Selasa, 30 Maret 2021

Menyambut Ramadhan




Apa yang istimewa dari bulan kesembilan tahun hijriyah ini?

Manusia-manusia modern rupa-rupanya hanya berupaya mencari keuntungan semata.

Tayangan iklan, program-program religi, hingga busana muslim-muslimah segera disajikan ke muka.


Apa yang istimewa dari bulan penuh ampunan ini?

Orang-orang di kota tetap saja berkelahi dengan dalih menghargai.

Padahal di kitab suci, sama sekali tak ada perintah untuk menghargai orang yang berpuasa.

Atau jangan-jangan puasanya orang kota hanya pura-pura suci?

Tujuannya, barangkali, agar mendapat ampunan dan penghargaan dari sesama manusia, bukan dari yang memiliki ampunan sungguhan.


Apa yang istimewa dari bulan kasih sayang ini?

Toh ternyata, masih saja ada kata-kata sindir kepada yang tidak menjalankan kewajiban.

Padahal tentu ada banyak alasan.

Kenapa tak bisa saling sayang dengan bertabayun meminta penjelasan?


Apa yang istimewa dari bulan pahala yang berlipat ganda ini?

Jika ternyata agenda-agenda santunan kepada anak yatim dan dhuafa hanya jadi ajang pencitraan.

Berswafoto, lalu diunggah ke seluruh akun media sosial milik pribadi.

Pengaturan privasi diatur publik, dibumbui tulisan pemantik mencitra diri, lalu senang mendapat puji. 

Hanya itu?


Ramadan, bagiku, sejak dulu, adalah bulan kepura-puraan tanpa ragu.

Semua orang berusaha menutup-nutupi diri, agar terlihat lebih saleh daripada kemarin hari.

Kemudian tampil membawa ayat sebiji dan menjadikan mimbar sebagai panggung unjuk gigi, untuk menyalahkan yang lain, menghujat yang tak sama, menafikan yang berbeda.


Marilah segera menjadi munafik, menampilkan diri yang terbalik, seolah-olah baik, tapi bejat di dalam bilik-bilik.


Marilah segera menjadi munafik, menahan haus dari sinar terik, menjaga lapar hingga rembulan naik, tapi sepanjang hari hanya dengki serupa salik.


Marilah menjadi bajik.

Berpuasa bukan hanya karena wajib, tetapi melatih diri untuk tak menjadi munafik.

Sebab gelar takwa akan tersemat dengan baik, bukan di awal pentas ramadan, tetapi di detik-detik akhir menuju kesucian.


Ramadan, benarkah bulan kemunafikan?

Bagiku, iya, jika puasa hanya sekadar.


Ramadan, benar, bulan mulia.

Bagiku, iya, jika puasa tetapi tak ingkar.

Raga, fikir, jiwa, dan seluruhnya turut menahan segala, tak alakadarnya.

Cukup? sudah.


*Ditulis pertamakali pada 2019

Previous Post
Next Post

0 komentar: