Rabu, 19 April 2017

Haul Buntet 2017, Meniti Hati Menata Jiwa (1)




Kamis (13/4) pagi, aku berangkat. Di kereta Tegal Ekspress, membayang hal apa yang terjadi di sana. Buntet Pesantren Cirebon memang selalu menjadi objek kerinduan bagi siapa pun yang memiliki ikatan jiwa dengannya. Bahkan bagi sebagian orang, tanah berkah itu senantiasa menggenang dalam kenang. 

Sekitar jam 2 siang, aku tiba. Di depan komplek Pondok Buntet Pesantren, ramai bukan main. Aku mencoba tak peduli. Karena lapar, warung nasi di samping masjid menjadi incaran mataku saat itu. Baru sesuap, sirine polisi patwal terdengar. Penasaran, aku keluar. Ternyata, iring-iringan rombongan Presiden Joko Widodo pulang.

"Ah sial, telat dateng. Cuma dapet lambaian tangan presiden doang," gerutuku pada teman kampus yang kuajak menghadiri Haul Almarhumin Sesepuh dan Warga Buntet Pesantren Cirebon, Ahmad Nasrudin Yahya. Tertawa kecil dilemparkannya. Seperti meledek.

Iring-iringan pun sudah berlalu. Sembari melanjutkan makan, aku berpikir sejenak. Buntet keren juga, ya. Presiden dan beberapa jajaran kabinetnya datang. Bagi-bagi sepeda, tentu. Juga, sebagai peletak batu pertama untuk pembangunan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah. Anggarannya jelas dari pemerintah pusat. Melalui Badan Usaha Milik Negara. Miliaran rupiah dikucurkan. Dalam hati, "Pak Jokowi, semoga hidupmu berkah dan Indonesia aman, damai, dan sentosa."

Usai makan dan melihat lambaian tangan presiden, aku bergegas ke masjid. Melaksanakan ibadah salat Zuhur dan Ashar sekaligus. Jamak Qashar. Lantas, berdoa. Semoga keberadaanku di Buntet selama beberapa hari ke depan, mampu membawa perubahan bagi diri pribadi dan lingkungan sekitarku. Sementara itu, temanku takjub melihat keramaian di Buntet.

"Ini belum seberapa, masih di depan. Kita belum ke bagian ujung paling Barat, melewati ribuan manusia yang punya beragam kepentingan. Belanja, mencari berkah, reuni, dan peristiwa lainnya terjadi sepanjang perjalanan menuju ke dalam," tuturku pada Yahya, temanku yang bekerja sebagai buruh tinta di Radar Bekasi. 

Sepanjang jalan, aku menyapa dan disapa. Berpapasan dengan teman dan guru. Membuat hati merasa bahagia. Ketenangan jiwa tercipta. Meski raga dan energi terkuras sedemikian rupa karena tersengat matahari yang sedang berbahagia, perasaan lelah menjadi tak terasa. Sebab keinginan untuk cepat tiba di pondok menjadi penyemangat derap langkahku. 

Sekira hampir setengah jam perjalanan, aku tiba di kamar kesayangan. Di kediaman Nyai Atun, tempatku menaruh cita-cita dan harapan masa depan. Tulisan "27 Juli 2009, Selamat datang di Buntet," belum hilang. Sambil menikmati rindu di kamar, pikiranku melayang-layang. Menembus lorong waktu. Mengingat-ingat berbagai kejadian semasa di Buntet. Tak ingin bernostalgia dalam lamunan terlalu lama. Aku keluar. Mandi. Membersihkan diri. 

Usai mandi. Aku bertemu santri yang kini menempa ilmu di Langitan, Jawa Timur. Hasan, namanya. Dia mengajakku ke tempat penggilingan tepung di desa sebelah. Mertapada Wetan. Dengan penuh semangat, aku mengiyakan. Aku kembali diingatkan oleh kenangan tempo dulu. Meski bukan santri dapur, aku selalu sedia saat dimintai pertolongan. Atau, diajak untuk membantu kesibukannya. Aku masih ingat dawuh seorang kiai, "Sejauh apa pun kamu melangkah, begitu tiba di sini (tanah buntet), kamu tetap santri. Maka, jangan bersikap seperti tamu."

Sepulang dari tempat penggilingan tepung itu, aku kembali ke kamar. Yahya sudah rapi. Dia mengajakku untuk tamasya. Yang dimaksudnya bukan tamasya demokrasi atau tamasya Al Maidah, tapi tamasya spiritual. Sebuah kegiatan yang akan membangkitkan energi positif dalam jiwa. Spirit keberagamaan dan nilai-nilai luhur keagamaan akan lahir berkat tamasya spiritual itu. Jelas, bukan justru kebencian yang dipertontonkan.

"Ayo ziarah ke makam Sunan Gunung Djati. Mumpung di Cirebon. Sayang banget kalo gak sowan ke sana. Siapa tahu, kita dapet ketenangan. Pilkada Jakarta juga damai, hati tenteram, gak ada lagi kebencian. Yuk ah," ajak Yahya padaku. 

Tanpa ba-bi-bu, aku mengiyakan. 

Wefie di kediaman Ahmad Fadhol Dikjaya, Desa Mertapada Wetan, Astanajapura, Kabupaten Cirebon

Menjelang maghrib, aku bersiap pergi. Sebelumnya, kukabarkan Ahmad Fadhol Dikjaya. Dia juga seniorku. Sahabat sekaligus guru. Kampung halamannya di Mertapada Wetan, tidak jauh dari pemakaman di desa itu. Bapaknya seorang kiai jebolan Lirboyo. Membuka yayasan berbasis Islam. Cepat atau lambat, Fadhol akan meneruskan jejak bapaknya. Menjadi pengasuh sekaligus pengurus yayasan pendidikan itu. 

"Bang, ayo sowan ke Sunan Gunung Djati. Jemput dong. Lewat Desa Kiliyem aja. Udah mulai ramai soalnya," pesan singkatku untuknya. "Oke, berangkat," jawab dia.

Tidak lama, Fadhol tiba di depan Pondokku. Kami bertiga naik motor matic merah berplat E miliknya. Nikmat tiada tara, batinku. Kampus dan Buntet ternyata dapat memperkuat tenun persaudaraan kami.

Tiba di rumah Fadhol, kumandang maghrib terdengar. Kami salat berjamaah. Kembali, mendoa agar situasi Ibukota pra dan pasca Pilkada kondusif. Masyarakat tidak terbakar amarah. Kebencian tidak merajalela sehingga jalinan silaturahmi menjadi tak jelas rupa dan arahnya.

Sebelum berangkat ke Cirebon, kami ketawa-ketiwi terlebih dulu. Menikmati kopi dan makanan ringan yang disiapkan, berbagai cerita-cerita lucu kuceritakan. Lucu, memang. Kenangan indah menjadi santri tak pernah bisa terlupa. Maka menurutku, merugilah orang-orang​ yang tidak menikmati rasanya menjadi santri. Terlebih, orang-orang yang instan dalam mempelajari agama. Menjadi santri berarti menjadi pemantik arti, kehidupan beragama; berbangsa; dan bermasyarakat.

"Yuk berangkat," ajak Fadhol.


(Bersambung)


Bekasi Utara, 19 April 2017



  • Aru Elgete

Previous Post
Next Post

0 komentar: