Bung Karno, NU, dan Muhammadiyah - Aru Elgete

Breaking

Sabtu, 08 Juni 2019

Bung Karno, NU, dan Muhammadiyah


Sumber: kompas.com

Insinyur Soekarno adalah seorang nasionalis yang sangat paham Islam. Pemahamannya itu diterjemahkan dengan cara merangkul rakyat sejak masa penjajahan dan setelah Indonesia merdeka. Karena itu, keliru jika dirinya dinilai jauh dari Islam.

Proklamator Kemerdekaan itu, mampu menyatukan rakyat Indonesia yang terdiri dari banyak suku dan agama. Ia berperan besar menjaga semangat seluruh rakyat Indonesia mencapai kemerdekaan sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Seandainya bukan dirinya yang berperan, mungkin saja Indonesia menjadi Madura sendiri, Jawa sendiri, atau Sumatera sendiri.

Pemikiran-pemikirannya itu berhasil meyakinkan tokoh-tokoh Islam pada saat itu, agar tidak menjadikan Indonesia sebagai negara Islam. Sebab, ia melihat di dalamnya terdapat rakyat pemeluk agama lain yang ikut berjuang meraih kemerdekaan.

Karenanya, Bung Karno merumuskan intisari ilmu Islam.

Maka, para tokoh Islam tidak mempersoalkan apakah menjadi negara Islam atau NKRI. Karena yang penting terdapat norma (Islam) yang hadir. Alasannya, mereka menyadari tidak ada satu ayat Al-Qur'an pun yang secara eksplisit mengatakan umat Islam harus menegakkan negara Islam.

Dengan fakta seperti ini, maka jangan pernah dibayangkan Indonesia lahir dari orang yang tidak paham agama. Rupanya, Bung Karno yang saat itu dianggap sebagai kelompok nasionalis sangat memperhatikan konsep, ruh, dan amalan Islam.

Disinilah kita dapat melihat kemampuan Bung Karno “menantang” pikiran-pikiran ulama untuk agama yang mampu melakukan transformasi etnosentrisme menjadi negara-bangsa (nation-state).

Jadi jasa Bung Karno bukan hanya karena merumuskan Pancasila yang menjadi perekat bangsa, tapi juga mampu menata pikiran seperti, salah satunya, Kiai Ahmad Dahlan memandang Islam yang mampu menjawab tantangan zaman.

Karena itu, membandingkan khilafah dengan pikiran Bung Karno sangatlah sintesis. Proses pertukaran membentuk satu identitas NKRI dengan demokrasi yang khas. Kekhasan tersebut tidak terjebak oleh sekularisme yang antiagama seperti di Turki.

Bung Karno merupakan sosok Islam Nusantara yang Berkemajuan. Hal tersebut saya sematkan lantaran ia merupakan sosok yang dekat dengan dua ormas Islam terbesar di Indonesia. Yakni Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. NU memiliki jargon Islam Nusantara, sedangkan Muhammadiyah Islam Berkemajuan. 

Kemudian, karena perhatian yang sangat mendalam terhadap Islam, Bung Karno memiliki beberapa catatan penting mengenai Islam, yang kemudian dapat kita ambil sebagai pelajaran. 

Diantaranya Islam progresif, penalaran modernis, dari halal-haram ke mubah-jaiz, NKRI, Syariat Islam, titik tengkar yang terlampaui, belajar mengelola perbedaan ideologis, dan argumen negara yang terbarukan.

Sementara penjelasan singkat mengenai Islam progresif bukanlah Islam yang tradisional, tetapi sebuah konsep dan visi Islam yang melampaui zaman.

Kita menjadi kian paham dan terbukti tentang bagaimana ijtihad politik para pendidik bangsa ini, termasuk Bung Karno. Sebagai perbandingan sederhana di Timur Tengah, kita tahu persoalan yang kerap terjadi di sana, yakni mengenai kekuasaan. 

Dalam konteks ibadah, umat Islam Indonesia hendaknya berkiblat ke Timur Tengah. Namun, dalam konteks demokrasi, sejatinya negara Timur Tengah yang harus berkiblat pada Indonesia.

Bung Karno dan Muhammadiyah

Islam sebagai agama sudah selesai dalam pandangan Bung Karno. Namun, pemahaman tentang keislaman belum pernah selesai. Ini tak berarti bahwa Islam mau dan harus diubah, tetapi ini lebih menjelaskan bagaimana ia antitaklid buta. Bung Karno merupakan seorang pemikir keagamaan yang kritis.

Dalam hal pemikiran, Bung Karno memang lebih dekat ke Muhammadiyah. Sebab, pidato-pidatonya mencerminkan bagaimana dirinya terus menggelorakan Islam yang progresif atau Islam yang berkemajuan. Paling tidak, ini tercermin dari pidatonya yang berjudul Memudakan Pengertian Islam.

Islam berkemajuan ala Bung Karno ini merupakan perpaduan antara jiwa yang merdeka dan tauhid murni, sekaligus kemampuan membaca pemikiran Islam modern.

Salah satu hal yang menarik adalah pemikiran Islam Bung Karno terkait fatwa mencuci najis air liur anjing dalam artikelnya, Masyarakat Onta dan Masyarakat Kapal Udara.

Menurutnya, pada zaman Nabi belum ada sabun sehingga sekarang tidak relevan lagi. Bung Karno bahkan menganggap pemisahan perempuan dan laki-laki sebagai bentuk feodalisme.

Kontekstualisasi agama dari Bung Karno inilah yang sesuai dengan pemahaman Muhammadiyah. Pertemuan Bung Karno dan Kiai Ahmad Dahlan-lah yang kemudian menajamkan keislamannya.

Bung Karno dan Nahdlatul Ulama (NU)

Kehadiran Presiden Rrepublik Indonesia pada acara Muktamar NU tentu mendapat perhatian dari para muktamirin (peserta muktamar) dan khalayak umum. Berbagai momen dan peristiwa juga mengiringi kehadiran sang pemimpin tertinggi tersebut.

Salah satu yang masih terngiang dalam catatan sejarah, yakni ketika Presiden RI pertama itu, menghadiri Muktamar NU ke-23 di Kota Surakarta, 28 Desember 1962.

Kala itu, karut-marut suasana politik di tanah air tengah memanas, seiring berbagai keputusan yang dikeluarkan oleh Bung Karno, baik di kancah domestik maupun dalam hubungan Indonesia dengan negara lain.

Ketika itu, beberapa elemen kelompok terlibat dalam pemberontakan DI-TII dan kemudian PRRI Permesta. Meski demikian, hubungan antara Soekarno dan NU justru semakin erat. Ini dibuktikan dengan pidato Bung Karno pada Muktamar NU ke-23.

“Saya sangat cinta sekali kepada NU. Saya sangat gelisah jika ada orang yang mengatakan bahwa dia tidak cinta kepada NU. Meski harus merayap, saya akan tetap datang ke muktamar ini, agar orang tidak meragukan kecintaan saya kepada NU!” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Bung Karno juga memberikan apresiasi kepada NU dan Rais Aam KH Wahab Hasbullah, atas gagasannya dalam usaha merebut Irian Barat.

“Baik ditinjau dari sudut agama, nasionalisme, maupun sosialisme. NU memberi bantuan yang sebesar-besarnya. Malahan, ya memang benar, ini lho pak Wahab ini bilang sama saya waktu di DPA dibicarakan berunding apa tidak dengan Belanda mengenai Irian Barat, beliau mengatakan: jangan politik keling. Atas advis anggota DPA yang bernama Kiai Wahab Hasbullah itu, maka kita menjalankan Trikora dan berhasil saudara-saudara,” lanjut Bung Karno.

Lalu, bagaimana pemikiran keislaman Bung Karno di tengah pertarungan ideologi kebangsaan?

Menurut seorang pengamat Timur Tengah, Novriantoni Kahar, bahwa pemikiran-pemikiran Bung Karno berbeda dari umumnya. Bung Karno seringkali dalam pidato-pidatonya memaparkan penafsiran-penafsiran keagamaan yang sama sekali berbeda dari pandangan umum.

Salah satunya adalah pembelaan Bung Karno atas Kemal Attaturk di saat seluruh umat Islam justru menghujatnya. Ketika itu, Turki mengambil jalan radikal untuk memisahkan negara dari agama. Berbeda dari negara lain, Mesir misalnya, yang mengambil jalan kompromi.

Pemahaman keislaman Bung Karno menjadi modal utama saat berdebat dengan lawan politiknya. Lebih jauh, pemahaman keislaman tersebut dapat dibanggakan sampai saat ini dalam menghindarkan Indonesia dari isu sektarian yang berpotensi menimbulkan keterpecahan. 

Banyak sudah kisah perjuangan Presiden Soekarno dalam menyatukan Indonesia melalui Pancasila. Berkat nilai Pancasila yang digalinya itu, Indonesia mampu menjadi negara besar yang demokratis, rukun, dan toleran. Wallahua'lam...

Diambil dari berbagai sumber: diantaranya Website NU Online, Website Muhammadiyah, dan Website Megawati Institute.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar