Tak perlu takut, ayo berlomba! - Aru Elgete

Breaking

Senin, 27 Juni 2016

Tak perlu takut, ayo berlomba!


Dalam tulisan ini, ingin kulancarkan kritik tajam untuk kalian yang beragama tapi seperti enggan berlomba dalam kebaikan. Aku sendiri bingung, harus mulai dari mana. Kritik ini bukan sebagai bentuk kebencian, bukan pula untuk membuat perang dingin di antara kita. Anggaplah kritik yang kulancarkan ini serupa nasihat atau teguran agar kita menjadi kaum beragama yang mampu mendewasa, tidak menjadi kaum beragama yang pengecut, kaum beragama yang serba takut dengan segala perbedaan konsep kebenaran yang ada di hati dan pikiran setiap orang. Menjadi hal penting yang harus kalian tahu bahwa ketika ada sebuah kritik yang kulancarkan untuk kalian, jangan diartikan bahwa diriku anti-agama.

Aku adalah orang yang meyakini bahwa kebenaran Tuhan itu mutlak, absolut, dan tidak ada yang bisa menandingi kebenaran-Nya. Tuhan-lah yang merajai semesta, yang menciptakan langit dan bumi, yang membuat surga seluas langit dan bumi apabila disatukan, dia pula yang menjadikan siang dan malam sebagai waktu untuk kehidupan makhluk-Nya, dan Tuhan-lah pencipta segalanya.

Tuhan menciptakan manusia dari diri yang satu, lalu dari diri yang satu itu diciptakan pasangannya, setelah itu beranak-pinak lah manusia itu menjadi sebuah komunitas, yang disebut bangsa. Pada mulanya yang disebut bangsa adalah keluarga kecil, kemudian beranak-pinak dan semakin banyak manusia, maka terbentuklah batas-batas wilayah dan kesukuan. Untuk memudahkan dalam berkomunikasi, komunitas kesukuan itu lalu menciptakan sebuah bahasa dan aturan main di dalamnya, disebut budaya. Setiap bangsa dan suku memiliki bahasa dan adat yang berbeda, sehingga menyulitkan interaksi antarbangsa. Melihat situasi itu, Tuhan menyarankan agar saling mengenal satu sama lain, atau dengan kata lain, mempelajari segala sesuatu yang ada pada budaya lain atau yang tidak ada di dalam budaya sendiri, dengan tujuan agar tercipta harmoni dalam sebuah keniscayaan.

Sebagai bentuk cinta Tuhan kepada hamba-Nya, diciptakanlah agama sebagai wadah untuk proses perbaikan diri dan moral dengan mengutus seseorang yang dipercaya mampu membuat perubahan; revolusioner. Agama dibuat berdasar situasi sosial dan budaya setempat, agar memudahkan hamba-Nya untuk memahami substansi agama yang pada dasarnya merupakan jalan pengabdian kepada Tuhan. Di dalam agama, Tuhan tuangkan ajaran kemanusiaan, ajaran perdamaian, ajaran untuk saling memberi, dan ajaran-ajaran kebaikan yang lainnya. Tuhan ingin pengabdian seorang hamba kepada-Nya, agar menjadi sebuah perwujudan nyata dari laku dan perbuatan sehari-hari di dunia. Agama sebagai jembatan antara ajaran ketuhanan dan ajakan kemanusiaan. Ketuhanan dan kemanusiaan menjadi satu bingkisan yang terbungkus rapi sehingga menjadi hal yang menarik untuk dipertanggungjawabkan ketika Tuhan sudah mengajak manusia kembali ke asal.

Tuhan adalah pemegang kunci kebenaran, siapa pun, termasuk utusan-Nya sekalipun tidak ada yang dapat mengetahui secara pasti dan menyeluruh tentang kebenaran yang ada pada Tuhan. Kebenaran yang Satu itu kemudian bercecer ke dunia, menjadi bias, menjadi sebuah misteri, menjadi sesuatu yang tak dapat dipegang penuh oleh manusia; kebenaran Tuhan yang sesungguhnya. Maka, disitulah, kupikir Tuhan telah sengaja tidak menurunkan seluruh kebenaran-Nya di bumi supaya manusia senantiasa berkompetisi dalam kebaikan. Setiap lingkar otak manusia yang pasti berbeda ukurannya itu, Tuhan berikan konsep kebenaran yang tidak utuh, barangkali maksudnya agar manusia selalu berusaha mencari tahu tentang kebenaran itu.

Untuk seluruh kawanku yang merasa bahwa kebenaran itu sudah berada dalam genggamanmu, perbanyaklah berpikir dan mengolah rasa dan jiwa, bahwa tiada yang dapat memegang kebenaran yang sebenar-benarnya kebenaran, kecuali pemegang kebenaran yang abadi; Tuhan seru sekalian alam.

Maka, tak perlu takut untuk mempelajari konsep kebenaran yang ada pada orang lain, karena hanya Tuhan pemilik kebenaran yang sesungguhnya, sementara kita hanya mengetahui konsep kebenaran-Nya saja; masih sangat jauh. Konsep kebenaran yang ada di dalam pikiran kita saat ini, akan menjadi laporan pribadi di depan Dzat yang memegang kebenaran yang sebenarnya. Jangan picik dalam beragama, jangan kau anggap salah orang lain yang berbeda selama tak menghancurkan kemanusiaan atas nama Tuhan, sebab ajaran ketuhanan dan ajakan kemanusiaan adalah satu kesatuan.

Tak perlu takut, jangan menjadi pengecut, ayo berlomba!