Pusat Kajian Pancasila dan Keindonesiaan Kita - Aru Elgete

Breaking

Senin, 27 Juni 2016

Pusat Kajian Pancasila dan Keindonesiaan Kita

Rombongan Unit Kegiatan Mahasiswa Pusat Kajian Pancasila Universitas Islam 45 Bekasi, sedang dalam perjalanan menuju Cilember, Bogor, Jawa Barat, dalam rangka melaksanakan agenda tahunan, Kongres yang keempat.

Membangun budaya organisasi sebagai bentuk pengamalan Pancasila dalam upaya penguatan kedaulatan bangsa

Pusat Kajian Pancasila (Pusaka) adalah sebuah ruang yang melahirkan manusia dengan segala kecintaan terhadap keadaan bangsanya.

Di dalamnya selalu tertuang gagasan dari para pemikir yang pasti berbeda pandangan; namun tetap satu persepsi soal Keindonesiaan.

Organisasi internal kampus yang satu ini baru berumur empat tahun. Terlahir karena adanya sebuah kegelisahan dari civitas akademika atas ketiadaan forum diskusi yang mendiskusikan nasionalisme-kebangsaan.

Seiring perjalanan kedewasaannya, Unit Kegiatan Mahasiswa yang bergerak di lajur kebangsaan ini sudah tak bisa dianggap sebagai perkumpulan yang remeh-temeh.

Selain membahas soal kebangsaan dan keindonesiaan, Pusaka juga menggeluti isu kemanusiaan, keadilan dan kesetaraan. Hal itulah yang membuat Pusaka mengalami pendewasaan dalam pemikiran.

Beragam pemikiran berkumpul jadi satu tanpa saling memiliki keinginan untuk meniadakan yang lain, semuanya gelisah sekaligus menawarkan solusi untuk bangsa dan negara dengan cara berpikirnya sendiri.

Ada beragam sudut pandang yang berbaur di setiap diskusi. Perbedaan itu diyakini sebagai sebuah keniscayaan dan kemerdekaan pemikiran. Karena Indoktrinasi atau menutup sudut pandang lain merupakan kemunduran bagi suatu peradaban.

Liberalisme, Sosialisme, dan Ideologi agama diramu sedemikian rupa agar menemukan persamaan yang memberi anugerah dan cahaya yang menerangi jalan pendewasaan.

Setidaknya tiga hal itu yang ada di dalam Pusaka, karena diyakini bahwa Pancasila adalah rangkuman dari Ideologi dan sudut pandang yang berbeda.

Ketiganya adalah rona keindahan dari setiap kajian yang seringkali dilakukan. Tidak saling menghakimi, tidak pula saling merendahkan satu sama lain.

Selama setahun saya berada di dalam struktur kepengurusan, Pusaka memberi keleluasaan bagi kemerdekaan berpikir, serta memperluas cakrawala pemikiran.

Saat ini, Pusat Kajian Pancasila Unisma Bekasi sedang melaksanakan agenda tahunan, yakni Kongres yang keempat sekaligus membuka jalan bagi lahirnya pemikir baru yang menjadikan Pancasila sebagai kehidupan, bukan sekadar gagasan semata.

Karena pada dasarnya, Pancasila harus bersifat aplikatif. Nilai-nilai yang terkandung dalam Ideologi NKRI itu sudah seharusnya tak hanya menjadi bahan diskusi dari lembaga ke lembaga atau dari instansi ke instansi, bahkan menjadi proyek basah untuk meraup keuntungan.

Cilember, 1 April 2016.