6 Juni - Aru Elgete

Breaking

Senin, 06 Juni 2016

6 Juni



Sebelum membaca tulisan ini, silakan baca dulu Puisi Berjudul "Bung".

Syukur alhamdulillah, saya dipertemukan kembali dengan 6 Juni, hari yang selalu ditunggu kehadirannya. Barangkali, hari ini menjadi tanggal keramat dan mudah diingat karena merupakan hari lahir presiden pertama kita.

Waktu itu, sekitar tahun 2003, Ibu dan Bapak -begitu panggilan untuk kedua orangtua kandungku- secara tiba-tiba memanggil dan membuat saya akhirnya menyudahi permainan gobak sodor, di jalanan depan rumah, dengan teman-teman.

Kedua orangtuaku itu, baru pertama kali rasanya memanggil dan ngajak ngobrol yang terkesan serius, padahal saya masih anak-anak, baru kelas 3 SD. Tapi, barangkali mereka sudah mengangapku mampu menerima berita yang sebelumnya sama sekali belum diketahui.

Bapak: "Ru, kamu udah belajar sejarah belum?"
Ibu: "Tau gak Bung Karno atau Ir. Soekarno itu siapa?"
Mereka bicara dengan gaya kekanak-kanakkan, mungkin menyesuaikan agar tidak terkesan kaku dan baku.
"Aru udah belajar sejarah, kok. Bung Karno itu bapaknya Bu Mega kan ya?" Jawabku sembarang tahu dan kedua orangtuaku itu membenarkan, tapi bukan itu substansi dari pembicaraan ini.
Bapak: "Ru, kamu itu lahir di tanggal dan bulan yang sama kayak Bung Karno, banyak belajar tentang beliau ya. Semoga jadi anak yang cinta sama negeri sendiri." Kata bapak sambil elus kepalaku yang panjul. Sementara itu, aku lanjut main gobak sodor dengan teman-teman.

Kira-kira itu secuplik sejarah masa kecilku yang masih terngiang sampai sekarang. Sebenarnya masih banyak, tapi rasanya terlalu menjenuhkan kalau ditulis dalam bentuk dialogis seperti di atas. Ibuku yang dari keluarga pecinta Soekarno alias Soekarnois, selalu menceritakan perjalanan Soekarno semasa hidup.

Cerita itu tidak pernah didapat dari buku sejarah di sekolah-sekolah karena menurut ibuku, Pak Harto sudah menyunting sejarah Bung Karno karena beragam masalah. Konon, kata bapak, Pak Harto itu punya sifat iri dengki terhadap keberhasilan Bung Karno. Entahlah.

Saya lebih suka kalau Bapak atau Ibu menceritakan soal perjalanan Bung Karno yang penuh liku, sampai dijebloskan ke penjara, tapi justru dapat berkarya dalam ketidakberdayaannya. Salah satunya buku "Indonesia Menggugat", karya beliau yang masih diproduksi sampai sekarang.

Di tahun 2009, kalau tidak salah, Pakde (Kakak laki-laki dari Ibu) bercerita panjang lebar soal dirinya yang banyak menyimpan buku "kiri" dan tertuduh sebagai anggota PKI, padahal sama sekali tidak. Untungnya, beliau tidak sampai mati tertembak atau hilang entah kemana.

Pakdeku itu bercerita bahwa perjuangan Bung Karno tidak ada duanya. Proklamator yang satu itu adalah pembebas sekalipun dalam keadaan tertindas. Dia juga penggagas cita-cita bangsa yang berdasar pada Pancasila, sekalipun dasar negara itu sempat dijadikan alat politik oleh lawan mainnya, Pak Harto.

Jujur, saya tidak pernah dituntut untuk belajar soal kejahatan Pak Harto terhadap Bung Karno. Kedua orangtuaku hanya menyarankan agar banyak belajar dan membaca sejarah yang menjelaskan secara obyektif dan mendetail.

Dan, pembacaanmu masih sedikit. Ada banyak yang harus dibaca dan dipahami, agar semesta tak melulu tertutupi awan sejarah sang pemenang. Biar yang lalu menjadi kenangan supaya masa depan tiada pesakitan.

Kemarin, presiden Jokowi menetapkan 1 Juni sebagai hari lahir Pancasila. Beliau juga berkunjung ke penjara Bung Karno di Bandung. Semoga awan sejarah sang pemenang tak melulu menjadi tontonan yang menyakitkan. Sejarah yang sebenarnya semoga masuk dalam kurikulum di sekolah-sekolah.

Soal Pancasila, sampai hari ini masih saja menjadi perdebatan dan isu yang hangat. Sementara banyak ormas yang anti-Pancasila, tak sedikit pula yang menumpangi Pancasila atas dasar kepentingan.

Bapakku bilang, kalau semuanya bisa menafsirkan Pancasila sesuai dengan cita-cita Bung Karno dengan didukung tiga unsur yaitu NASAKOM, gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo pasti bakal terwujud.

"Sekarang tugas kamu adalah mengawal Pancasila agar ideologi itu bisa tetap eksis dan mantap tanpa keraguan di dalam hati dan pikiran manusia Indonesia. Pancasila tidak anti-antian, Pancasila mengajarkan kita untuk menjadi ummatan wasath, karena Pancasila itu Laa Syarqiyyah wa Laa ghorbiyyah, kamu harus bangga terlahir di 6 Juni," Kata Ibuku.