Selamat Kembali Bersinar Purnama Negeri ini - Aru Elgete

Breaking

Kamis, 24 Januari 2019

Selamat Kembali Bersinar Purnama Negeri ini


Sumber gambar: Google Images


Kamis, 24 Januari 2019 Basuki Tjahaja Purnama (BTP) bebas. Inilah momentum yang ditunggu-tunggu di awal tahun ini. BTP menghirup udara bebas seperti sediakala, menjadi manusia yang baru, dan manusia yang sudah mampu menguasai dirinya sendiri. 

Dia menolak dipanggil Ahok. Kenapa? Karena panggilan etnik itu adalah masa lalu, yang mencebloskan dirinya ke dalam jeruji besi. Dia ingin dipanggil BTP, karena baginya panggilan BTP-lah yang nantinya bakal mampu membuat dia terus bergerak maju.

BTP, bagi saya, adalah korban dari amoralitas keagamaan. Dia telah menjadi tumbal dari pemerkosaan ayat dan kitab suci. Dia yang dipaksa menjadi bagian dari penindasan orang-orang beragama yang haus kekuasaan.

Namun BTP sudah berani berlaku sportif, dia mengaku salah, walaupun salah dan benar masih bisa dipertentangkan. Dia-lah yang mengajarkan kita untuk menjadi ksatria sejati. Tidak takut oleh apa dan siapa. Kesalahan sekecil apa pun, akan dilawan dan dihancurkannya. 

Kelakar BTP suatu ketika, Tuhan pun akan dilawan manakala Pencipta Alam Raya itu berbuat salah; tapi Dia tidak pernah salah; kalau Tuhan salah, maka sudah gagal Dia menjadi Tuhan, bukan Tuhan berarti.

Sekalipun beragama Kristen, guyonannya itu sudah setingkat dengan humor ala Nahdlatul Ulama, yang dibawa oleh KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Yakni menertawakan sesuatu hal yang paling sensitif agar suasana bisa menjadi cair. Paling kerennya, jika seseorang sudah mampu menertawakan dirinya sendiri. BTP? Sudah!

Saya berhasil mendapatkan tulisan dan kesaksian dari Pengasuh Pesantren Motivasi Indonesia Bekasi, KH Nurul Huda. Suatu ketika, dia menjenguk BTP dan menjadi saksi bahwa masih ada cinta yang mengitarinya. 

*****

Ahok dan Cinta yang mengitarinya

Jum'at, 3 November 2017 menjadi momentum yang penuh kenangan. Bukan hanya untuk saya, tapi juga 14 teman yang datang bersama mengunjungi Ahok (sekarang, BTP) di Mako Brimob. Sebagian mereka datang dari luar Jakarta, dengan penerbangan dan sewa hotel masing-masing.

Pendaftaran menjenguk Ahok satu bulan sebelumnya, dan itu menjadi pertanda daftar antrian yang panjang. Benar saja, saat tiba di Mako Brimob, Depok, antrian itu sudah terlihat. Untungnya kami dijadwalkan tepat pada jam kami tiba, sehingga hanya cukup menunggu 10 menit untuk bisa langsung berjumpa dengan manusia yang dikelilingi cinta.

Bahkan, bila di luar sana ada tujuh juta orang yang membencinya, kekuatan cinta yang mengitari Ahok tetap membuatnya bersinar, sinar keteduhan akibat tempaan hidup yang tidak ringan.

"Tanpa keikhlasan, kita akan sulit berdamai dengan tekanan, stigma penjara akan membunuh mental orang yang tidak bisa mengubah dirinya," Begitu kata Ahok, saat kami menanyakan kabar dirinya menghadapi situasi ini.

Ahok tampak sehat, tubuhnya lebih berotot, tinggi yang menjulang dengan perpaduan otot yang kekar membuatnya tampak lebih muda dan gagah. 

"Olahraga itu kuncinya, push up, sit up, pull up, saya lakukan sekitar 80% dari detak normal kerja jantung. Ini penting. Jadi, push up itu bukan soal kuat atau tidak, tapi sejauh mana tubuh kita mengizinkan kita menguras energi dengan takaran yang tepat." Begitu Ahok menjawab pertanyaan, "berapa kali push up yang dilakukannya setiap hari?"

Ya, Ahok selalu menggunakan alat deteksi detak jantung sampai menemukan kondisi normal untuk berapa kali melakukan push up dan sit up. Ahok memang detail bukan cuma urusan pekerjaan tapi juga kesehatan tubuhnya.

Kami lebih banyak mendengar, membiarkan Ahok bercerita, sambil tangannya tak henti menulis pesan dan menandatangani puluhan buku, kertas, kanvas, baju, dan bahkan tulisan seorang anak SD yang minta tulisannya dinilai oleh Ahok.

"Kayak gini kan gue jadi terbiasa, ngomong sambil tangan terus bekerja. (Dan) gue nulis gak asal, harus detail dan tepat. Gue baru tau hikmah kenapa saat sekolah dulu, seorang guru mengajarkan menulis bukan scan suatu teks dengan mata kita."

"Dengan menulis, memori kita menyimpan dengan lengkap dan tahan lama, ini berbeda dengan membaca dan menandatangani disposisi. Ribuan surat yang gue terima dan semua harus gue balas, dan supaya bisa membalas dengan baik gue harus membacanya satu persatu, supaya bisa menjiwai saat membalas surat mereka. Kamu tidak akan bisa membalas surat seseorang hanya dengan membacanya sambil lalu, kalaupun kamu jawab pasti tidak dari hati."

