Haul Buntet 2017, Meniti Hati Menata Jiwa (2) - Aru Elgete

Breaking

Kamis, 20 April 2017

Haul Buntet 2017, Meniti Hati Menata Jiwa (2)


Saat tahlil berjama'ah di Sunan Gunung Djati.  Foto: Ahmad Fadhol Dikjaya

Ternyata, motor hanya ada satu. Terpaksa, kami Boti (bonceng tiga). Seru. Kecuali Fadhol, kami mengenakan kain sarung dan helm. Dia di tengah. Yahya sebagai pengemudi. Aku paling belakang.

Angin malam mengembus. Sementara gigil mulai menerpa saat melintas di Jalan Raya Pantura. Bahkan rasa takut menghantui, ketika tiba di jalan sebelum perbatasan kabupaten dan kota Cirebon. Gelap. Sepi. Begal, geng motor, penodongan, dan sekelompok orang jahat menghampiri. Itu yang terlintas di benakku.

"Insya Allah gak ada apa-apa, Ru. Niat kita baik," kata Yahya.

"Kalau pun ada apa-apa dan kita mati. Insya Allah mati di jalan Allah," saut Fadhol, membuatku dan Yahya terkekeh-kekeh. 

"Yaudah, buruan," ujarku.


Perjalanan memakan waktu sekira 60 menit. Cukup jauh memang. Tapi syukurnya tidak macet. Sangat berbeda dengan Bekasi atau Jakarta. Waktu habis hanya untuk bermacet-macetan. Di Cirebon, semuanya lancar. Hanya saja, sepi. Sepanjang jalan, kami semua dihinggapi rasa takut.

Setibanya di lokasi. Kami dibuat terkejut oleh perilaku orang-orang yang duduk di pintu masuk. Mereka memukul-mukul kotak amal. Seolah-olah, para peziarah dipaksa untuk beramal. Mereka teriak, "berkah, berkah, berkah, ayo masukin uangnya. Hey!" kata salah seorang pemegang kotak amal agak teriak.

Yahya, baru pertama ke sana. Dia kaget. Pikirnya, kotak amal itu diwajibkan. Atau, seperti tiket masuk. Reflek karena kaget bercampur takut dan tegang karena terus-menerus diteriaki, dia mengeluarkan hampir semua uang recehan. Banyak sekali. Aku jalan santai, sembari berpikir, "uang itu larinya kemana ya?"

"Salat isya dulu, yuk," Fadhol mengajakku dan Yahya. 

"Di mana masjidnya, Dhol?" tanya Yahya.

"Di belakang."

Ada satu pemandangan unik lagi. Di lorong menuju masjid, orang-orang duduk berjajar dengan masing-masing memegang mangkuk kecil plastik. Berharap ada yang meletakkan uangnya di sana. Miris. Memanfaatkan situs sejarah untuk mencari keuntungan. "Kenapa gak dagang aja, sih?" Pikirku singkat. Lucunya, mereka selalu menggerutu saat tidak diberi sedekah. 

Tanpa memberi sepeser pun, kami tiba di masjid. Wudlu dengan air payau. Aku tidak kaget. Selain karena sudah pernah berkunjung, aku tahu kalau daerah ini sangat dekat dengan laut. Usai wudlu, Ah, lagi-lagi ada pemaksaan dalam bersedekah. Gilak.

"Hey, kami cuma wudlu aja kok disuruh bayar? Kalau sedekah gak perlu maksa, kan?" umpatku dalam hati.

Aku tak menggubris. Biarkan saja. Kami bertiga masuk. Merapikan sandal agar tidak tertukar atau hilang. Saat memasuki masjid, kami dibuat takjub. Arsitekturnya keren. Tak biasanya. Seperti tidak ingin melupakan atau menghapus nilai-nilai luhur para pendahulu. 

Penampakan masjid di Situs Sejarah Makam Sunan Gunung Djati, Cirebon.

Kami salat berjama'ah. Di dekat mimbar masjid yang lagi-lagi unik. Sama sekali tidak meninggalkan tradisi dan kebudayaan lokal. Ornamen masjidnya mencirikan khas Cirebon. 

Usai salat, kami bergegas ke Makam Sunan Gunung Djati. Keluar masjid. Lagi, aku menemukan orang-orang yang memaksa. Maksudku memaksa orang lain untuk melakukan sedekah. "Pak ayo pak sedekah, berkah berkah berkah. Pak, hey ayo pak, sedekah, berkah," kata penjaga sandal mencecar salah satu rombongan peziarah yang ingin keluar masjid. 

Saat tiba di makam, saya merasa takjub. Penuh. Orang-orang berduyun untuk mencari berkah. Ketika itu malam Jum'at. Meski bukan Kliwon, tapi antusias dari para peziarah luar biasa. Aku, Yahya, dan Fadhol sampai kebingungan mencari tempat. "Ru, kita pisah aja. Gak usah gabung sama peziarah lain. Tahlilan bertiga aja," Yahya berbisik.

Peziarah yang ramai itu berdatangan dari mana-mana. Purwokerto, Solo, Bandung, bahkan Jakarta. Mereka tak lagi peduli soal bid'ah atau sesat sebagaimana yang dipikirkan sebagian orang di luar sana. Mereka khusyuk berdoa, membacakan tahlil, tahmid, takbir, dan kemudian bersyukur telah berkesempatan menziarahi Syarif Hidayatullah.


Akhirnya kami mendapat tempat setelah menembus ribuan manusia yang memadati makam yang dikeramatkan itu.

Usai tahlil, kami keluar. Lagi-lagi, sangat sulit melewati padatnya para peziarah yang hadir. Saya hampir menyerah. Sebab berkali-kali menginjak kaki orang lain yang sedang khusyuk melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran. Berulangkali juga, aku meminta maaf. Untungnya, ziarah ke makam wali memancarkan energi positif. Damai, tenang, dan tidak ada kebencian yang menjalar.

Maka itu, dengan senang hati mereka memberi kami jalan. Walau terinjak kakinya, mereka memaafkan. Begitulah watak dan perilaku Islam sesungguhnya. Singkatnya, Yahya pernah bilang bahwa watak bangsa Indonesia yang sebenarnya adalah di tempat-tempat seperti ini. 


Sempat ingin belanja, tapi kami urungkan. Sebab, kami berpikir bahwa di Pondok Buntet Pesantren sendiri, dari timur hingga barat juga dipenuhi oleh dagangan yang sama persis dengan di Komplek Makam Sunan Gunung Djati. Dengan begitu, kami langsung pulang. Kembali ke Buntet.

"Eh, baru jam 9 ini. Jalan-jalan dulu lah. Gue mau nikmatin Kota Cirebon," kata Yahya kepada Fadhol.

"Nasi Jamblang, lah," lanjutnya.

"Yaelah, Yay. Nasi Jamblang mah begitu doang. Sama aja kayak warteg," kataku.

Fadhol mengiyakan Yahya, "Yaudah, yuk."

Kami bertiga kembali Boti. Tidak lama keluar dari Komplek Makam Sunan Gunung Djati, hujan turun dengan rintik kecil-kecil. Sementara pusat kota masih jauh. Soal dingin, tak perlu lagi dibicarakan. Menggigil.

Seperempat jam, kami tiba di kota. Di dekat Grage Mall, ada Nasi Jamblang Pak Yanto. Kami berhenti. Sementara hujan turun semakin deras. Perut yang sedari tadi sudah tarlingan, mulai hangat oleh Nasi Jamblang dan teh manis hangat. Kenikmatan seperti itu tiada dua. Ini adalah kali pertama kami bertiga, makan, dengan lokasi yang sangat jauh dari biasanya. 

"Oh, begini rasanya," kata Yahya sembari manggut-manggut.

Selesai makan. Aku langsung mengajak Yahya dan Fadhol untuk langsung bergegas ke Buntet. Aku dihubungi Syakir untuk membantunya memproduksi berita. Saat itu jam 10 malam, jalanan Mundu hingga perempatan Kanci kemudian sampai Mertapada nampak sepi, gelap, dan mengerikan.



(Bersambung)


Bekasi Utara, 20 April 2017


Aru Elgete

Tidak ada komentar:

Posting Komentar