Golongan Islam Narsisme di Ramadan, Siapa Mereka? - Aru Elgete

Breaking

Minggu, 26 Mei 2019

Golongan Islam Narsisme di Ramadan, Siapa Mereka?


Ilustrasi. Sumber: NU Online

Islam menurut KBBI adalah sebuah agama yang diajarkan melalui Rasulullah SAW dan berpedoman pada kitab suci Al-Quran yang diturunkan ke dunia melalui Wahyu Allah.

Sementara menurut pendapat umum, Islam adalah agama yang mengimani satu Tuhan; Tauhid. Yakni yang ajarannya bersumber dari Al-Quran dan Hadits.

Rasyid Rida dalam jurnal al-manaar menyatakan bahwa Islam bukanlah sebuah definisi yang diperuntukkan bagi agama yang sudah terinstitusi atau terlembaga, karena Islam bukan sebuah lembaga, tetapi Islam adalah sebuah sikap atau perilaku yang mampu memberikan rasa aman dan keselamatan bagi yang lain.

Jadi, siapa pun bisa disebut Islam, sebab Islam bersifat universal dan tak bisa tersekat oleh apa pun.

Sebagaimana definisi yang diberikan Rasulullah di bawah ini:

المسلم من سلم المسلمون  من لسا نه ويده

Bahwa definisi muslim adalah seorang yang mampu memberikan keselamatan dan kedamaian dari lisan dan tangannya.

Sementara itu, narsisme adalah perbuatan seseorang yang mencintai diri sendiri secara berlebihan. Sampai-sampai orang lain tidak diberi ruang untuk mampu terlihat baik, karena menganggap tidak ada kebaikan selain yang ada pada dirinya.

Narsisme mulai berkembang pesat sejak maraknya media sosial. Kaum Yahudi-lah penggagas media sosial itu, awalnya dirancang untuk memudahkan manusia berdoa dan diaminkan oleh banyak orang di dunia maya.

Sebab dalam berdoa, umat Yahudi selalu menempatkan posisi tubuhnya di hadapan tembok ratapan. Maka, kanal atau saluran di media sosial untuk berdoa atau mengeluarkan keluh-kesah dan curahan hati diberi nama wall atau beranda.

Sejak itu, paham yang bernama narsisme menjangkiti manusia sedunia. Lambat laun, beranda media sosial tidak lagi sesuai fungsi awal yang dibuat Yahudi. Saat ini, saya rasa, merupakan puncak kegentingan narsisme yang justru berpotensi menimbulkan (persepsi) kesombongan, baik diri sendiri maupun orang lain yang menilai.

Di Ramadan ini, dan hampir di setiap tahunnya, Islam Narsisme selalu timbul di permukaan beranda media sosial. Bahkan, narsisme yang menjangkiti sebagian umat Islam itu seringkali menjadi trending topik dengan beragam kemasan.

Terlebih, di bulan Ramadan ini, akan sangat terlihat banyak golongan Islam Narsisme. Yakni golongan yang merasa paling baik ibadahnya di bulan suci. Kemudian, bersamaan dengan itu timbul di dalam hati sebuah kesombongan. Kalau tidak, justru menimbulkan persepsi negatif pada orang lain, sekalipun persepsi itu salah.

Semoga kita semua terhindar dari sikap sombong dan mencintai diri sendiri secara berlebihan dalam hal keagamaan. Karena prinsip Tauhid adalah sebuah proses penyatuan diri kepada Allah dengan selalu melibatkan Allah di dalam keseharian; serta tercermin dalam perbuatan kemanusiaan secara menyeluruh.

Dalam tulisan kali ini, sebelum Ramadan berakhir, saya akan memberikan kado yang semoga spesial, untuk mendapat predikat takwa dan penyayang di dalam diri serta dijauhkan dari sifat takabbur dalam diri, seperti mencintai diri sendiri.

Dalam surat Al-Furqan ayat 63 kita diberi bekal Allah dalam perjalanan selama sebulan ini. Pertama, seluruh ibadah di Ramadan ini haruslah membuat dan menjadikan kita seorang yang tawadhu dan bijaksana.

وعبادالرحمن الذين يمشون على الارض هونا واذاخاطبهم الجاهلون قالوا سلاما

Allah menyebut dirinya sebagai Ar-Rahman. Sebagian ulama berpendapat, orang yang mengamalkan kandungan ayat ini akan mendapatkan gelar 'ibadurrahman.

Pertama, orang yang apabila berjalan di atas bumi dengan penuh kewibawaan atau tidak dengan kesombongan dan keangkuhan.

Kedua, 'ibadurrahman adalah mereka yang bicaranya memberikan solusi dan kedamaian atau menyejukkan bagi orang-orang yang bodoh.

Artinya, gelar 'ibadurrahman akan diperoleh bagi mereka yang tidak sombong dan angkuh. Kewibawaan dan ketidaksombongan bagi 'ibadurrahman diperjelas dari bagaimana ia bertutur.

Sebagian ulama berpendapat bahwa قالوا سلاما adalah ucapan yang solutif, yang tidak merasa pintar di hadapan orang bodoh.

Jadi, kalau Ramadan ini masih banyak yang suka mengumpat dan mengumbar kebencian karena berbeda interpretasi dan pemaknaan keagamaan, mereka bukan 'ibadurrahman tetapi 'ibadusy-syaithon.

Nah, daripada kebanyakan narsis dan menciptakan golongan Islam teranyar (Islam Narsisme) yang justru merusak peradaban, lebih baik mengamalkan ayat itu agar tidak merugi di Ramadan tahun ini.

Kuncinya, jangan sombong dan bertuturlah dengan nilai-nilai kedamaian yang mendamaikan (solutif).


Wallahua'lam...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar