Jumat, 12 Oktober 2018

Ketika Nabi Muhammad dan Sokrates Bertemu




Dalam keyakinan Filsuf Muslim, seperti Ibn Rusyd (seorang bijak dan alim yang hidup di abad ke-12), terdapat kecocokan antara kebenaran yang bersumber dari wahyu (al-syari'ah) dan dari akal (al-hikmah). Kedua jenis kebenaran itu tak boleh bertentangan.

Ajaran tentang hal tersebut, dikemukakan Ibn Rusyd dalam karyanya yang masyhur: Fasl al-Maql fiimaa Baina al-Syari'ati wa al-Hikmati min al-Ittisal (kata putus tentang hubungan antara syari'at dan hikmah).

Apa yang disebut dengan hikmah dalam judul bukunya Ibn Rusyd itu? Maksudnya tiada lain adalah filsafat. Sebab, 'shopia' dalam bahasa Yunani maknanya adalah kebijaksanaan. Bahasa Arab, kebijaksanaan adalah hikmah.

Selama membaca kitab Ihya' karya Imam Ghazali (kita tahu, Ibn Rusyd dan Imam Ghazali adalah dua orang yang saling berdebat keras dan berbeda pandangan), saya menjumpai sejumlah hal yang menarik. Antara lain berikut ini:

Ada sebuah hadits yang berulangkali dikutip Imam Ghazali, "aktsar ahli al-jannati al-bulhu". Artinya, sebagian besar orang-orang yang akan masuk surga nanti adalah 'al-bulhu'.

Kata 'al-bulhu' adalah bentuk jamak dari 'ablah' yang maknanya, menurut kamus Munjid: orang yang lemah akalnya atau dla'ufa 'aqluhu wa 'ajaza ra'yuhu.

Makna hadits yang dikutip al-Ghazali itu kira-kira begini: Mayoritas orang-orang yang ada di sorga nanti adalah orang-orang yang bodoh, yang lemah akalnya.

Bagaimana memaknai hadits ini? Apakah bermakna bahwa menjadi orang yang pintar bukanlah sesuatu yang dianjurkan, karena toh orang-orang bodoh-lah yang nanti akan masuk surga? Apakah hadits ini semacam pengendoran terhadap kehendak untuk belajar?

Dalam beberapa kali ngaji Ihya', saya menyampaikan bahwa makna hadits ini bukanlah demikian, bukan dorongan untuk menjadi orang bodoh agar kelak masuk surga.

Makna hadits ini adalah semacam kritik terhadap 'elitisme' intelektual. Bahwa kebenaran dan kebijaksanaan yang akhirnya akan membawa orang kepada kebahagiaan abadi di akhirat kelak, bukanlah monopoli kaum 'intelek' yang berpendidikan tinggi.

Hadits ini adalah semacam pembelaan bagi 'the commoners' atau orang-orang biasa.

Hal yang menarik adalah pernyataan yang maknanya serupa, dan datang dari filsuf besar Yunani, Sokrates, orang bijak yang menjadi pusat kekaguman para Filsuf Muslim di era klasik. 

Dalam pembelaannya di hadapan para juri yang kemudian menjatuhinya hukuman mati (pembelaan Sokrates itu direkam oleh muridnya, Plato, dalam risalahnya berjudul 'Apologi'), Sokrates antara lain melontarkan ucapan berikut ini: 

"Karena aku wajib mengatakan kebenaran di hadapan pengadilan, maka aku bersumpah, demi anjing, wahai orang Atena, aku sungguh-sungguh mengalami sesuatu seperti ini: 

Ketika aku menyelidiki perkara-perkara Ilahi, aku dapati bahwa orang yang dipandang paling terhormat ternyata adalah orang yang paling bodoh, sementara orang yang dipandang lebih rendah dari mereka ternyata lebih baik dalam hal penguasaan pengetahuan." (Apologia, 22a).

Kalimat Sokrates ini saya kutip dari terjemahan yang dilakukan oleh Ioanes Rakhmat dalam bukunya yang diterbitkan Gramedia, Sokrates dalam Tetralogi Plato (2009).

Meskipun tidak mirip benar, tetapi ada kesejajaran antara hadits Nabi yang dikutip al-Ghazali di atas dengan kalimat Sokrates ini: keduanya memuat semacam 'apologia' atau pembelaan bagi orang-orang yang diremehkan oleh kaum elit sebagai orang-orang yang paling bodoh.

Konon, menjelang akhir hayatnya, Imam Ghazali (wa-qila, menurut kisah yang lain, Imam Razi (w. 1209), penulis tafsir besar Mafatih al-Ghaib itu), melontarkan sebuah kalimat yang mengandung semacam doa dan sekaligus keluhan:

"Allahumma imanan ka-iman al-dlu'afa". Artinya, O Tuhan, berilah aku keyakinan seperti keyakinan orang-orang yang lemah (akalnya).

Sekali lagi, ini semua bukan semacam dorongan untuk menjadi orang bodoh dan lemah akal. Melainkan kritik kepada orang-orang cerdik-pandai yang kerapkali terlalu canggih berteori, sehingga kehilangan sentuhan atas hal yang mendasar dalam hidup: yaitu iman dan harapan.

Kaum elit terpelajar kerapkali terjatuh pada sikap skeptis dan sinisme pada iman dan harapan. Sementara orang-orang yang tak terdidik secara canggih dalam spekulasi teoritik dan filsafat, justru paling cepat untuk beriman dan percaya.

Skolastisisme atau latihan akademis di sekolah, kerapkali membunuh naluri alamiah dalam diri manusia untuk percaya dan berharap.

Dalam hal ini, kita menyaksikan semacam 'vindication' atau bukti kebenaran dari ajaran Ibn Rusyd tentang 'ittishal' atau pertemuan antara wahyu dan filsafat. 

Nabi Muhammad dan Sokrates bertemu dalam semangat yang sama, yakni pujian pada orang-orang kecil yang tak terdidik, tetapi justru memiliki naluri alamiah yang masih asli untuk cepat menangkap kebenaran dan hikmah, sekaligus kritik kepada kaum elit terdidik yang saking canggihnya cara berpikir, kadang kehilangan naluri alamiah untuk beriman.


*Tulisan di atas diambil dari akun Facebook Gus Ulil Abshar Abdalla, Pengasuh Kopdar Ihya' Ulumuddin
Previous Post
Next Post

0 komentar: