Jadilah Hamba Allah, Bukan Hamba Ramadan - Aru Elgete

Breaking

Minggu, 02 Juni 2019

Jadilah Hamba Allah, Bukan Hamba Ramadan


Salat tarawih. Sumber: presidenri.go.id
Di awal-awal Ramadan di setiap tahunnya, para penceramah dari atas mimbar tarawih seringkali melafalkan firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 183.

Perintah untuk berpuasa itu, dijadikan acuan serta landasan bagi orang-orang beriman untuk mencapai derajat ketakwaan yang baik di sisi Allah.

Karena itu, banyak sekali yang ketika bulan Ramadan datang langsung membalut dirinya dengan pakaian dan wewangian surga, agar menjadi orang yang bertakwa.

Keberimanan dimaknai sangat sederhana. Pun takwa yang juga sangat sederhana dimaknai sehingga banyak orang yang dengan mudahnya melakukan aksi 'bunglon'.

Padahal, Ramadan adalah bulan Allah, bulan dimana kecintaan dan keintiman antara hamba dan Tuhannya dipertaruhkan, bukan bulan yang diperuntukkan bagi orang-orang yang mementingkan eksistensi atas ibadah yang dilakukan di bulan suci.

Nah, di akhir-akhir Ramadan ini, kiranya kita perlu melakukan tadabbur atas ayat-ayat Allah, baik kauniyah maupun qowliyah.

Tadabbur tersebut dimaksudkan agar terjadi perubahan di dalam diri pasca-Ramadhan. Tentunya perubahan ke arah yang positif, bukan perubahan yang mengembalikan kita pada diri semula (sebelum Ramadan).

Artinya, Ramadan ini kita harus mendapatkan hikmah dan pelajaran yang membuat pribadi menjadi lebih baik. Jangan sampai, pendidikan yang gratis ini justru menjadi sia-sia sehingga kita masuk ke dalam kategori orang-orang yang merugi.

Kembali ke ayat populer tadi, yakni Al-Baqarah 183, bahwa Allah memerintahkan puasa (hanya) kepada orang-orang yang beriman, dengan tujuan agar menjadi orang yang bertakwa.

Iman dan takwa adalah sebab-akibat dari aktivitas keagamaan kita. Iman adalah sebab, sedang akibatnya adalah takwa. Begitu pula sebaliknya, takwa bisa saja menjadi sebab dan iman menjadi akibat.

Keduanya seiring sejalan, saling melengkapi satu sama lain. Karena iman bersifat dinamis, selalu berubah-ubah. Dan takwa menjadi penyeimbang dari keimanan yang 'naik-turun'.

Kalau Ramadan diartikan sebagai tempat pendidikan, maka output dari ibadah kita selama sebulan-lah yang menjadi penentu keberhasilan dalam mengenyam pendidikan itu.

Maka, iman dan takwa juga tak bisa sembarang dimaknai dengan sangat sederhana, sebab keduanya harus benar-benar bermakna bagi kehidupan dan keseharian.

Dalam surat Al-Hujurat misalnya, Allah memerintahkan orang-orang yang beriman agar mengejawantahkan keberimanannya itu ke dalam kehidupan bermasyarakat.

Allah melarang orang-orang yang masih memiliki keimanan mengolok-olok, mencibir, mencerca, mencela, mendiskreditkan, atau menggunjing golongan lain. Karena kebaikan dan kebenaran harus dikembalikan ke Allah, tugas kita adalah menjaga kedamaian dan menciptakan ketenteraman di dunia.

Oleh karena larangan itu, Allah memberi peringatan kepada orang-orang yang beriman agar mengurangi bahkan menghilangkan prasangka terhadap manusia yang lain. Karena sebagian prasangka adalah buruk.

Maka hindarilah berprasangka agar tidak timbul perselisihan atau setidaknya perbuatan mencibir, mencela, dan menggunjing yang dianalogikan oleh Allah seperti kita memakan daging saudara sendiri.

Sementara takwa dalam surat Ali 'Imron 134 dimaknai sebagai orang-orang yang gemar berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit. Infak yang dimaksud adalah perbuatan-perbuatan yang berdampak baik terhadap kehidupan bermasyarakat.

Dalam melakukan kebaikan, orang-orang yang bertakwa tidak hanya menunggu saat kondisi dirinya sedang lapang, tetapi juga ketika sedang dalam kesusahan, karena keyakinan dan kecintaan mereka kepada Allah sudah tak bisa diragukan lagi.

Selanjutnya, orang-orang yang bertakwa adalah mereka yang senantiasa menahan amarah serta selalu memberi maaf atas kesalahan dan kejahatan orang lain.

Mereka tidak pernah menilai kebaikan diri sendiri dan mengingat kesalahan orang lain, tetapi selalu melihat orang lain dari sisi kebaikan, sehingga jiwa pemaaf yang timbul dari hati orang yang bertakwa.

Keimanan dan ketakwaan kita akan ditentukan tidak pada bulan Ramadan, tetapi akan terlihat di sebelas bulan setelahnya. Dari situ, juga akan terpampang jelas di dalam kepribadian kita, apakah diri ini benar hamba Allah, atau justru hanya menjadi hamba Ramadan?

Hamba Allah adalah mereka yang tunduk, patuh, berserah, dan pasrah kepada Allah di setiap waktu. Sementara hamba Ramadan adalah mereka yang tunduk, patuh, berserah, dan pasrah kepada Allah hanya di bulan Ramadan.

Karenanya, marilah kita semua berharap agar semoga menjadi hamba Allah, bukan menjadi hamba Ramadan yang diliputi oleh kemunafikan dan kepalsuan belaka. Na'udzubillahi min dzalik.


Wallahua'lam...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar