Jumat, 12 Oktober 2018

Kurang Ngopi Bisa Bikin Emosi


Sumber gambar: jogja.tribunnews.com


Menteri Agama (Menag) Republik Indonesia (RI) KH Lukman Hakim Saifuddin mengungkapkan bahwa kesalehan santri tidak dilihat dari penampilan sok suci dan tanda-tanda fisik ahli ibadah. Melainkan dari pengaruhnya terhadap perbaikan masyarakat.

“Dalam pergaulan santri, kedalaman ilmu dan kebijaksanaan diri seringkali digambarkan dengan secangkir kopi,” katanya saat orasi kebudayaan pada acara Malam Kebudayaan Pesantren, di Panggung Krapyak, Yogyakarta, Rabu (10/10) malam.

Ia mengamati bahwa dunia kehidupan pesantren, santri yang punya kebiasaan malas dan kurang produktif dianggap kurang minum kopi. Santri yang emosional dan mudah dibohongi adalah tanda kalau minum kopinya kurang pahit.

“Santri yang kuper dan kudet, berarti ngopinya kurang jauh. Santri yang suka ngeyel dan mudah menyalahkan orang lain, itu tandanya belum pernah menyeduh kopi,” kata Kiai Lukman di hadapan ribuan orang yang saat itu hadir sembari duduk bersila dan sebagian ada pula yang berdiri.

Selain itu, ia menilai santri yang hanya mementingkan diri sendiri, jelas suka kopi yang gratisan. “Tapi kalau ada santri jam segini tak kunjung ngopi, itu cuma perkara belum dapat rejeki,” kelakarnya disambut gelak tawa hadirin yang sebagian besar adalah santri Krapyak.


Kiai Lukman menerangkan bahwa ada seorang ulama bernama Syekh Ihsan dari Jampes, Kediri, Jawa Timur yang mengarang kitab berjudul Irsyadul Ikhwan fi Bayaani Qahwah wad Dukhon (Petunjuk Umum untuk Kopi dan Rokok). Dalam kitab itu disebutkan, kopi adalah minuman para ulama karena bisa meningkatkan dan mempertajam intuisi.

Di dalamnya, diulas pula soal perdebatan tentang hukum menyeruput kopi. Hal tersebut menjadi maklum, karena kopi sudah terlalu jauh masuk ke wilayah pesantren. Bahkan, terdapat adagium bahwa penggerak utama pesantren itu sesungguhnya terdiri dari kiai, santri, ngaji, dan kopi.


“Saya tidak hendak mengajak anda semua untuk ngopi. Tapi saya justru ingin mengingatkan, pesantren bukanlah warung kopi. Pesantren adalah tempat menuntut ilmu dan menimba pengalaman,” tambahnya.

Ia memandang bahwa pesantren merupakan tempat untuk menyadari tentang menjalani hidup yang diibaratkan seperti menikmati kopi. Ada pahit-pahit manis yang bikin melek hati. Sebagai majelis pengetahuan, kopi pun jadi bahasan ulama dalam karya tulisnya.

“Ini berarti, ilmunya para kiai tidak sebatas perkara salat hingga haji, tak cuma soal membasuh muka sampai menata hati, tetapi juga urusan menyeruput kopi,” pandang Kiai Lukman.

Baginya, hal yang harus digarisbawahi adalah betapa kuat budaya literasi kaum santri hingga sempat-sempatnya menulis kitab tentang kopi.

“Boleh jadi lantaran mereka tak pernah lupa bahwa literasi adalah tradisi asli para ulama dan kiai,” pungkasnya.




(Sumber: NU Online)
Previous Post
Next Post

0 komentar: