Gus Dur Kiai Humoris, Menyampaikan Pesan dengan Jenaka - Aru Elgete

Breaking

Selasa, 27 November 2018

Gus Dur Kiai Humoris, Menyampaikan Pesan dengan Jenaka


Sumber gambar: haritrang.co.id

Bagi kalangan pesantren, humor biasanya bukan hanya digunakan untuk memecah kebuntuan atau suasana kebekuan. Tetapi juga untuk menyampaikan pesan agar mudah diingat dan diterima.

Maka tidak heran jika saat mengisi pengajian atau mengkaji kitab kuning di hadapan santri, kiai biasanya menjelaskan masalah dengan humor dan kisah jenaka. Sehingga, yang sulit terasa menjadi mudah dan yang rumit menjadi sederhana.

Greg Barton dalam pengantar di buku Prisma Pemikiran Gus Dur mengungkapkan, hal yang paling eksentrik dan misteri dari seorang kiai adalah kemampuannya berpikir lateral untuk mencari jalan keluar bagi masalah sosial yang bertentangan dengan anggapan komunitasnya.

Jaya Suprana, dalam Kompas edisi 2 Januari 2010, mengatakan bahwa Gus Dur dikenal sebagai sosok humoris. Sikap kritisnya terhadap realita sering disampaikan melalui humor. Sehingga yang setuju maupun yang tidak, sama-sama bisa tertawa.

Hal yang dilakukan Gus Dur tersebut, kata Jaya Suprana, mirip seperti yang kerap dilakukan seorang filsuf Yunani kenamaan, yakni Socrates yang gemar melontarkan berbagai komentar secara humoristis.

Humor Gus Dur meliputi hampir semua aspek kehidupan seperti realitas sosial, agama, dan politik. Dahlan Iskan pun pernah mengutip humor yang pernah dilontarkan oleh Gus Dur.

Saat itu, Gus Dur juga menghumorkan Pak Harto yang sangat ditakuti, tapi sebenarnya juga dibenci rakyat banyak. Suatu kali, Pak Harto terhanyut di sungai dan hampir tewas. 

Kemudian seorang petani menolongnya dengan ikhlas. Namun si petani tersebut tidak tahu sebenarnya siapa yang ditolong itu. 

"Saya ini presiden. Kamu telah menyelamatkan saya. Imbalan apa yang kamu minta?" kata Soeharto.

"Pak saya minta satu," jawab si petani.

"Jangan beri tahu siapa pun bahwa saya yang menolong bapak," lanjutnya.

Selain itu, di saat yang lain Gus Dur juga pernah melontarkan humornya. Suatu ketika, pesawat yang ditumpangi Gus Dur ke Semarang batal berangkat. Padahal, Gus Dur sudah lama menunggu.

Perlu diketahui bahwa ketika itu di Jawa Tengah sedang getol-getolnya melakukan kuningisasi. Atas instruksi Gubernur Jawa Tengah Suwardi, apa saja dicat kuning. Mulai bangunan hingga pepohonan. Tujuannya agar rakyat kian dekat dan mencintai Golkar.

Saat semua penumpang marah-marah, Gus Dur malah cuek-cuek saja. Ia malah bertanya kepada penumpang lain, "Kalian tahu nggak kenapa pesawat ini batal berangkat ke Semarang?"

Lalu, ia menjawab sendiri pertanyaannya. "Pilot takut, kalau-kalau begitu pesawat ini mendarat langsung dicat kuning".

Demikian pula halnya kelakar di wilayah agama. Gus Dur sering melontarkan humor dan sekaligus pesan yang dalam. Begini ceritanya:

Di pintu akhirat, malaikat menanyai seorang supir Metro Mini. "Apa kerjamu selama di dunia?" tanya malaikat.

"Saya supir Metro Mini, Pak."

Lalu malaikat memberikan kamar mewah untuk supir Metro Mini itu sekaligus peralatan yang terbuat dari emas.

Tak lama, datang seorang ustadz menuju pintu surga yang dijaga malaikat. 

"Apa kerjaanmu selama di dunia?" tanya malaikat kepada ustadz.

"Saya juru dakwah, Pak."

Tanpa pikir panjang, malaikat memberikan kamar yang kecil dan peralatan dari kayu. Namun, melihat itu si ustadz pun protes.

"Pak, kenapa kok saya sebagai juru dakwah mendapatkan yang lebih rendah dari supir Metro Mini?"

Dengan tenang malaikat menjawab, "Begini Pak Ustadz, pada saat bapak ceramah, bapak membuat orang-orang semua ngantuk dan tertidur sehingga melupakan Tuhan. Sedangkan pada saat supir Metro Mini mengemudi dengan ngebut, ia membuat orang-orang berdoa dan berdzikir".

Gus Dur kadang juga berargumentasi dengan humor untuk mematahkan serangan para pengritiknya. Cerita humor ini diabadikan Tempo edisi 2 Desember 1989.

Ketika beberapa peserta Muktamar NU ke-29 di Pesantren Krapyak Yogyakarta pada 1989 mengritik dan meminta Gus Dur mempertanggungjawabkan ucapan-ucapannya seperti, "assalamu'alaikum bisa diganti selamat pagi".

Suasana pun menjadi panas. Namun dengan jenaka, Gus Dur bisa memberikan jawaban yang membuat suasana kembali santai.

Menurut Gus Dur, para ulama saat ini sedang memikirkan berbagai cara untuk menciptakan kerangka berpikir yang sanggup menampung kebutuhan zaman. Dalam kaitan itu, ia yakin para ulama NU sudah memasang rem untuk mencegah perluasan wawasan itu agar jangan sampai menyimpang dari agama.

"Kalau kadang-kadang gasnya saya tancep gitu, itu karena saya yakin rem para ulama pakem. Saya lakukan itu karena tidak ada yang nge-gas, kalau semua nginjek rem terus, mobilnya nggak maju-maju," katanya dan hadirin pun tertawa bisa menerima argumentasi Gus Dur.


(Tulisan di atas disarikan dari buku 41 Warisan Kebesaran Gus Dur karya M Hanif Dhakiri dan ditulis dalam rangka menuju Haul Gus Dur pada Desember mendatang)