Wahai Jiwa-jiwa yang tenang, kembalilah! - Aru Elgete

Breaking

Senin, 27 Juni 2016

Wahai Jiwa-jiwa yang tenang, kembalilah!


Setiap kali pengkhutbah naik mimbar, ada wasiat yang tak luput dari ucapannya. Bahkan, tak jarang kita sampai bisa menghapalnya. Sangat disayangkan ketika ucapan dan kalimat yang terlontar dari pengkhutbah itu hanya menjadi angin lalu. Padahal penting sekali untuk menjadi bahan perenungan agar hidup menjadi tenteram nan damai. "Alhamdulillah, Puja dan Puji Syukur marilah kita panjatkan kehadirat Allah yang telah memberikan kita nikmat iman, islam, dan ihsan." Kira-kira seperti itu, kalimat yang tak pernah luput dari ucapan si pengkhutbah berdiri di mimbar.

Iman, Islam, dan Ihsan merupakan rangkaian dari perjalanan spiritual dan keberagamaan kita. Bahkan dalam doktrin semua agama, rangkaian seperti itu pasti terjadi. Menurutku, dalam beragama memang tidak bisa instant mencapai derajat kemuliaan. Beragama harus melewati beragam proses yang panjang hingga dapat merasakan kenikmatan dalam keintiman terhadap Tuhan. Tidak bisa dipungkiri bahwa di dalam setiap diri manusia terdapat tiga unsur; kebinatangan, kemanusiaan, dan keilahian.

Manusia bisa saja bersikap seperti binatang ketika berhenti di tahap pertama dan enggan melanjutkan proses ke tingkatan yang lebih tinggi. Manusia akan menemukan jiwa kemanusiaannya saat sudah berada di tahap kedua. Tahap ketiga apabila sudah tercapai akan membuat manusia selalu melihat keberadaan Tuhan di mana pun berada, tentu itu hanya berupa kiasan atau majas. Manusia dalam tahapan yang ketiga, setiap kali bertindak seakan-akan Tuhan selalu ada di hadapannya, selalu merasa diawasi, dan manusia yang seperti itu tak lagi mengharap imbalan dalam beribadah atau ibadahnya hanya berdasar rasa takut karena sebuah ancaman, melainkan karena cinta.

Tanpa disadari, iman kepada Tuhan dan keyakinan terhadap agama justru bisa mengantarkan kita ke pintu gerbang kehancuran. Hal itu disebabkan karena tidak mengindahkan rasa patuh dan pasrah kepada yang memberi hidup. Islam berarti patuh, berserah diri, kalimat perintah untuk memberikan keselamatan dan kedamaian. Dengan begitu, manusia akan mengetahui siapa dirinya, dari mana dirinya, dan mau ke mana dirinya. Hal tersebut membuat manusia semakin menyadari bahwa di dalam dirinya terdapat jiwa kemanusiaan. Kalau manusia sudah mencapai pada tahapan Ihsan, hatinya akan selalu merasa tenang dalam setiap cobaan dan rintangan yang sedang dihadapi, karena konsep yang dibangun dalam pengabdiannya kepada Tuhan adalah cinta. Seberat apa pun dan senikmat apa pun yang diberikan oleh Tuhan, cintanya takkan pernah luntur.

Tuhan sangat menyukai manusia yang mencintai-Nya dengan perasaan yang tenang, mencintai dengan penuh kedamaian dan ketenteraman. Sementara Tuhan tak suka ada manusia yang mencintai-Nya karena ada alasan tertentu yang sedang ingin dicapai oleh manusia, terlebih mencintai Tuhan hanya untuk hal-hal yang bersifat keduniaan.

Jiwa-jiwa yang itu, yang tenang dan tenteram serta damai akan dipersilakan kembali ke hadapan Tuhan dengan perasaan yang tulus dan suci. Tuhan juga mempersilakan mereka masuk ke dalam golongan pengabdi yang tak pernah memiliki alasan apa pun dalam pengabdiannya, kecuali karena alasan cinta. Segala kenikmatan yang terdapat dalam nirwana, akan tersuguh hanya untuk manusia yang tulus mencintai Tuhan, tanpa embel-embel apa pun.

Semoga manfaat.