Aku Merdeka - Aru Elgete

Breaking

Sabtu, 17 Agustus 2019

Aku Merdeka


Sumber gambar: artikula.id

"Merdeka, Merdeka, Merdeka!" Pekik kebahagiaan terpancar dari mereka, 74 tahun yang lalu.

Semua satu,
semua saling membantu,
bertumpu,
untuk negara-bangsa dan negeri yang utuh, tanpa pengganggu,
juga perusuh.

"Kemerdekaan itu akan didapat saat dirimu sudah benar-benar merasakan ketenangan, kedamaian, dan segala kenikmatan atas rasa syukur kepada Gusti Allah," demikian nasihat seorang kakek yang usianya 15 tahun lebih sepuh dari Indonesia.

Menurutnya, jika kita tak pandai bersyukur, kemerdekaan itu akan terlihat semu. Maka, bersyukurlah agar merdeka.

Tujuh empat puluh tahun yang lalu, kemerdekaan diartikan sebagai pelepasan diri dari para penjajah dan penjarah. Ketika itu merdeka diartikan sebagai sebuah pembebasan yang nyata. 

Telah lama kita ditindas secara fisik dan nyata. Secara terang-terangan, mereka –para penjajah– merampas dan memaksa pribumi untuk bekerja demi kepentingan mereka. Tanpa pamrih, apalagi apresiasi.

"Semua menangis, merintih, menahan perih, pedih. Kami menjalani hidup dengan duka dan lara," lanjut sang kakek, bercerita.

Karenanya, berawal dari kesamaan nasib dan rasa, rakyat Indonesia berkumpul. Satu dengan yang lainnya saling menyatukan diri, sehingga tersinergi kekuatan mumpuni. Maka, pemberontakan terhadap penindasan, akhirnya dilakukan.

Itulah kemerdekaan zaman dulu. Namun, tentu saja makna kemerdekaan akan selalu berubah-ubah tergantung situasi dan keadaan zaman. Jika orang lain sudah merasakan merdeka, belum tentu kita juga merdeka. Bisa jadi kita, sebenarnya –tanpa sadar, sudah merdeka, tapi dengan cara dan jalan yang berbeda.

"Intinya setiap manusia harus dan pasti merdeka," tandas kakek itu.

Dia kemudian berbicara seperti layaknya penyair, sembari sesekali menghisap sebatang rokok yang sedari tadi diselipkan di antara jemari tangan kanannya.

Hidup dinamis
tak menentu
kadang ini
esok itu
lusa begini
atau mungkin seperti itu

Dan kemerdekaan akan datang setiap waktu
serupa kenikmatan
seperti keindahan
juga kebebasan dari segala hal penindasan
penindasan fisik dan psikis

Indonesia sudah merdeka
saat ini harus kembali merdeka

Indonesia, sejak dulu, adalah negeri yang sangat permisif. Santun dan ramah. Siapa saja diterima tanpa pandang bulu dan pilih kasih. Di era globalisasi dan kemajuan teknologi yang sangat pesat, para penjajah dan penjarah yang tempo dulu menyerang secara fisik, kini menghantam psikis.

Selain itu juga mencuci pemikiran, mempengaruhi budaya, dan membuyarkan sejarah masalalu. Maka, mungkin saja, dengan segala kenikmatan di zaman yang serba teknologi ini, banyak orang yang mengira bahwa itu adalah kemerdekaan bagi dirinya.

Kakek itu lantas berceloteh, "Sejak kedatangan teknologi yang mengalir sangat deras, kita seperti kembali dijajah dan dijarah bangsa lain. Oleh Arab, Barat, Cina, Korea, Rusia, dan Amerika. Kita seperti kehilangan jati diri. Menjadi lupa. Bahkan tak diperkenankan untuk mengetahui, mempelajari, atau hanya sekadar mengingat kearifan lokal dan potensi diri yang dimiliki negeri ini."

"Kita selalu manut dengan apa pun yang baru, oleh segala yang berkait dengan luar negeri, biar terlihat keren, beken, dan sebagainya," lanjutnya.

Terakhir, kakek itu berpesan, "Peliharalah nilai-nilai terdahulu yang baik, dan serap nilai-nilai baru yang lebih baik. Belajar boleh di mana, ke mana, dan dari mana saja. Silakan ke timur dan barat, agar mendapat ilmu yang luas. Tapi ingat, serap dan dapatkan ilmunya, bukan budayanya, karena kita sudah punya budaya sendiri."

"Jadi, pelajari dan pertahankanlah budaya yang kita miliki dengan segenap rasa cinta kepada negeri, tapi dengan ilmu yang memadai untuk menghadapi konteks kekinian yang serba praktis dan cepat saji. Dengan begitu, kita, manusia Indonesia, akan mendapat dan menemukan makna kemerdekaan yang sesungguhnya."

Kalau kita sebagai bangsa Indonesia selalu saja bersikap kearab-araban, kebarat-baratan, kecina-cinaan, kerusia-rusiaan, keamerika-amerikaan, dan kekorea-koreaan, itu berarti kita belum bersyukur mencintai negeri sendiri. Kita belum merdeka.

Berbeda halnya jika kita mampu menyerap ilmu dari negara-negara itu dan tetap mempertahankan budaya negeri sendiri, itu berarti kita sudah merdeka. 

Maka silakan katakan dengan bangga, "Aku merdeka!"

(Ditulis di Bekasi pada 8 Agustus 2016 dan diperbarui pada 17 Agustus 2019)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar