Ceramah Ramadhan malam kesembilan - Aru Elgete

Breaking

Rabu, 15 Juni 2016

Ceramah Ramadhan malam kesembilan


Assalamu'alaikum wa Rahmatullah wa Barakatuh. Alhamdulillah wa syukrulillah wa ni'matillah laa hawla wa laa quwwata illa Billah. Wa usholli wa usallim 'ala Rasulillah, wa 'ala aalihii wa shohbihi wa mawwaalah, laa nabiyya ba'dah.

Hadirin yang Budiman,
Marilah kita panjatkan puja serta puji syukur kehadirat Allah Yang Mahatinggi, sehingga berkat karunia dan nikmat-Nya kita masih dapat bersilaturrahim di pengujung sepuluh hari pertama Ramadhan. Shalawat dan salam semoga tercurah-limpahkan kepada junjungan kita, Nabi besar Muhammad s.a.w yang telah membawa Islam dari zaman yang gelap gulita hingga ke zaman yang penuh pelita.

Hadirin yang saya hormati,
Kita patut bersyukur masih dapat menghirup udara Indonesia; udara yang penuh kedamaian dan perdamaian, udara yang gandrung akan keragaman, dan udara keakraban karena berdasar pada jiwa Indonesia, yakni gotong royong.

Maka itu, menjadi kufurlah kita bila menafikan nikmat Allah yang satu itu. Karenanya, kita wajib mensyukuri segala yang telah Dia beri, termasuk Indonesia dan segala hal yang terkait. Aplikasi dari kebersyukuran kita atas Indonesia adalah dengan menjaga dan merawat nilai-nilai terdahulu tanpa menafikan nilai-nilai yang baru. Jangan justru kita tercerabut dari akar, sementara berasyik-masyuk dengan segala pembaruan dan kebaruan yang saat ini ada di depan mata.

Muslimin wa al-muslimat rahimakumullah,
Ahir-akhir ini kita sering sekali memperdebatkan sesuatu yang semestinya tidak menjadi persoalan. Entah karena diadu-domba atau mungkin kita yang belum mampu menjadi dewasa untuk menghadapi perbedaan pandangan, pemikiran, ide, gagasan, dan sebagainya. Sebagian dari kita menjadi seperti kebakaran jenggot setiap kali dihadapkan pada kenyataan bahwa setiap manusia memang diciptakan untuk berbeda, termasuk pola dan daya pikirnya.

Karenanya, perlulah kita ketahui bahwa ada tiga aspek yang harus terpenuhi dalam menghadapi perbedaan yang sifatnya khilafiyah atau hal-hal yang sama sekali tidak melunturkan keislaman kita. Yakni sudut pandang, jarak pandang, dan resolusi pandang. Ketiganya akan membawa kita pada kedewasaan berpikir sehingga kita mampu meminimalisasi konflik.

Hadirin yang saya hormati,
Sudut pandang ialah penempatan pandangan kita terhadap objek atau sesuatu yang ada di hadapan. Setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda. Kita tidak bisa klaim kebenaran dan menuding kesalahan atas suatu objek dengan berdasar pada sudut pandang sendiri tanpa mempertimbangkan sudut pandang yang lain.

Sementara jarak pandang adalah seberapa jauh kita melihat sesuatu yang ada di hadapan, sehingga menghasilkan simpulan serta pandangan kita terhadap sesuatu yang menjadi objek penglihatan kita. Sebab terkadang, kita selalu sibuk memberikan komentar padahal jarak pandang kita terhadap sesuatu yang diberi komentar itu masih sangat jauh. Maka, kita harus mendekat agar tidak sesat dalam memberi simpulan dan pandangan.

Selain itu, ada juga resolusi pandang. Adalah kejernihan atau kebulatan atas pandangan kita terhadap sesuatu atau objek yang berada di hadapan. Kita tidak bisa menilai baik atau benar terhadap sesuatu, kalau tidak ada kejernihan dalam pandangan kita. Untuk mencapai kejernihan itu, kita harus sudah mampu melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain serta jarak pandang yang dekat. Maka, objektivitas pandangan akan didapatkan.

Hadirin yang berbahagia,
Ketiga hal di atas kiranya mampu menjadi pedoman kita dalam menjalani keseharian dalam pekerjaan, sekolah, kampus, lingkungan sekitar, dan lain sebagainya. Dengan menggunakan ketiga aspek tersebut, kita tak lagi subjektif dalam menilai sesuatu. Sementara konflik sektarian yang terjadi di lingkungan kita pun akan dengan sendirinya terkikis.

Kira-kira itu yang dapat saya sampaikan sebagai bahan renungan kita dalam menghadapi konflik dan perdebatan yang itu-itu saja. Semoga kita tak menjadi provokator sehingga membuat keruh suasana, tetapi menjadi ummatan wasath yang mampu berperan sebagai mediator atau penengah agar api yang sudah besar kembali mengecil atau bahkan padam dengan sendirinya, tentunya berkat ide dan pemahaman yang segar dan relevan.

Momentum Ramadhan ini, semoga senantiasa menuntun kita pada objektivitas kebenaran agar terhindar dari sikap diskriminatif, intimidatif, dan rasa untuk mendiskreditkan yang lain karena berbeda.

Semoga Allah senantiasa meridhoi perjalanan kita menuju kebenaran yang hakiki, menjadikan kita orang yang kuat akan keimanannya dan diberi gelar takwa di pengujung Ramadhan. Aamiin ya Rabbal 'alamin.

Baiklah, saya akhiri, kurang dan lebihnya mohon maaf. Kekurangan dan kelebihan datangnya dari Allah. Wallahul muwafiq ilaa aqwamith-thoriq, wassalamu 'alaikum wa Rahmatullah wa Barakatuh.