Kenapa Saya Harus Menamai Diri Elgete? - Aru Elgete

Breaking

Senin, 17 Juni 2019

Kenapa Saya Harus Menamai Diri Elgete?




Kenapa harus menamai diri Elgete? Apa ada kaitannya sama LGBT?

Pertanyaan itu seringkali berdatangan dan sebenarnya sudah lama juga saya ingin membahasnya. Yakni perihal kemiripan nama (pena) dengan istilah bagi saudara-saudara saya yang berorientasi seksual homo; tidak hetero.

Elgete, seringkali menjadi bahan tertawaan teman-teman dan kerabat dekat. Bahkan, oleh orangtuaku sendiri. Jujur, saya sama sekali tidak mempermasalahkan guyonan-guyonan semacam itu yang dilakukan orang-orang terdekat.

Tapi, apa yang terjadi ketika ada orang lain yang baru pertama berkenalan dan mengetahui bahwa namaku ada kemiripan dengan istilah yang oleh sebagian orang dianggap menyimpang itu?

Ada yang spontan bertanya arti, juga tidak sedikit yang kaget dan canggung ketika pertama ngobrol. Bahkan, ada juga yang langsung menghindar sehari atau dua hari setelah berkenalan.

Karenanya, saya salut dengan media massa di Indonesia yang mampu menggiring opini masyarakat bahwa LGBT adalah hal yang hina dan menjijikkan. Padahal perzinaan kaum hetero juga tidak kalah menjijikkan dan bahkan mengenaskan. Tunggu dulu, saya tidak bermaksud membela LGBT hanya karena namaku ada kemiripan dengan itu.

Lalu bagaimana proses 'Elgete' itu tercipta, lahir, dan akhirnya berkembang menjadi nama kebanggaan? 

Sebab, menciptakan 'nama baru' yang akan menjadi konsumsi pendengaran publik, pasti menimbulkan banyak tanda tanya, melahirkan komentar ini-itu, dan rasa heran yang berlebihan.

Salah seorang yang berjasa dalam menciptakan 'nama baru' itu adalah Wahdaniah Puji Hartami atau saya memanggilnya Mbak Nia. Dia punya nama pena, Neya PH.

Dialah seorang teman diskusi, lawan debat, dan donatur tetap dalam hidupku. Anak sulung dari pasangan Wiani-Saryono yang menciptakan 'Elgete' menjadi sebuah nama yang akan terus berkembang seiring berkembangnya keadaan.

Jadi begini...

Liburan pondok pada 2011, saya pulang untuk berlibur dengan keluarga di rumah. Ketika itu, twitter menjadi platform media sosial kelas menengah ke atas yang sedang 'naik daun'.

Pengguna facebook berbondong memasuki era baru kehidupan media sosial di twitter. Pengguna twitter melejit. Mulai dari tokoh masyarakat, kiai, santri, mahasiswa, hingga Jonru pun mendapat berkah dari hasil membencinya melalui sosial media (fanpage dan twitter).

Neya PH gelisah atas ketiadaanku pada dunia maya. Kemudian dirinya membuatkanku akun twitter dengan nama yang sama sekali baru. Katanya, kalau di twitter itu jangan menggunakan username yang terlalu panjang, agar mudah diingat dan tidak sulit ditemukan. Atas inisiasinya, pertama kali akun twitterku dibuat dengan username yang cukup mudah: @Aruelget.

Singkat cerita, pada semester 2 tahun 2012 saya menjadi penyiar Radio Komunitas Buntet Pesantren 107,7 Best FM bersama Bang Ammar Elt-batawie. Saat itu, berulang kali saya memperkenalkan diri 'di udara' dengan sebutan Aruelget. Semua orang, terutama santri sudah mulai mengenal nama itu.

Namun suatu ketika, saya merasa ada yang kurang dan nama Aruelget itu seperti tidak enak didengar. Lalu, setelah sekitar tiga minggu menjadi penyiar, saya memutuskan untuk menambahkan huruf 'E' di belakangnya, dan nama tersebut menjadi dua kata: Aru Elgete.

Username di twitter pun saya ubah menjadi @AruElgete, hingga kini. Di twitter, saya hampir menjadi selebtwit yang suka bikin 'gaduh' di lingkaran pengikutku. Saya menjadi benteng perlawanan dari orang-orang penebar kebencian.

Hingga suatu ketika, akun twitterku difollow Menteri Agama RI, Kiai Haji Lukman Hakim Saifuddin, saat Halaqah Kebangsaan di Hotel Alia Cikini yang diadakan oleh Ma'arif Institut, karena mengkultwit ceramahnya dari awal sampai akhir, pada sekitar tahun 2015.

Follower pun berdatangan, haters juga menghampiri. Sejak punya akun twitter, saya sudah berhasil membuat @felixsiauw, @tifsembiring, @jonru, @MustofaNahra, @FahiraIdris, dan kawan-kawan memblokir akunku.

Sebab, begitulah sosial media. Bisa memilih untuk tidak melihat postingan atau cuitan yang tidak sesuai dengan hati dan pikiran kita. Pada akhirnya, kebencian hanya berkutat di lingkaran itu-itu saja, tanpa tercipta dialog dan diskusi yang memadai untuk menciptakan harmoni serta estetika dalam kehidupan di dunia maya.

***

Setelah cerita panjang lebar, kira-kira apa korelasi antara Elgete dan LGBT?

Begini...

Elgete adalah hasil ijtihad Neya PH agar saya menjadi lebih mudah diingat oleh orang lain. Menurutnya, Elgete berasal dari akar kata LGT yang berarti LeGo Triono. Tapi bukan LG(B)T. 

Elgete tercipta sudah jauh-jauh tahun sebelum adanya legalisasi pernikahan sejenis di Amerika dan kericuhan di twitter yang berawal dari SGRC UI, sebuah organisasi atau komunitas yang memberikan kesempatan bagi kaum LGBTIQ untuk berkonsultasi menyoal hidup dan karir di kehidupan sosial, pada sekitar tahun 2016.

Namun sayang, perbuatan mulia itu justru membuat netizen gelap mata dan keruh pikir yang menganggap bahwa UI melalui SGRC-nya adalah gerbang kemaksiatan, gerbang homoseksual.

Karena adanya kemiripan antara Elgete dengan LGBT itu, maka perlu saya tekankan bahwa saya Elgete bukan LG(B)T. Berjenis kelamin laki-laki, bergender maskulin (rada feminin, haha), dan berorientasi seksual hetero. Alhamdulillah, saya mensyukuri itu.

Namun dengan begitu, saya tidak antipati terhadap LGBT. Sebab, mereka adalah saudara kemanusiaan bagi saya. Saudara sebangsa dan setanah air, juga sama-sama tercipta sebagai wakil Tuhan (khalifatullah) di muka bumi.

Menjadi LGBT bukan sebuah cita-cita, bukan sebuah keinginan, dan bahkan tujuan hidup. Maka, saya mempersilakan teman-teman LGBT untuk bersyukur atas keadaan yang tidak bisa diubah dengan segala daya dan upaya mereka sendiri sebagai manusia biasa.

Saya juga menolak teman-teman LGBT yang bertindak asusila, sama halnya teman-teman yang hetero yang perilakunya menyimpang dari norma susila. Sebab, musuhku bukan soal orientasi seksual, bukan karena gender dan jenis kelamin, tetapi mereka yang melakukan kejahatan; terutama kejahatan seksual.

Karena menjadi homo atau hetero, menjadi feminin atau maskulin, menjadi wanita atau lelaki bukanlah sebuah kejahatan, bukan juga sesuatu yang menjijikkan atau hina. Sebab yang menjijikkan dan hina adalah mereka yang melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan; baik atas nama cinta, agama, maupun atas nama rakyat.

Karena ketiga hal itu adalah suci, menjadi sebuah kejahatan ketika ditumpangi oleh kepentingan, dan itu harus kita lawan!

Wallahua'lam...

Ditulis pada 21 Juli 2016/16 Syawal 1437 dan diperbarui pada 17 Juni 2019/13 Syawal 1440.

2 komentar: