Majelis Ghibah wa Namimah dan Konferensi Jomblo - Aru Elgete

Breaking

Minggu, 11 Agustus 2019

Majelis Ghibah wa Namimah dan Konferensi Jomblo


Saat sedang kopdar di Sopel Nenek, Mustikajaya.

Seminggu lalu, pada Ahad (4/8), usai memberikan pemaparan tentang peran pelajar di era milenial, dalam pelantikan PAC IPNU IPPNU Tambun Selatan, saya dan sebagian pengurus PC IPNU IPPNU Kabupaten Bekasi melakukan kopdar. 

Pada kesempatan itu, tentu saja ada banyak kebahagiaan yang tidak mungkin bisa dipaparkan secara terperinci di dalam tulisan ini. Tetapi, kami seperti bersepakat bahwa ke depan, akan membentuk Majelis Ghibah wa Namimah dan menyelenggarakan Konferensi Jomblo secara rutin. 

Visi Majelis Ghibah wa Namimah tentu saja positif, sekalipun kami mengambil idiom yang negatif. Ghibah artinya membicarakan seseorang, baik yang buruk atau baik. Sedangkan namimah adalah 'mengadu domba' sehingga menimbulkan percikan permusuhan diantara kedua belah pihak yang tengah bertikai.

Apa positifnya? 

Pertama, kami akan selalu membincangkan orang lain di hadapannya langsung. Jika objek pembicaraan tidak ada, tentu saja kami akan mengghibahi mereka berupa kebaikan-kebaikan yang telah ditoreh. Hal itu agar menjadi pelecut semangat agar selalu memperbaiki diri.

Kedua, kami akan mengadu domba atau memanas-manasi orang lain dengan prestasi, peran, dan kontribusi yang telah diproleh. Tujuannya, agar objek (atau orang lain) itu dapat melakukan berbagai kebaikan semampunya, sesuai passion masing-masing.

Sebab, kami berpikir, untuk apa hidup berkelompok jika tak bisa apa-apa. Betul, kan? Kalau nyatanya, tidak punya kemampuan apa-apa, kami akan buat agar bisa apa-apa, minimal bisa bikin kopi dan beli cemilan saat diskusi akan segera berlangsung. Bagaimana?

Ketiga, sebagai pendiri Majelis Ghibah wa Namimah, saya bersama para pendiri yang lainnya, akan senantiasa meneladankan berbagai kegiatan ghibah yang positif dan namimah yang sangat bermanfaat. Keteladanan saya, semoga ke depannya, mampu menjadi inovasi-inovasi baru untuk melahirkan keteladanan yang lain, yang lebih baik lagi.

Selain itu, ada pula Konferensi Jomblo. Ini sepele, tetapi punya makna yang sangat luar biasa. Di dalam Majelis Ghibah wa Namimah itu, akan ada kegiatan yang bernama Konferensi Jomblo. Modelnya adalah diskusi. Pesertanya tentu saja warga Jomblo, baik yang memang tidak punya pacar karena prinsip; maupun Jomblo karena ditinggal pergi saat sedang sayang-sayangnya. 

Loh, mulia sekali kan hidup saya? 

Mengumpulkan para Jomblo agar mau saling berdiskusi, menumpahkan kegalauan, kekesalan, dan kekecewaan dalam satu forum yang dinamakan Konferensi Jomblo. Tapi, apakah tema diskusinya melulu tentang Jomblo? Tentu saja, tidak. Karena ketika Jomblo membahas nasibnya sendiri, itu justru akan sangat menyakitkan. Maka, diskusi kita buat secara tematik.

Konferensi Jomblo ini menjadi wadah pencerahan dan pencerdasan, sebagaimana perkumpulam Tashwirul Afkar atau Nahdlatul Fikr; yang menjadi cikal-bakal atau embiro berdirinya ormas keagamaan terbesar di negeri ini, Nahdlatul Ulama. 

Tujuan dari Konferensi Jomblo, saya berharap untuk mengasah pola pikir, mempertajam daya logika, dan tentu saja melatih kelincahan berbicara, mendebat, atau berargumentasi dengan santuy, eh maksud saya santun. Ke depan, para pemuda NU tidak lagi berlindung di bawah ketiak para kiai atau ulama, tetapi sudah mampu unjuk gigi mengusir gerombolan khilafah, komunis, dan liberalis. 

Jomblo-jomblo yang saat ini melingkar, hanya dengan kopi hitam sachet yang diseduh berwadahkan gelas plastik itu, dapat menjadi mercusuar peradaban, penerang kehidupan, serta membuat musuh-musuh agama dan ulama merasa takut jika ingin merongrong keutuhan negeri.

Pemuda-pemuda NU, khususnya di Tanah Bekasi, tidak lagi menjadi penonton atau peserta seminar yang diadakan oleh kelompok sebelah, tetapi kemudian mampu menjadi yang terdepan memberikan pemaparan tentang wawasan kebangsaan, melalui prinsip persatuan, persaudaraan, dan kemanusiaan.

Saya pikir, Majelis Ghibah wa Namimah dan Konferensi Jomblo sudah cukup sebagai upaya mempersiapkan generasi emas Nahdlatul Ulama Bekasi, untuk menghadapi zaman yang sudah masuk ke dalam fase: pergulatan ideologi. Kita harus masuk ke dalam pertarungan dan pertempuran itu, jangan hanya jadi penonton.

Ayo anak-anak muda NU Bekasi. Bangun!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar