Cahaya kebaikan atau lumbung kehancuran? - Aru Elgete

Breaking

Senin, 27 Juni 2016

Cahaya kebaikan atau lumbung kehancuran?


Tulisanku ini, khusus ditujukan kepada teman-teman yang masih mengimani keberadaan dan eksistensi Tuhan dengan segala apresiasi serta peraturan-Nya. Pada dasarnya, semua tulisanku tidak pernah ada pengkhususan, siapa pun boleh membaca dan bahkan menafsirkan sesuka hati, asal tidak mencerca atau mencaci sembari merasa diri paling tinggi sehingga menjauhkan diri dari pekerti.

Kita semua percaya bahwa hukum kausalitas tetap relevan sepanjang masa, atau yang biasa dikenal dengan sebutan hukum karma. Di sisi lain, Tuhan memberikan ultimatum bahwa siapa yang berbuat baik meski hanya secuil saja, maka ada ganjarannya. Begitu pun sebaliknya, ada konsekuensi yang harus diterima ketika manusia berbuat keburukan di dunia. Itu mengisyaratkan bahwa Tuhan tak pernah percuma dalam menciptakan segala sesuatu. Bukankah Tuhan adalah kebijaksanaan yang tak pernah bimbang? Dia bukan golongan ekstrim kiri, juga bukan golongan ekstrim kanan. Dia moderat, berada di tengah-tengah keekstriman yang tampak mencemaskan.

Dalam perjalanannya,  manusia selalu dihadapkan dengan beragam pilihan. Tentu segala macamnya telah tercipta secara berpasang-pasangan; ada malam juga siang, baik dan buruk, benar dan salah, dan lain sebagainya. Tak pelak, manusia sering terlena ketika sedang berada pada keasyikan, bahkan terlena dalam pilihannya yang justru belum dipilih. Ketika sudah memilih pun, manusia akan tetap terlena dengan keadaan. Keterlenaan itu disebabkan karena manusia memiliki nafsu. Hanya saja, pengelolaan nafsu di dalam diri manusia terkadang tak terkontrol, barangkali karena term nafsu acapkali dinegasikan sebagai perbuatan yang rendah dan buruk, padahal nafsu bukan hanya soal keburukan saja.

Sesuai perjanjian pra-penciptaan manusia bahwa kekuatan jahat akan abadi berusaha menggelincirkan manusia ke dalam lubang pendustaan paling dalam, maka manusia tak pernah punya kuasa untuk berhindar dari kekuatan jahat itu. Akan tetapi, manusia telah beruntung didapuk sebagai makhluk yang sempurna alias segala kelengkapannya terpenuhi, sehingga tidak hanya cenderung dapat tergelincir ke dalam lubang pendustaan, tetapi juga kemungkinan manusia akan berdiri di atas puncak pemuliaan.

Selain berorientasi pada kehidupan yang baru nanti, manusia harus mampu hidup berdampingan dengan segala kebaikan di dunia. Karena akan menjadi sia-sia, ketika hidup hanya dijadikan senda-gurau dan justru menjauhkan diri dari pekerti. Tidak dibenarkan juga, ketika manusia terlalu sibuk ber-asyik masyuk menggapai cahaya kebaikan, namun meninggalkan serpihan-serpihan keburukan di dunia yang berpotensi memunculkan gejolak kehancuran.

Pesanku, jangan terlena dengan keadaan memabukkan yang justru membuatmu jauh dari cahaya kebaikan yang manunggal itu. Jangan pula abai terhadap keburukan di dunia, sehingga menjadi seperti tak perduli terhadap kehancuran. Hiduplah menjadi manfaat, jangan berlebihan dalam segala hal, apa pun itu. Karena Tuhan telah berikrar bahwa perbuatan yang berlebihan merupakan saudara kandung dari lumbung kehancuran. Dia juga sangat membenci orang-orang yang berlebihan dalam segala hal, termasuk terlena dalam senda-gurau yang menjauhkan diri dari cahaya kebaikan itu sendiri.

Sekian. Semoga bermanfaat.