Beberapa Pendapat Mengenai Asal-Usul Pesantren di Indonesia - Aru Elgete

Breaking

Kamis, 03 Oktober 2019

Beberapa Pendapat Mengenai Asal-Usul Pesantren di Indonesia


Upacara Hari Santri di Buntet Pesantren Cirebon. Sumber: buntetpesantren.org

Mengenai asal-usul budaya pesantren, Sekretaris Jenderal PBNU H Ahmad Helmy Faishal Zaini dalam buku Pesantren Akar Pendidikan Islam Nusantara, menuturkan bahwa terdapat banyak sekali silang pendapat diantara para ahli. Namun menurutnya, ada tiga pendapat dominan yang dapat disajikan mengenai hal ini. 

Pertama, pendapat yang mengatakan bahwa pesantren berasal dari tradisi Hindu-Budha. Pendapat ini berpijak pada metode pendidikan pesantren yang merupakan pengambilalihan dari sistem pesantren orang-orang Hindu di Nusantara, sebelum kedatangan Islam. Lembaga ini dimaksudkan sebagai tempat mengajarkan ajaran-ajaran agama Hindu serta tempat membina kader-kader penyebar agama tersebut.

Menurut Zamakhsyari Dhofier dalam buku Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Kiai, pesantren merupakan kreasi sejarah anak bangsa setelah mengalami persentuhan budaya dengan budaya pra-Islam. Pesantren, dikatakan Dhofier, adalah sistem pendidikan Islam yang memiliki kesamaan dengan sistem pendidikan Hindu-Budha. 

"Pesantren disamakan dengan mandala dan asrama dalam khazanah lembaga pendidikan pra-Islam. Pesantren merupakan sekumpulan komunitas independen yang pada awalnya mengisolasi diri di sebuah tempat yang jauh dari pusat perkotaan," tulis Dhofier dalam bukunya yang terbit pada tahun 1997 itu.

Kedua, pendapat yang mengatakan bahwa pesantren mengadopsi sistem pembelajaran di Al-Azhar, Kairo, Mesir. Pendapat ini dimotori oleh Martin Van Bruinessen. Bahwa sistem pendidikan pesantren di Indonesia, merupakan pengadopsian dari pola pendidikan yang ada di Al-Azhar. 

Kesimpulan itu didasarkan atas alasan bahwa pada masa Dinasti Umayyah terdapat sistem pengajaran yang disebut kuttab. Sistem pengajaran itu lebih berbentuk halaqah atau pengajian oleh seorang ustadz yang disimak oleh para muridnya. Sistem pengajian, menurut pendapat yang kedua ini kemudian dikenal dalam dunia pesantren sebagai sistem bandungan atau bandongan

Sebagai informasi, istilah bandungan berasal dari bahasa Sunda, yakni ngabandungan yang berarti memperhatikan secara saksama atau menyimak. Dengan metode ini, para santri akan belajar dengan menyimak secara kolektif. Namun, dalam bahasa Jawa, bandongan disebutkan juga berasal dari kata bandong, yang artinya pergi berbondong-bondong. Hal ini karena bandongan dilangsungkan dengan peserta dalam jumlah yang relatif besar.

Baca juga: Cikal-Bakal Pesantren di Indonesia

Ketiga, pendapat yang mengatakan bahwa pesantren berasal dari tradisi orang-orang Nusantara sendiri. Pendapat ini berpijak bahwa tradisi Islam yang datang ke Nusantara adalah Islam yang bercorak sufistik, yang menekankan dimensi mistik. Pandangan ini beranjak dari fakta bahwa penyebaran Islam di Indonesia mulanya banyak dikenal dalam bentuk tarekat, dengan dipimpin seorang kiai. 

"Salah satu kegiatan tarekat adalah mengadakan suluk, melakukan ibadah di masjid, di bawah bimbingan kiai. Untuk menunjang dan merealisasikan kegiatan itu, disediakan ruang-ruang khusus untuk menampung para santri. Biasanya, ruang-ruang yang kemudian dijadikan kamar itu terletak di sebelah kanan-kiri masjid," tulis Kang Helmy, demikian anggota DPR RI ini akrab disapa. 

Dia kemudian mengutip kembali pernyataan Zamakhsyari Dhofier, bahwa para pengikut tarekat itu, selain diajarkan amalan-amalan tarekat, juga diajarkan kitab agama dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan agama Islam. Perkembangan selanjutnya, lembaga pengajian ini tumbuh menjadi lembaga pesantren. Bahkan dari segi penamaan istilah, pengajian merupakan istilah baku yang digunakan pesantren, baik salaf maupun khalaf

Kesimpulan

Ketiga pendapat di atas, sama-sama argumentatif dan memiliki dasar atau pijakan yang kuat. Pendapat pertama cenderung mengatakan bahwa pesantren merupakan adaptasi dari tradisi Hindu-Budha, maka besar kemungkinan pendapat ini disokong oleh kajian filologi yang mengatakan bahwa santri adalah istilah serapan dari kata shastri, yakni sebutan untuk para pencari ilmu dalam tradisi Budha.

Sedangkan pendapat yang kedua mengatakan bahwa tradisi pesantren berasal dari tradisi Timur Tengah, khususnya Mesir, yang kala itu pada masa kejayaan Bani Umayyah. Menurut pendapat ini, pesantren berasal dari tradisi kuttab, yaitu semacam halaqah. Pendapat ini berasumsi juga bahwa istilah pondok, besar kemungkinan diserap dari bahasa Arab, yakni funduk yang berarti tempat tinggal sementara. 

Menurut Kang Helmy, sebagai penulis, mengkaji pesantren akan lebih tajam dan lebih mendekati kebenaran jika dikaji dari tinjauan historik-antropologis, tidak hanya berdasarkan dari tinjauan filologis semata. Dari kajian terakhir inilah, pendapat ketiga, yakni yang mengatakan bahwa tradisi pesantren berakar dari tradisi Nusantara perlu dikemukakan dan diandalkan sebagai sebuah asumsi yang paling dekat dengan kenyataan. 

"Terkait sejarah masuknya Islam di Nusantara yang bercorak sufistik, maka sangat mungkin tradisi pengajian yang dilakukan oleh para pembawa Islam pun bercorak sufistik yang mengedepankan laku-lampah. Dikarenakan corak pengajaran bersifat sulukiyah yang mengedapankan laku tirakat, maka seorang yang menuntut ilmu atau santri dianjurkan untuk menetap di sekitar rumah kiai," tulis Kang Helmy. 

Maka bermula dari sana-lah, tradisi pesantren berkembang. Kemudian bertransformasi, bahkan berdiaspora secara gradual dan berbentuk seperti yang kita kenal hari ini. Jadi, pendapat ketiga yang mengungkapkan bahwa tradisi pesantren adalah tradisi khas pengajaran yang lahir di Nusantara, merupakan pendapat yang paling dekat dengan kebenaran. 

Singkatnya, pesantren adalah akar pendidikan dan pengajaran yang ada di Nusantara itu sendiri. Bersambung~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar