Menjadi Penyuluh Islam Ramah - Aru Elgete

Breaking

Senin, 05 Agustus 2019

Menjadi Penyuluh Islam Ramah




Akhir-akhir ini, agenda saya ke mana saja selalu ditemani oleh dua orang yang menurut saya, mumpuni di bidangnya masing-masing. Mereka adalah Koordinator Gusdurian Bekasi Raya M Shofiyullah (Kang Opi) dan Pengasuh Komunitas Santri NU Thufael Arifin (Gus Thufael).

Kang Opi, sekitar setahun lalu, baru pulang dari pencarian jatidiri, menimba ilmu di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur. Sejak kecil, dia sudah ditempatkan di pesantren untuk belajar ilmu agama. Maka, pengetahuan keagamaan dan keberimanan seorang Kang Opi, tentu saja tak bisa diragukan. 

Dia adalah orang yang sangat cinta Gus Dur. Sebagai perwujudan cintanya kepada Presiden Keempat RI sekaligus cucu dari Pendiri Nahdlatul Ulama itu, dia lantas membentuk Komunitas Gusdurian di Tanah Bekasi. Semua orang yang menurutnya bisa menjadi washilah, dihubungi dan dimintai tolong agar Gusdurian di Bekasi terbentuk.

Setelah kesana-kemari, mencari informasi dan memperluas jaringan, akhirnya Sekretariat Nasional (Seknas) memberi izin kepada Kang Opi untuk membentuk Gusdurian Bekasi. Awalnya, dia beri nama Gusdurian Kabupaten Bekasi. Namun, beberapa senior memberi masukan agar dinamai Gusdurian Bekasi Raya, karena di kota dan kabupaten, Gusdurian memang belum aktif.

Usai terbentuk, saya pun dihubungi. Pertemuan pertama Gusdurian Bekasi Raya dilakukan pada 28 Oktober 2018 di Kantor PCNU Kabupaten Bekasi, Tambun Selatan. Kemudian diadakan pula pertemuan pada 17 November 2018 dalam peringatan Hari Toleransi Internasional yang jatuh setiap tanggal 16 November.

Setelah itu, tentu saja ada banyak agenda-agenda yang saya ikuti bersama Gusdurian Bekasi Raya. Termasuk, saya diajak oleh Kang Opi dan juga Mbak Suci Amaliyah (Penggerak Gusdurian Bekasi Raya) mengikuti Training of Facilitator (TOF) di Bandung.

Lalu, karena sudah didaulat dan tercatat pula sebagai penggerak, maka saya dan Kang Opi berserta penggerak yang lainnya, semakin menggeliat dan memperluas jaringan. Terutama jaringan lintas iman dan lintas agama, dalam rangka menyampaikan pesan-pesan perdamaian yang telah Gus Dur teladankan semasa hidupnya.

Ke rumah-rumah ibadah, misalnya, juga berdialog lintas iman, berdiskusi dengan Jemaat Ahmadiyah Indonesia di Bekasi pun seringkali dilakukan oleh Gusdurian Bekasi Raya, dan saya kerap terlibat di dalamnya. 

Agenda terdekat Gusdurian Bekasi Raya adalah berkunjung ke gereja-gereja, baik Kristen maupun Katolik, dan menyampaikan gagasan tentang perdamaian, berbagai pemikiran Gus Dur, serta konsep Islam ramah yang selama ini citra Islam telah dirusak oleh kelompok Islam radikal.

Selain Kang Opi, tentu saja Gus Thufael. Dia mendirikan sekaligus mengasuh dan membimbing Komunitas Santri NU. Anggota atau pengikutnya adalah anak-anak remaja, kebanyakan masih sekolah tingkat aliyah. Saya mendapat banyak pelajaran selama berkelana ke mana-mana dengannya. 

Dia seorang pebisnis. Mengelola Komunitas Santri NU agar tetap hidup, dimulainya dengan berjualan berbagai atribut NU melalui media sosial –katakanlah toko online. Kajian rutin dijalankan, disiarkan langsung melalui saluran facebook, menyebarkan konten-konten keagamaan berupa ceramah para kiai besar di lingkungan NU, dan masih banyak lagi agenda Santri NU yang dijalankan Gus Thufael.

Dia juga pernah mengenyam pendidikan di Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur. Gaya bicara dan penampilan yang sederhana dan ramah, membuat siapa pun hampir tak percaya kalau rupanya dia masih memiliki garis keturunan dengan kiai-kiai besar, salah satunya KH Nuril Arifin atau Gus Nuril.

Gus Thufael ini rajin menziarahi makam para wali di sekitaran Jabodetabek dan Karawang. Komunikasi, baginya, tidak hanya bisa dilakukan oleh sesama manusia yang masih hidup di dunia, tetapi juga kepada para pendahulu yang telah tiada, termasuk para wali dan ulama. 

Namun, dia menekankan, ketika berziarah jangan pernah punya niat macam-macam dan meminta kepada kuburan, melainkan mintalah sesuatu kepada Allah. Sedangkan ulama yang berada di dalam kubur, yang sedang diziarahi itu, menjadi washilah agar doa yang disampaikan cepat sampai kepada Allah. 

Kini, saya dipertemukan dengan dua orang yang secara pengetahuan keagamaan mumpuni sekaligus memiliki kekuatan iman yang tak mudah goyah. Ke mana-mana selalu bersama seraya menjadi penyuluh atau pendakwah Islam yang ramah. 

Islam yang tidak kaku terhadap segala macam perbedaan dan perubahan zaman, Islam yang punya misi kemanusiaan, mencerdaskan generasi penerus, menghidupi pemikiran dengan pengetahuan yang berbekal dari pesantren, yang sanadnya terjamin hingga ke Rasulullah. 

Tapi tentu saja bukan hanya kami bertiga, anak-anak muda Islam, yang mencoba memberi pemahaman kepada siapa saja, tentang Islam yang ramah. Sebab, kami hanya mencoba untuk menjadi bagian kecil dari perubahan yang lebih baik, untuk generasi penerus di masa mendatang.

Gus Thufael dan Kang Opi, yang menyatukan saya dalam wadah Gusdurian Bekasi Raya dan Santri NU, sedang berupaya memberikan berbagai penyuluhan atau bahkan penyadaran kepada anak-anak muda lintas iman dan agama, bahwa Islam tidak menakutkan sebagaimana yang seringkali ditampilkan oleh FPI, ISIS, dan kelompok jihadis lainnya.

Kami bertiga, dalam bidangnya masing-masing, Kang Opi dengan gerakan tarbiyah karena mengajar di beberapa pesantren di Bekasi, Gus Thufael dengan bisnisnya, dan saya dengan tulisan menjadi satu kekuatan yang utuh untuk menangkal gerakan radikalisme, ekstremisme, bahkan terorisme, di Tanah Bekasi; tanah tumpah perjuangan. 

Kemarin, 4 Agustus 2019, dalam Pelantikan IPNU IPPNU Tambun Selatan, kami menjadi pembicara sebuah talkshow bertema, Peran Pelajar NUsantara di Era Milenial. Lantas, kami bersepakat, bahwa sesungguhnya kami telah memberi contoh soal pemeranan itu. Dari peran masing-masing itulah, dan mengetahui potensi diri, kami dapat menampilkan wajah Islam yang ramah sekaligus menangkis konsep Islam yang dibawa oleh kelompok radikal.

Wallahua'lam...

1 komentar: