Hanya Mimpi - Aru Elgete

Breaking

Kamis, 15 Agustus 2019

Hanya Mimpi




“Kita putus!” Bentak Irma kepada Mul di hadapan kedua orangtuanya.

Setelah kejadian itu, mereka tak lagi bersama. Masa depan yang sudah dirajut sedemikian cantik, menjadi buruk rupa kala itu. Tak ada lagi obrolan tentang impian bersama. Mul lebih asik menulis dan mengejar berita daripada mengurus atau memberi perhatian yang spesial untuk kekasihnya.

Tapi Irma selalu menerima Mul apa adanya. Begitu pun, Mul. Ia tak mempermasalahkan tubuh Irma yang agak gemuk. Sementara Irma tetap menerima Mul, sekalipun lelaki terkasihnya itu berkepala plontos dan badannya yang sangat kurus. Bagi Mul, cinta adalah kemurnian sejati, tanpa berharap imbalan serta takut mendapat hukuman.

Minggu pagi, saat embun masih bermesra dengan dedaunan dan kicau burung seperti merayakan kemesraan itu, Mul mengendarai vespa kesayangannya untuk menemui Irma; kekasih yang sudah hampir lima tahun menemani perjalanan hidupnya.

Dua hari di ujung pekan memang menjadi hari yang sangat menyenangkan bagi setiap orang, tak terkecuali Mul. Sabtu ia berbagi waktu untuk dirinya beristirahat, sementara Minggu adalah waktu yang pas untuk melepas rindu dengan Irma. Mul tak pernah menyia-nyiakan waktunya untuk hal yang percuma.

Rumah Mul dan Irma tidak begitu jauh; seperti dari Alun-alun ke Stasiun Bekasi. Setiap Minggu, kedua orangtua Irma selalu ada di rumah. Mereka sengaja menyisihkan waktu, untuk sekadar mengobrol dengan calon menantu idamannya. Pasalnya, Mul menjadi dambaan kedua orangtua Irma karena tertarik pada profesinya sebagai wartawan di salah satu media cetak nasional.

“Assalamu’alaikum,” Sembari memarkirkan motornya di halaman rumah Irma, Mul memberi salam dan bergegas mencium punggung tangan kanan calon mertuanya.

“Wa’alaikum salam, sini masuk nak Mul. Irma masih melaksanakan tugasnya sebagai perempuan sejati. Yaaa hitung-hitung belajar, kan buat kamu juga,” canda ibunda Irma pada Mul.

“Sudah sampai mana hubunganmu, nak? Jangan terlalu lama pacaran, gak baik. Ayo segera direncanakan waktu yang pas untuk kalian menikah,” lanjut ayah Irma, menasihati Mul.

Mul hanya tersenyum kaku karena memang tak ada kata yang seharusnya ia katakan, selain melempar senyum sebagai tanda penerimaannya atas nasihat yang didapat. Ia sadar, menjadi seorang wartawan, meskipun sebagai profesi yang dipandang tidak sebelah mata, namun gajinya tak seberapa. Uang yang terkumpul belum mencapai batas nominal yang sesuai untuk menggelar akad dan resepsi pernikahan.

Sebagai anak rantau dari Sumatera Utara, ia harus memenuhi kebutuhannya setiap bulan; membayar sewa kontrakan, makan dan minum, serta rokok juga kopi yang senantiasa menjadi teman setia untuk meliput dan menulis beragam peristiwa menjadi sebuah berita yang menarik minat pembaca.

Sembari membawa kopi hitam kesukaan Mul, Irma tersenyum. Keduanya saling tatap. Rindu yang sudah seminggu tertahan, rasanya ingin membuncah ke permukaan. Irma salim. Sebagai tanda takzim dan hormat kepada calon suaminya, kemudian duduk di sebelah Mul dan di depan kedua orangtuanya.

Sambil berkali-kali menyeruput kopi buatan kekasihnya, Mul kembali berbincang-bincang dengan Irma dan kedua orangtuanya. Ia sudah menganggap mereka sebagai keluarga sendiri. Kadar cinta yang Mul beri hanya berbeda sedikit dari cinta yang dipersembahkan untuk keluarganya sendiri di kampung halaman.

