Imanku tidak semurah itu! - Aru Elgete

Breaking

Senin, 13 Juni 2016

Imanku tidak semurah itu!


"Hey, Imanku tak semurah itu!" Teriakku pada mereka yang menganggapku tak Islami karena menghormati orang yang tidak berpuasa, dan sepakat kalau warung makan tetap buka di siang hari selama Ramadhan.

Hidayah atau petunjuk yang ada dalam diriku saat ini adalah buah pemberian Tuhan melalui perantara kedua orangtua dan guru-guruku, baik di sekolah formal maupun di pondok pesantren. Selain itu juga berkat perjalanan pengalaman intelektual yang kujalani selama beberapa tahun belakangan ini.

Prinsip hidupku ialah Tauhid. Artinya, sebuah proses penyatuan diri kepada Tuhan yang dimanifestasikan dengan penyatuan terhadap keadaan sosiologis masyarakat yang beragam. Tauhid tidak hanya semata-mata mengesakan Tuhan, sebab Dia sudah Esa dan tidak membutuhkan legitimasi dari hamba-Nya. Tauhid adalah bagaimana seseorang mampu menjalankan keseharian dengan menomorsatukan Tuhan.

Dia-lah Maha Pengasih dan Penyayang, maka tugas manusia adalah mengasihi serta menyayangi sesama dan semesta semata-mata hanya karena Tuhan. Kira-kira itu, pandanganku mengenai konsep dan prinsip Tauhid.

Nah, Ramadhan adalah momentum untuk mengaplikasikan hal itu sebagai bekal di kemudian hari (pasca-ramadhan). Terlebih sepuluh hari pertama di Ramadhan ini adalah janji Tuhan untuk memberikan Kasih Sayang kepada setiap manusia. Maka, kita perlu bersyukur atas hal itu. Bersyukur dalam arti, merealisasikan Kasih Sayang yang Tuhan berikan ke dalam kehidupan sehari-hari, semata karena Tuhan itu sendiri.

Dalam Ketauhidan yang seperti itulah, keimanan kita diuji. Mampukah menomorsatukan Tuhan, sementara kondisi sosio-kultural di masyarakat sungguh dinamis dan cenderung tidak statis? Kita selalu dihadapkan pada fenomena yang terkadang tidak sesuai dengan keimanan dan justru berpotensi menghancurkan atau menggoyahkan iman. Tuhan-lah satu-satunya rule-model untuk kita jadikan pegangan dan landasan dalam bermasyarakat.

Kemarin, kita dikejutkan dengan aksi penyerangan yang dilakukan terhadap warung nasi oleh beberapa oknum kepolisian dan ormas yang mengatasnamakan Islam, dengan rasionalisasi warung nasi harus tutup untuk menghormati orang yang sedang berpuasa.

Sungguh ironi dan memalukan serta menjijikkan aksi semacam itu. Secara logika, orang yang menjalankan ibadah puasa kok bertandang ke warung nasi? Seharusnya, kalau puasa itu mbok ya perbanyak ibadah (baik yang sunnah maupun wajib), yang ke warung nasi itu adalah mereka yang tidak berpuasa. Alasan kenapa tidak berpuasa bisa beragam, masalah dosa dan neraka biar diserahkan kepada mereka dan Tuhan. Karena tugas Khalifatullah fi al-ardl adalah sebagai wakil Tuhan untuk menjaga stabilitas bumi, bukan sebagai perusak dan perusuh atas dasar iman.

Apakah iman seseorang akan terganggu atau bahkan hancur ketika siang-siang melihat di pinggir jalan ada warung nasi yang tetap buka di bulan Ramadhan? Jawabannya adalah tergantung bagaimana kapasitas keimanan yang dimiliki dan seberapa jauh perjalanan pengalaman dia menuju penyatuan diri dengan Tuhan.

Semakin tinggi iman seseorang akan semakin berat cobaannya. Bahkan keimanan itu akan mencapai derajat ketakwaan yang paling maksimal ketika dihadapkan dengan orang yang tidak berpuasa, tapi dia tetap berpuasa semata-mata karena Tuhan. Tidak mungkin derajat keimanan kita akan ditingkatkan ke level takwa kalau proses pelaksanaan ibadah di bulan suci berjalan stabil dan tidak dipertemukan dengan cobaan serta rintangan yang harus dihadapi.

Aku katakan; "kalau imanmu masih terganggu karena ada yang tidak berpuasa di hadapanmu atau karena kau melihat ada warung nasi yang tetap buka di bulan Ramadhan, berarti keimananmu masih berada di tingkat yang paling bawah (asfala-saafiliin), atau bisa dibilang bahwa imanmu masih sangat murahan."

Keimanan orang yang berpuasa adalah memberi rasa aman untuk kehidupan, bukan menjadi algojo bagi mereka yang tidak berkewajiban untuk melaksanakan ibadah puasa. Keimanan yang sudah mapan ialah keimanan mereka yang tidak diliputi rasa narsisme; ingin eksis dengan sebuah penghormatan. Karena sekalipun merasa tidak dihormati oleh mereka yang tidak berpuasa, yakinlah bahwa Tuhan yang akan menghormati dan mengapresiasi ibadah kita selama di bulan Ramadhan.

Puasa yang kita jalankan ini adalah untuk Tuhan, bukan untuk orang lain. Sebab puasa merupakan ibadah privasi yang tak perlu diketahui siapa-siapa kecuali Tuhan dan diri sendiri. Puasa bukan ibadah yang harus dipublikasi, serahkan saja pada Tuhan yang pasti memberi kado terindah di akhir sesi.

"Puasa kok gila hormat. Cuih. Dasar murahan!"