Teladan Kenabian Seorang Jokowi - Aru Elgete

Breaking

Rabu, 09 Januari 2019

Teladan Kenabian Seorang Jokowi


Jokowi menjenguk Ustadz Arifin Ilham, di RSCM Jakarta

Jokowi Dodo, nabikah dia? Jelas, bukan. Jauh api dari panggang. Dia hanya seorang alit (kecil), wong cilik. Akar dan batang darahnya bukan siapa-siapa.

Allah 'Isra Mikrajkan' dari pedagang mebel, jadi Walikota Solo dua periode, Gubernur DKI Jakarta secara singkat dan 'mikraj' sebagai Presiden RI.

Benar, dia seorang biasa. Tidak lahir dari keluarga elit, darah biru, dan bangsawan. Juga bukan dari Brahma, romo, bikhu, rabi, kiai, ustadz, atau tokoh agama apa pun. Bukan dari dinasti politik apa dan siapa pun dari sejarah politik Indonesia seperti orang kebanyakan. 

Hanya Allah-lah yang kuasa menjalankan pengabdian dan dedikasinya pada umat juga bangsa. Darahnya bukan Soekarno yang proklamator itu. Juga bukan Soeharto yang hebat itu. Bukan siapa-siapa.

Mari lihat kerja, karya, dan amal-amalnya. Sangat jelas dan faktual. Kita, pendukung dan pembencinya pun menikmati itu. 

Mari kita lihat jiwa agungnya. Air bah caci maki, dengki, fitnah menghujam dirinya. Dia tetap bekerja, ikhtiar, dan berdoa untuk kemajuan bangsa. Saat berbagai kalimat kasar, busuk, dan kotor menimpa, ia lapangkan jiwanya.

Serupa samudera ditelannya. Termasuk orang dalam foto di depan dirinya. Ia menjenguknya. Senyum lepas padanya. Duduk takzim dihadapan sang pencelanya. Menghormati perisak dirinya. Pelabel buruk pada dirinya. Jokowi datang, memanjatkan doa bagi kesembuhannya. 

Mari lihat tauladan yang dihadirkannya. Sabar, ikhlas, lapang hati, tenang, santun, dan terukur bahasanya. Mari lihat 'sunnah hasanah' selama dapat amanah sebagai the number one.

Anaknya jualan martabak dan pisang. Ada yang mau jadi Aparatur Sipil Negara (ASN), gagal mencapainya. Ia bersih dan membersihkan orang-orang dekatnya. Ia tidak tergoda dan kemaruk harta yang bukan haknya. Justru yang ada bagaimana memajukan bangsa dan memakmurkan rakyat. 

Dia bukan tukang sulap yang mampu merombak gubuk jadi istana. Ia tidak punya tongkat Nirmala yang bimsalabim. Bukan juga kisah 1001 malam. Bangsa ini ratusan suku dan agama. Tumpukan sejarah, mental, hutang, sengketa agama dan politik diwarisinya. Dia sudah memulai menata dan mencuci piring pesta-pesta rezim sebelumnya. 

Itu akhlak sempurna seorang muslim. Moral luhur kenabian. Tak mampu melakukannya kecuali sang pemilik jiwa besar. Kita hanya pernah membacanya dalam kisah-kisah kenabian; perilaku orang-orang suci dalam agama-agama. Jiwa-jiwa yang kuasa menanggalkan ego, gengsi dan amarah. 

Dia, Joko Widodo. Presiden RI. Dan, Ustadz Arifin Ilham semoga sehat afiat bugar kembali. Ya Allah, anta al-syafii la syifa'a illa minka. Fasyfiihi syifaan kamilan.

(Mohammad Monib)