Mengenal Kiai Ma'ruf Amin (7): Sisi Lain Sebagai Ulama Penengah - Aru Elgete

Breaking

Selasa, 16 April 2019

Mengenal Kiai Ma'ruf Amin (7): Sisi Lain Sebagai Ulama Penengah


Sumber: beritasatu.com

Kiai Ma’ruf menghabiskan usianya untuk berorganisasi di lingkungan NU. Dimulai sebagai pengurus Ansor, ketua NU Tanjung Priok dan DKI Jakarta, politisi PNU dan PPP, katib syuriyah, lalu Rais Aam PBNU.

Di lingkungan MUI, ia memulai dari anggota Komisi Fatwa, ketua komisi tersebut, lalu Ketua Umum MUI. Di luar itu, ia memimpin Yayasan Al-Jihad dan Yayasan Syekh Nawawi Al-Bantani, yang keduanya mengelola lembaga pendidikan dari tingkat TK hingga perguruan tinggi.

Dari mana energi dalam dirinya itu berasal? Apa resepnya memiliki napas panjang sebagai muharrik (penggerak) itu?

Kiai Ma’ruf seorang yang taat aturan organisasi, menghormati senior dan sesepuh. Ia tak pernah berambisi mengejar suatu jabatan, tetapi ketika sebuah kedudukan diamanahkan di pundaknya, ia tunduk dan patuh.

Ia akan menjaga amanah itu dan membuktikan kemampuan terbaiknya sebagai tanda ia mampu menjabatnya. Dalam semua kedudukan yang pernah dipegangnya, ia membuktikan sebagai seorang yang mumpuni. Amanah organisasi itu menjadi sumber energinya.

“Kita berorganisasi itu untuk agama,” demikian ditegaskan Kiai Ma’ruf, sebagaimana dikutip KH Arwani Faishal, Ketua Komisi Fatwa MUI Pusat.

Sementara napas panjangnya bersumber dari kepribadiannya yang penyabar, pemaaf, dan bersahaja.

“Kiai Ma’ruf itu sangat sabar, tidak cepat marah, dan mampu mengendalikan emosinya. Dalam menghadapi masalah, Beliau selalu mengedepankan kemaslahatan yang lebih luas dengan pendekatan musyawarah. Mencari solusi yang bisa diterima oleh semua pihak. Seringkali Beliau mengalah dan mengambil sikap kompromi demi tercapainya kesepakatan bersama itu,” papar KH Zainut Tauhid, Wakil Ketua MUI Pusat.

“Kiai Ma’ruf itu seorang pendengar yang baik. Beliau mau mendengar orang yang berpendapat keliru dan mengingatkannya tanpa menyakiti,” jelas KH Zulfa Mustofa, Wakil Katib Syuriyah PBNU.

“Beliau juga tak pernah menolak tamu, orang yang pernah menyakiti hatinya pun diterimanya dengan baik,” sambungnya.

Baca juga: Mengenal Kiai Ma'ruf Amin (6): Kedekatannya dengan Gus Dur

Kiai Ma’ruf pandai memilih mitra kerja, yang membantu penuh kinerjanya di PBNU dan MUI. Para mitra ini sekarang sudah tampil sebagai kadernya yang mumpuni, baik di PBNU maupun di MUI.

“Untuk tugas-tugas di MUI, ada tim ahli yang menyiapkan berbagai kajian dalam pengambilan sebuah fatwa,” terang KH Masduki Baidlowi, Ketua Bidang Pengkajian dan Penelitian MUI Pusat. 

“Namun untuk draf akhir, pasti dibaca dan dikoreksi oleh Kiai Ma’ruf,” sambung Kiai Masduki.

Dalam pengambilan hukum, Kiai Ma’ruf memilih jalan moderat, yakni keputusan yang tidak memberatkan (ta’assur) tetapi juga menghindari keputusan yang menggampangkan (tasahhul). 

Ketika terjadi kerusuhan akibat rencana penataan Makam Mbah Priok pada 2010, MUI DKI Jakarta membentuk Tim Kajian yang terdiri berbagai ahli, atas permintaan Gubernur DKI, Fauzi Bowo. 

Sebagai pengarah tim, Kiai Ma’ruf dengan cermat memverifikasi setiap laporan. Dengan detail ia menelisik; Apa temuan anda? Siapa narasumber yang ada tanya? Apa analisa Anda? Mengapa Anda sampai pada kesimpulan tersebut?

Dengan kecermatan itu, tidak ada anggota tim yang membuat laporan yang asal jadi atau menjiplak. Tim ini kemudian menghasilkan sebuah buku putih dan kasus makam Mbah Priok pun dapat diselesaikan. 

“Para ahli yang terlibat dalam tim, sangat kagum dengan cara Kiai Ma’ruf mengarahkan tim kajian ini,” kata Kiai Zulfa Mustofa yang ikut di dalam tim tersebut selaku Ketua MUI Jakarta Utara.

Menjelang pelaksanaan Muktamar NU ke 33 di Jombang pada tahun 2015, ada utusan dari seorang tokoh yang dikenal sebagai ahli spiritual. Menurut utusan itu, Rais Aam yang akan terpilih adalah ulama yang berasal dari kulon (barat).

Kiai Ma’ruf hanya bisa mengiyakan informasi itu. Ia tak berpikir lebih jauh karena saat itu kandidat rais aam yang ramai dibicarakan adalah KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus (Jawa Tengah) dan KH Hasyim Muzadi (Jawa Timur). 

Ketika Muktamar NU Jombang mengalami jalan buntu dengan pengunduran diri Gus Mus, tim ahlul halli wal ‘aqdi kemudian meminta kesediaan Kiai Ma’ruf Amin untuk menjadi rais aam. Sebagai pribadi yang selalu tunduk pada keputusan organisasi, ia menerima amanah tersebut. 

Dengan kesediannya itu, Muktamar NU Jombang pun dapat dilanjutkan kepada pemilihan Ketua Umum PBNU sehingga muktamar dapat diselesaikan dengan terpilihnya rais aam dan ketua umum. Kiai ma’ruf Amin memang berasal dari Kulon, tepatnya dari Banten.

Rumahnya Terbuka untuk Aktivis Muda

Rumah Kiai Ma’ruf selalu terbuka untuk para aktivis muda. Mereka menjadikan Kiai Ma’ruf dan Nyai Huriyah sebagai orang tua tempat berkeluh kesah. Endin AJ Soefihara yang saat itu aktif di IPNU dan PMII, telah menganggap rumah di Lorong 27 Koja itu seperti rumahnya sendiri.

“Saya at home berada di rumah Kiai Ma’ruf. Karena anak-anak beliau saat itu masih kecil, saya sudah seperti anak laki-laki terbesar saja di sana,” ujar mantan anggota DPR RI dari PPP itu. 

Nyai Huriyah yang aktif berdakwah juga senang berdiskusi dengan para aktivis. Hal itu membuat suasana di rumah selalu hangat dan cair.

Salah satu kegelisahan Kiai Ma’ruf adalah keinginannya untuk memuliakan Syekh Nawawi Al-Bantani. Ulama penulis ratusan kitab itu besar namanya di Makkah, tetapi nyaris tak ada jejaknya di Banten.

Keturunan langsung dari Syekh Nawawi tidak ada yang meneruskan jejak keilmuan ulama besar itu. Syekh Nawawi menikah dengan perempuan asal Tanara juga, namanya Nyai Nasimah.

Mereka mempunyai tiga orang anak, yaitu Nafisah, Maryam, dan Rubi’ah. Rupanya dari ketiga putrinya itu, tidak ada yang meneruskan jejak keilmuan Syekh Nawawi di Banten.

“Kiai Ma’ruf ingin membangun pesantren di tempat Syekh Nawawi dilahirkan, yaitu di Tanara, Serang,” papar Endin.

Pada 1987 dibentuklah Yayasan Syekh Nawawi Al-Bantani dan Kiai Ma’ruf menjadi ketua umumnya. Sejak 1990 ia pun menjadi pengasuh pesantren An-Nawawi.

Dalam perkembangannya, pesantren ini menyelenggarakan pendidikan tingkat tsanawiyah, aliyah, dan Sekolah Tinggi Ilmu Fiqih. Dari sinilah diharapkan lahir para ahli fiqih yang meneladani jejak Syekh Nawawi Al-Bantani Al-Jawi. 

Sementara aktivis Zainut Tauhid, mengenal Kiai Ma’ruf melalui kegiatan di Yayasan Al-Jihad mulai 1983. Saat itu Zainut sebagai pengurus IPNU Jakarta ingin membentuk IPNU Jakarta Utara. Ia meminta izin agar Al-Jihad menjadi pusat kegiatannya. 

Keinginan Zainut itu diterima dengan tangan terbuka. Sembari mengembangkan IPNU, ia juga juga diminta untuk mengajar.

“Kiai Ma’ruf itu orangnya sangat terbuka, senang diskusi dan memiliki pengalaman yang sangat luas baik di bidang organisasi, dakwah, pendidikan dan politik,” terang Zainut.

Dalam berbagai kesempatan santai, Zainut menyimak kegelisahan Kiai Ma’ruf yang selalu memikirkan bagaimana umat Islam bisa lebih baik posisinya. Dari segi kesejahteraan, sumber daya manusia, ekonomi, dan kontribusi untuk kemajuan bangsa. 

“Kiai Ma’ruf sangat gelisah terhadap berbagai ancaman perpecahan umat dan bangsa. Maka dalam setiap ceramahnya beliau selalu mengingatkan soal menjaga ukhuwah; Islamiyah, wathaniyah, dan basyariyah,” kata Zainut.

Kegelisahan itulah yang memotivasi Kiai Ma’ruf untuk mematangkan konsep ekonomi Syariah yang kemudian mengkristal dalam konsep Arus Baru Ekonomi Indonesia.

Untuk memahami persoalan ekonomi itu, Kiai Ma’ruf tak segan untuk belajar dari para ahli ekonomi dan perbankan. Ia menelisik persoalan teknis keuangan Syariah dan kemudian memberikan solusi berupa fatwa melalui MUI.

Untuk kepentingan itulah, MUI membentuk Dewan Syariah Nasional yang secara khusus membidangi persoalan ekonomi dan perbankan.

(Iip D Yahya, dalam buku KH Ma'ruf Amin: Santri Kelana Ulama Paripurna)