Huufft, sorry, saya harus menghela nafas, tidak bisa ditahan lagi, tangis saya pecah, saya duduk persis bersebelahan dengan Ahok, dan menyaksikan sendiri bagaimana Ahok melayani dengan cinta, kami yang mengaguminya.

Sebenarnya tidak tega melihat Ahok harus menandatangani dan menulis pesan puluhan buku serta kertas yang menumpuk, tapi Ahok melakukannya dengan cinta.

"Ini mah gak seberapa, saya menulis memoar Ahok di penjara sudah 176 halaman, lalu menulis Renungan Perjalanan Hidupku sudah 200 halaman, dan semua tulis tangan. Pernah pergelangan tangan ini bengkak karena kelamaan menulis, gak bisa disembuhin pake obat, tau gak sembuhnya pake apa? Pake push up, hahaha, itu mengapa ada dua hal yang aku seneng banget di penjara ini; olahraga dan baca buku."

Mendengar pemaparan Ahok itu, kami menggeleng. Ya Allah, saya benar-benar tidak sedang menjenguk pesakitan di sebuah penjara. Saya menyaksikan manusia tegar, seorang motivator dan inspirator sejati. Ahok menggugah kami, bukan hanya setiap pesan yang meluncur dari mulutnya yang mungil, tetapi gerak tangannya, tatapan matanya, dan gerak tubuhnya.

Bahkan, dia membalikkan badan seluruhnya untuk menjawab pertanyaan dan ia menjawabnya tidak sambil lalu, penuh gairah dan serius menghargai yang bertanya. 

Ahok sehat dan dikelilingi cinta.

"Ikhlas itu menguatkan, kita harus menerima kenyataan, melawan hanya akan membuat kita semakin terpuruk dalam kemarahan dan dendam. Selain ikhlas tubuh kita juga harus sehat, badan yang sehat akan menggerakkan jiwa kita lebih bergairah. Gerak kita yang positif akan menguatkan jiwa kita."

Saya menimpali ringan, "Iya Pak Ahok, ada yang mengatakan begini, emotion depend on motion."

"Benar itu, makanya kalau kamu tanyakan soal tanah abang berantakan lagi, Ahok yang dulu bisa marah, tapi aku bisa menahan diri sekarang. Pertanyaan itu kan bikin gue keki, lha gue bukan Gubernur lagi, elu tanyain yang begitu, udah tau gue lagi di penjara," timpal Ahok dan kemudian dia tertawa. 

Ahok tertawa dan saya pelan-pelan menelan ludah getir. Pertanyaan teman soal tanah abang berantakan lagi disikapi dengan penuh canda. Perlu diketahui, saya memperhatikan banyak teman saya yang diam-diam menangis haru menyaksikan gaya Ahok yang di luar dugaan kami. Ahok benar-benar membuat suasana kunjungan kami begitu cair tapi penuh ilmu dan motivasi. 

Tiga puluh menit tak terasa, sang penjaga mengingatkan kami. Waktu sudah habis. Di belakang kami masih banyak yang antri.

Selasa dan Jum'at memang menjadi waktu kunjungan yang disediakan Mako Brimob. Sementara Ahok tidak kehabisan energi melayani orang-orang yang mengunjunginya.

Kami berdiri. Ahok menyalami kami satu-persatu. Setiap kami menerima pesan. Utamanya soal semangat mencintai negeri dan membangun bangsa.

Kami datang ingin menyemangati Ahok, tapi yang kami dapatkan dia telah mendapatkan terang kehidupan dan terus menerangi kami.

Kaki kami melangkah meninggalkan ruang kunjungan, mengambil kembali handphone dan barang-barang yang kami titipkan di meja penjaga.

Ahok sehat karena ia menyebar cinta dan dikelilingi cinta. Rasanya tak sabar menantimu kembali berkiprah untuk negeri tercinta.

*****

Ke mana BTP Berlabuh?

Menjadi politisi, sesungguhnya bukanlah cita-citanya sedari kecil. Namun, dia harus terjun ke ruang politik agar mampu membasmi orang-orang jahat, kotor, dan maling-maling kelas kakap.

Kalau terjun ke politik, itu berarti dia harus masuk atau mengenakan pakaian partai politik (parpol), sedangkan menurut BTP, parpol adalah sarangnya (atau minimal, langkah awal) para maling untuk kemudian berkeliaran di berbagai instansi. 

Atau jika memang BTP ingin berparpol, maka pasti dia memilih parpol yang lebih sedikit koruptornya. 

Tapi bagi saya, BTP tak perlu masuk parpol. Dia cukup menjadi seorang yang profesional, keliling memberikan motivasi dari berbagai permasalahan hidup yang dihadapinya, dan menunggu saja sampai tiba waktunya ditugaskan untuk menjadi seorang menteri. 

Saat itulah kemudian, BTP mampu memberantas para pemain yang sering menggerogoti uang negara. Menteri apa yang cocok? Menurut saya, Menteri Dalam Negeri. Entahlah, saat ini, biarkan BTP bebas dulu.

Terlepas dari berbagai prediksi itu, yang jelas, BTP akan tetap berlabuh pada kebenaran dan melawan berbagai kemunafikan.

BTP telah membuktikan, bahwa menjadi manusia haruslah berani menghadapi apa pun, tidak kemudian lari dari masalah dan memprovokasi massa agar seolah-olah telah terjadi kriminalisasi. Itu namanya playing victim! Paham?

Selamat datang dan kembali bersinar, purnama negeri ini. Sinarilah bangsa ini dengan keteguhan hati, ketegaran jiwa, dan kemantapan gerak untuk terus berbuat baik dalam memperbaiki keadaan negeri.

Selamat berlabuh, di udara kebebasan...