Ayo, pilih Pemimpin Shaleh! - Aru Elgete

Breaking

Senin, 27 Juni 2016

Ayo, pilih Pemimpin Shaleh!


Dalam tulisan ini, aku tidak bermaksud untuk membuat perpecahan di antara kita. Justru dengan hadirnya tulisan ini, kita mampu mempersatukan kebaikan yang akan terwujud demi keberlangsungan peradaban yang lebih beradab. Keberadaan kita saat ini, sudah menjadi sesuatu yang terkotak-kotakkan. Bahkan kita seperti takut ketika mencoba keluar dari kotak kenyamanan kita saat ini.

Kita, dan khususnya diriku pribadi mengimani bahwa Tuhan yang Tunggal itu memang bermaksud membuat kita terkotak-kotakkan. Tapi yang harus digarisbawahi adalah, Tuhan memberikan kesempatan untuk kita sebagai manusia agar menjalin hubungan yang baik dengan sesuatu yang berada di luar dari kotak kita sendiri.

Pada awalnya, Tuhan hanya menurunkan wahyu kepada manusia yang dianggap mumpuni dan bisa menyampaikan wahyu itu dengan baik kepada semua manusia. Kemudian, agar wahyu Tuhan itu tersusun rapi dan bisa hidup sepanjang masa, dibuatlah pembukuan oleh manusia itu sendiri; Kitab Suci namanya. Masing-masing dari kitab suci itu, kemudian dapat saling melengkapi dan menyempurnakan. Meskipun begitu, tetap ada unsur kebaikan yang tertera dalam kitab suci, agar tujuannya tak menyimpang dari asal.

Di dalam setiap kitab suci yang telah tersusun rapi itu, terdapat unsur kebaikan yang harus menjadi pedoman untuk semua manusia. Hal tersebut tidak bisa dinafikan begitu saja, karena kitab suci merupakan sesuatu yang harus diyakini karena diyakini bahwa di dalamnya merupakan keaslian dari firman Tuhan. Namun, oleh karena firman Tuhan dalam kitab suci itu banyak sekali kalimat yang mengandung majas atau kiasan, diperlukanlah penafsiran yang baik dari mufassirin di seluruh dunia. Pun, karena di dalam kitab suci itu sebagian besar adalah sejarah dan kisah masalalu, bahkan tak jarang kisah di dalam kitab suci itu juga telah menjadi hukum di masalalu. Maka itu, para mufassir menempatkan konteks di atas teks dalam menafsirkan kitab suci. Hal itu dikarenakan kehidupan manusia di dunia yang sangat dinamis, dan perubahan yang terjadi adalah sebuah keniscayaan, maka bukan tidak mungkin banyak dari kalangan ahli tafsir yang mencoba memperbarui makna dari setiap firman Tuhan di dalam kitab suci. Memperbarui makna atau penafsiran yang disesuaikan oleh keadaan zaman yang terus berubah merupakan sikap yang bijak dan baik. Karena mungkin saja, ketika menafsirkan firman Tuhan hanya berdasar pada teks tanpa melihat konteks dan perubahan yang terus berkembang, agama hanya akan menjadi barang yang usang. Itulah alasan mengapa agama hingga saat ini dapat bertahan. Menurutku, selain karena atas ijin Tuhan, yang membuat agama bertahan lama hingga ribuan tahun adalah karena para mufassir senantiasa mengartikan teks dengan mengikuti konteks yang terjadi.

Indonesia adalah salah satu bangunan negara dengan tidak menggunakan hukum agama, tetapi di dalamnya terdapat ruh agama yang menjadi bagian dari negara yang memiliki sebutan Bumi Pertiwi ini. Para pemuka agama, sebelum mendirikan negara ini, merumuskan bersama bagaimana hakikat keagamaan dalam sebuah negara. Kemudian penafsiran-penafsiran yang berkaitan dengan pendirian sebuah negara pun dilakukan. Artinya, para pemuka agama menafsirkan teks kitab suci itu benar-benar disesuaikan dengan keadaan dan situasi yang terjadi saat itu.

Dewasa ini, di sebuah negara yang terdapat ruh ketuhanan dan keagamaan ini, selalu diributkan oleh hal-hal yang seperti terkotak-kotakkan acapkali pemilihan umum diselenggarakan. Lebih menjadi perseteruan yang heboh ketika calon pemimpin ternyata tidak sesuai dengan kriteria yang terdapat di dalam kitab suci. Kita pun dihebohkan dengan firman-firman Tuhan yang menggambarkan bahwa Tuhan bersifat arogan dan bersikap seperti algojo. Maskulinitas yang menggambarkan keperkasaan Tuhan tak selamanya dapat dipercaya sebagai gambaran dari-Nya, sebab Dia juga memiliki sifat feminin; yang lembut dan penyayang.

Semua kitab suci agama-agama di dunia memang selalu terdapat firman Tuhan yang seolah mengistimewakan golongan atau agama tertentu. Tapi tak jarang kita membaca firman Tuhan yang menganjurkan untuk memberi kemaslahatan bagi umat manusia. Dari situlah, bermunculan tokoh-tokoh agama yang humanis, mereka menyerap ajaran dari manusia terdahulu yang mendapatkan mandat langsung dari Tuhan untuk menyampaikan risalah kebaikan kepada segenap manusia di muka bumi. Penafsiran pun terus berjalan, wahyu tetap mengalir, melalui manusia-manusia yang berpikir.

Dalam tradisi Islam misalnya, seorang tokoh atau pemimpin dalam suatu kelompok harus memenuhi kriteria empat sifat yang menjadi sifat permanen Nabi Muhammad; Jujur, serta dapat dipercaya; cerdas, serta dapat menyampaikan kecerdasannya dengan baik dan bermanfaat untuk semesta. Namun sayangnya, keempat sifat itu justru seperti menjadi hak paten bagi sebagian besar Muslim di Indonesia. Bahkan timbul anggapan bahwa seorang pemimpin di Indonesia, di mana pun wilayahnya, harus beragama Islam. Terlebih ketika terdapat firman Tuhan dalam al-Quran yang menyatakan seorang Muslim dilarang memilih pemimpin kafir atau non-Muslim, tapi di lain sisi, Tuhan mempersilakan untuk melakukan hubungan dengan orang-orang yang secara institusional bukan penganut agama Islam. Untuk mengetahui firman Tuhan yang disebut di atas, silakan dicari sendiri.

Pendapatku soal memilih pemimpin atau melakukan hubungan baik juga harus dengan dengan seorang Muslim, bukan kafir. Pemimpin pun, menurut hematku harus yang sesuai dengan sifat permanen Nabi Muhammad yang empat itu. Aku juga menolak berteman dan berpemimpin yang tidak shalih, apalagi yang selalu berbuat kerusakan sehingga tidak menimbulkan kemaslahatan bagi umat. Aku juga setuju kalau syariat Islam ditegakkan, dengan pertimbangan harus sesuai dengan tujuan ditegakkannya syariat Islam itu sendiri. Seperti yang kita ketahui bahwa tujuan ditegakkannya syariat ada lima poin penting; memelihara agama, memelihara akal, memelihara harta, memelihara keturunan, dan memelihara jiwa. Karena pada dasarnya, syariat sudah ditegakkan ketika kemaslahatan tercipta dengan tidak abai pada kelima poin tadi.

Pemimpin dan yang harus menjadi temanku harus Islam, seorang Muslim. Islam bermakna selamat, damai, sejahtera, juga merupakan kalimat perintah untuk menciptakan kesejahteraan dan keselamatan di muka bumi. Maka, Muslim berarti orang yang mampu melahirkan kemaslahatan dan kedamaian bagi setiap manusia. Islam dan Muslim yang kumaksud tidak diartikan sebagai suatu hal yang bersifat terlembaga. Karena Islam bukan sebuah lembaga, Islam adalah kata sifat yang harus ada di dalam jiwa manusia. Jadi, aku setuju bahwa yang harus menjadi pemimpin ketika pemilihan umum nanti digelar adalah orang yang bersifat Islam, yang berjiwa Muslim. Islam yang diartikan bukan Islam yang institusional atau terlembaga.

Karakter pemimpin pun harus sesuai dengan keempat sifat Nabi Muhammad. Pemimpin itu harus cerdas dalam menyampaikan suatu kebaikan dan kebenaran, serta mampu dipercaya dan mengemban amanah dengan kejujurannya. Nabi Muhammad adalah tokoh kemanusiaan sepanjang masa, tokoh kemanusiaan yang perilakunya patut dicontoh oleh setiap manusia. Maka, terlepas dari agama yang sudah terlembaga seperti yang saat ini terjadi, siapa pun berhak meniru perilaku Nabi Muhammad berdasar empat sifat mulia itu.

Seorang pemimpin juga harus menegakkan syariat, dan syariat itu harus menyejahterakan dan menciptakan kebaikan serta kemaslahatan bagi segenap manusia, bahkan seluruh elemen dalam semesta ini. Pemimpin harus mampu memelihara jiwa setiap warga, agar warganya juga dapat memelihara keturunan. Pemeliharaan akal dan agama juga harus diciptakan oleh seorang pemimpin. Setelah itu, seorang pemimpin harus dapat memelihara harta, agar daerah atau wilayah yang dipimpinnya tercipta kesejahteraan dan kemakmuran.

Ketika siapa pun mencalonkan diri sebagai pemimpinku, syarat-syarat di atas harus terpenuhi. Dengan catatan, pemimpinku itu terlepas dari agama yang terinstitusi yang seolah terkekang dalam keberagamaannya itu sendiri. Maka, pemimpin yang sesuai dengan kriteriaku itu barulah bisa kusebut dengan pemimpin yang shaleh. Karena shaleh berarti patut, layak, dan cocok. Siapa pun calon pemimpinku, dari ras apa pun, beragama apa pun dia, kalau shaleh atau layak serta mampu menegakkan syariat dan berjiwa Islam, aku akan mendukung dengan setulus hati.

Itulah kriteria pemimpinku. Berjiwa Islam, menegakkan syariat dengan melihat kelima tujuan ditegakkannya syariat itu, dan bisa meneladani keempat sifat mulia Nabi Muhammad, maka itulah pemimpin yang shaleh.

Ayo, pilih pemimpin yang shaleh!