Kasus Habib Bahar, Kriminalisasi Ulama? Palelo Peyang! - Aru Elgete

Breaking

Kamis, 20 Desember 2018

Kasus Habib Bahar, Kriminalisasi Ulama? Palelo Peyang!


Sumber: infokanlah.com

Habib Bahar bin Ali bin Alawi bin Abdurrahman bin Sumayt (Smith) resmi menjadi tersangka. Kasus yang menimpanya itu bukanlah karena menghina Presiden RI Maulana Joko Widodo. Akan tetapi karena ulama gondes itu memukuli anak di bawah umur.

Video pemukulan itu kemudian viral, heboh, dan menjadi ghibah hebat di dunia maya. Luar biasa Bang Gondes yang satu ini. Lalu, bagaimana sikap saya? Ada saja yang nanya begitu.

Baik, saya jawab. 

Habib Bahar, memang memiliki garis nasab yang sampai kepada Nabi Muhammad. Makanya disebut Habib oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Karena nasab yang baik itulah, dirinya menjadi tokoh publik yang digandrungi para pecinta Nabi.

Saya pun menaruh takzim dan hormat kepadanya. Kalau nanti ada waktu saya bertemu dengan Habib Bahar, tangannya akan bolak-balik saya cium. Hal ini yang tidak dilakukan oleh kader PKS unyu-unyu dan organisasi-organisasi turunannya.

Tapi sayang, saya tidak akan bisa jumpa dengan Habib Bahar karena jadwal saya yang cukup padat. Maafkan saya, Bib. Tolong sampaikan salam saya untuk beliau. Dari Bang Aru, gitu.

Status tersangka Habib Bahar, tidak membuat saya senang atau pun sedih. Memangnya Habib Bahar siapa, sih? Abang, bukan. Bapak, juga bukan. Om saya juga bukan. Apalagi majikan saya, bukanlah, emang saya pembantu? Hih!

Tapi jujur, hal yang bikin saya sedih adalah karena datuknya Habib Bahar tidak pernah memukul orang lain dengan alasan apa pun. Kecuali kalau situasinya sudah mepet banget dan mengharuskan untuk menyerang.

Jadi ceritanya, berdasarkan informasi yang saya dapat, anak remaja itu menggunakan nama Habib Bahar untuk menipu. Wajar saja, Bang Gondes marah. Saya juga pasti marah, kalau nama sebagus Aru Elgete jadi alat untuk menipu. Enak aja. Palelo peyang!

Tapi kan gak harus gulet juga keleus?! 

Nah, yang bikin saya sedih lagi adalah pernyataan sebagian besar, eh kecil deh, yang mengatakan bahwa status tersangka yang dinobatkan kepada Habib Bahar adalah bentuk kriminalisasi ulama yang dilakukan oleh rezim pir'aun laknatullah sepanjang masa ini. Ya Allaaaaah...

Saya jawab, kriminalisasi dari Taiwan?! Palelo peyang!

Begini, sebagai anggota Gusdurian Bekasi Raya yang punya jargon Bagen Ngapah, saya ingat bahwa salah satu dari sembilan ajaran Gus Dur adalah kesetaraan. Dus, kesetaraan itu pun berlaku juga untuk perbuatan yang berkaitan dengan hukum.

Artinya, semua orang memiliki kesetaraan di mata hukum. Tidak ada pembeda. Mau tukang becak kek, tukang sayur, tukang galon, dan tukang pijit, kalau melanggar hukum ya harus ditindak. Gitu aja kok repost. Eh repot.

Kalau saya misalnya mukulin anak orang, mukulinnya pakai gamis dan sorban, dan saya masuk penjara, terus teman-teman saya teriak-teriak kriminalisasi ulama gitu? Ya kagak lah. Saya kan bukan ulama, tapi ubaru. Wleee...

Begini deh, saya jelasin.

Dalam Surat Al-Maidah ayat 38, Allah sudah menyatakan bahwa semua orang, baik laki-laki atau perempuan memiliki kesamaan di mata hukum. Tidak bisa tidak disama-samakan. Alias jangan dibeda-bedakan.

"Dan pencuri, laki-laki dan wanita, potonglah tangan keduanya sebagai balasan atas perbuatan mereka dan hukuman dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."

Terus bijimane kalau pencurinya itu masih punya kedekatan nasab dengan Nabi Muhammad? Hal ini distrongkan oleh sebuah riwayat yang diabadikan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim.

"Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya, seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku memotong tangannya." 

Sudahlah. Baiknya, kita serahkan kasus itu kepada pihak yang berwajib. Pihak yang punya otoritas soal hukum-menghukum. Jangan dikit-dikit nyalahin Pak Jokowi, nyalahin rezim lah, penguasa lah. Kasihan banget sih, seolah-olah hidupnya ditindas mulu. Bangkit, dong!

Bagaimana caranya bangkit? Fastibaqul khoirot, lah!

Toh, kuasa hukum Habib Bahar juga sudah bilang kalau kliennya yang gondes itu sudah taat hukum dan pasrah dengan hukum yang berlaku di negeri ini. Terus kalian mau apa? Demo? Malu-maluin aja, sih.

Mending berdoa, istighotsah, mohon ampunan kepada Allah semoga negeri ini baik-baik saja. Gitu. Jangan mencaci-maki, jangan menghina, jangaan suuzon, jangan jomblo mulu, eh.

Terakhir, saya ingin katakan bahwa masih banyak keturunan Nabi yang perlu kita teladani sebagai washilah mencintai Kekasih Allah yang nikah pertama kali sama janda kaya umur 40 tahun itu.

Seperti misalnya Habib Luthfi, Habib Syekh, Habib Jindan, dan Habib Aru Elgete. Mari berdoa semoga Habib Bahar segera memperbaiki diri supaya bisa melanjutkan dakwah-dakwahnya yang sejuk dan menenteramkan hati umat.