Senin, 27 Juni 2016

Aku tersesat di ruang yang berbeda


Perjalananku bagaimana sampai tersesat ke dalam teater dan kesenian, ditambah dengan kaitan kebudayaan, membuat seluruh orang terdekatku tak karuan geleng-geleng kepala. Pasalnya, aku adalah orang yang sama sekali tidak mencintai seni, bahkan tak pantas menggandrungi kesenian. Katanya begitu. Mereka katakan bahwa diriku adalah seorang pemikir, kalau pun terjerumus dalam dunia seni dan teater, aku harus banyak melahap buku-buku tentang itu semua; seni, budaya, dan teater. Setelah melahap semua buku-buku tentang itu semua, kemudian didiskusikan dan bisa saja aku ini membuat semacam sanggar, sedangkan aku hanya menjadi konseptor, bukan pekerja. Itu pendapat mereka.

Aku terlahir dari keluarga yang Nasionalis-Religius. Orang tua dan keluarga dari bapakku adalah "orang pesantren". Seumur hidupnya diabdikan untuk hal-hal keagamaan. Al-Quran dan segala macam tafsir dari hampir seluruh kalangan mufassir di dunia, sudah dilahap. Sampai-sampai mereka buta aksara latin, tapi "ngelotok" ketika disuruh membaca dan menulis dalam tulisan arab; baik berbahasa arab, indonesia, atau pun jawa. Nah, yang paling aku sukai dari kedua orang tua bapakku adalah orang yang sangat beragama, tapi keberagamaannya tidak melunturkan kebudayaan. Islam Indonesia, atau yang kini disebut Islam NUsantara. Mbah Kakung, semasa hidupnya adalah seorang mubaligh, ceramahnya acapkali tentang Islam dan Kebudayaan. Berpakaian yang simpel dan mirip seperti Mbah Dur; baju batik lengan pendek, sarung, dan peci hitam. Sementara Mbah Putri, semasa mudanya adalah seorang yang tekun membaca Al-Quran, Rawi, dan segala hal tentang kedua itu. Beliau sangat cinta dengan Kanjeng Nabi Muhammad.

Itu dari kubu bapakku. Sementara kalau dari ibuku adalah keluarga yang sangat Nasionalis, Marhaenis, Soekarnois, dan Pancasilais. Selain itu, Mbah Kakungku juga seorang Humanis, sedang Mbah Putri seorang Ibu Rumah Tangga yang selalu mengenakan pakaian adat Jawa. Keluarga Mbahku dari Ibu ini, masing-masing anggota keluarganya berbeda keyakinan dan agama. Contoh, saudara kandung dari keduanya ada yang beragama Hindu, sedangkan kedua Mbahku itu beragama Kejawen. Agama asli Jawa. Meski begitu, mereka bukan penganut agama yang fanatik. Semasa kecilnya Mbah Kakungku pernah belajar di Gereja, ngaji di Masjid, dan di mana pun ia suka. Karena menurutnya, kebenaran Tuhan terdapat di ruang yang sulit terjangkau, dan tugas kita sebagai manusia harus mampu menjangkau kebenaran itu dengan segala daya. Kira-kira begitu.

Sejak kecil aku selalu disuguhi oleh kedua orang tuaku berupa wejangan hasil rekaman mereka dari kedua pasang Mbahku yang Nasionalis-Religius itu. Sehingga lekatlah sisi keislaman dan kebudayaan serta keindonesiaan dalam diri. Semakin beruntung ketika kedua orang tuaku menyekolahkanku di pesantren yang berbasis Nahdlatul Ulama. Lalu kaitannya dengan aku yang berteater ini apa? Padahal latar belakangku sama sekali tak menunjukkan nilai kesusastraan dan bahkan sampai berujung pada teater; seni dan kebudayaan. Aneh.

Jadi begini, sewaktu di pesantren, aku sempat akrab dengan seorang teman yang boleh dibilang ia adalah penyuka sastra, anak teater juga, dan tulisan-tulisannya sudah melampaui umurnya; kala itu. Aku terpengaruh, jelas. Semacam candu, di setiap malam, aku menulis tapi bukan untuk dipublish, disimpan sampai nanti ada seorang yang menerbitkannya ketika jiwa sudah tak bersatu dengan raga. Aku punya buku yang besar, selalu lupa nama buku itu apa. Ketika Aliyah, buku itu sebenarnya untuk pelajaran Ekonomi. Ya, pokoknya buku itu. Entah namanya apa. Buku itu penuh dengan puisi-puisi yang sampai sekarang masih tersimpan rapi. Aku belum berniat untuk memublikasikan apalagi menerbitkannya menjadi buku.

Aku adalah orang yang punya jalan sendiri. Aku berpikir bahwa dengan puisi, aku bisa bebas berdakwah dan akan lebih menjadi menarik, ketika mendakwahkan sesuatu yang sakral dengan menggunakan kalimat-kalimat romantis nan intim terhadap kesakralan itu. Rupanya, puisi dapat menembus segala macam hal yang dianggap terlarang. Walau dengan begitu, puisi tetap menemukan jalan keindahannya; melalui kata, pemilihan diksi, rima, dan yang terpenting adalah puisi dapat melahirkan intuisi bagi si pemuisi itu sendiri, dan batas-batas itu ditembus sampai menjumpa dengan keindahan. Jadi, aku berdakwah dengan cinta, dengan kata, dengan estetika, dengan kelembutan makna, bukan dengan amarah, kebencian, pentungan, apalagi berdakwah sampai menumpahkan darah.

Ketika kurang lebih setahun yang lalu, saat pertama masuk kuliah, aku melihat dan mendengar bahwa di kampusku ternyata ada organisasi teater. Sempat teringat dengan teman akrabku sewaktu di pesantren itu, tanpa pikir panjang organisasi itu adalah yang pertama menjadi "rumah revolusi diri" untuk aku yang masih harus banyak belajar. Aku tetap pada prinsipku tadi, bahwa dengan kesenian, dakwahku lebih tersalurkan daripada berdakwah melalui jalur yang normatif dan cenderung monoton alias itu-itu saja.

Walau latar belakangku adalah Nasionalis-Religius, invasi terhadap kesenian dan kebudayaan akan terus kulakukan, karena kebenaran yang absolut dan mutlak itu berada di ruang yang sunyi dan sulit terjangkau oleh kebanyakan orang, aku justru merasa tertantang, sebab dakwah tak pernah selesai dan berhenti di satu titik. Berdakwah tetap tak bisa terbendung, sama halnya dengan kebudayaan dalam dunia teater. Berjalan dinamis. Harus selalu diperbarui dan dikembangkan sesuai dengan tuntutan zaman, tapi tidak meninggalkan peninggalan-peninggalan sejarah, sekalipun dakwah dan kebudayaan terus tergerus oleh tekanan global.

Aku kini adalah orang yang menyukai kesenian dan kebudayaan dengan keindonesiaan, yang merupakan jalanku menuju kebenaran yang benar-benar benar.
Previous Post
Next Post