Mudik, Sebuah Tradisi atau Hanya Sebatas Gengsi? - Aru Elgete

Breaking

Rabu, 29 Mei 2019

Mudik, Sebuah Tradisi atau Hanya Sebatas Gengsi?


Sumber gambar: merdeka.com

Saban tahun di pengujung Ramadan, masyarakat Indonesia berbondong-bondong untuk merayakan Hari Raya Idulfitri di kampung halaman. Tentu dengan tujuan dan alasan yang beragam.

Terdapat banyak asumsi atau pernyataan soal mudik. Ada yang ingin mudik karena sudah sukses dan ingin pamer kesuksesan di kampung. Ada juga yang enggan mudik karena belum sukses di kota.

Selain itu, ada yang sebenarnya belum cukup berhasil tapi mencoba tampil seperti layaknya sudah sukses supaya menuai pujian ketika tiba di kampung. Terakhir, ada yang belum sukses tapi memaksa diri untuk tetap mudik, karena ingin meminta doa dan restu orang tua supaya hidup di kota menjadi berkah.

Seperti sudah kita ketahui, Indonesia adalah negara-bangsa yang kaya budaya dan tradisi. Salah satunya adalah mudik. Kata 'mudik' berasal dari kalimat mulih dilik yang berarti pulang sebentar.

Mudik merupakan tradisi yang kini menjadi rutinitas kewajiban bagi pekerja di ibukota dan daerah penyangganya untuk pulang ke kampung halaman dalam waktu yang tidak terlalu lama. Sekitar 5-6 hari.

Awalnya, menurut Jamal D Rahman dalam buku Kembali ke Jati Diri: Ramadhan dan Tradisi Pulang Kampung dalam Masyarakat Muslim Urban, mudik merupakan tradisi primordial masyarakat petani Jawa yang sudah berjalan sejak sebelum zaman kerajaan majapahit.

Dulu, para perantau pulang ke kampung halaman dengan maksud untuk membersihkan makam para leluhur. Hal tersebut dilakukan untuk meminta keselamatan dan keberkahan dalam mencari rezeki.

Namun sekitar tahun 1970-an, kata 'mudik' mengalami perluasan makna. Istilah itu tidak lagi dialamatkan pada kebiasaan petani Jawa tempo dulu. Siapa pun boleh menjalankan tradisi mudik dengan cara masing-masing.

Meskipun mudik hingga saat ini masih diidentikkan dengan kegiatan keagamaan (saat ini, katakanlah silaturrahmi), tapi kini tidak hanya dilakukan sebagai penziarahan leluhur yang sudah meninggal. Mudik juga bisa diartikan sebagai aktifitas saling-sambang antara mereka yang masih sama-sama hidup.

Di abad 21 ini, nampaknya mudik pun mengalami perluasan makna lagi. Yakni, mudik sebagai ajang pembentukan citra bagi orang-orang yang bekerja di kota.

Bahkan, ada anggapan bahwa orang yang hidup dan mencari penghasilan di kota sudah pasti menjadi orang sukses (dalam hal materi). Orang desa yang tinggal, hidup, dan bekerja di kota pasti terpandang dan juga disegani.

Ada juga yang berasumsi bahwa mudik berarti Mulih Udik yang berarti pulang kampung. Hampir sama dengan makna awalnya. Yakni mengunjungi leluhur atau orang tua (baik yang sudah meninggal maupun yang masih hidup) dengan berharap mendapat keberkahan, sebagai washilah dalam mencapai kesuksesan.

Mudik sebagai sebuah kegiatan yang bermakna menyambangi atau bersilaturahmi dengan maksud menuai keberkahan dan keselamatan dalam mencari rezeki tentulah baik.

Namun, bagaimana dengan mereka yang enggan mudik karena jenuh atas pertanyaan yang pasti menghampiri? Bagaimana pula bagi mereka yang memanipulasi diri agar terlihat 'wah' dan mewah?

Bagaimana dengan orang-orang yang mencampuri ibadah silaturrahmi dengan hati yang ujub, riya', dan pamer atas keberhasilan di kota? Jawabannya, ada di kepala cerdik-pandai sekalian.

Pesan saya, kalau sudah berhasil di kota, kembalilah ke kampung halaman dan benahi kehidupan di sana. Beri pencerdasan kepada orang-orang di kampung, beri mereka pencerahan agar tidak melulu dijadikan objek penindasan yang dilakukan oleh penguasa dan pengusaha.

Sebab, substansi mudik adalah sebuah penghormatan terhadap orang tua dan sanak keluarga di kampung halaman. Lantas kenapa tidak diperluas saja maknanya dengan sikap hormat kita atas tanah kelahiran yang menjadi saksi bisu pendewasaan kita? 

Hormat atas tanah kelahiran, tidak hanya berarti disambangi, tetapi juga dihidupi, dengan penghidupan yang melingkupi seluruh aspek yang menjadi upaya agar desa tak mati

Jadi, masihkah mudik menjadi tradisi yang sakral bagi manusia Indonesia? Ataukah hanya sebatas ajang pertukaran dan pertunjukan gengsi yang tanpa tepi?

Wallahua'lam...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar