diatas disarikan dari buku 41 Warisan Kebesaran Gus Dur karya M Hanif Dhakiri. Ditulis dalam rangka Haul Gus Dur ke-9 pada akhir Desember mendatang)

Kamis, 06 Desember 2018

Gus Dur Bapak Tionghoa


Sumber gambar: gusdurfiles.com

Pada 10 Maret 2004, beberapa tokoh Tionghoa di Klenteng Tay Kak Sie, Gang Lombok, yang sering dikenal sebagai Kawasan ‘pecinan’ di Semarang Jawa Tengah, mentahbiskan KH Abdurrahman Wahid sebagai “Bapak Tionghoa”.

Gus Dur bukan hanya banyak melahirkan pemikiran dan kebijakan yang menghormati masyarakat Tionghoa, tetapi juga mensejajarkan mereka dengan semua kelompok yang ada di Indonesia dari berbagai agama, suku, dan adat istiadat yang berbeda.

Gus Dur adalah tokoh agama yang selalu ‘pasang badan’ atas tindakan diskriminatif terhadap etnis Tionghoa dan kelompok nonmuslim lainnya, baik yang dilakukan oleh kelompok Islam sendiri maupun rezim Orde Baru. Ia merupakan pembela bagi berbagai kelompok yang termarginalkan.

Tokoh Muhammadiyah, Moeslim Abdurrahman, menyebut Gus Dur sebagai tokoh yang konsisten memperjuangkan hak-hak minoritas dan korban pelanggaran hak asasi manusia (Kompas, 5 Agustus 2005).

Pada level praktis dan kebijakan, pembelaan Gus Dur terhadap kelompok dan etnis Tionghoa dibuktikan secara nyata. Saat ia menjabat presiden, Imlek bisa dirayakan dan diperingati dengan bebas. Warga Tionghoa tidak perlu lagi sembunyi-sembunyi jika merayakannya.

Kebebasan itu tak lepas dari keputusan politik Gus Dur yang pada 17 Januari 2000, mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 6 Tahun 2000. Isinya, mencabut Inpres No 14/1967 yang dibuat Soeharto tentang agama, kepercayaan, dan adat istiadat Cina.

Dengan Inpres No 14/1967, rezim Orde Baru yang represif telah membuat Imlek terlarang dirayakan depan publik. Barongsai, liang-liong harus sembunyi-sembunyi, huruf-huruf atau lagu Mandarin tidak boleh diputar di radio.

Selama 32 tahun Orba, tidak pernah ada Imlek yang meriah seperti tahun-tahun setelah Gus Dur menjadi presiden.

Begitu besar perhatian dan pembelaan Gus Dur terhadap kelompok Tionghoa, sehingga mereka pun memberi gelar “Bapak Tionghoa” kepadanya. Bahkan tak hanya itu. Penghargaan dan penghormatan masyarakat Tionghoa kepada Gus Dur juga selalu ditunjukkan dalam berbagai kesempatan.

Terdapat timbal-balik, saling menghargai, dan saling menghormati antara Gus Dur dan masyarakat Tionghoa. Hal itu bukan lantaran motif kekuasaan atau keduniaan, tetapi karena keduanya sama-sama mencintai Indonesia dan kemanusiaan.

Pada 18 Juli 2005, Sejarawan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Dr Asvi Warman Adam memberi kesaksian:

"Saya teringat malam kesenian yang diadakan Perhimpunan Inti (Indonesia-Tionghoa), 17 Agustus 2004, di Graha Sarbini, Jakarta. Ketika acara dimulai, muncul Salahuddin Wahid yang saat itu cawapres (pasangan Wiranto), disusul Hasyim Muzadi yang juga cawapres (bersama Megawati). Pertunjukan berlangsung terus. Ketika Gus Dur masuk ruangan bersama istrinya, tanpa komando seluruh hadirin berdiri memberi hormat."


(Tulisan di atas disarikan dari buku 41 Warisan Kebesaran Gus Dur karya M Hanif Dhakiri, dan ditulis dalam rangka Haul Gus Dur pada akhir Desember mendatang)

Gus Dur Tetap Menghormati Kelompok yang Dianggap Sesat


Sumber: islamlib.com


Saat banyak kelompok menghujat dan berusaha menyingkirkan kelompok lain yang dianggap sesat, bahkan dengan cara-cara kekerasan atau penistaan, seperti yang sering dialami Jamaah Ahmadiyah, Gus Dur tampil sebagai pembela.

Namun demikian, bukan berarti Gus Dur setuju dengan keyakinan Ahmadiyah, tetapi ia sangat menghormati keyakinan seseorang.

