Ratna Sarumpaet, Nila Setitik Rusak Susu Sebelanga - Aru Elgete

Breaking

Jumat, 05 Oktober 2018

Ratna Sarumpaet, Nila Setitik Rusak Susu Sebelanga


Ratna Sarumpaet. Sumber: kumparan.com


Gara-gara nila setitik, rusak susu sebelanga. Kira-kira seperti itulah peribahasa yang sangat cocok untuk menggambarkan situasi tanah air. Bagaimama tidak, karena ulah seorang Ratna Sarumpaet, negeri ini menjadi gaduh tak karuan.

Pertama, saat kebohongan itu mengemuka. Hampir semua elit yang baik secara emosional maupun secara politik, percaya kalau Ratna memang dianiaya. Parahnya, ada anggapan bahwa pelaku penganiayaan berasal dari kubu lawan.

Ini jelas tak sehat. Belum jelas dan valid informasinya, berbagai argumentasi tanpa dasar menyeruak ke permukaan. Mengarahkan opini masyarakat kalau ternyata pelaku adalah lawan politik.

Pernyataan-pernyataan elit yang disampaikan, baik melalui cuitan di media sosial, konferensi pers, dan wawancara, jika bernada sentimentil terhadap lawan politik, itu menandakan bahwa ada yang tidak beres dalam proses pendewasaan berpolitik para elit kita di negeri ini.

Kedua, ketika Ratna Sarumpaet melakukan jumpa pers untuk mengakui bahwa dirinya berbohong. Kemudian publik menjadi gaduh. Terlebih terbumbui dengan ungkapan Ratna yang mengatakan kalau ia adalah pencipta hoaks terbaik. 

Masyarakat di akar rumput kian riuh. Dengan berbagai kelucuan-kelucuan tapi bernada satir, banyak yang menobatkan mertua Rio Dewanto itu sebagai Tokoh Hoaks Nasional. Bahkan, ada pula usul dari Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, 3 Oktober agar dijadikan sebagai Hari Antihoaks Nasional.

Dualisme perseteruan kian kentara, kini. Semuanya saling sindir dan melempar satir. Kubu opoisisi, ada yang mengatakan bahwa perbuatan mengakui kesalahan sebagaimana yang dilakukan Ratna patut diapresiasi. Sebab, bagi mereka, ada 66 janji Jokowi yang belum terpenuhi dan Jokowi tidak pernah mengakui kesalahannya selama memimpin negeri.

Ketiga, saat semua elit yang karib dengan Ratna Sarumpaet, termasuk ia sendiri, meminta maaf kepada publik, ada pelaporan yang dilakukan Farhat Abbas. Belasan orang dilaporkan dengan argumentasi-argumentasi, yang menurut saya, tidak masuk akal. Sila lihat tayangannya kembali di Channel Youtube TVOne.

Tujuan pelaporan apa? Juru bicara Tim Kampanye Prabowo-Sandi mengatakan bahwa ada indikasi untuk mendiskualifikasi Capres-Cawapres itu dari perhelatan Pemilu 2019 mendatang. Dari retorika Farhat Abbas, arahnya pun demikian. 

Hal yang patut diapresiasi dari Pak Prabowo dan kelompoknya adalah siap menghadapi serta mengikuti proses hukum sesuai prosedur yang berlaku. Kalau toh, Pak Prabowo harus gugur atau didiskualifikasi, itu tidak menjadi masalah. Sebab yang menilai nantinya adalah masyarakat.

Menurut saya juga demikian. Jika Pak Prabowo sampai didiskualifikasi, maka itu menandakan bahwa cara elit kita berpolitik di negeri ini hanyalah sebatas untuk mencitrakan diri sembari menjatuhkan lawan, agar tercapai hasrat kekuasaan.

Bukan berlomba dalam kebaikan dengan menghadirkan kebaikan-kebaikan yang ada di dalam diri dan kelompoknya masing-masing. Masyarakat akan terbodohi dengan aksi sirkus para elit politik Indonesia yang kian kekanak-kanakan itu. 

Sementara perpecahan ini mengemuka karena ulah Ratna Sarumpaet. Kemudian, malam tadi, ia ditangkap saat hendak pergi ke luar negeri, ke Chile, dengan alasan berobat. Ini lantas menciptakan opini di masyarakat bahwa seorang aktivis yang juga pemain teater itu ingin melarikan diri.

Keempat, Pak Prabowo dianggap oleh kubu lawan sedang melakukan cuci tangan atas kasus tersebut. Entahlah, saya tak habis pikir dengan berbagai dagelan yang diperbuat mereka sehingga menimbulkan berbagai asumsi-asumsi di tengah kehidupan masyarakat.

Budaya saling meledek, membully, mencaci, memaki, dan bahkan mencampakkan masih melekat di selendang Ibu Pertiwi yang kian lusuh itu. Di tengah duka yang sedang menggejala, tak elok-lah rasanya kita saling melempar percikan api permusuhan, sekalipun berbeda pilihan.

Saya pendukung Jokowi - KH Ma'ruf Amin, tapi saya ingin menciptakan suasana berdemokrasi di negeri ini menjadi asik, menjadi ajang kompetitif. Demokrasi jangan diartikan sebagai upaya mencari momentum kesalahan lawan untuk menjatuhkan harkat, martabat, dan harga diri yang dimiliki.

Mari berlomba dalam kebaikan. Mencari titik kebaikan agar siapa pun yang menjadi elit di negeri tak lagi memberikan contoh buruk sehingga menjadikan bangsa Indonesia kehilangan jatidiri. Kalau yang dicari adalah kelemahan yang ada di kubu lawan, maka bersiaplah untuk memiliki pemimpin dengan berbagai kelemahan yang telah dipertontonkan sejak dini.

Terakhir, pesan yang ingin saya sampaikan adalah: jangan sampai hanya karena perempuan yang sudah berusia senja itu, kemudian seluruh masyarakat Indonesia menjadi hilang rasa persatuannya. Memang Ratna Sarumpaet itu siapa sih? Biarkanlah ia melewati berbagai proses hukum yang harus dijalani.

Kita mestinya berdoa agar kejadian serupa tak terjadi di lain dan kemudian hari. Doakan pula Ratna Sarumpaet supaya tetap tegar menghadapi segala yang ada di hadapannya. Lucu, kalau hanya karena Ratna, kita jadi tak pernah lagi bercanda. Kalau pun harus bercanda, maka hanya akan tercipta guyonan bernada satir dan menjelekkan yang lain.

Memangnya Ratna Sarumpaet itu siapa?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar