Pamer ibadah di bulan Ramadhan - Aru Elgete

Breaking

Sabtu, 04 Juni 2016

Pamer ibadah di bulan Ramadhan

Sebelumnya, silakan baca tulisan ini: Ibadah moral di bulan ramadhan


Ramadhan diyakini sebagai bulan segala kebaikan, tidak ada satu keburukan pun yang pantas dilekatkan kepadanya.

Setiap orang disibukkan dengan ibadah, baik secara sosial maupun ritual atau secara moral maupun formal, semua dilakukan, karena kalau tak begitu akan disebut manusia paling sial.

Berkah melimpah di mana saja, sampai di tempat terpencil pun konon kelimpahan juga, syukur alhamdulillah.

Lalu bagaimana kalau Ramadhan -dewasa ini- disebut sebagai bulan pencitraan atau bulan kemunafikan? Tunggu, jangan dulu terpancing emosi.

Di dalam Al-Quran dijelaskan, akan ada banyak hadiah dan kejutan dari Tuhan untuk manusia yang menjalankan ibadah dengan penuh ketulusan, konon dosa-dosanya akan terhapus secara keseluruhan.

Kemudian manusia berlomba untuk mendapatkan hadiah yang dijanjikan itu, karena penghargaan dari Tuhan sangat berharga bagi kaum beragama, terlebih hadiah yang diberikan pada bulan Ramadhan.

Tapi, apa kabar ya dengan manusia yang menjadikan Ramadhan sebagai ajang pamer di media sosial atau lingkungan sekitar?

Secara sederhana, postingan atau ucapan serta tindakannya diselimuti kata syiar atau dakwah, namun hati orang siapa yang tahu?

Si A posting sesuatu di sosmed soal ibadahnya yang tekun itu, belum tentu hatinya bersih dari rasa pamer dan membanggakan diri alias takabbur, juga belum tentu si B menilai baik si A, barangkali si B justru risih dengan si A.

Pamer, norak, riya' atawa takabbur itu selalu menjangkiti Ramadhan yang membuat kesuciannya ternoda.

Maka, seperti kata pepatah "gara-gara nila setitik, rusak susu sebelanga", Ramadhan menjadi rusak karena segelintir manusia yang seperti itu.

Karena itu, mari perbanyak ibadah moral dan sosial tanpa publikasi yang bisa membuat orang jadi mual, jangan terlalu banyak ibadah formal dan ritual yang sifatnya publikatif.

Ibadah sosial dan moral tidak membutuhkan eksistensi, biar Tuhan yang mengaktualisasi itu ke hadapan semesta dengan sendirinya.

Sementara ibadah formal dan ritual pasti membutuhkan publikasi dan eksistensi untuk memperbanyak apresiasi, karena pada dasarnya kulit memang lazim diperlihatkan dan memang sudah seharusnya dilihat banyak orang.

Mari berpikir, kira-kira ibadah macam apa yang akan menjadikan kita masuk ke dalam golongan orang-orang yang patuh dan mesra dengan Tuhan?