“Yuk berangkat,” ucap Mul kepada Irma sembari menghabiskan kopinya. Dan keduanya cium tangan kedua orangtua, sebagai simbol kekeluargaan dan permohonan izin agar segala aktivitas jalinan kasihnya direstui.

Mul dan Irma bersiap pergi tamasya. Sekadar mengelilingi ruas jalan Kota Bekasi atau minum kopi dan belajar sejarah di Gedung Joeang 45, Tambun. Atau kalau ada uang lebih, mereka pergi ke bioskop untuk menyaksikan film terbaru. Irma selalu bahagia, asal pergi bersama lelaki tercinta.

Minggu ini, Mul mengajak kekasihnya bertualang ke ujung Bekasi; melihat dan menyaksikan tanaman Mangrove. Sekira jam 3 sore, mereka pergi ke XXI Mega Bekasi, menonton film terbaru; Warkop DKI reborn.

Jam 4 sore, mereka berdua antri membeli karcis. Mereka harus menunggu sekitar setengah jam untuk menikmati hiburan dan kelucuan Dono, Kasino, Indro yang diperankan artis papan atas. Sambil menunggu film diputar, mereka bercanda-ria, membicarakan sesuatu yang lucu-lucu selama seminggu tak bertemu.

“Kemarin aku liputan anggota DPRD yang ketahuan selingkuh. Begitu berita naik cetak, eeeh tuh koran diborong di semua lapak. Kayak ketakutan gitu,” canda Mul, Irma terbahak mendengarnya.

“Tapi kamu gak selingkuh kan, Uda?” kata Irma dengan manja.

“Jangankan selingkuh, buat ketemu kamu aja, cuma seminggu sekali, apalagi selingkuh coba? Lagian mana ada yang mau sama wartawan supersibuk macam aku ini, kecuali kamu,” ucap Mul meledek.

Obrolan kian hangat. seakan dunia milik mereka. Tawa-canda menjadi penghias pelepas rasa rindu. Di akhir ceritanya, mereka berimajinasi soal keluarga kecil yang dibangun bersama-sama. Pikirnya sudah jauh. Melampaui keindahan nirwana di singgasana Tuhan. Segala keindahan sudah tergambar jelas di otaknya.
Pintu teater 3 telah dibuka, kepada penonton yang sudah membeli karcis dipersilakan masuk, karena pertunjukkan film segera dimulai.
Mul dan Irma, bergandeng tangan. Berjalan. Memasuki ruangan teater yang redup. Selain mereka berdua, ada juga pasangan lain yang juga memadu kasih dan melepas rasa rindu. Semua berbahagia. Merayakan pertemuan dengan sukacita.

Film dimulai, keduanya menunggu kelucuan dan lawakan 3 sekawan yang ditontonnya. Terbahak melihat kekonyolannya. Sampai menahan sakit di perut, dan berkali-kali menghapus airmata yang bercucur karena tertawa yang berlebihan. Kebahagiaan mereka tak berbatas. Tak terdefinisi. Dan tak bisa terucap kata-kata untuk memberi arti kebahagiaannya. Karena bahagia adalah soal substansi, bukan definisi.

Empat puluh menit film berlangsung. Handphone Mul bergetar, tanda panggilan masuk. Dalam gelap, ia mengintip layar Handphonenya. Mul bingung. Panggilan itu tak diangkat, namun berulang kali Hanphonenya bergetar. Karena risih, Mul minta izin kepada Irma untuk mengangkat telepon. Ia ke toilet.

“Mul lagi di mana kau?” suara di ujung telepon sana, rupanya suara redakturnya sendiri, Iwan.

“Lagi di rumah bos,” Mul tidak mungkin mengatakan bahwa ia di bioskop.

“Buruan ke kantor, ada hal penting yang harus kita obrolin. Si MH mau somasi media kita gara-gara berita yang kau tulis kemarin hari. Ini demi keberlangsungan media kita. Kita harus atur strategi. Apa pun kondisinya, kita harus selalu benar. Harus selalu menyuarakan kebenaran. Ayo Mul, cepat ke kantor!”

“Siap bos, sepuluh menit,” Mul menutup telepon dan langsung bergegas menuju parkiran, mengendarai vespa, meluncur ke kantornya, di Jl Ir H Juanda.

Rapat kali ini tidak seperti biasanya. Berlangsung alot. Berbagai opsi untuk menumpahkan strategi dikemukakan. Pimpinan redaksi, pemilik media, dan seluruh wartawan saling lempar siasat. Begitu pun, Mul.

“Jadi gini, bos. Kalo menurut saya, kita harus kumpulkan bukti terlebih dahulu dan mempersilakan MH untuk memberi klarifikasi. Dia harus punya hak jawab sebelum mensomasi media kita,” begitu opsi dari Mul.

Setelah memberi opsi, ia melihat jam dinding kantor. Sudah jam 11 malam. Tak terasa, sudah hampir 5 jam ia meninggalkan kekasihnya di ruang bioskop. Mul mulai gelisah, merasa bersalah. Namun tuntutan profesionalitas adalah prioritas yang tidak bisa ditinggal. Hatinya berkecamuk, sebagaimana air di dalam kolam yang dipukul-pukul bocah kecil.

Jam setengah dua belas malam, rapat selesai. Solusi sudah ada. Mul terlihat buru-buru keluar kantor. Mengeluarkan handphone dari saku celana jeans yang dikenakannya, ia menghubungi Irma. Namun tak diangkat. Berulang kali ia re-call Irma. Sampai ada operator yang mengatakan, “nomor yang anda tuju sedang tidak aktif.”

Tidak mau membuang waktu, Mul langsung mengendarai vespa andalannya. Ia kebut kendaraan setianya itu. Menuju rumah Irma. Hati dan pikirannya menjadi carut-marut, antah-berantah, hancur, dan lebur tak berbentuk.

Sesampainya di rumah Irma, Mul melihat kedua calon mertuanya duduk di beranda dekat tempat untuk parkir motor. Saat itu, tatap mata keduanya begitu menyeramkan bagi Mul. Tak sanggup berkata-kata, ia menghampiri orangtua Irma dan mencium tangan keduanya.

“Irmaaaaaaa, keluar. Ini Uda Mul sudah datang. Ayo cepat keluar!” Ibunda Irma memanggil sembari memainkan rambutnya yang tergerai panjang.

Dengan bercucuran airmata kesedihan, Irma keluar. Melihat Mul dengan kekesalan dan kekecewaan yang berlebihan. 

“Kita putus!” hanya kalimat itu yang keluar dari bibir mungil Irma. Dan “PLAK!!!” ia menampar pipi sebelah kiri Mul. Irma kemudian masuk, disusul kedua orangtuanya, dan meninggalkan Mul sendirian di tengah kedinginan dan perasaan bersalahnya.

Mul tersadar. Pandangannya pudar dan buyar. Tubuhnya tergeletak lemas. Ia lihat jam dinding, tak percaya. Ayam berkokok tanda pagi datang. Ia membuka jendela, melihat matahari yang baru muncul. Mul mengucek mata berulang kali. Saat mengambil handphone di saku celana jeansnya, ia kaget, rupanya hari masih begitu sejuk. Awal hari di ujung pekan; Minggu.

Jantungnya berdegup kencang. Aliran darah menderas di tubuhnya. Ia tak menyangka, tidur kali ini, Tuhan beri mimpi seburuk itu. Akhirnya, Mul segera mandi dan bersiap pergi ke rumah Irma. Sebab Minggu adalah waktu khusus untuk wanita terkasihnya.



Aru Elgete



Ditulis pada 11 Januari 2017

Note: Cerita ini terinspirasi dari kisah cinta Bapak Zulkarnain Alregar, salah seorang Dosen Jurnalistik di Ilmu Komunikasi Universitas Islam “45” Bekasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar