Ketua NU Bekasi: Ihsan dan Kerukunan Menjadi Pondasi Utama - Aru Elgete

Breaking

Minggu, 30 April 2017

Ketua NU Bekasi: Ihsan dan Kerukunan Menjadi Pondasi Utama


Foto bersama, usai bincang santai membahas NU dan Bekasi. Foto: Rizki Topananda

Kamis (27/4) sore, aku mendatangi narasumber di gedung Baznas Kota Bekasi. Hal tersebut bukan tanpa sebab, tetapi memang tugas yang harus diselesaikan. Dosen pengampu  matakuliah Peliputan Investigasi Zulkarnaen Alregar memberi tugas. Yakni, mewawancara tokoh-tokoh penting di Bekasi. Belajar berani, katanya.

Awalnya, aku ingin mewawancara Ketua Lembaga Anti Narkoba Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama Jawa Barat (LAN PW IPNU Jabar) Rizki Topananda. Aku menemuinya di sebuah bangunan yang hampir tak memiliki tanda bahwa itu rumah Baznas Kota Bekasi. Gedung itu berseberangan atau berhadap-hadapan dengan Stadion Patriot Candrabhaga. 

Usai asar, aku tiba di lokasi. Bertemu dengan pria berkacamata yang sebelumnya menjabat sebagai Ketua PC IPNU Kota Bekasi itu. Berbicara terkait narkoba, pemuda, dan pelajar memang ngeri-ngeri sedap. Namun dengan santai, dia tetap memberiku pencerahan. Selorohnya selalu membuatku terkekeh-kekeh. Warga NU, memang begitu kalau diajak bicara. Bersahaja dan sangat menyenangkan. Jelas, tidak menakutkan.

Sekira hampir setengah jam membicarakan bahaya narkoba bagi pemuda dan pelajar, muncul seorang lelaki setengah baya. Tegur sapa terjadi. Aku melihat ada cahaya yang memancar dari senyum renyahnya. Sekilas aku mendengar, Rizki memanggilnya dengan sebutan, "Kiai". Dalam hati aku bertanya-tanya, "Siapa bapak itu?" Maklum, aku di Bekasi baru 4 tahun. Sejak 26 April 2013. Jadi, wajar saja kalau ada banyak tokoh di Kota Patriot ini yang belum kukenal. 

"Kang, wawancara Kiai aja tuh. Kan keren, beliau Ketua PCNU Kota Bekasi. Kiai Zamakhsyari Abdul Majid," kata Rizki kepadaku, saat lelaki setengah baya yang ternyata ulama pemimpin NU di Bekasi itu lewat.

"Oh, jadi itu Ketua PCNU, Kang. Boleh deh. Coba tanya, beliau di sini sampe jam berapa?" kataku.

"Kiai, santai kan? Ini mahasiswa Unisma Bekasi mau wawancara. Dia juga anak IPNU Bekasi, Kiai. Lembaga Pers dan Penerbitan. Dia yang kemaren naikin berita Kiai Asep Basuni (Katib NU Bekasi)," ucap Rizki memperkenalkanku.

"Yaudah, ayo sini. Saya di sini sampe jam setengah 6," ujar Kiai Zamakhsyari sembari masuk ke ruangan Ber-AC. 

Waktu masih menunjukkan pukul 16.10 WIB. Aku melanjutkan obrolan dengan Rizki. Salah satunya terkait metode dakwah NU yang harus massif, terstruktur, dan sistematis. Sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia, jangan sampai NU kalah dengan kelompok keagamaan yang mengatakan bahwa Walisanga hanya sebuah mitos. 

"Kalau bisa, kita napak tilas sejarah Walisanga, sebagai antitesis dari dakwah mereka di media sosial," katanya dengan penuh semangat, tapi tetap santai.

Dia bilang, pemuda NU harus giat bermedia-sosial. Tak lain dan tak bukan, yaitu untuk menangkal dakwah-dakwah dari tetangga sebelah yang mulai berani menyentuh hal-hal yang sentimentil. Bahkan, mereka berani menyakiti hati Nahdliyyin dengan menyerang amaliyah ke-NU-an yang sejak dulu sudah berkembang di masyarakat luas.

"Kapan-kapan kita garap film yuk, Kang. Film pendek aja. Film tentang ke-NU-an yang berangkat dari fenomena sosial-keagamaan. Kita bikin channel di YouTube atau bikin video yang durasinya cuma semenit buat Instagram," 

"Boleh tuh," kataku singkat.

Setelah bicara panjang lebar, yang semoga ada tindak lanjut dari pembahasan mengenai metode dakwah NU itu, aku izin. Masuk ke ruangan (sepertinya sih, ruang salat atau musala) tempat Ketua NU Bekasi merebahkan tubuhnya. Dari gerak tubuh yang kulihat, Kiai Zamakhsyari sedang lelah. Namun, dengan kebersahajaannya dia tetap menerimaku dengan sambutan yang hangat.

"Kiai, izin wawancara ya," kataku seraya bersimpuh dan mencium punggung tangannya sebagai tanda takzim seorang santri kepada kiai.

"Wawancara apa?" katanya, sembari rebah. 

"Ngobrol santai aja lah, Kiai. Terkait NU dan Kota Bekasi hari ini,"

"Boleh. Tapi saya sambil tiduran ya,"

"Silakan, Kiai."

Saat itu, bahagia bukan main kurasakan. Biasanya, untuk bertemu dengan kiai yang satu itu, butuh janjian terlebih dulu. Memang, Allah sudah menakdirkanku untuk bertemu. Bertatap muka langsung dengan bapak sendiri. Ya, bapakku secara ideologis.

Aku menanyakan soal kondisi masyarakat Kota Bekasi, khususnya mengenai kehidupan sosial-keagamaan dan kaitannya dengan peran NU untuk menciptakan suasana kota yang kondusif. Sebagai orang baru, aku rasa sangat wajar bertanya demikian. Aku ingin tahu kondisi di lapangan yang sebenarnya.

Dia menjelaskan, visi Kota Bekasi adalah maju, sejahtera, dan ihsan. Masyakarat diharapkan tidak hanya maju dan sejahtera, tetapi juga harus Ihsan. Dari segi keagamaan, ihsan berarti terdapat pengawasan langsung dari Allah, Sang Maha Pengawas. Ihsan harus menjadi pondasi utama. Kalau sudah begitu, masing-masing dari pribadi masyarakat Kota Bekasi akan senantiasa terdorong untuk selalu berbuat kebaikan.

"Bukan hanya masyarakatnya saja yang berihsan. Tetapi juga pemerintah. Kalau sudah begitu, harmonisasi kehidupan beragama dan suasana kota yang kondusif akan tercipta. Karena masyarakat dan pemerintah pasti terdorong untuk selalu berbuat kebaikan dan menghindari hal-hal yang tidak baik," katanya sembari merebahkan tubuh dan menggoyang-goyangkan kakinya.

Menurut Wakil Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Bekasi itu, NU merupakan organisasi terbesar. Besar pengaruh dan pengikutnya. Artinya, NU harus mampu mempengaruhi masyarakat untuk menciptakan suasana yang harmonis dan kehidupan yang toleran. 

"Karena NU memiliki karakter pemikiran yang moderat (tawassuth). Jadi, NU dalam semboyan menciptakan suasana yang kondusif bisa mengilhami semua masyarakat Kota Bekasi. Model dakwah ala Islam Rahmatan lil 'alamin benar-benar melekat di jiwa pendakwah NU," ucapnya.

Kemudian, setelah panjang lebar dia menjelaskan. Aku kembali bertanya. Kali ini mengenai langkah-langkah NU Kota Bekasi yang sifatnya merukunkan. Kemudian, apa saja kontribusi NU untuk Bumi Patriot ini? 

Pria yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bekasi itu mengatakan bahwa kerukunan adalah pondasi utama. Tanpa kerukunan, kita tidak bisa berbuat apa-apa​. Tidak akan bisa membangun. Terlebih, dalam melakukan gerakan-gerakan Amar Ma'ruf Nahi Munkar. Dia menambahkan, untuk bisa mengajak kebaikan dan mencegah kemunkaran, maka dibutuhkan sebuah kerukunan terlebih dulu.

"Kita (NU Bekasi) sudah melangkah. Pertama, melakukan sosialisasi Islam Rahmatan lil 'alamin. Kedua, melakukan komunikasi lintas agama baik melalui FKUB maupun MUI. Termasuk mengadakan berbagai kegiatan, semacam seminar atau juga berkonsultasi dengan pihak pemerintah dan Polres Metro Bekasi, atau lembaga-lembaga lain yang terkait," ujar pria yang pernah nyantri di Ma'had Annida Al-Islamy Kota Bekasi itu.

Sehingga bagi NU, imbuhnya, kerukunan menjadi pondasi utama. Maka, NU memiliki jargon Islam Rahmatan lil 'alamin. Hal itu karena sesungguhnya NU sudah punya kontribusi besar. Sebab, karakter dakwah NU yang tawassuth (moderat), tasamuh (toleran), i'tidal (teguh pendirian), dan tawazzun (keseimbangan) memiliki dampak positif dan bisa diterima oleh semua kalangan masyarakat. 

"Itu bagian dari cara bagaimana NU menciptakan suasana kerukunan atau yang tadi disebut merukunkan. Apalagi ditambah dengan para ulama melalui ceramah atau khotbahnya dengan menyebarkan metode dakwah yang seperti itu merupakan langkah-langkah untuk merukunkan masyarakat," tutupnya sebelum beranjak ke pembahasan selanjutnya mengenai kasuistik terbaru, yakni terkait penebaran kebencian yang dilakukan melalui khotbah Jum'at atau ceramah keagamaan. Juga, mengenai pembangunan Gereja Santa Clara di Bekasi Utara.

Dua kasus itu, biar hanya menjadi konsumsi pribadiku saja. Harapannya, semoga tidak terjadi gesekan di antara kita. Sekalipun akan terpublikasi, tentu dengan kalimat yang membangun. Tidak untuk mencibir apalagi menjatuhkan kelompok lain. Karena dakwah NU itu santun. Merangkul, bukan memukul. Mendidik tanpa menghardik. Memberi pencerahan, bukan memaksakan pemikiran. Kurang-lebih demikian yang kutahu.

Usai mewawancara Kiai Zamakhsyari Abdul Majid, aku izin pulang. Maksudku, kembali ke kampus. Melanjutkan aktivitas. Latihan di Teater Korek. Sore itu, gerimis. Menambah kesejukan Kota Bekasi. Sementara kegembiraanku tak berbendung. Barangkali, gerimis sore itu menjadi penanda atau gambaran kegembiraanku.



Wallahu A'lam



Bekasi Utara, 30 April 2017



Aru Elgete 

1 komentar:


  1. Semoga Bermanfaat,Terimakasih.!!!
    https://goo.gl/73G7YM

    BalasHapus