Selain itu, Gus Dur juga ingin menunjukkan cara memahami dan menghayati agama secara dewasa, penuh kearifan, dan kebijaksanaan. Tidak semata-mata pemahaman agama yang berdasarkan pengetahuan atau sisi normatifnya saja.

Dalam berbagai kesempatan, Gus Dur meyakini bahwa kiai dan pesantren dengan tradisi keilmuannya yang sudah sangat panjang akan selalu bersikap arif dalam memahami berbagai jenis masalah.

Salah satu bentuk kearifan itu adalah toleransinya terhadap ‘gerakan sempalan’ atau gerakan keagamaan yang dianggap sesat karena bertentangan dengan keyakinan agama masyarakat pada umumnya.

Meskipun toleransi itu ada batasnya, tapi tetap saja terasa bahwa kiai mengajarkan kepada kita, “Boleh saja memandang keyakinan orang lain atau agama orang itu sesat, tetapi hal itu tidak dengan sendirinya menjadi boleh untuk melarangnya atau melenyapkannya”.

Dalam salah satu kolomnya di Koran Tempo berjudul Kiai Khasbullah dan Musuhnya pada 7 Juni 1980, Gus Dur bercerita tentang sosok Kiai Khasbullah yang luar biasa.

Ia tipe kiai yang senang dengan keterusterangan sikap dan ucapan. Lugas dalam berbicara, teguh dalam sikap, dan berani melawan yang dianggap tidak benar.

Menegakkan hukum agama adalah perjuangan hidupnya yang diabdikan untuk mengajar orang banyak di kampungnya. Model penyampaian masalahnya langsung ke pokok persoalan. Tidak selesai dengan adu argumentasi, kalau perlu adu jotos, sehingga masalah segera tuntas.
Di desa sebelah Kiai Khasbullah ketika itu, muncul gerakan baru bernama Darul Hadis yang kemudian dikenal dengan Islam Jamaah. Di tahun limapuluhan, belum ada Majelis Ulama Indonesia (MUI) sehingga tidak ada lembaga yang membuat fatwa sesat.

Sesuai dengan kelugasan seorang agamawan yang berpegang teguh pada keyakinan keagamaannya yang dianggap benar, Kiai Khasbullah kemudian menantang berdebat kelompok Darul Hadis.

Meskipun menang berdebat, Kiai Khasbullah tetap tidak melarang kelompok Darul Hadis. Namun, toleransi ini ada batasnya.

Yakni selama Darul Hadis tidak tabligh (menyebarkan ajaran) ke desa lain di sekitarnya, Darul Hadis dibiarkan berkembang. Kiai Khasbullah yang lugas dan keras ternyata menyimpan kearifan yang mendalam.

Pertentangan pendapat tidak semuanya diselesaikan, dan lebih-lebih tidak akan diselesaikan dengan melarang atau menyesatkan orang lain. Toleransi itu, justru bisa lebih membawa hasil sebagai upaya menahan perluasan pengaruh lawan.

Melalui tulisan itu, Gus Dur memberi contoh cara-cara berdakwah ala kiai pesantren. Cara-cara dakwah yang santun, elegan, dan dengan pemahaman yang utuh atas ajaran Islam. Kemudian juga dengan tujuan syariat, sebagaimana yang telah dirumuskan para ulama saleh terdahulu dan dilestarikan oleh kiai-kiai NU hingga kini.

Bukan dengan cara dakwah yang arogan dan membabi-buta dengan mengkafirkan dan menyesatkan kelompok lain, serta menganggap diri sendiri sebagai pihak yang paling benar dan suci. Sebuah dakwah yang sebenarnya mencerminkan dangkalnya pemahaman atas ajaran Islam.


(Tulisan di atas disarikan dari buku 41 Warisan Kebesaran Gus Dur karya M Hanif Dhakiri dan ditulis dalam rangka Haul Gus Dur pada akhir Desember mendatang)

Jabar Jadi Pusat Syiah


Kang Jalaluddin Rakhmat, Tokoh Syiah Indonesia. Sumber: islamlib.com

Berdasarkan informasi dari berbagai sumber, serta peneilitian ilmiah yang dilakukan oleh berbagai LSM, lembaga survey, dan bahkan lembaga pemerintahan, Provinsi Jawa Barat merupakan pusat Islam beraliran Syiah.

Hal tersebut lantaran sebagian besar, bahkan hampir seluruhnya adalah pribumi yang bersuku Sunda.

Sejarah mencatat bahwa Sunda dan Syiah punya hubungan emosional yang kental dalam berinteraksi. Sehingga banyak yang teraplikasi dalam komunikasi di kehidupan sehari-hari.

Berikut ini adalah contohnya.

"Kamana, Syiah?" kata orang Sunda menanyakan keberadaan lawan bicaranya.

"Belegug, Syiah!" kata orang Sunda sebagai bentuk kekesalan.

Dan masih banyak lagi, misalnya Bejakeun Syiah, si Borokokok Syiah, Gandeng Syiah, Gelo Syiah, Kumaha Syiah weeeh.

Gus Dur, Pembawa Risalah Islam yang Terbuka dan Universal


Sumber gambar: NU Online


Siapa yang meragukan keislaman seorang KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur?

Ia menyebarkan Islam melalui pemikiran dan pergaulannya yang terbuka. Sehingga agama menjadi pedoman untuk saling memberi hormat satu sama lain. Baik sesama manusia atau pun  manusia dengan alam semesta.

Karena pemikirannya yang terbuka itulah, Gus Dur dekat dengan semua agama dan tokoh budaya. Sebab baginya, kebesaran Islam akan memancar dengan sikap terbuka yang ditampilkan oleh para pemeluknya.

Namun sebaliknya, kebesaran itu akan sirna jika pemeluknya menutup diri dan merasa benar sendiri.

Gus Dur memiliki tekad besar untuk mencari kebenaran dan menunjukkan kemuliaan ajaran Islam. Hingga pada suatu saat ia pernah menyatakan bahwa akan menyampaikan kebenaran yang datang dari mana pun. Baik kebenaran itu datang dari Injil, Bhagavad Gita, atau yang lain.

“Saya dan Romo Mangun berbeda agama, tapi satu iman,” kata Gus Dur suatu ketika. Suatu pernyataan yang mengandung makna spiritual yang sangat dalam.

Derajat tinggi seperti itu bisa dicapai karena Gus Dur menempatkan Islam dalam kerangka universalisme peradaban.

Menurut Gus Dur dalam Universalisme Islam dan Kosmo-politanisme Peradaban Islam, universalisme Islam itu tercermin dalam ajaran-ajarannya yang memiliki kepedulian tinggi terhadap berbagai unsur utama dari nilai kemanusiaan.

Kemudian, hal itu diimbangi oleh kearifan yang muncul dari keterbukaan peradaban Islam sendiri. Keterbukaan itu membuat Umat Islam selama beberapa abad mampu menyerap segala manifestasi kultural dan wawasan keilmuan yang datang dari peradaban-peradaban lain.

Dengan demikian, pemikiran besar Gus Dur sepenuhnya bersumber dari inti ajaran Islam yang dikembangkan oleh para ulama madzhab terdahulu. Dari ajaran Islam ditarik sejumlah prinsip universal yang mendukung terciptanya kemaslahatan umum dan prinsip-prinsip dasar kesejahteraan umat. Itulah yang disebut sebagai prinsip maba’di khairi ummah.

Itu semua adalah rangkaian patokan yang akan memungkinkan Islam menjadi motor kehidupan bangsa dan negara tanpa mempersoalkan mana yang lebih unggul antara ‘masukan Islam’ dan masukan lain yang datang dari mana pun.

Bagi Gus Dur, Islam harus ditempatkan sebagai agama terbuka dan universal sehingga akan menjadi payung bagi semua kelompok yang ada. Kemudian berkembang di tengah bangsa yang majemuk ini: Indonesia.

Hal tersebut dibuktikan secara nyata dalam keseharian Gus Dur yang sangat dekat dan menghormati umat dari agama yang berbeda.

Pada saat yang sama, Islam yang terbuka juga bisa menjadi faktor pendorong perubahan masyarakat. Sedangkan Islam yang tertutup justru akan menjadi faktor kemunduran dan perpecahan di kalangan umat Islam sendiri. Terlebih, di antara sesama warga bangsa yang begitu beragam keyakinan dan adat istiadatnya.

Hanya orang yang berakal cerdas dan berhati mulia-lah yang mampu menerima kenyataan dalam perbedaan, serta mengembangkan pemikiran yang menghormati perbedaan itu untuk kepentingan yang lebih luas dan bermanfaat.

Hal yang lebih istimewa lagi, nilai lebih Gus Dur dibandingkan para intelektual lain adalah sikap keislaman yang terbuka itu, diperoleh dari kemampuannya untuk menggali khazanah keilmuan pesantren dalam rangka menjawab tantangan perubahan zaman.

Segala yang dilakukan Gus Dur itu bukanlah sesuatu yang mudah. Akan tetapi bisa dilakukan karena kecintaannya kepada kiai, tradisi pesantren, dan masyarakat Indonesia secara keseluruhan.


(Tulisan diatas disarikan dari buku 41 Warisan Kebesaran Gus Dur karya M Hanif Dhakiri, dan ditulis dalam rangka Haul Gus Dur pada akhir Desember mendatang)