Jumat, 04 Januari 2019

Sudahkah Kalian Nge-Share Info Hoaks Hari Ini?


Sumber gambar: indoprogress.com


Pemerintahan Orde Baru yang dipimpin seorang keji nan bengis berhasil dibangun dari berita palsu (hoaks). Di hari-hari awal pasca Gerakan 30 September merupakan periode krusial sejarah palsu diciptakan.

Pada periode itu, narasi tentang para jenderal yang dimutilasi oleh Gerwani berkembang. Hasil visum dokter yang mengautopsi jenazah, membuktikan bahwa itu hoaks.

Kenyataannya, sebagian besar jenderal tewas ditembak sebelum dikubur di Lubang Buaya. Namun, masyarakat ketika itu terlanjur termakan hoaks yang diciptakan Soeharto. 

Menurut Peneliti Senior Lembaga Studi Pers dan Pengembangunan, Ignatius Haryanto, surat kabar menjadi media utama tersebarnya hoaks itu. 

Selama hampir sepekan, 1-6 Oktober 1965, TNI Angkatan Darat melarang penerbitan semua surat kabar, kecuali Angkatan Bersenjata dan Berita Yudha. Keduanya lalu memonopoli pemberitaan terkait G30S.

Dari koran-koran itulah, dimulai propaganda negatif terkait Gerwani. Hoaks di masa orde baru diproduksi dalam rangka mendukung rezim. Hoaks kemudian berubah menjadi alat untuk melegitimasi kekuasaan Soeharto yang baru terbentuk.

Propaganda negatif itu lantas mengakar sangat dalam di benak masyarakat semasa rezim Soeharto. Bahkan, hampir semua hal yang berkaitan atau berbau dengan komunisme menjadi tabu dan terlarang. 

Dari hoaks itulah, orde baru kemudian membuat berbagai aturan yang diskriminatif dan represif terhadap orang-orang yang dianggap terlibat PKI.

Hoaks orde baru berkelindan dengan pengekangan kebebasan pers. Namun, hegemoni media ala orde baru itu tumbang seiring bergulirnya reformasi pada 1998. Kebebasan pers kemudian berkembang, tapi rupanya hoaks tetap menjadi persoalan.

Hanya bedanya, jika semula hoaks dimanfaatkan rezim Soeharto untuk mendukung kekuasaannya, yang terjadi kini justru sebaliknya. Saat ini, dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi, masyarakat bisa dengan mudah membuat dan menyebarkan informasi.

Karenanya, bisa dikatakan dan sangat bisa diucapkan bahwa hoaks dewasa ini cenderung digunakan atau dimanfaatkan untuk merongrong rezim yang sah secara konstitusional.

Salah satu dari sekian banyak hoaks yang digunakan untuk menjatuhkan Pemerintahan Presiden Joko Widodo adalah munculnya isu pekerja imigran dari Tiongkok. Kemudian muncul seruan, 'pengangguran tambah banyak karena tenaga kerja cina malah didatangkan'.

Seruan itu disebarkan dengan sangat massif di media sosial, sebuah ruang di mana generasi muda di era revolusi industri keempat 'nongkrong'. Akhirnya, anak-anak yang tak paham sejarah, yang malas bekerja, dan tidak punya keahlian apa pun termakan isu hoaks tersebut. Miris.

Tak hanya itu, seruan tersebut dibumbui dengan hoaks soal masuknya sepuluh juta tenaga kerja Tiongkok ke Indonesia. Ironisnya, masyarakat sangat dengan mudah percaya. Padahal, validitas data itu tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Inilah pentingnya kita untuk terus menggiatkan gerakan melek literasi, agar tidak mudah termakan isu hoaks yang cenderung provokatif dan propagandis, dan kemudian berpotensi memecah belah persatuan bangsa Indonesia.

Lagi saya katakan, berita-berita hoaks itu kini disebarkan melalui media sosial dan disalurkan ke aplikasi chatting. Secara umum, berita hoaks mudah dipercaya dan kemudian disebar (meski baru hanya membaca judul) karena dekat secara emosional, dan praktis dibuat berhubungan dengan preferensi pribadi pembaca.

Contoh misalnya, isu SARA yang digunakan untuk mematahkan kampanye Basuki Tjahaya Purnama dalam Pilkada DKI Jakarta lalu.

Seluruh pencapaian Ahok-Djarot dimentahkan dengan seruan 'kalau pilih Ahok masuk neraka' atau 'Ahok penista agama'. Sebab, isu agama adalah pemantik yang paling efektif dalam memancing emosi masyarakat muslim.

Sekadar mengabarkan, Ahok akan bebas dari masa hukumannya pada 24 Januari mendatang. 

Nah, penggunaan isu SARA dan komunisme itu berpotensi bakal terus dipakai untuk kampanye-kampanye negatif. Kedua isu tersebut terbukti tetap efektif hingga kini.

Karena itulah kemudian edukasi dan diskursus terkait literasi media yang baik agar masyarakat tidak kian termakan hoaks harus terus digiatkan.

Masyarakat harus selalu diingatkan untuk tetap kritis terhadap kredibilitas sumber berita. Di balik suatu media, terdapat kepentingan. Karena itu kita tidak bisa hanya kritis terhadap media arus utama, tetapi juga harus kritis kepada media non-arus utama.

Dan pada akhirnya, hoaks hanya membuat masyarakat menjadi bertambah ketakutan. Dampak paling parah yang ditimbulkan dari hoaks adalah pesimisme masyarakat untuk terus maju dan bersaing.

Bangsa kita, jika terus-menerus kalah oleh hoaks akan mengalami degradasi kekuatan karena yang bisa dilakukan hanyalah mengumpat, marah-marah, dan emosi yang tidak jelas sama sekali.

So, sudahkah kalian ngeshare berita hoaks hari ini? Jangan, ya. Bahaya.
Previous Post
Next Post